NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 : Keracunan Obat Nyamuk

Cahaya pedang menyambar membelah awan malam, berbenturan keras dengan tongkat logam hitam yang memancarkan aura kematian. Gelombang kejut dari benturan itu menyapu pucuk-pucuk pohon pinus hingga patah berhamburan.

Di udara, melayang sesosok wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun. Ia mengenakan gaun sutra ungu yang berkibar anggun, namun pedang ganda di tangannya memancarkan hawa membunuh yang luar biasa pekat. Di seberangnya, seorang kakek tua bungkuk berjubah abu-abu compang-camping tertawa serak, bertumpu pada tongkat tengkoraknya yang diselimuti kabut hitam.

"Menyerahlah, Nona Hua! Kau sudah terluka parah!" seru kakek tua itu. Suaranya serak seperti gesekan dua batu berkarat. "Serahkan Peta Segel Iblis itu pada sekte kami! Untuk apa seorang wanita tua sepertimu mempertahankan barang rongsokan itu? Usiamu sudah tiga puluh, lebih baik kau pulang dan mencari suami, lalu melahirkan anak daripada mati di tanganku malam ini!"

Nona Hua menyeka darah di sudut bibirnya. Matanya menyorotkan kebencian yang mendalam. "Tutup mulut busukmu, Kakek Bangka! Peta ini adalah kunci pertahanan Benua Timur! Jika jatuh ke tangan anjing-anjing sekte aliran hitam seperti kalian, jutaan nyawa akan melayang! Kau menyuruhku mencari suami? Cih, pedangku ini jauh lebih setia daripada pria tua bau tanah sepertimu!"

"Keras kepala!" raung sang Kakek. Ia memutar tongkatnya, menciptakan puluhan tengkorak api hitam yang melesat bagai meteor ke arah wanita itu. "Kalau begitu matilah dan jadikan pupuk untuk hutan ini!"

"Formasi Teratai Ungu Pembelah Surga!" teriak Nona Hua. Ia memutar tubuhnya di udara, pedang gandanya menciptakan pusaran energi berbentuk bunga teratai raksasa yang menangkis setiap tengkorak api tersebut. Ledakan demi ledakan menerangi langit malam, menciptakan gemuruh yang terdengar hingga puluhan mil jauhnya.

Sementara pertarungan tingkat tinggi itu menghancurkan langit, penderitaan yang sesungguhnya justru terjadi di daratan, tepatnya di sebuah desa kecil di pinggiran hutan.

Gerombolan preman gunung yang tak lain adalah kelompok preman berkepala plontos yang kemarin disengat lebah oleh Lin Yue kini melampiaskan kemarahan dan rasa malu mereka pada penduduk desa yang tak berdaya. Obor-obor dilemparkan ke atap jerami. Api berkobar melahap rumah-rumah kayu. Suara jeritan, tangisan, dan barang-barang yang dihancurkan memenuhi udara malam.

"Bakar semuanya! Geledah setiap sudut! Cari emas, perak, dan gandum! Siapa yang berani menyembunyikan hartanya, potong tangannya!" teriak si Bos Preman Botak, wajahnya masih bengkak-bengkak bekas sengatan lebah, membuatnya terlihat semakin beringas dan kejam.

Ia menendang pintu sebuah gubuk hingga hancur berkeping-keping. Di dalam, seorang pria paruh baya yang kakinya pincang berusaha melindungi istri dan anak perempuannya yang masih kecil.

"Tuan! Tolong ampun! Kami hanya petani miskin! Kami tidak punya emas!" seru pria pincang itu dengan gemetar, merentangkan tangannya sebagai perisai.

"Tidak punya emas? Lalu untuk apa kau hidup, sampah?!" Bos Preman itu mengangkat golok tebalnya tinggi-tinggi. "Kalau begitu nyawamu saja yang kubawa!"

"TIDAK! KUMOHON JANGAN BUNUH SUAMIKU!"

Sang istri merangsek maju, menjatuhkan dirinya ke tanah dan memeluk lutut preman botak itu sambil menangis histeris. Air matanya membasahi sepatu kotor si perampok. "Ambil semuanya! Ambil sisa beras kami! Ambil selimut kami! Tapi tolong biarkan suamiku hidup! Anak kami masih kecil, dia butuh ayahnya! Kumohon, Tuan, kau pasti juga punya keluarga!"

"Keluargaku adalah golok ini, wanita tua!" Preman itu tertawa kejam, menendang wanita itu hingga terpental membentur dinding. "Bunuh pria pincang itu! Tangkap anak perempuannya untuk dijual ke rumah bordil ibu kota!"

Jeritan memilukan sang ibu dan tangisan ketakutan anak kecil itu menggema di tengah desa yang terbakar, menciptakan sebuah harmoni neraka yang sangat menyayat hati, sangat kontras dengan kilatan sihir indah di langit malam yang tak peduli pada nasib rakyat jelata.

---

Sementara dunia luar dilanda kehancuran dan pertarungan berdarah, suasana di Perguruan Cang Yue justru dipenuhi oleh kepanikan yang konyol dan menggelikan.

Di dalam Paviliun Pengobatan sekte, bau herbal menyengat hidung. Tabib Kepala sekte, seorang pria tua berkacamata tebal, sedang menempelkan jarum perak ke beberapa titik akupunktur di leher dan dada Shen Yuan yang terbaring kaku di atas ranjang bambu. Wajah jenius muda itu pucat pasi, dan mulutnya masih mengeluarkan gelembung busa putih kecil.

