Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 Bayangan yang Mulai Bergerak
Rumah baru milik Mira berada jauh dari pusat kota, tempat itu tenang. Tertutup pepohonan tinggi. Dan hampir tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya.
Alkina berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi langit sore. Entah kenapa sejak pindah ke tempat itu, suasana hati Mira berubah lebih tegang.
Wanita itu lebih sering menerima telepon diam-diam. Lebih sering keluar malam. Dan beberapa pria asing mulai terlihat berjaga di sekitar rumah.
“Nenek Mira…” Mira menoleh pelan.
“Ada apa nak?”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” sungguh Alkina sangat penasaran.
Tatapan Mira melembut namun perempuan itu tetap tidak bisa mengatakan semuanya sekarang. Belum saatnya Alkina mengetahui semuanya.
“Beberapa orang sedang mencari kamu nak,” jawabnya pelan.
Tubuh Alkina langsung sedikit menegang. Ia khawatir ia akan kembali merasakan kehidupan seperti sebelum ia keluar dari rumah itu.
“Apa itu keluarga aku, nek?”
Mira terdiam sesaat. Ia bahkan menarik nafas sebelum berbicara.
“Bukan cuma mereka saja, tapi orang yang menginginkan posisi kamu...”
Deg.
Jantung Alkina mulai tidak nyaman dan untuk pertama kalinya sejak pergi dari rumah ia kembali merasakan ketakutan lagi.
Di sisi lain
Ranti semakin kehilangan ketenangan karena meski mereka terus mencari Alkina diam-diam, hasilnya tetap nihil. Mereka sama sekali tidak menemukan jejak Alkina.
“Ada seseorang yang melindunginya.” Suara kepala keamanan keluarga terdengar serius.
Ranti langsung mengangkat kepala.
“Maksud kamu?”
“Jejak Nona Alkina selalu dihapus sebelum kami mendekat.” Setiawan ikut mengernyit.
“Profesional?” Pria itu mengangguk.
“Dan orang ini punya koneksi besar, tuan.”
Ranti langsung terdiam entah kenapa ia justru merasa lega, bukan karena ia tidak menyayangi Alkina karena ia berpikir itu berarti Alkina mungkin tidak sendirian.
“Mereka tidak menyakitinya kan?” tanya Ranti lirih.
“Sejauh ini tidak ada indikasi buruk nyonya.”
Ranti memejamkan mata pelan.
"Syukurlah." Itu saja yang bisa ia pikirkan sekarang.
"Mama harap kamu bertemu dengan orang yang sayang dan perduli dengan kamu nak." ucap Ranti penuh harap.
Asal Alkina aman dan selamat. Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama karena malam itu seseorang mengirim paket misterius ke rumah keluarga Wiratmaja.
Sebuah kotak hitam kecil tanpa nama pengirim.
Setiawan membukanya dengan hati-hati dan isi di dalamnya langsung membuat Ranti membeku.
Foto-foto lama Alkina. Foto saat gadis itu mencuci pakaian sendirian. Saat tangannya penuh luka. Saat tidur di lantai sambil memeluk buku sekolah.
Ranti langsung gemetar hebat.
“Anak kita…” ia tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Lalu ada satu amplop putih Setiawan membukanya perlahan.
Tulisan di dalamnya pendek. (Kalian gagal melindungi dia. Sekarang jangan berharap bisa menemukannya lebih dulu, aku tidak akan mmebiarkan kalian menemukan keberadaan Alkina.)
Tatapan Setiawan langsung tajam.
“Siapa yang kirim ini…” namun Ranti justru menangis semakin keras karena setiap foto itu menunjukkan penderitaan Alkina yang tidak pernah ia lihat atau mungkin sengaja ia abaikan.
Sementara itu di rumah persembunyian, Arkan sedang duduk diam memandangi layar monitor.
Di sana terlihat rekaman CCTV rumah keluarga Wiratmaja. Ia melihat Ranti menangis sambil memeluk foto Alkina.
Namun wajah Arkan tetap dingin, seorang laki-laki kepercayaannya berdiri di belakang.
“Tuan muda… apakah perlu kita hentikan pengiriman berikutnya?” Arkan menggeleng pelan.
“Belum, teruskan.” ucap Arkan mengepalkan tangannya.
“Tapi mereka terlihat sangat terpukul, tuan.”
Tatapan Arkan perlahan berubah gelap.
“Justru itu hal yang bagus.”
Ia tidak peduli Ranti menyesal sekarang karena tidak ada satu pun penyesalan yang bisa mengembalikan masa kecil Alkina, tidak ada yang benar-benar bisa menyembuhkan luka adiknya.
“Biar mereka merasakan sedikit saja…” suara Arkan rendah, “…apa yang dirasakan Alkina selama bertahun-tahun hidup bersama mereka.”
Ia ingin orang tuanya sadar betapa jahatnya mereka terhadap Alkina, ia ingin orang tuanya sadar batapa menderitanya Alkina selama ini.
Sementara di lain tempat
Di apartemen kecil mereka, Hendro dan Livia mulai semakin panik.
“Ranti diam-diam memindahkan aset lagi!” bentak Livia frustrasi.
“Berapa banyak?” Hendro mengusap wajah kasar.
“Hampir semua saham utama!” Sisil duduk diam di sudut ruangan dengan wajah pucat.
Ia bahkan tidak lagi diizinkan memakai kartu kredit keluarga dan sekarang orang tua kandungnya mulai terlihat mengerikan di matanya.
“Kita harus cepat menemukan Alkina,” ujar Hendro dingin.
“Tapi kita nggak tahu dia di mana! Kita seperti selalu di arahkan ke jalan buntu.”
“Kalau begitu cari orang yang menyembunyikannya.” Tatapan pria itu perlahan berubah tajam.
“Dan kalau perlu…” Sisil langsung menegang saat mendengar nada suara ayahnya.
“…singkirkan siapa pun yang menghalangi.”
Deg.
"Bagaimana mau menyingkirkan orang itu, kita saja sampai sekarang belum tahu siapa orang itu." ucap Livia.
"Makanya kita cari tahu secepatnya." ucap Hendro
"Bicara itu mudah, tapi kenyataannya kita sama sekali tidak menemukan Alkina... Aku merasa Alkina dilindungi oleh orang yang punya kemampuan besar."
"Apa maksud kamu."
"Bisa saja dia dilindungi oleh orang kaya yang di takuti, mafia kejam atau orang yang punya pengaruh besar dan sulit di sentuh."
Untuk pertama kalinya Sisil benar-benar takut melihat orang tua kandungnya. Melihat orang tuanya yang begitu obsesi untuk memiliki harta keluarga Wiratmaja, melihat kedua orang tuanya mengatur rencana untuk menyingkirkan orang lain.
******
Malam semakin larut.
Alkina sedang tertidur di kamar barunya ketika tiba-tiba ia bermimpi.
Dalam mimpi itu seorang anak laki-laki menggenggam tangannya erat sambil tersenyum.
“Jangan nangis terus, na.”
Suara itu hangat, lembut, an sangat familiar.
“Kakak janji akan selalu melindungi Alkina.”
Air mata mengalir di wajah Alkina bahkan saat tertidur.
“Kak Arkan…” Ia terbangun mendadak dengan napas gemetar.
Dadanya terasa sesak namun anehnya ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun bayangan tentang kakaknya tidak terasa jauh lagi.