NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Sosialisasi dan Fondasi Batu

Di dalam aula kastil yang temaram, Vane menatap Arya, menimbang kalkulasi logistik di kepalanya. Membawa komoditas agraris dari kerajaan para elf di wilayah barat jauh bukanlah rute dagang biasa.

"Dua karung besar bibit gandum air," ucap Vane memecah keheningan. "Itu batas maksimal yang bisa kubawa tanpa menarik perhatian penjaga perbatasan kerajaan lain. Barangnya akan tiba di sini dalam waktu tiga minggu."

"Berapa biayanya?" tanya Arya.

"Seratus koin emas untuk setiap karungnya," jawab Vane. "Ditambah seratus koin emas lagi sebagai biaya jalan, mengingat rute perbatasan menuju barat sangat jauh dan berisiko. Totalnya tiga ratus koin emas murni."

"Harga yang masuk akal," balas Arya. Ia melirik ke arah Erson yang berdiri siaga di sudut ruangan.

Erson maju, mengambil tiga kantong kulit dari dalam peti kas kastil, lalu meletakkannya ke atas meja. Dentingan logam berat beradu dengan kayu kayu ek.

"Tiga ratus koin emas. Bayaran penuh di muka," kata Arya.

Vane mengangguk, menarik ketiga kantong tersebut dan menyimpannya ke dalam jubahnya tanpa perlu menghitungnya satu per satu. Kesepakatan tercapai. Saudagar itu menghabiskan sisa anggurnya, membereskan catatannya, dan berpamitan. Segera setelah iring-iringan karavan guild dagang itu meninggalkan wilayah Denwick, Arya langsung bergerak ke tahap selanjutnya. Logistik tidak berguna jika hanya menumpuk di lumbung.

Keesokan paginya, sebelum matahari naik sepenuhnya, suasana di Desa Hilir—pemukiman terbesar di Baroni Denwick—mendadak riuh.

Tiga gerobak besar yang ditarik oleh kuda-kuda kastil berderit memasuki pusat desa. Gerobak-gerobak itu dikawal langsung oleh Max, Josh, Willi, Kin, dan Erson yang mengenakan zirah pelat baja lengkap. Dentingan langkah besi kelima prajurit itu segera mengundang ratusan pasang mata warga desa yang keluar dari gubuk-gubuk mereka.

Arya berkuda perlahan di belakang iring-iringan tersebut, ditemani Hans.

Saat gerobak berhenti di pelataran desa, Arya turun dari pelananya. Ia memberikan isyarat kepada Max. Max segera melompat naik ke atas salah satu gerobak, mengambil sebilah belati, lalu merobek salah satu karung rami besar yang menumpuk di sana.

Biji-biji gandum berwarna keemasan, utuh, dan berkualitas tinggi tumpah berjatuhan ke atas papan gerobak.

Warga desa terdiam. Di Baroni Denwick yang selalu memanen gandum busuk, kualitas pangan sebersih dan sepadat itu adalah pemandangan langka. Sebagian besar dari mereka berasumsi bahwa gandum itu hanya akan disimpan di kastil untuk persediaan keluarga bangsawan.

Arya melangkah maju, berdiri di samping gerobak agar suaranya menjangkau kerumunan.

"Mulai hari ini, jatah gandum akan dibagikan ke setiap keluarga di desa," ucap Arya datar. Suaranya tidak keras, tetapi keheningan dari warga membuat setiap kata terdengar jelas. "Gandum ini bukan pinjaman, dan bukan amal. Ini adalah upah yang dibayarkan di muka."

Kerumunan mulai berbisik pelan, saling pandang. Selama puluhan tahun, pengelola wilayah hanya mengambil pajak dari mereka, tidak pernah membagikan logistik berkualitas seperti ini.

"Musim ini, kita tidak akan menanam gandum di ladang rawa," lanjut Arya. "Kita akan membangun jalur air dan membendung aliran dari perbukitan timur. Aku membutuhkan tenaga setiap pria dan wanita dewasa yang sanggup mengayunkan cangkul dan sekop. Ambil jatah gandum kalian, masak, dan isi perut kalian sampai penuh. Setelah matahari melewati puncaknya, berkumpul di perbukitan timur dengan perkakas kalian."

Arya tidak memberikan ruang untuk pertanyaan. Ia langsung berbalik dan kembali menaiki kudanya, membiarkan Hans dan kelima prajurit intinya mengatur proses pembagian gandum agar tertib.

Bagi para warga, instruksi itu sangat logis. Menggali tanah dan memindahkan batu bukanlah hal baru bagi mereka. Yang membedakan hari ini adalah mereka akan bekerja dengan perut kenyang.

Tepat saat matahari mulai condong ke barat, hampir dua ratus warga desa—laki-laki dan perempuan—telah berkumpul di area perbukitan timur. Mereka membawa cangkul, sekop kayu, dan keranjang anyaman. Energi mereka jelas berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Arya berdiri di tepi bukit batu kapur, menatap ke arah anak sungai selebar tiga meter yang mengalir deras melewati celah sempit berukuran dua meter. Hans berdiri di sisinya, memegang gulungan perkamen berisi sketsa kasar jalur irigasi.

