NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Perjamuan Malam di Istana Obsidian

Angin malam berembus kencang, menggoyahkan tirai beludru hitam di dalam aula utama Istana Obsidian—kediaman pribadi Duke Killian. Suasana di dalam ruangan itu begitu hening hingga suara detak jarum jam dinding terdengar seperti ketukan palu yang menghitung mundur waktu. Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu eboni hitam, Elena duduk dengan punggung tegak. Gaun malamnya yang berwarna merah marun pekat berpadu kontras dengan kulitnya yang pucat, memberikan kesan dingin sekaligus anggun yang mematikan.

Di seberang meja, Duke Killian sedang menatapnya. Mata merah gelap sang tirani tampak berkilat di bawah temaram cahaya lilin, menyelidiki setiap gerak-gerik wanita di hadapannya. Pembawaan Killian selalu sama—tenang, tak tersentuh, dan memancarkan aura mengintimidasi yang sanggup membuat nyali ksatria terkuat sekalipun menciut.

"Kau membawa informasi yang cukup menarik malam ini, Lady Elena," suara Killian memecah keheningan, berat dan bergema rendah. Dia menyesap anggur merah dari cawannya dengan gerakan yang terukur. "Namun, menyerang jalur pasokan logistik faksi Gavin di wilayah barat bukanlah perkara mudah. Wilayah itu dijaga ketat oleh ksatria ordo serigala perak yang setia kepadanya."

Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang menyimpan kepahitan dari masa depan yang telah ia lalui. Di kehidupan pertamanya, ia sendiri yang membantu Gavin mendanai dan membangun kekuatan militer di wilayah barat tersebut menggunakan seluruh warisan ibunya. Ia tahu setiap celah, setiap pos penjagaan, dan bahkan jadwal pergantian patroli ksatria di sana secara mendetail.

"Mereka memang terlihat tidak tertembus dari luar, Duke," sahut Elena tenang, sepasang mata jernihnya menatap langsung ke dalam manik mata Killian tanpa ada rasa takut. "Namun, fondasi kekuatan Gavin di barat sebenarnya rapuh. Mereka sangat bergantung pada penyelundupan bijih besi ilegal melalui lembah sempit di balik perbatasan. Jika kita menutup jalur itu dan menyita dokumen transaksi mereka, kita tidak hanya memotong suplai senjatanya, tetapi juga memiliki bukti kuat untuk menjatuhkan reputasi Gavin di hadapan Dewan Kekaisaran atas tuduhan pengkhianatan ekonomi."

Killian meletakkan cawannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan jemari yang kokoh. "Kau tahu begitu banyak hal yang seharusnya menjadi rahasia militer, Lady. Terkadang aku bertanya-tanya, dari mana seorang Nona Muda yang menghabiskan waktunya di menara kediaman Count bisa mengetahui peta pergerakan logistik rahasia calon pewaris takhta?"

Jantung Elena sempat berdesir tajam mendengar pertanyaan menyelidik itu. Tentu saja ia tidak bisa mengatakan bahwa ia mengetahui semua itu karena di kehidupan sebelumnya ia adalah istri Gavin yang dikhianati dan dibakar hidup-hidup setelah pria itu naik takhta.

"Informasi adalah mata uang terbaik dalam aliansi kita, Duke Killian," jawab Elena tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, menyembunyikan badai emosi di dalam dirinya dengan topeng ketenangan yang sempurna. "Anda tidak perlu tahu dari mana mata-mata saya bekerja. Yang perlu Anda ketahui adalah bahwa informasi saya tidak pernah salah. Bukankah tiga hari yang lalu prediksi saya tentang penyergapan di pelabuhan selatan terbukti tepat?"

Killian terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang jarang sekali diperlihatkannya. Wanita di depannya ini benar-benar teka-teki. Ketika pertama kali Elena datang menemuinya dan menawarkan aliansi untuk menghancurkan Gavin, Killian mengira wanita ini hanya seorang bangsawan egois yang sedang patah hati atau sekadar mencari perlindungan. Namun, hari demi hari, Elena membuktikan bahwa dirinya adalah sekutu yang sangat berbahaya—tajam, tak kenal takut, dan dipenuhi oleh dendam mendalam yang membara.

