Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 10
BAB 10
Sensasi dingin dari angin sandikala yang merayapi lorong candi mendadak sirna, digantikan oleh hawa panas yang membakar dari permukaan batu Andesit di belakang mereka. Pendar keemasan yang semula hanya kilatan redup di atas relief Raden Jayendra dan Putri Kirana kini membesar, membiaskan getaran gelombang yang merambat di udara seperti riak air yang dilempar batu.
Maya memegang dadanya yang berdesir hebat. Rasa rindu yang asing—namun teramat dikenal oleh jiwanya—makin menyiksa.
"Kau... merasakan getaran ini juga, Rendra?" bisik Maya dengan suara bergetar sambil mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah panel relief, mencoba mencari pegangan pada realitas yang mendadak meliuk.
"Jangan sentuh batu itu, Maya!" cegah Rendra cepat sambil melangkah maju. Tangannya terulur refleks untuk menahan jemari Maya. Namun, bukannya menariknya mundur, jemari Rendra justru bertaut dan bersentuhan langsung dengan jemari Maya tepat beberapa milimeter di atas ukiran lempeng logam hiasan dada Raden Jayendra.
Sentuhan kulit mereka menjadi pemicu ledakan gelombang elektro-spiritual yang dahsyat. Seolah-olah arus listrik bertekanan ribuan volt menyengat saraf kedua insan itu secara bersamaan. Dunia nyata di sekitar mereka seketika runtuh; dinding batu candi Andesit yang kokoh terurai menjadi serbuk cahaya keemasan, suara desis angin pegunungan lenyap digantikan oleh gemuruh genderang perang kuno, dentang tempaan besi yang memekakkan telinga, serta bau asap pembakaran dan belerang yang menyengat paru-paru.
Pandangan Rendra terbelah, tergilas oleh rotasi dimensi yang berputar hebat. Rasa pening dahsyat menghantam tempurung kepalanya. Ketika ia berhasil memaksa matanya terbuka, bau asap arang dan lelehan perunggu panas langsung menyerbu indra penciumannya.
Rendra terbatuk keras. Suara batuknya terdengar lebih dalam dan berat.
Ia tidak lagi berdiri di atas selasar candi yang dingin dengan kemeja flanelnya. Kedua tangannya yang kini memegang penjapit besi raksasa tampak lebih berurat, bernoda jelaga tebal, dan terbalut celemek kulit lembu jantan. Di hadapannya, sebuah tungku tempaan raksasa berarsitektur masa Kediri-Singhasari membara merah, memancarkan hawa panas yang memangkas napasnya.
"Raden Jayendra!" panggil seorang lelaki paruh baya bertelanjang dada dengan garis luka di pipi—pembantu utamanya di bangsal kriya. "Bahan perunggu campuran emas untuk zirah dada sudah siap dituang. Kenapa Raden melamun?"
Rendra—yang kini bernapas dalam raga Raden Jayendra—terpaku. Memori masa lalu dan pengetahuan kerajinan logam kuno bergelombang masuk ke dalam benaknya. Ia sadar, ia tidak sekadar bermimpi; jiwanya terlempar lurus ke abad pertengahan, menjadi sosok empu kerajinan logam kepercayaan istana yang sedang dikepung intrik politik intern.
Belum sempat Rendra menguasai kesadarannya secara utuh, derak sepatu kulit bergema keras memecah dentang tempaan. Dinding kayu sanggar tempa bergetar saat empat prajurit bersenjata tombak melangkah masuk, mengawal seorang pria paruh baya berkulit pucat yang mengenakan jubah beludru hitam berukir benang perak.
Ki Tumenggung Reksa—tangan kanan dan eksekutor kepercayaan Mahapatih Mahisa.
"Masih berkutat dengan besi kotor ini, Raden Jayendra?" suara Ki Tumenggung Reksa melengking dingin, dipenuhi nada meremehkan saat matanya menyapu sekeliling sanggar yang berasap tebal. Ia memegangi saputangan sutra di depan hidungnya, seolah udara tempat kerja empu kriya itu beracun baginya.
Rendra menggenggam penjapit besinya lebih erat, menatap Ki Tumenggung Reksa dengan pendar mata yang tajam dan dingin.
" sanggar tempa ini bekerja berdasarkan perintah Sang Raja, Tumenggung," jawab Rendra tegas. "Ada urusan apa kau membawa prajurit bersenjata lengkap ke tempat penempaan?"