Di samping ranjang, Tetua Pertama berdiri mondar-mandir seperti harimau yang sakit gigi. Urat di pelipisnya berdenyut liar. Di belakangnya, Shen Rui berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke dalam lengan jubah, wajahnya tenang, polos, dan sama sekali tidak merasa berdosa.

"Bagaimana keadaannya, Tabib?!" bentak Tetua Pertama tak sabar. "Apakah murid ini akan mati? Kalau dia mati karena dihukum di ruang Teratai Hitam, reputasi sekte kita akan hancur!"

Tabib Kepala mencabut jarum peraknya, menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. "Tenang, Tetua. Nyawanya tidak dalam bahaya. Dia akan siuman besok pagi. Tapi..." Tabib itu mengendus udara di sekitar pakaian Yuan. "Qi di tubuhnya lumpuh sementara. Ini bukan keracunan makanan. Ini adalah efek dari menghirup Dupa Pembungkam Beruang Hutan berdosis tinggi secara langsung! Racun yang biasanya dipakai pemburu untuk menumbangkan siluman beruang raksasa! Pertanyaannya... siapa orang gila yang menyalakan dupa beracun ini di dalam ruangan tertutup tanpa ventilasi?!"

Keheningan melanda ruangan itu selama dua detik.

Lalu, sebuah tangan pelan-pelan terangkat ke udara.

"Itu hamba, Tabib yang pintar," jawab Yui dengan nada riang dan bangga, senyum lebarnya mengembang seolah ia baru saja memenangkan kompetisi membaca puisi.

Mata Tetua Pertama nyaris copot dari rongganya. Tabib Kepala menjatuhkan kotak jarumnya karena terkejut.

"K-KAU?!" raung Tetua Pertama, suaranya naik tiga oktaf hingga terdengar seperti ayam jantan tercekik. "Kau sengaja meracuni kakak kembaranmu sendiri, Shen Rui?! Apakah kau ini reinkarnasi dari iblis berdarah dingin?!"

"Eh? Meracuni apa? Jangan berlebihan, Tetua," kilah Yui santai, mengibaskan tangannya menolak tuduhan itu. Wajahnya memancarkan kepolosan yang murni. "Di ruangan itu banyak nyamuk rawa! Mereka mendengung di telingaku dan mau meminum darah bangsawan eh, darah suciku! Jadi aku nyalakan saja dupa anti nyamuk itu. Lagipula, buktinya sangat efektif, kan? Nyamuknya mati semua. Bahkan Kak Yuan tidurnya jadi sangat nyenyak sampai mulutnya berbusa sedikit. Itu kan tanda relaksasi otot tingkat tinggi!"

Tabib Kepala memegangi dadanya, merasa tekanan darahnya sendiri ikut naik. "Relaksasi otot?! Itu busa keracunan saraf, anak bodoh! Jika kakakmu tidak memiliki fondasi elemen angin yang kuat untuk melindungi jantungnya secara otomatis, dia sudah melewati jembatan reinkarnasi malam ini juga!"

"Masa sih?" Yui memiringkan kepalanya, menatap kakaknya yang malang. "Ah, Kak Yuan memang kadang suka melebih-lebihkan sesuatu. Dulu waktu kecil dia juga pernah tidur sambil menganga setelah kuberi minum kuah cabai."

"SHEN RUIIIIII!"

Tetua Pertama akhirnya benar-benar meledak. Ia mencengkeram kerah jubah Yui dan mengangkat pemuda itu hingga kakinya melayang dari lantai.

"Dengar baik-baik, dasar parasit pemalas perusak sekte!" desis Tetua Pertama dengan semburan air liur yang mengenai dahi Yui. "Kesabaranku sudah habis! Benar-benar habis! Jika kau berani membuat satu saja kekacauan lagi, jika kau membuat satu lagi rumput layu, jika kau menjahili satu lagi murid, aku bersumpah demi langit dan bumi, aku akan menyeretmu turun gunung dan MENGEMBALIKANMU PADA ORANG TUAMU!"

Yui berkedip polos, meski kerahnya dicekik kuat. "Maksud Tetua... menyuruh hamba pulang ke rumah?"

"YA! AKU AKAN MEMANGGIL AYAH DAN IBUMU KE SINI AGAR MEREKA MELIHAT SENDIRI BETAPA GAGALNYA MEREKA MENDIDIK ANAK!"

Dalam hati, Yui menahan tawa yang nyaris meledak. 'Menggiring Ayah dan Ibu ke sekte kecil ini? Kakek tua, jika kau benar-benar memanggil Raja dan Ratu Kekaisaran Shen kemari karena urusan obat nyamuk, jantungmu sendirilah yang akan copot melihat pasukan naga emas mengepung gunung ini,' batin Yui penuh geli.

"Baiklah, baiklah, Tetua yang galak," jawab Yui akhirnya, berpura-pura sedih. "Tolong jangan bawa-bawa orang tua saya yang miskin itu. Hamba berjanji akan menjadi anak baik yang menggembala sapi besok pagi. Bisakah Anda melepaskan kerah saya sekarang? Sutra ini lumayan mahal."

Tetua Pertama melempar tubuh Yui ke lantai dengan kasar, lalu berbalik menatap Tabib Kepala dengan napas memburu. "Tabib! Obati anak yang malang itu! Dan kau, Shen Rui! Kembali ke kamarmu dan jangan keluar sampai ayam berkokok, atau aku sendiri yang akan mencekokimu dengan dupa beruang itu!"

***

Likeeee Woyy

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!