"Baiklah," kata Killian akhirnya. "Aku akan mengerahkan pasukan bayangan untuk bergerak ke lembah barat besok malam. Namun, jika informasi ini meleset, konsekuensinya akan sangat berat bagi aliansi kita, Elena."

"Informasi itu tidak akan meleset," tegas Elena penuh keyakinan.

Pertemuan malam itu berakhir saat lonceng istana berdentang dua belas kali. Elena bangkit dari kursinya, memberikan penghormatan formal sebelum melangkah keluar dari aula utama dibimbing oleh kepala pelayan istana. Namun, ketika ia baru saja melewati koridor panjang yang menuju ke arah kereta kudanya, langkah kakinya mendadak terhenti.

Sosok pria dengan jubah formal berwarna biru langit—warna khas faksi putra mahkota—berdiri di ujung koridor. Wajahnya yang tampan dengan senyuman lembut yang dulu sangat Elena gilai kini justru membuat perutnya mual karena rasa jijik.

Gavin.

Pria itu entah bagaimana berada di istana ini, kemungkinan besar untuk urusan diplomasi mendadak dengan Killian, atau mungkin memata-matai. Ketika Gavin melihat Elena berjalan keluar dari arah ruang kerja Duke, matanya sedikit menyipit, menyembunyikan keterkejutan di balik topeng keramahannya yang biasa.

"Elena? Apa yang kau lakukan di kediaman Duke Killian selarut ini?" Gavin melangkah mendekat, suaranya terdengar sangat khawatir, seolah-olah dia adalah seorang tunangan yang sangat peduli. "Tempat ini sangat tidak aman untuk wanita sepertimu. Duke Killian adalah pria yang kejam, dia tidak akan segan-segan menyakitimu jika kau berurusan dengannya."

Mendengar kata-kata munafik itu, tangan Elena yang tersembunyi di balik lengan gaunnya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih dan menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu membantunya tetap sadar dan mencegahnya untuk tidak langsung menghunjamkan belati ke leher Gavin saat itu juga. Bayangan saat Gavin tertawa bersama adik tirinya sementara tubuh Elena dilahap api di dalam sel bawah tanah berputar hebat di kepalanya.

'Tenang, Elena. Jangan biarkan kemarahan menghancurkan rencanamu,' bisik Elena dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri.

Elena menarik napas dalam-dalam, lalu memandang Gavin dengan tatapan dingin dan datar, ekspresi yang sangat berbeda dari "Elena si domba penurut" yang dikenal Gavin di masa lalu.

"Saya memiliki urusan penting dengan Grand Duke terkait pengelolaan wilayah perbatasan keluarga saya, Yang Mulia Gavin," jawab Elena formal, dengan sengaja menekankan gelar resmi Gavin untuk menciptakan jarak yang lebar di antara mereka. "Dan sejauh yang saya tahu, Duke Killian adalah seorang pria terhormat yang menghargai rekan bisnisnya. Dia jauh lebih aman daripada orang-orang yang memasang senyum palsu namun menyembunyikan belati di balik punggung mereka."

Gavin sedikit tersentak mendengar sindiran tajam tersebut. Ia menatap Elena dengan saksama. Perasaan aneh mulai merayap di benak Gavin. Sejak beberapa bulan terakhir, Elena yang biasanya selalu mengejarnya, selalu memberikan apa saja yang ia minta, dan selalu menatapnya dengan penuh kekaguman, tiba-tiba berubah total menjadi sangat dingin dan sulit dijangkau. Bahkan, Count—ayah Elena—mulai membatasi aliran dana untuk kampanye politik Gavin atas saran dari Elena.