Ki Tumenggung Reksa tertawa sinis. Ia melangkah mendekati meja kerja Jayendra, lalu dengan ujung sarung keris berukir emasnya, ia menggeser kasar cetakan lempeng logam yang baru setengah disepuh.
"Sang Raja sedang sakit di peraduan, dan Mahapatih Mahisa yang kini memegang kendali stempel kerajaan," ujar Ki Tumenggung Reksa mencondongkan tubuhnya dengan tatapan mengintimidasi. "Gumpalan logam yang kau buat ini, Mahapatih menganggapnya terlalu berbahaya untuk disebut sekadar ornamen busana. Kau merancang zirah pelindung dada yang tersembunyi di balik kain tenun Putri Kirana, bukan?"
"Itu adalah struktur penopang busana agung," balas Rendra tegas, suaranya berat dan tidak menunjukkan sedikit pun rasa gentar. "Tanpa kerangka logam ini, kain tenun Putri Kirana tidak akan memiliki tegakan yang kokoh saat dipakai dalam upacara penobatan."
"Jangan membodohiku, Raden Jayendra!" bentak Ki Tumenggung Reksa, raut wajahnya berubah garang. "Mahapatih tahu kau dan Putri Kirana sedang merancang senjata rahasia untuk menyokong faksi pemberontak dari wilayah utara! Serahkan seluruh draf sketsa ukiran logammu dan cetakan kerangka ini padaku sekarang. Mahapatih Mahisa menjanjikan lima ratus keping emas dan posisi sebagai Kepala Empu Kerajaan jika kau mau bekerja sama menuduh Putri Kirana sebagai dalang makar."
Rendra tertawa pelan—sebuah tawa singkat sarat hinaan yang membuat wibawa Ki Tumenggung Reksa serta-merta terkoyak.
"Lima ratus keping emas untuk menjual karya dan memfitnah wanita yang menenun dengan seluruh jiwanya?" tembak Rendra, matanya mengunci manik mata Ki Tumenggung Reksa tanpa berkedip. "Mahapatih Mahisa tidak butuh seni kriya, Ki Tumenggung Reksa. Dia hanya penakut yang cemas pada keindahan dan kekuatan yang tidak bisa dia kendalikan dengan uang atau ancaman tombak."
Wajah Ki Tumenggung Reksa merah padam. Matanya berkilat berbahaya saat ia memberi isyarat pada para prajurit di belakangnya untuk mencabut keris.
"Kau membual soal idealismemu saat lehermu berada di ujung patuk tombak, Raden Jayendra!" desis Ki Tumenggung Reksa dingin. "Sebelum fajar menyingsing, zirah logam ini harus sudah berada di meja Mahapatih Mahisa, atau aku sendiri yang akan membakar sanggar ini bersama dirimu dan Putri Kirana!"
"Cobalah kalau kau berani menyentuh tungku ini," ancam Rendra seraya merengkuh tangkai besi penempa yang masih membara merah dari dalam bara arang, mengangkatnya tegak di udara. Hawa panas meluap seketika, memaksa para prajurit mundur satu langkah dengan wajah gentar. "Asap sanggar ini terlalu bersih untuk dihirup oleh pengkhianat kerajaan seperti kalian. Keluar!"
Melihat kenekatan Raden Jayendra yang tak tertandingi, Tumenggung Reksa meludah ke lantai tanah, lalu menyipitkan matanya penuh keji.
"Kau sudah memilih jalan kematianmu sendiri, Raden Sombong ," ancam Tumenggung Reksa dingin.
Dengan kibasan jubahnya yang kasar, Ki Tumenggung Reksa berbalik dan melangkah pergi bersama para pengawalnya, meninggalkan gema ancaman yang menggantung pekat di antara kepulan asap belerang.
Rendra yang kini bertindak sebagai Raden Jayendra mengembuskan napas panjang, menancapkan kembali tangkai besi membara itu ke dalam wadah air pendingin.
SSSHHH! Uap putih membumbung tinggi. Ia tahu, waktunya sangat terbatas sebelum pasukan Mahapatih Mahisa kembali untuk menghabisi mereka. Ancaman bakar sanggar dan hukuman mati yang dilontarkan Ki Tumenggung Reksa bukan sekadar gertakan belaka.