Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: PENYELIDIKAN MALAM HARI
Malam makin larut, membawa pekat yang kian mencekam di atas mansion Baskara. Jarum jam dinding di kamar utama telah melewati angka dua belas malam, namun ruang kerja utama di lantai dasar masih terang benderang. Arsen terpaksa tertahan dalam rapat bisnis mendadak bersama Baskara dan para jajaran komisaris—sebuah strategi sengaja dari sang ayah untuk menyita seluruh perhatian dan energi Arsen hingga dini hari.
Di dalam kamar utama, Clara berdiri mematung di balik tirai jendela. Kegelisahan dan bayang-bayang kebenaran tentang ibunya, Ratna, terus berputar liar memukuli dinding kesadarannya.
Ibu adalah istri Baskara... Ibu kabur demi menyelamatkan kandungannya dari aborsi...
Keinginan untuk mengetahui identitas dirinya sendiri membakar habis rasa takut Clara. Malam ini adalah satu-satunya kesempatan. Karena pemecatan mendadak Bi Inah dan Bi Mbok sore tadi, jadwal penjagaan koridor lantai dua sedikit goyah dan mengalami pergantian sip.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Clara memutar gagang pintu kamar utama secara perlahan.
Klek.
Pintu terbuka tipis. Dua pengawal yang biasanya berjaga di depan pintu tampak sedang dipanggil ke area tangga oleh kapten keamanan. Lorong barat lantai dua membentang gelap, sunyi, dan dingin bak lorong tak berpenghuni.
Clara melepas alas kakinya, melangkah tanpa suara di atas lantai marmer menuju ujung koridor barat. Setiap langkah rasanya begitu berat, ditarik oleh gema masa lalu yang tersimpan di balik bayang-bayang mansion megah ini.
Di ujung lorong yang remang-remang, berdiri sebuah pintu kayu jati berukir kuno yang tertutup rapat. Dua rantai besi tebal melilit gagang pintunya, terkunci rapat oleh gembok hitam berukuran besar yang tampak sudah berkarat ditelan waktu.
Inilah kamar tersegel—tempat ibunya pernah dikurung dan disiksa secara mental sebelum akhirnya nekat melarikan diri.
Clara mendekatkan wajahnya, meraba permukaan kayu pintu yang terasa begitu dingin. Usaha melarikan diri sang ibu belasan tahun lalu seolah terbayang jelas di depan matanya: rasa takut, tangisan, dan keputusasaan seorang wanita hamil yang mencoba menyelamatkan nyawa bayinya dari kekejaman Baskara.
Saat tangan Clara yang gemetar menyentuh rantai besi itu, jemarinya secara tidak sengaja menggeser celah kecil di bingkai pintu yang sudah sedikit melapuk.
Di sana, terselip sebuah selongsong kunci kecil kuningan yang tampaknya terjatuh atau sengaja disembunyikan di atas selasar bingkai pintu belasan tahun lalu.
Napas Clara tercekat. Sambil terus melirik cemas ke arah lorong utama, jemari gemetarnya menyambar kunci kecil itu. Ia memasukkannya ke dalam lubang gembok berkarat.
Kliik.
Suara mekanisme gembok yang terbuka terdengar bagai dentuman petir di tengah keheningan malam.
Clara menahan napasnya, jantungnya berdegup luar biasa kencang saat rantai besi itu perlahan terlepas dan meluncur jatuh ke pangkuannya. Namun, sebelum Clara sempat mendorong pintu kayu berdebu itu untuk menyingkap rahasia di dalamnya, sebuah aroma parfum maskulin yang sangat akrab menyeruak di belakang tengkuknya.
Sebuah tangan tegap bernoda memar di buku-buku jarinya mendadak terulur dari belakang, menahan daun pintu itu agar tidak terbuka.
"keberanianmu malam ini sangat berbahaya, Clara."
Bisikan suara bass yang rendah, dingin, dan sarat akan keterkejutan bergaung tepat di samping telinga Clara. Arsen berdiri rapat di belakang punggungnya, menatap gembok yang terbuka di tangan Clara dengan pendar mata pekat yang diliputi campur aduk antara cemas, amarah, dan ketakutan yang amat sangat.