NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10: Rintihan Shinta hingga Dipaksa Pindah

Mengingat waktu sebelumnya, saat kami tidur di sofa, tidak ada hal yang terjadi. Kami pun memutuskan untuk mengulanginya, kami tidur di sofa sambil menonton televisi untuk mencari kantuk.

Tapi rupanya malam ini tidak berlaku karena tiba-tiba saja aku terbangun dalam keadaan duduk, seperti seseorang baru saja menarik tubuhku dari mimpi buruk.

Jantungku berdegup tak karuan, sampai rasanya menggetarkan seluruh tubuh. Nafasku terengah, butuh beberapa detik sampai mataku bisa fokus pada ruangan di sekitarku.

Barang-barang sudah berpindah tempat.

Botol minum tergeletak jauh di lantai, berguling pelan seakan tadi baru saja dilempar. Remote televisi ada di bawah meja, padahal sebelum tidur aku yakin benar benda itu ada di sandaran sofa.

Tirai pintu sudah terbuka sehingga memperlihatkan suasana kota yang masih gelap karena jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari.

Aku menelan ludah, melihat ke arah Jefry dan Hendra yang masih tertidur pulas.

“Aduh, tolong,” tiba-tiba terdengar suara rintihan dari dalam kamar.

Itu suara Shinta.

Tanpa ragu aku langsung bergegas membangunkan Jefry, “Bang, bangun, Shinta butuh bantuan, Bang.”

Ia membuka matanya dengan berat, tapi begitu sadar dengan apa yang aku ucapkan, ia langsung bangkit berjalan menuju kamar utama.

Aku mengikutinya, penasaran dengan apa yang terjadi pada Shinta.

Wajahnya pucat, mata memerah, tidak seperti biasa, meski ia berusaha terlihat tenang, tapi kali ini ia tak mampu menahannya.

Shinta terus merintih kesakitan.

“Bang, sakit banget bang. Aduh!” lirih.

Jefry berusaha untuk menenangkannya, “Iya, Dek, sabar ya. Minum dulu obatnya, mudah-mudahan habis bisa mendingan.”

Kalimat itu terdengar seperti kebohongan yang ia tujukan pada dirinya sendiri.

“Bang, serius ini nggak apa-apa?” tanyaku memastikan.

Respon Jefry hanya mengangguk, seakan tidak mengizinkan aku membahas lebih lanjut.

Ketika aku kembali ke ruang tengah, Hendra terlihat duduk memeluk lutut. Bahunya naik turun. Ia terlihat seperti menangis sesegukan.

“Bang?” panggilku.

Tapi ia tidak merespon.

Langkahku terhenti karena teringat peristiwa kemarin saat Hendra menatapku dengan begitu tajam, seakan kerasukan sesuatu.

Aku menduga kalau ini hal yang sama telah terjadi.

Tak berani melanjutkan, aku kembali ke kamar utama untuk memberitahukan Jefry.

“Bang, itu kayaknya Bang Hendra kerasukan lagi deh,” ucapku.

Shinta yang sebelumnya kesakitan langsung diam, menatapku heran seakan ingin melakukan sesuatu tapi masih tidak berdaya.

“Udah, Bang Jef sama Bagas, urusin Bang Hendra aja dulu, takut kenapa-kenapa,” kata Shinta sambil menahan rasa sakit.

Namun betapa terkejutnya kami saat kembali ke ruang tengah, Hendra sudah tidak ada di sana.

Kami pun memanggil namanya beberapa kali.

“Dug, dug, dug!”

Terdengar suara sesuatu menghantam dinding kamar. Kami pun langsung menyadari kalau Hendra berada di dalam.

Dengan perlahan, aku membuka pintu kamarnya. Tapi ternyata Hendra justru terlihat sedang tidur di atas ranjang.

“Jadi tadi suara apa ya, Bang?”

Jefry hanya menggelengkan kepala, “Gua ke Shinta dulu deh ya.”

“Lo istirahat aja, besok bangun pagi.”

Aku pun menuruti apa yang diucapkan Jefry. Tapi dalam hati kecil, aku tidak ingin sendirian. Rasa takut ini masih menyelimuti isi pikiranku.

Pagi datang tanpa sepenuhnya memberi cahaya terang karena langit terlihat mendung. Abu-abu, seperti menekan kota Bandung dari atas.

