【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Latihan Sore Dan Es Teh Kantin
Pemusatan latihan untuk seleksi kejuaraan silat tingkat pelajar resmi dimulai. Berbeda dengan latihan eskul biasa yang santai, porsi porsi gemblengan dari Mas Teguh dan pelatih utama kali ini benar-benar memeras fisik. Latihan diadakan setiap sore sepulang sekolah, dimulai tepat pukul tiga sore hingga pukul enam menjelang magrib di aula bawah.
Begitu bel sekolah berbunyi pukul tiga sore, saat murid-murid lain bersiap pulang atau nongkrong, aku dan beberapa anggota pilihan langsung berganti pakaian menggunakan seragam latihan hitam-hitam. Tiga jam penuh kami digembleng tanpa ampun. Mulai dari berlari mengelilingi lapangan, pemantapan kuda-kuda, latihan refleks tangkisan, sampai simulasi tanding (sparing) tiga ronde berturut-turut.
Pukul enam sore, saat matahari mulai tenggelam dan langit berubah jingga keperakan, latihan baru selesai. Seluruh tubuhku basah kuyup oleh keringat. Seluruh persendian dan otot-otot pahaku terasa pegal luar biasa, terutama setelah menahan tendangan-tendangan keras dari lawan tanding senior.
"Bagus, Satria! Refleks kelitmu sudah makin tajam, tinggal perbaiki kuncian kakimu pas membanting lawan!" puji Mas Teguh sambil melempar handuk kecil ke arahku di pinggir matras saat kami merapikan peralatan.
"Siap, Mas. Makasih," jawabku terengah-engah, mengusap keringat di dahi dengan ujung handuk.
Meskipun badan rasanya remuk dan lelah tak terkira, ada kepuasan tersendiri tiap kali menyelesaikan latihan sore yang berat itu.
Keesokan harinya di kelas X IPA 2, ritme kehidupan kami berjalan makin padat. Begitu bel masuk berbunyi, Nara sudah harus bolak-balik ke ruang bimbingan membawa tumpukan modul Fisika. Sementara aku, di jam-jam kosong pelajaran, lebih sering memanfaatkan waktu buat meluruskan kaki atau menyandarkan kepala di meja belakang buat memulihkan kondisi fisik sebelum latihan sore nanti.
Diko yang duduk di sebelahku cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat pola hidupku dan Nara.
"Asli ya, kalian berdua ini udah kayak orang paling sibuk se-sekolah," celetuk Diko saat jam istirahat pertama sambil membuka bungkus keripik pedasnya. "Yang satu sibuk mengejar rumus olimpiade, yang satu lagi sibuk tanding silat tiap sore. Jarang banget kulihat kalian ngobrol lama di kelas sekarang."
Aku yang lagi memijat pelan otot bahuku menoleh ke arah Diko. "Ya mau gimana lagi, Dik. Mumpung ada kesempatan, harus dimanfaatin betul-betul."
"Iya sih, tapi hati-hati lho, Sat," kata Diko sambil mengunyah keripiknya.
"Hati-hati kenapa?" tanyaku heran.
"Anak-anak tim olimpiade sekolah itu kan gabungan dari kelas lain juga, termasuk anak-anak kelas XI dan XII. Kulihat kemarin Nara sering belajar kelompok bareng anak-anak unggulan kelas lain di perpustakaan," ujar Diko santai.
Mendengar ucapan Diko, ada cetusan aneh yang sempat menyengat di dalam dadaku. Tapi aku dengan cepat mengibaskan pikiran itu. Nara itu cewek yang sangat lurus, ambisius sama pelajaran, dan benci hal-hal yang ribet. Mana mungkin dia kepikiran hal-hal lain di luar belajar.
"Ya baguslah kalau dia ada temen belajar yang sepadan, Dik. Anak-anak IPA 2 kan jarang ada yang sanggup nemenin dia ngitung rumus Fisika tingkat tinggi," balasku tenang, mencoba bersikap dewasa.
"Yaa... aku cuma ngingetin aja sebagai sahabatmu, Sat," sahut Diko sambil menepuk bahuku.
Siang harinya sekitar jam dua siang, sebelum persiapan latihan silat dimulai pukul tiga sore, aku berjalan ke kantin Mbok Darmi membeli satu plastik es teh manis dingin. Mumpung ada waktu luang sebentar, aku berniat memberikan es teh ini ke Nara yang sedang bimbingan mandiri di ruang perpustakaan lantai dua.
Koridor lantai dua cukup sepi. Pintu ruang perpustakaan terbuka sedikit. Dari balik celah pintu kaca, aku melihat Nara sedang duduk di meja panjang dekat jendela besar. Dia tidak sendirian. Ada dua anak laki-laki lain yang duduk di meja yang sama, sibuk mendiskusikan lembaran soal dengan papan jalan di tangan mereka.
Aku mengenali salah satu dari mereka—kakak kelas tingkat XI yang memang langganan juara olimpiade sains sekolah. Nama samarannya Kusuma. Dia orangnya rapi, berkacamata, dan punya gaya bicara yang terkesan sangat pinter dan tenang.
Nara kelihatan serius mendengarkan penjelasan Kusuma yang sedang merinci sebuah rumus di atas kertas. Terlihat sekali betapa nyambungnya obrolan akademis di antara mereka.
