Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Akibat Kopi
"Miko, Komandan sudah makan?" Sisil mengirim pesan pada Ajudan Komandan Kaivan yang sedang menemani Komandan Kaivan di Markas Kodam.
Ada kegiatan di Markas Kodam yang membuat Komandan Kaivan harus menginap di sana selama tiga hari. Kegiatan itu juga yang membuat Komandan Kaivan cukup sulit di hubungi. Maka dari itu, Sisil berusaha mencari kabar Komandan Kaivan melalui Ajudannya.
"Aman, Dokter Sisil. Komandan tidak melewatkan makan siang." Jawab Miko.
Sejak hubungan mereka sudah di ketahui oleh semua anggota yang ada di Markas Batalyon, keduanya tampak tak canggung lagi untuk menunjukkan kedekatan mereka.
"Tolong ingatkan Om-om itu, supaya jangan terlambat makan. Usianya sudah tidak lagi muda. Dia harus jaga kesehatannya."
Miko menyemburkan tawa ketika membaca pesan balasan yang dikirimkan oleh Dokter Sisil. Ia bersyukur karena ia memiliki partner untuk mengghibahi Komandannya.
"Kenapa ko tertawa tiba-tiba?" Tanya Komandan kaivan.
"Tidak ada, Komandan. Hanya melihat vidio lucu saja." Jawab Miko yang beralasan pada Komandannya.
"Dimana ponsel saya?" Tanya Komandan Kaivan pada Miko.
Miko segera memberikan ponsel Komandannya yang memang ia pegang. Setelah menerima ponselnya, Komandan Kaivan pun segera mengaktifkan ponselnya.
Begitu ponsel miliknya aktif, puluhan pesan beruntun masuk di room chatnya. Kebanyakan pesan itu berasal dari Sang Kekasih yang berada di Markas Batalyon.
Komandan Kaivan tersenyum-senyum sendiri ketika membaca pesan masuk dari Sisil. Pria matang itu tampak seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta.
"Kenapa Komandan senyum-senyum? Lihat vidio lucu juga, kah?" Goda Miko.
"Kapan saya senyum-senyum? Ko salah lihat saja." Jawab Komandan Kaivan sembari membalas pesan dari Sisil.
"Eh! Mana ada saya salah lihat. Mata saya belum buram, apa lagi dari jarak sedekat ini." Sahut Miko tak terima.
"Tolong belikan saya kopi." Pinta Komandan kaivan sembari menyodorkan uang ke arah Miko.
"Tadi pagi Komandan sudah minum kopi, kan?" Tanya Miko yang dijawab anggukan oleh Komandan Kaivan.
"Dokter Sisil bilang, Komandan tidak boleh banyak minum kopi." Ujar Miko kemudian.
"Dia tidak akan tau kalau ko tidak mengadu. Ko pasti jadi mata-mata ya?" Kata Komandan Kaivan.
"Saya cuma menjalankan perintah calon Ibu Komandan saja. Ini juga demi kesehatan Komandan yang sudah tak muda lagi." Jawab Miko.
"Ko bilang saya tua?" Sergah Komandan Kaivan.
"Tidak, bukan saya. Dokter Sisil yang bilang begitu." Jawab Miko sambil menunjukkan pesan yang di kirim oleh Sisil.
Komandan Kaivan mendengus setelah membaca pesan yang di kirim oleh Sisil ke ponsel Miko. Namun, ada gelenyar perasaan bahagia karena gadisnya itu selalu menanyakan kondisinya pada Ajudannya saat ia tak bisa di hubungi.
"Eh! Tadi Komandan kesal, kenapa sekarang tiba-tiba Komandan tersenyum-senyum?" Tanya Miko dengan tatapan aneh.
"Tidak apa-apa. Belikan saya kopi susu, kalau begitu." Pinta Komandan kaivan.
"Kan saya sudah bilang, Komandan tidak boleh terlalu banyak minum kopi. Sampai sore ini saja, Komandan sudah menghabiskan tiga gelas kopi." Ujar Miko.
"Makanya saya minta kamu belikan kopi susu. Kan ada susu yang sehat di dalam kopi itu." Jawab Komandan Kaivan.
Meski merasa aneh dengan jawaban Komandannya, namun Miko akhirnya menuruti perintah Komandannya itu. Sebagai mata-mata yang baik, Miko tetap harus melaporkan apa yang dikerjakan oleh Komandannya pada calon Ibu Komandan, sesuai perintah dari Kekasih Komandannya itu.