Rasa kantuk belum sempat hilang, tapi kami sudah harus bersiap kerja. Semua terlihat lunglai tidak bertenaga. Aku yakin bukan karena kelelahan secara fisik, tapi mental.

Shinta yang kondisinya paling parah.

Namun ia tetap memaksa tersenyum, “Gua kuat kok, santai aja,” katanya sambil merapikan hijab yang agak miring.

Padahal dari cara ia berjalan saja sudah kelihatan, bahunya seperti menanggung beban yang tidak biasa. Setiap melangkah di lorong apartemen ini, tubuhnya sedikit condong ke depan.

Seakan ada sesuatu yang menempel di punggungnya, membebani, dan memeluk dari belakang.

Aku merinding tiap kali memperhatikan.

“Dek, nanti kalau sakit jangan dipaksa,” kata Jefry memberi perhatian kepada asisten kesayangannya.

Ia hanya mengangguk pelan.

Sedangkan aku mulai mengalihkan pandangan ke Hendra yang dari tadi hanya diam. Aku juga teringat peristiwa semalam. Memikirkan apakah perlu dibahas sekarang atau nanti saja.

“Bang? Lo aman?” tanyaku ke Hendra.

“Aman,” jawabnya singkat dengan suara yang serak.

Jefry ikut bicara, “Ayolah, jangan lemes kayak gitu. Kita pasti bisa kok. Gua yakin ini cuma sementara aja. Mungkin ya penghuni lama apartemen mau kenalan aja sama kita.”

Hendra tersenyum tipis, tapi matanya kosong.

Lift kembali berulah.

Begitu pintu akan menutup, tiba-tiba terbuka lagi. Seperti ada yang menekan tombol lift dari luar.

Kejadian ini terjadi beberapa kali hingga membuat Jefry keluar dari lift, memperhatikan sekeliling.

“Nggak ada siapa-siapa,” ujarnya.

Hendra menimpali, “Mulai deh, kumat. Lo sih bang, tadi bilang penghuni sini mau kenalan. Iseng kan dia.”

“Ini kenapa lagi sih?” gumam Shinta dengan suara pelan.

Begitu Jefry masuk ke dalam lift, Hendra mencoba untuk menekan tombol. Lagi-lagi pintu lift terbuka, tapi kali ini muncul sesosok wanita muda yang mengejutkan kita berdiri di depan pintu lift.

“Astaghfirullah!” teriak Hendra refleks.

Sambil menunduk, wanita keturunan tionghoa itu berjalan masuk ke dalam lift.

Kami sebenarnya ingin bersikap ramah, tapi melihat gestur dari wanita tersebut yang seakan tidak berkenan untuk diajak bicara, kami hanya diam.

Pada akhirnya, pintu lift tertutup. Kami pun turun.

Namun yang aneh, wanita itu bukan menuju lantai dasar. Ia menekan tombol lantai dua.

Tak berapa lama, lift bergerak turun, lalu terbuka di lantai dua, wanita itu langsung buru-buru keluar.

“Itu siapa ya?” tanya Hendra.

“Tau tuh, sombong banget. Kayak dia siapa aja,” ketus Jefry yang merasa kesal karena sikap cuek wanita tadi.

***

Setibanya di restoran, Sully sudah menunggu di dalam restoran. Begitu melihat Shinta, ia langsung menatap kami satu-satu.

Wajahnya tegang.

“Kalian mending pindah aja ya?” katanya. Kali ini nadanya tidak hanya cemas, tapi seperti memohon.

“Gua serius lho. Ini udah nggak sehat banget. Kalian lihat Shinta, kondisi kalian semua juga, daripada nanti kenapa-kenapa, repot sendiri.”

Aku mengangguk pelan, menandakan gestur setuju tapi tanpa mengucapkan apapun.

Belum sempat selesai Sully memberikan perhatian kepada Shinta, Jefry memotong.

“Udahlah Bu Bos, santai aja. Ini cuma sugesti,” katanya santai. “Jangan lebay gitu ah, Dek. Masa kita kalah sih sama yang begituan. Ini sementara aja, yakin sama gua,” lanjut Jefry bicara menoleh ke Shinta.

Sully menggeleng keras. “Jefry, Jefry, gua nggak mau tanggung jawab ya, anak orang lo bikin gini.”

“Ada apa sih? Serius sekali?” tanya Damar yang baru datang.

Lagi-lagi Jefry memotong saat Sully ingin merespon, “Nggak, aman aja Pak Bos.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!