NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Orang-orang keluar dari persembunyian satu per satu, seperti hewan yang menunggu badai berlalu.

Seorang karyawan bank berlari ke arah Elang dengan tangan terulur, lalu berhenti setengah meter di depannya karena tidak tahu harus berbuat apa. Matanya merah. "Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak. Kalau tidak ada Mas, kami semua..."

"Jangan dibahas." Elang menepuk bahunya sekali.

Seorang bapak tua mengambil kacamata retaknya dari lantai dan memasangnya miring. Seorang ibu memeluk anak laki-laki tadi erat-erat sambil mengucapkan terima kasih berulang kali, tanpa memandang siapa pun. Satpam yang tadi meringkuk di bawah konter bangkit, menatap pintu yang hilang, lalu duduk di lantai begitu saja.

Sirene berhenti di depan gedung. Pintu mobil dibanting satu per satu.

Lima orang berseragam masuk dengan senjata terarah ke bawah, melewati kusen kosong. Pemimpinnya pria bertubuh kekar, berusia empat puluhan, dengan rambut pendek dan jaket tugas yang tidak dikancing. Ia berhenti di ambang, memindai lobi dengan sekali sapuan, dan mengangkat tangan agar anak buahnya berhenti.

Empat perampok tergeletak di lantai dengan tangan sudah diborgol seorang petugas. Satu di antaranya masih mengerang.

"Siapa yang melakukan ini?"

Semua mata terarah ke Elang.

Seorang wanita tua mengangkat tangan sedikit, ragu. Rambutnya putih tipis, dan ia membawa tas kain yang lusuh. "Pak, saya lihat semuanya. Anak muda ini yang menghajar mereka."

"Ibu bisa ceritakan dari awal?"

Wanita tua itu menceritakan semuanya dengan suara bergetar. Pintu kaca yang hancur. Perampok yang menembak. Peluru yang dijepit dua jari. Lengan yang bersinar perak. Pria yang dilempar ke tiga temannya. Setiap kalimat diucapkan pelan, seperti orang yang takut dirinya sendiri dianggap berbohong.

Polisi itu mendengarkan tanpa menyela. Ketika wanita tua itu selesai, ia mengangguk dan menoleh ke Elang.

"Namaku Agus." Ia mengulurkan tangan. "Aku kepala tim yang menangani kasus perampokan di wilayah ini. Terima kasih atas bantuannya, Nak. Kami sudah mengejar kelompok ini hampir setahun."

Elang menjabat tangan itu. Genggamannya singkat dan ringan.

"Boleh aku tahu namamu, Nak?"

"Elang." Ia berhenti sebentar. "Itu saja."

Pak Agus menunggu nama belakang. Nama itu tidak datang, dan ia tidak mendesak.

"Itu kewajiban manusia untuk saling menolong." Elang mengatakannya tanpa menaikkan nada, dengan ekspresi tenang. Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sudah lama dipersiapkan.

Pak Agus tersenyum lebar. Di belakangnya, salah satu petugas berbisik pada rekannya sambil menunjuk lubang peluru di langit-langit, dan rekannya hanya bisa mengangguk tanpa suara. Ia menggeleng pelan, seakan baru mendengar sesuatu yang jarang ia dengar. "Jarang ada anak muda yang bicara begitu. Orang tuamu pasti bangga."

Senyum Elang tidak bergeser. 'Orang tuaku, tidak pernah bangga, yang mereka banggakan hanya si bodoh.'

"Pak Agus!" Seorang petugas berlari kecil dari arah luar. "Wartawan sudah di depan. Mereka tidak mau mundur."

Pak Agus menarik napas dan menoleh pada Elang. "Kamu mau lewat pintu belakang? Aku bisa atur."

"Tidak perlu." Elang merapikan kerah kemejanya dan berjalan menuju pintu depan. "Biarkan mereka masuk."

Cahaya matahari menyambutnya terlebih dulu, putih dan menyilaukan. Di baliknya, belasan kamera terangkat, lensa-lensa hitam berkilat di antara lengan-lengan yang berdesakan. Seorang reporter perempuan dengan mikrofon bertuliskan nama stasiun televisi ternama mendorong maju paling depan.

"Mas! Mas, Anda orang yang menghentikan truk di Mall Wijaya kemarin, kan?"

"Bagaimana Anda menghajar empat perampok bersenjata sendirian?"

"Anda atlet bela diri? Dari perguruan mana?"

"Apakah benar Anda menangkap peluru dengan tangan kosong?"

Pertanyaan-pertanyaan itu tumpang tindih, dan lampu kilat menyambar bergantian. Elang berhenti di anak tangga terakhir, tidak bergerak, membiarkan semua itu jatuh di atas tubuhnya. Seorang juru kamera mengangkat lensanya sedikit lebih tinggi.

Seorang reporter laki-laki menjulurkan mikrofon begitu dekat sampai hampir menyentuh dagunya. Seorang lagi berteriak menanyakan alamat rumahnya. Di antara mereka, seorang remaja merekam dengan ponsel yang diangkat tinggi, terlalu bersemangat untuk sadar bahwa lengannya gemetar.

Elang menunggu sampai suara itu mereda sendiri.

Lalu ia tersenyum.

"Dengan sedikit keberanian," katanya, tenang dan jernih, "dan tekad untuk menyelamatkan."

Hening sepersekian detik. Kemudian ledakan baru.

Di belakangnya, di layar televisi di lobi bank yang pecah, siaran berita berhenti pada satu bingkai: wajahnya, dari sudut pandang kamera pengawas, dengan tulisan merah di bagian bawah.

SIAPA PEMUDA INI?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!