Aku berdiri di luar pintu perpustakaan sejenak, menggenggam kantung plastik berisi es teh manis di tanganku. Ada rasa minder tipis yang mendadak merayap halus di dinding dada. Di dalam ruangan ber-AC itu, Nara berada di dunia yang sangat relevan dengan dirinya—dunia orang-orang terpintar di sekolah. Sementara aku, sebentar lagi harus bersiap mandi keringat di gelanggang matras.
Aku menghela napas pelan, mencoba menepis rasa minder yang enggak berguna itu. Aku membuka pintu perpustakaan pelan-pelan sampai bunyi gesekan pintunya terdengar.
Nara menoleh ke arah pintu. Begitu matanya menangkap kehadiranku, raut wajah seriusnya seketika berubah. Dia sedikit kaget.
"Satria?" panggil Nara pelan.
Kusuma dan satu temannya ikut menoleh menatapku. Tatapan mata Kusuma terasa agak datar, tipe tatapan anak pintar melihat murid biasa yang salah masuk ruangan.
"Nih, es teh dingin biar kepalamu enggak pusing ngitung rumus," kataku santai sambil melangkah mendekati meja mereka dan meletakkan es teh plastik itu di dekat tas ransel Nara.
Nara menatap plastik es teh itu, lalu menatap wajahku. "Kamu ngapain ke sini? Nanti telat lho, ini kan udah mau jam tiga sore."
"Iya, ini sekalian mau turun ke aula bawah buat latihan sore, Ra. Cuma mampir sebentar ngasih ini," jawabku sambil tersenyum tenang, berusaha sewajar mungkin di depan teman-teman belajarnya.
Nara mengambil es teh itu, lalu menatapku dengan sorot mata yang agak canggung. "Makasih ya, Sat."
"Sama-sama. Jangan lupa diminum. Aku turun dulu ya mau ganti baju latihan," kataku sambil menepuk pelan meja kayu, lalu berpaling tanpa menunggu balasan lagi dari teman-teman belajarnya.
"Satria, tunggu," panggil Nara pelan dari belakang.
Aku menghentikan langkahku di dekat pintu perpustakaan, menoleh lagi ke arahnya. Nara berdiri dari kursinya, berjalan mendekatiku di dekat pintu.
"Kenapa, Ra?" tanyaku.
Nara memandangi raut wajahku dengan cermat. Cewek ini memang selalu punya kepekaan yang tajam, seolah bisa membaca kalau ada perubahan energi di dalam diriku.
"Kamu... enggak apa-apa kan?" tanya Nara halus, suaranya dipelankan agar tidak terdengar oleh Kusuma dan temannya di meja sana.
Aku menyunggingkan senyum lebarku yang biasa. "Enggak apa-apa lah, Ra. Kenapa emangnya? Ya udah, lanjutin belajarnya. Aku mau persiapan latihan sore. Sukses bimbingannya ya!"
Nara menatap mataku agak lama, mencari-cari kebohongan di sana. Tapi aku tetap mempertahankan senyum santaiku sampai dia akhirnya mengangguk pelan.
"Iya. Semangat latihannya ya, Sat," bisiknya.
Aku mengangguk, lalu berbalik menyusuri tangga turun menuju ruang ganti aula bawah.
Latihan sore itu berjalan dari jam tiga sampai jam enam sore dengan intensitas sangat tinggi. Pukulan, tendangan, dan bantinganku sore itu meluapkan seluruh emosi dan rasa pusing yang sempat berkecamuk di dalam kepala. Pelatih Utama bahkan sempat memuji ketajaman refleksku di akhir latihan.
Pukul enam sore lewat sedikit, usai mandi dan berganti pakaian seragam sekolah, aku menuntun motor bebekku keluar dari gerbang sekolah yang mulai sepi. Langit sore membiru gelap diiringi hembusan angin dingin.
Sesampainya di rumah dan selesai makan malam bersama keluarga, aku berbaring di atas kasur kamar yang empuk. Seluruh badan rasanya pegal, tapi ada rasa lega yang memenuhi dada.
Aku mengambil HP seluler jadoelku dari atas meja belajar, melihat layarnya yang kedip-kedip menandakan ada satu pesan SMS masuk dari nomor Nara.
"Es tehnya enak, pas banget diminum pas pusing. Makasih ya udah dianterin ke perpus tadi sebelum latihan sore. Jangan dipikirin yang tadi, mereka cuma temen tim olimpiade. Selamat istirahat, Calon Atlet :)"
Membaca pesan singkat itu, seluruh ganjalan dan rasa cemas yang sempat ada di dadaku seketika luntur tanpa sisa. Nara ternyata paham apa yang kurasakan tanpa perlu kuucapkan lewat kata-kata.
Aku tersenyum lebar, membalas pesannya dengan perasaan lega yang luar biasa:
"Sama-sama, Mbak Olimpiade. Badanku remuk habis latihan dari jam tiga tadi, tapi baca SMS-mu langsung segar lagi :P Selamat tidur ya!"
Pesan balasan darinya masuk satu menit kemudian:
"Gombal. Tidur sana, besok awas kalau terlambat!"
Aku tertawa kecil membaca balasan singkat yang sangat khas darinya itu, lalu mematikan lampu kamar dengan perasaan gembira. Malam itu aku tidur dengan nyenyak, memantapkan keyakinan bahwa rasa percaya yang kami punya cukup kuat untuk menjaga hubungan ini tetap bertahan.