Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Ambruknya Sang Pelindung
Lanjut...
Tubuh manusia memiliki batasnya, dan mental yang terus-menerus dihantam oleh rasa bersalah, paranoia, serta insomnia berkepanjangan akhirnya mencapai titik jenuh yang mematikan.
Dua minggu setelah insiden di taman kota, hujan deras disertai angin kencang dan kilatan petir mengguyur kota sejak sore hari. Suasana di dalam mansion terasa sangat dingin dan mencekam.
Aris mengurung diri di ruang kerjanya sejak pagi. Ia menolak makan siang dan hanya meneguk tiga cangkir kopi hitam pekat untuk menahan rasa pusing hebat yang menghantam kepalanya sejak bangun tidur.
Pandangannya terhadap layar laptop mulai kabur, angka-angka laporan keuangan di depannya tampak menari-nari, dan badannya terasa sangat panas membakar dari dalam.
Pukul delapan malam, Aris berusaha berdiri dari kursi kerjanya. Ia berniat menuruni tangga untuk melihat Raya dan Cyla sebelum kembali beristirahat.
Namun, baru tiga langkah kakinya melangkah keluar dari pintu ruang kerja menuju koridor lantai dua, dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat.
Klek!
Langkah kaki Aris tersandung karpet koridor. Rasa mual yang luar biasa membuncah di perutnya, diikuti oleh rasa dingin yang menusuk tulang-tulangnya. Pandangannya yang kabur mendadak berubah menjadi gelap gulita seketika. Hingga akhirnya...
BRUUUUKKK!
Tubuh jangkung dan atletis Aris ambruk menghantam lantai kayu koridor dengan suara dentuman yang sangat keras. Berkas dokumen yang dipegangnya pun berserakan di atas lantai.
Raya yang sedang meninabobokan Cyla di kamar utama tidak jauh dari lokasi kejadian, terperanjat mendengar dentuman keras tersebut.
"Suara apa itu?!" gumam Raya panik.
Ia dengan cepat meletakkan Cyla yang sudah tertidur lelap ke dalam crib, lalu berlari keluar kamar.
Begitu membuka pintu, pemandangan mencekam menyapa matanya. Aris tergeletak tak berdaya di atas lantai koridor dengan posisi miring. Wajah pria itu pucat pasi bagaikan kertas, matanya terpejam rapat, dan napasnya terdengar sangat memburu dan berat.
"ARIS!" jerit Raya histeris, air matanya seketika menetes deras.
Raya berlari menghampiri Aris, menjatuhkan dirinya di samping tubuh pria itu. Ia lalu merengkuh kepala Aris ke dalam pangkuannya.
Saat jemarinya menyentuh kening dan leher Aris, Raya terperanjat, kulit pria itu terasa sangat panas membakar, bercampur dengan keringat dingin yang mengucur deras.
"Aris! Aris, bangun! Tolong buka matamu, Aris!" jerit Raya histeris seraya menepuk-nepuk pipi Aris dengan tangan gemetar parah.
Namun, Aris tidak memberikan respon sedikit pun. Pria perkasa yang selama ini menjadi benteng pelindungnya, pria yang selalu memikul segala beban dengan wajah tenang buatan itu... kini terkapar tak berdaya di pangkuannya, dikalahkan oleh beban stres dan kelelahan yang menggerogoti kesehatannya dari dalam.
"Suster Santi! Pak Guard! Tolong! Tolong bantu aku!" teriak Raya histeris memecah keheningan mansion, memanggil siapa saja di bawah untuk menyelamatkan pria yang dikira sangat dicintainya itu.
Setengah jam kemudian, suasana di kamar Aris berubah menjadi sangat tegang namun tertata.
Dokter pribadi keluarga Aris, Dr. Gunawan, yang dipanggil secara darurat oleh Hendra, baru saja selesai memeriksa kondisi vital Aris. Selang infus sudah terpasang di punggung tangan kanan Aris, mengalirkan cairan nutrisi dan penurun panas ke dalam pembuluh darahnya.
Hendra berdiri tegang di sudut ruangan dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan. Sementara Raya duduk di sisi tempat tidur, menggenggam erat tangan kiri Aris yang terasa panas, dan tak berhenti memanjatkan doa di antara isak tangisnya.
Dr. Gunawan menghela napas panjang, merapikan stetoskopnya, lalu menoleh menatap Raya dan Hendra.
"Bagaimana keadaannya, Dokter? Kenapa dia?!" tanya Raya tergesa-gesa dengan mata yang sembab.
"Pak Aris mengalami demam tinggi akibat peradangan sistemik yang dipicu oleh kelelahan fisik ekstrem (burnout) dan stres tingkat tinggi," terang Dr. Gunawan dengan nada serius. "Sistem imun tubuhnya mendadak anjlok total. Beliau sepertinya sudah tidak tidur dengan layak dan tidak makan dengan benar selama berminggu-minggu."
Dokter menatap Raya dengan pandangan prihatin. "Ibu Raya, Pak Aris butuh istirahat total dan perawatan intensif beberapa hari ke depan. Saya sudah memberikan obat penurun panas dan vitamin melalui infus. Malam ini adalah fase puncak demamnya, jadi tolong pastikan dahinya dikompres secara berkala dan suhu tubuhnya terus dipantau."
"Baik, Dokter... Saya yang akan merawatnya sendiri sepanjang malam," sahut Raya mantap tanpa ragu sedikit pun.
Setelah Dokter Gunawan dan Hendra pamit keluar ruangan, suasana kamar menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar deru halus pendingin udara dan rintik hujan di luar jendela.
Raya melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan baskom berisi air hangat dan selembar kain handuk lembut. Taj lama, ia kembali ke samping tempat tidur Aris, duduk di kursi kayu berbusa, lalu memeras kain kompres dengan telaten.
Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian, Raya menyapukan kain hangat itu ke dahi Aris yang membara, menyapu bulir-bulir keringat dingin di leher dan dada pria itu.
"Kenapa kamu harus memaksakan dirimu seperti ini, Aris...?" bisik Raya lirih, air matanya pun menetes jatuh menimpa selimut Aris. "Kamu selalu memikirkan aku dan Cyla... kamu selalu memastikan kami tercukupi dan aman... tapi kamu sendiri tidak pernah peduli dengan kesehatanmu..."
Raya meraih tangan kiri Aris yang tidak terpasang infus, menggenggamnya erat di antara kedua telapak tangannya lalu menempelkannya di pipinya yang hangat.
Sepanjang malam, Raya tidak memejamkan mata sedikit pun. Setiap satu jam sekali, ia mengganti kain kompres Aris dengan sabar.
Ia mengusapkan air hangat ke jemari Aris yang kaku, merapikan letak selimut tebalnya agar pria itu tidak menggigil, dan membisikkan kata-kata penyemangat yang lembut di samping telinga Aris.
"Bertahanlah, Aris... Cepat sembuh, ya. Aku dan Cyla ada di sini menjaga kamu," bisik Raya, seraya merapatkan pelukan tangannya pada jari-jemari Aris.
Menjelang subuh, suhu tubuh Aris perlahan-lahan mulai turun. Napas pria itu yang tadinya memburu kini menjadi lebih teratur dan tenang.
Di tengah lelap tidurnya, Aris yang perlahan melewati masa kritisnya dapat merasakan sentuhan lembut dan kehangatan tulus dari jemari Raya yang tidak pernah melepaskannya sepanjang malam, sebuah kehangatan dari wanita yang begitu mencintainya, tanpa menyadari bahwa pria yang sedang dirawatnya itu adalah sosok yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya.
Bersambung...