"Tuan Muda, seluruh pekerja sudah siap," lapor Hans. "Tapi... kita tetap tidak memiliki alat pemecah batu untuk menghancurkan pilar tebing ini agar runtuh menutupi celah air."

Beberapa warga desa di barisan depan juga mulai berbicara pelan. Mereka melihat tebing batu padat di hadapan mereka dan aliran sungai di bawahnya. Menghancurkan batu padas sebesar itu menggunakan cangkul biasa akan memakan waktu berminggu-minggu, dan alat mereka pasti akan hancur lebih dulu.

"Kalian tidak perlu memecahkan batu," kata Arya, menoleh ke arah kerumunan pekerja. "Kalian hanya bertugas menggali tanah setelah airnya terbendung."

Tanpa menjelaskan lebih jauh, Arya berjalan mendekati struktur formasi batu kapur di sisi kanan celah tersebut. Ia melangkah menuruni kontur tebing, hingga ia berdiri sejajar dengan pilar batu alami yang menopang tumpukan bebatuan di atasnya. Air sungai mengalir menderas hanya beberapa jengkal dari ujung sepatunya.

Warga desa mengamati gerak-geriknya. Max dan prajurit lainnya berjaga di sekitar lokasi, memastikan tidak ada yang mendekat.

Arya meletakkan telapak tangan kanannya yang terbalut sarung tangan kulit ke permukaan batu padas tersebut. Matanya menyusuri retakan-retakan rambut alami pada struktur batu, mencari titik kelemahan struktural.

Ia memusatkan fokus. Ritme pernapasannya melambat, lalu tarikannya menjadi jauh lebih dalam. Teknik sirkulasi Lion Breathing bekerja memaksa serat otot melampaui batas wajar manusia biasa. Oksigen memompa darah dengan kecepatan tinggi, memusatkan energi kinetik sepenuhnya ke bahu kanan, turun ke lengan, lalu berkumpul di kepalan tangannya.

Arya menarik tangan kanannya sedikit ke belakang. Tidak ada cahaya sihir atau mantera. Hanya perpaduan pengetahuan anatomi material dan ledakan kekuatan fisik.

Dengan satu gerakan efisien dan brutal, Arya menghantamkan kepalan tangannya tepat ke titik retakan utama pilar batu tersebut.

BAM!

Suara hantaman itu menyerupai godam besi raksasa yang menghantam lempengan padat. Selama sedetik, tidak terjadi apa-apa. Namun kemudian, suara retakan tajam terdengar dari dalam formasi tebing. Celah-celah rambut di permukaan pilar kapur seketika melebar dan merambat naik.

KRAK!

"Mundur!" perintah Arya tegas, lalu melompat ke dataran yang lebih tinggi.

Pilar penopang itu hancur berantakan. Kehilangan fondasinya, bongkahan bebatuan kapur seberat ribuan kilogram dari tebing atas langsung longsor ke bawah dengan suara gemuruh yang keras. Warga desa menjerit tertahan, beberapa terjatuh ke tanah karena getaran benturan di bawah kaki mereka. Debu putih mengepul tebal, menutupi pandangan di sekitar celah.

Ketika debu perlahan tersapu angin, kerumunan warga desa menatap celah sungai itu.

Celah sempit berukuran dua meter itu kini tertutup total oleh tumpukan bongkahan batu padas. Aliran air yang tadinya melintas dengan deras seketika terhalang. Suara gemuruh sungai tergantikan oleh suara air yang mulai menggenang, bergolak menabrak tumpukan batu, lalu secara bertahap mulai naik mengisi area cekungan berbatu di belakang reruntuhan tersebut.

Bendungan alami tercipta hanya dengan satu hantaman.

Tidak ada warga desa yang bersuara. Mereka menatap reruntuhan batu itu, lalu menoleh ke arah Arya yang sedang membersihkan sisa debu dari sarung tangannya. Ketakutan dan kepatuhan absolut tergambar di wajah para petani. Pemuda di depan mereka memiliki kekuatan yang jauh di luar pemahaman mereka.

Arya mengabaikan tatapan takjub tersebut. Ia berjalan mendekati Hans dan menunjuk sketsa di tangan kepala pelayannya.

"Airnya mulai naik. Genangan di belakang tebing ini akan meluas menjadi area tambak utama kita," kata Arya dengan suara yang memecah keheningan. Ia menunjuk ke arah tanah miring di sisi bendungan. "Mulai gali parit dari sisi ini, ikuti patok kayu yang sudah dipasang. Arahkan jalurnya turun menuju lahan rawa di desa. Alirkan sisa airnya dengan teratur."

Mendengar instruksi yang jelas, para warga langsung bergerak. Ratusan orang itu menyebar menuju posisi masing-masing. Suara cangkul yang menghantam tanah segera menggema.

Dari titik itu, proses transformasi Baroni Denwick resmi berjalan. Tambak ikan dan fondasi irigasi persawahan mulai terbentuk secara sistematis.

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!