Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang yang Sederhana
Siang itu, matahari bersinar cukup terik memanggang aspal kampus.
Suasana Universitas Bina Bangsa jauh lebih ramai dibanding hari-hari sebelumnya. Mahasiswa berhamburan keluar dari berbagai gedung fakultas setelah kelas sesi pertama usai. Beberapa gerombolan berjalan menuju kantin pusat, sementara sebagian lainnya memilih berteduh di bawah pohon rindang sambil asyik membuka ponsel.
Arka berjalan keluar dari gedung fakultas ekonomi bersama Rendy.
Tangannya masih memegang gulungan beberapa lembar kertas hasil revisi skripsi yang penuh coretan pena merah.
"Gue lapar," celetuk Rendy tiba-tiba sambil memegangi perutnya.
Arka meliriknya sekilas. "Terus?"
"Ya makan lah."
"Terus?"
"Ya ajak gue makan kek, traktir kek."
Arka membuang napas pelan. "Lu punya kaki, punya dompet. Jalan sendiri."
Rendy tertawa sinis. "Mentang-mentang anak manajemen, pelitnya konsisten dan terstruktur banget."
Arka hanya menggelengkan kepala sambil memasukkan gulungan kertas itu ke dalam ranselnya.
Mereka baru saja berjalan beberapa meter menuju arah kantin ketika ponsel di saku celana Arka bergetar pendek.
Satu pesan masuk.
Alya Renata.
Langkah Arka terhenti sejenak.
Alya: Kamu sudah makan siang?
Arka menatap layar itu selama beberapa detik sebelum jempolnya mulai mengetik.
Arka: Belum. Kenapa?
Balasannya datang sangat cepat, seolah wanita itu memang sedang memegang ponselnya.
Alya: Aku juga belum nih.
Alya: Ada tempat makan sederhana di dekat kampusmu yang enak, nggak?
Arka berpikir sebentar. Di sekitar kampus sebenarnya menjamur banyak sekali tempat makan. Namun, sebagian besar selalu penuh sesak oleh mahasiswa pada jam istirahat seperti ini. Jelas tidak akan nyaman dan aman jika Alya datang ke tempat seramai itu tanpa penyamaran ekstra.
Ia teringat satu tempat favoritnya yang agak nyempil.
Arka: Ada. Warung makan sekitar lima menit jalan kaki dari kampus.
Arka: Tapi tempatnya beneran sederhana.
Tiga titik tanda 'typing...' muncul dan hilang, lalu muncul lagi.
Alya: Sederhana seberapa sederhana maksudnya?
Arka tersenyum kecil membayangkan tempat itu.
Arka: Meja plastik.
Arka: Kursi plastik warna-warni luntur.
Arka: Sambal dan kecap terbuka di meja.
Arka: Dan kipas angin gantung yang bunyi deriknya lebih keras daripada suara orang ngobrol.
Hanya butuh lima detik bagi Alya untuk membalas.
Alya: Wah, kedengarannya menarik.
Alya: Bisa temani aku makan di sana?
Arka mematung menatap layar ponselnya.
Untuk alasan yang tidak bisa ia mengerti, pertanyaan terakhir itu membuatnya terdiam.
Bukan karena ia gugup diajak makan berdua oleh perempuan. Hanya saja...
Alya adalah manusia yang terbiasa hidup di tempat yang sangat berbeda darinya. Restoran fine-dining mewah dengan reservasi, ruang tunggu VIP, lokasi syuting ber-AC, dan acara-acara eksklusif (red carpet).
Sekarang, perempuan itu justru memintanya menemani makan di warung tenda panas pinggir jalan.
Tanpa banyak berpikir lagi, Arka akhirnya mengetik satu kata.
Arka: Bisa.
Rendy yang sejak tadi berdiri memperhatikan di sampingnya, langsung menjulurkan leher mencoba mengintip layar.
"Senyum-senyum sendiri. Chat dari siapa lu?"
"Teman."
Rendy memicingkan matanya. "Teman?"
"Iya, teman."
"Teman yang kebetulan namanya Alya Renata?"
Arka menatap Rendy dengan ekspresi datar yang sangat mengancam.
Rendy langsung mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah. "Oke, oke. Gue paham. Gue enggak ikut."
"Memang dari awal enggak ada yang ngajak lu."
"Sadis banget mulut lu, Ka." Rendy tertawa keras lalu menepuk bahu sahabatnya itu dan berjalan mundur. "Gue melipir makan mi ayam di kantin aja. Selamat menikmati makan siang private bersama artis nasional!"
Arka mendecak pelan dan menggeleng. "Berisik lu."
Sekitar lima belas menit kemudian, Arka sudah tiba di sebuah warung makan rumahan yang terletak di gang kecil, tidak jauh dari pintu belakang kampus.
