'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Keluarga Nelson.
...~•Happy Reading•~...
Nelson jadi ingat kedatangannya ke kampung untuk mengunjungi Kakek dan Neneknya di akhir masa sekolah. Dia ditemani Papa Mamanya untuk meminta dukungan doa, karena dia akan kuliah.
°°~
Melihat kedatangan mereka bertiga, Tante Ridho bersikap sinis terhadap Mama Papanya. Om Ridho juga ikut bersikap kasar saat mengatahui Kakek Samy mau membagi warisan kepada Papanya.
"Minta dukungan doa atau dana? Persengkokolan kalian bau amis." Pak Ridho menyatakan rasa curiga bahwa, mereka sudah bersekongkol dengan Kakek Samy dan bersembunyi di balik alasan kedatangan untuk mohon doa.
"Ridho, mungkin ikan mati di hatimu. Jadi bau amisnya cemari otakmu." Bentak Pak Esra.
"Ridho, kalau pikiranmu tercemar karna pembagian warisan? Jangan curiga pada kakakmu." Kakek Samy ikut emosi mendengar ucapan Pak Ridho dan melihat perilaku istrinya.
"Kakek lebih sayang padanya." Pak Ridho menuduh sambil menunjuk Pak Esra yang mau diberikan warisan tanah oleh Kakek Samy sebagai anak tertua.
"Papa berikan tanah buatnya setelah menghabiskan uang untuk sekolah dan kuliah? Apa tidak salah?" Pak Ridho marah dan tidak setuju.
"Sekarang dia sudah bekerja kantoran dan hidup enak di kota, masih mau diberikan tanah juga?" Pak Ridho masih protes, didukung oleh istrinya yang mengipas bara.
"Apa dengan kondisi itu menghilangkan hak Esra sebagai anak kami? Apa kami melarang kau sekolah?" Kakek Samy marah besar.
Sesuatu yang tidak disangka oleh Kakek Samy, apa lagi melihat istri Pak Ridho terus berbisik di belakangnya seperti ular yang berdesis.
Sehingga terjadi keributan dengan berbagai alasan dan argumentasi, karena Om dan Tante Ridho tidak terima Papanya mendapat bagian warisan.
"Ridho, kalau kau kuliah dan hidup sepertiku, aku tetap berikan apa yang menjadi hakmu. Apa arti persaudaraan kita bagimu?" Pak Esra coba meredahkan situsi yang sudah memanas.
Pak Esra berharap, haknya tetap ada dan diberikan. Kelak mau digunakan atau tidak, itu urusan nanti. Yang terpenting, itu sebagai kenang-kenangan dari orang tuanya dan masih ada anaknya, Nelson.
"Kau bicara begitu, karena ada di depan Papa. Menjilat supaya tetap diberikan warisan. Aku yang tinggal di sini dampingi Papa, kerja keras di kebun, berpanas-panasan. Sekarang kau dengan enak mau dapat bagian dari itu?" Pak Ridho makin ngegas, karena istrinya terus menggosok.
Pak Esra menahan marah dengan menggenggam tangan di atas pahanya dengan kuat. Agar amarahnya tidak meledak di depan Nelson dan kedua orang tuanya.
Bu Weny tetap diam sambil memegang lengan Pak Esra dan mengusap perlahan, supaya tidak makin emosi. Sepanjang mereka bersama baru pernah Bu Weny melihat suaminya sulit mengendalikan emosinya.
"Nel, ajak adik-adikmu keluar main di luar." Bu Weny mencegah anak-anak mereka mendengar dan ikut campur dengan keruwetan orang tua mereka.
"Biar saja anakmu yang keluar, jangan atur anak-anak kami." Bu Ridho mencegah kedua anaknya diajak keluar olen Nelson yang sudah berdiri.
Nelson tidak jadi keluar. Dia duduk di samping Tine dan berbisik padanya, supaya jangan perhatikan pembicaraan orang tua. Hal itu makin membuat hati Bu Ridho mengepul melihat Tine mengangguk
"Suami istri, anak, sama saja, kalau bicara soal warisan. Pura-pura baik di muka, padahal...." Bu Ridho ikut bersuara, setelah mendengar usul Bu Weny dan sikap Nelson.
"Anak kami melakukan apa pada kalian? Dia cuma mendengar permintaan kami untuk tidak ikut campur persoalan orang tua. Kalau itu tidak kalian ajarkan kepada anak-anak kalian, tolong hargai cara kami mendidik anak." Bu Weny menjawab, agar Pak Esra tidak makin emosi mendengar perkataan Bu Ridho.