Tak butuh waktu lama, Miko sudah kembali dengan membawa segelas kopi susu hangat pesanan Komandannya. Setelah memberikan gelas itu pada Komandan Kaivan, Miko kemudian pamit pergi karena ada perintah tugas yang harus di kerjakan para Ajudan.
Saat sedang asyi menikmati kopinya, ponsel Komandan kaivan tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan vidio masuk ke ponselnya dari gadis kesayangannya.
"Assalamualaikum." Sapa Sisil ketika panggilan vidionya di terima oleh Komandan Kaivan.
"Waalaikumsalam, Sayang." Jawab Komandan Kaivan dengan lembut.
"Mas lagi dimana?" Tanya Sisil.
"Masih di kamar asrama, Sayang." Jawab Komandan Kaivan.
"Ada apa?" Tanyanya kemudian.
"Mas minum kopi lagi?" Tanya Sisil.
"Ah, itu-"
"Memang Miko gak sampaikan pesanku ke Mas?" Tanya Sisil.
"Sampaikan kok. Ini Mas minum kopi susu, bukan kopi hitam seperti tadi." Jawab Komandan kaivan yang memberi penjelasan pada Sisil.
"Tetep aja itu kopi, Mas." Sergah Sisil.
"Miko mengadu, ya?" Tanya Komandan kaivan.
"Ini bukan masalah mengadu atau enggak. Memang aku yang minta Miko buat melaporkan kalau Mas konsumsi kopi berlebih." Jawab Sisil yang membuat Komandan Kaivan menelan ludahnya dengan susah payah.
"Kalau cuma satu atau dua gelas sehari, gak apa-apa. Tapi, Mas konsumsi kopi sampai empat bahkan lima gelas sehari. Itu wajar gak sih?" Cicit Sisil.
"Tapi Mas terbiasa seperti itu, Sayang." Jawab Komandan Kaivan.
"Memang gak bisa belajar mengurangi? Gak ada salahnya belajar mengurangi konsumsi kopi berlebihan seperti itu. Apa lagi, usia Mas sudah tiga puluhan, Mas harus lebih aware sama kesehatan Mas. Kalo pelan-pelan mengurangi juga, nanti bisa terbiasa minum kopi sewajarnya, kok." Kata Sisil.
"Pantas aja Mas jarang lapar, karena Mas udah kenyang minum kopi." Imbuh Sisil lagi.
"Tapi, rasanya Mas tidak bisa jauh dari kopi, Sayang." Lirih Komandan Kaivan.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ia jauh dari kopi. Karena selama ini kopi lah yang selalu menemaninya dikala ia merasa down.
"Jadi, bisa hidup tanpa aku dari pada tanpa kopi?" Tanya Sisil.
"Gak bisa di bandingkan seperti itu juga dong, Sayang." Sergah Komandan Kaivan.
"Ah! Terserah Mas deh. Susah banget bicara sama orang keras kepala. Aku ngingetin Mas ayak gini, ya, karena aku sayang sama Mas. Aku gak mau Mas kenapa-napa. Memangnya Mas rela, lihat aku bermesraan sama laki-laki lain dari surga? Harusnya Mas masih bisa ngerasain bermesraan sama aku, tapi malah gak bisa karena udah gone duluan akibat konsumsi kopi berlebih." Omel Sisil.
"Tapi kalo itu mau Mas, terserah deh. Aku yang muda, sehat dan kinyis-kinyis ini, pasti masih banyak yang mau kok, meskipun statusnya janda, nanti." Imbuh Sisil yang sengaja memanas-manasi Kekasihnya.
"Astaga, Sayang. Tega banget kamu ngomong gitu ke Mas?" Sahut Komandan Kaivan.
"Mas tuh, yang tega berencana buat jadiin aku janda." Jawab Sisil.
"Udah ah! Aku capek berdebat sama Mas. Assalamualaikum." Ucap Sisil yang kemudian menghentikan panggilan vidio itu secara sepihak.
"Astaga..." Lirih Komandan Kaivan.
Ini adalah perdebatan panjang pertama mereka selama menjalin hubungan pacaran. Komandan Kaivan mencoba kembali menghubungi Sisil, namun Sisil terus mengabaikan telfon dan pesannya hingga membuat Komandan berusa tiga puluh empat tahun itu menjadi frustasi.
😄😄😄😄