Tempat itu memang persis seperti yang dideskripsikannya. Atap seng yang menghantarkan panas, meja-meja plastik yang diselimuti taplak plastik motif bunga memudar, dan kursi baso yang warnanya sudah tidak seragam.
Di bagian depan warung, sebuah etalase kaca menampilkan berbagai lauk dalam panci. Aroma ayam goreng lengkuas yang baru diangkat dari wajan, tumis kangkung terasi, dan sambal bawang langsung menyambut penciuman siapa pun yang masuk.
Arka memilih meja paling sudut yang agak tertutup dari pandangan luar.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan dengan outfit penyamaran andalan—kemeja flanel longgar, celana jeans, topi bisbol hitam, dan masker medis—melangkah masuk ke dalam warung.
Ia memutar pandangannya, meneliti sekeliling. Begitu pandangannya menangkap sosok Arka yang duduk di sudut, perempuan itu langsung berjalan menghampirinya.
"Aku telat?" sapa Alya sambil menarik kursi plastik di seberang Arka.
Arka menggeleng. "Enggak. Pas."
Alya duduk. Ia kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru warung kecil itu. Kipas angin di atas mereka berderik nyaring sesuai deskripsi Arka.
"Ini tempatnya?"
"Iya. Katanya tadi tertarik," balas Arka santai.
"Aku memang tertarik banget." Alya melepas topinya, lalu menarik maskernya ke bawah dagu. Ia menoleh melihat daftar menu sederhana yang dicetak di spanduk dan ditempel di dinding seng.
Matanya sedikit membesar. "Harganya... murah banget."
Arka tertawa kecil. "Memangnya kenapa kalau murah? Takut sakit perut?"
"Enggak kenapa-kenapa, bukan gitu maksudku." Alya membaca deretan menu itu. "Nasi ayam... nasi telur dadar... mi goreng telur..."
Ia kembali menatap Arka dengan antusias. "Ini benar-benar makanan sehari-hari anak mahasiswa di sini?"
"Kurang lebih. Penyelamat di akhir bulan."
Alya bertepuk tangan pelan sekali. "Kalau begitu, aku mau pesan apa yang paling sering kamu pesan di sini."
"Nasi ayam goreng lengkuas."
"Oke. Aku nasi ayam."
Arka berdiri dari kursinya. "Biar aku yang pesan ke depan."
Alya mengangguk setuju.
Beberapa menit kemudian, pelayan warung mengantarkan dua piring nasi ayam ke meja mereka.
Nasi putih hangat yang mengepul, potongan ayam goreng rempah yang sederhana, sedikit sayur lalapan, dan sambal merah di pinggir piring.
Alya menatap makanannya lekat-lekat.
Tidak ada seni plating dari koki bintang michelin. Tidak ada piring keramik mahal bersalut emas. Tidak ada pelayan berseragam rapi yang berdiri menunggu di belakang kursi.
Hanya seporsi makanan sederhana yang biasa menyelamatkan perut mahasiswa yang kelaparan setelah kelas.
Namun entah kenapa, Alya justru tersenyum sangat tulus melihatnya. "Kelihatannya enak banget."
"Ya memang enak."
Alya mengambil sendok dan garpunya, mengusapnya sekilas dengan tisu, lalu bersiap makan.
"Kalau ternyata rasanya enggak enak, aku bakal salahin kamu ya."
"Lho? Kenapa salahin saya?" protes Arka.
"Karena kamu yang rekomendasiin tempat ini."
Arka terkekeh pelan. "Logika dari mana itu?"
"Logika orang yang lagi lapar," jawab Alya mantap.
Alya mulai menyuapkan nasi dan sedikit ayam ke dalam mulutnya. Beberapa detik kemudian, gerakannya terhenti. Matanya membulat sedikit.
Arka yang baru saja menyeruput es teh manisnya langsung memperhatikan wanita itu dengan waswas. "Kenapa? Kepedesan? Atau kurang enak?"
Alya mengunyah perlahan, menelannya, lalu mengangguk cepat. "Enak banget, Arka."
Arka menghela napas lega. "Kan. Sudah dibilang."
"Serius. Bumbunya meresap sampai ke dalam."
"Gue kan enggak pernah bilang bohong."
Alya tidak menanggapi lagi. Ia langsung mengambil satu suapan besar berikutnya. Kemudian satu lagi dengan lahap.
Arka yang sedari tadi belum menyentuh makanannya, justru terdiam memperhatikan Alya yang sedang makan tanpa sadar.
Di tempat ini... tidak ada kamera resolusi tinggi yang merekam setiap gerakannya. Tidak ada makeup artist yang khawatir lipstiknya memudar. Tidak ada sutradara yang meneriakkan instruksi. Dan tidak ada orang-orang bermuka dua yang memintanya untuk selalu tersenyum anggun di depan publik.
Perempuan di depannya ini hanyalah seseorang yang sedang menikmati makan siang dengan sangat berselera.
Sesederhana itu.
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!