"Kalian tidak mau ada pembagian warisan tanah, tapi kalian mau wariskan perseteruan buat anak-anak?" Bu Weny yang tidak biasa banyak bicara, jadi menanggapi Bu Ridho yang dianggapnya tidak etis bicara di depan anak-anak dan mertua.
Sehingga terjadi keributan panjang. Saling bertukar kata tumpang tindih, tidak mau mengalah dan tidak mau dengar. Mereka berhenti ribut setelah Kakek Samy berteriak, karena melihat istrinya memegang dada dan sulit bernafas.
Kondisi Neneknya tidak bisa tertolong. Sejak Neneknya meninggal, Papanya tidak sering ke gunung untuk melihat Kakeknya, agar Om dan Tantenya tidak berpikir tentang warisan.
°°~
"Tidak, pa'pa Tante. Kami cuma bercanda. Silahkan diminum." Nelson mempersilahkan dengan menggerakan tangan ke gelas berisi teh yang disuguhkan Tine.
Tine makin kesal melihat Nelson tetap bersikap sopan pada Mamanya. "Kak Nel gak pernah begadang?" Gak pernah bangun siang?" Tine mengalihkan pertanyaan kepada Nelson, agar Mamanya tahu, ada Nelson di antara mereka.
"Pernah begadang. Dan akibatnya, bangun siang." Jawab Nelson sambil meraba arah pertanyaan Tine. Dia khawatir, jawabannya bisa memperkeruh suasana.
"Kakak begadang karna pacaran?" Tine bertanya untuk membuka pikiran Mamanya yang tidak mau dibantah.
"Tidak. Kadang ada penelitian, tulis makalah, atau belajar mau ujian semester. Ya, seperti itu." Nelson menjawab normatif, sesuai yang dia lakukan.
"Mama dengar tuh..." Tine tidak meneruskan membalas Mamanya, karena Papanya melarang lewat tatapan tajam.
"Emang pacaran bisa bikin begadang?" Pertanyaan Nelson membuat Mama Tine mendelik kepadanya. Padahal Nelson mau meledek Tine, agar suasana kembali ceria, sekaligus memberikan gambaran kepada Tantenya. Supaya Tine tidak sering dimarahi untuk sesuatu yang belum pasti, hanya berupa dugaan.
Nelson jadi berpikir untuk protes kepada Tantenya dengan caranya. "Maaf, Tante. Kalau Tine pacaran di sini sampai begadang, apa pacarnya ajak dia lari turun naik gunung?" Pertanyaan Nelson membuat Kakeknya tersenyum, tapi wajah Mama Tine ditekuk sambil menatap tajam Nelson.
"Sudah dengar tuh, Ma. Pacaran di kampung ini kemana sampe begadang? Nangkap babi hutan?" Tine menyambut bola yang dilempar Nelson dan bertanya dengan wajah kesal.
Tine makin kesal ingat cara Nelson berkomunikasi dengan Papa Mamanya yang hangat dan akrab. "Kak Nel, kami pacaran taruhan manjat pohon itu." Tine menunjuk salah satu pohon besar di dekat mereka.
"Oh. Emang kau pacaran dengan nyomet?" Celetukan Nelson membuat Tine mendekat dan memukul punggungnya. Mama Tine menunjukan wajah tidak suka kepada Papa Tine yang hanya diam melihat kelakuan Tine dan Nelson.
"Tadi bilang aku cantik. Sekarang bilang pacarku berbulu. Kakak macam apa ini?" Protes Tine, manja. Tapi Mamanya melototin dia.
"Eh, Tine. Sebentar. Jadi benar kau sudah punya pacar?"
"Kak Nelson, apa sih. Cuma naksir-naksir doang."
"Oh, pantes Tante curiga. Gelagatmu mungkin seperti orang pacaran. Sana, cari ikat rambutmu." Nelson menggerakan tangan, menyuruh Tine pergi.
"Cari ikat rambut saja belum bisa, mau cari pacar." Nelson meledek Tine. Dia lupa pada emosi Tantenya. Tine merajuk dan meninggalkan mereka sambil mengibaskan rambutnya.
"Ade cantik, terima kasih tehnya. Walau ada rasa asam rambutmu." Teriak Nelson.
Tine berbalik. "Kalau tahu gak dibelain, tadi aku tambahkan beberapa helai rambut lagi di teh kakak. Biar tambah asam." Tine balas berteriak, membuat Mamanya emosi.
"Tineeee...! Anak itu, makin keterlaluan." Mama Tine berteriak dan melototi Nelson yang memancing sikap manja Tine.
...~•••~...
...~•○♡○•~...