"Elena, ada apa denganmu belakangan ini?" Gavin mencoba meraih tangan Elena, namun dengan cepat Elena melangkah mundur, menghindari sentuhannya secara terang-terangan. Wajah Gavin sedikit menegang karena penolakan itu. "Mengapa kau bersikap seakan-akan aku adalah musuhmu? Apakah ada seseorang yang menghasutmu? Jika ini tentang adik tirimu, aku bersumpah hubungan kami tidak lebih dari sekadar pertemanan keluarga."

Elena hampir saja tertawa mendengar kebohongan menjijikkan itu. Di masa depan, Gavin dan adik tirinya bahkan tidak malu mempertontonkan kemesraan mereka di atas takhta yang direbut dari darah keluarganya.

"Tidak ada yang menghasut saya, Yang Mulia," ucap Elena dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk. "Saya hanya baru menyadari bahwa selama ini saya terlalu naif. Dan sekarang, mata saya sudah terbuka lebar. Saya menyarankan Anda untuk fokus pada persiapan perjamuan kekaisaran minggu depan, daripada mencampuri urusan pribadi saya."

Sebelum Gavin sempat membalas, langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah belakang Elena. Aura dingin yang pekat langsung memenuhi koridor tersebut. Duke Killian berjalan mendekat, jubah hitamnya melambai tertiup angin koridor. Ia berdiri tepat di samping Elena, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa besar kepada Gavin hanya dengan kehadirannya.

"Yang Mulia Gavin," ucap Killian datar, matanya menatap Gavin dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara. "Saya tidak tahu jika tamu saya harus diinterogasi di koridor rumah saya sendiri oleh seorang putra mahkota."

Gavin terpaksa mundur satu langkah, senyum ramah di wajahnya tampak dipaksakan saat ia berhadapan langsung dengan sang tirani berdarah dingin. "Ah, Duke Killian. Saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya terkejut melihat Lady Elena di sini dan ingin memastikan dia pulang dengan aman."

"Keamanan Lady Elena adalah tanggung jawab istana ini selama dia berada di bawah atap saya," potong Killian tanpa basa-basi. "Dan keretanya sudah siap. Anda tidak perlu repot-repot, Yang Mulia."

Gavin mengepalkan tangannya di balik jubahnya, merasa terhina dengan pengusiran secara halus itu. Namun, ia tahu betul ia tidak memiliki kekuatan militer atau pengaruh politik yang cukup untuk menantang Duke Killian secara terbuka saat ini. Dengan menahan amarah, Gavin membungkuk pelan. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Elena... kita akan bicara lagi nanti."

Gavin berbalik dan berjalan pergi dengan langkah kaki yang terburu-buru, menyembunyikan kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya.

Setelah punggung Gavin menghilang di ujung belokan koridor, keheningan kembali melanda. Elena mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang sedikit rileks.

"Kau mengendalikan dirimu dengan cukup baik, Lady Elena," komentar Killian sambil melirik wanita di sampingnya. "Aku sempat mengira kau akan mencakar wajahnya tadi."

Elena menoleh ke arah Killian, tatapan matanya kembali tajam dan penuh tekad. "Mencakar wajahnya terlalu mudah dan murah untuk pengkhianatan yang dia lakukan, Duke. Aku ingin dia kehilangan segalanya terlebih dahulu. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya merangkak di lantai penjara bawah tanah, memohon kematian yang tidak akan pernah datang dengan mudah."

Killian menatap Elena dengan pandangan penuh minat. Kegelapan dan dendam yang ada di dalam diri wanita ini begitu murni, sesuatu yang sangat ia sukai.

"Kalau begitu, pastikan kau siap untuk permainan selanjutnya, Elena," ujar Killian pelan, langkahnya mengiringi Elena menuju kereta kuda yang sudah menunggu di luar gerbang. "Karena begitu pasukan bayanganku bergerak besok malam, genderang perang melawan Gavin resmi ditabuh."

Elena naik ke dalam kereta kuda dengan anggun. Melalui jendela kereta yang terbuka, ia menatap Istana Obsidian yang megah di bawah kegelapan malam. Satu langkah pionnya telah maju, dan perlahan tapi pasti, jaring perangkap untuk menyeret Gavin ke neraka terdalam mulai merapat.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!