Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05. Bertemu Dengan Sisi Lain
Akhir-akhir ini, pikirannya terasa makin kacau. Ia sengaja mengabaikan obat-obatan yang diresepkan oleh dokternya. Ia menolak percaya pada diagnosis dingin yang menyebutnya mengidap Dissociative Identity Disorder (DID). Ia merasa dirinya normal ia hanya sering merasa pusing dan pengar luar biasa saat terbangun di pagi hari.
Awalnya, Aura mengira rasa pening itu hanya efek samping dari makanan atau kelelahan. Namun belakangan ini, kejadian aneh makin sering terjadi di luar kendalinya.
Seperti saat makan malam kemarin. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan nama 'Daffa' mengambang di layar. Ia sama sekali tidak kenal siapa pria bernama Daffa itu, apalagi membayangkan dirinya berinteraksi dengan pria asing.
Dan yang paling mengerikan... kejadian di kamar VVIP kelab malam tadi.
Aura tidak pernah sudi melangkah ke tempat haram seperti itu. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Namun, mengapa ia bisa terbangun di sana tanpa sehelai benang pun, di samping seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya.
Dada Aura mendadak sesak. Rasa mual dan jijik pada dirinya sendiri menghantam hebat. Apakah di luar kesadarannya, ia telah melakukan hal-hal yang jauh lebih menjijikkan dari ini?
. . .
Beberapa jam yang lalu...
Dengan tangan gemetar hebat, Aura memungut pakaiannya yang berserakan di lantai kamar hotel. Ketakutan dan kepanikan membakar dadanya saat menyadari apa yang telah terjadi.
Ia berlari ke toilet kamar, menatap bayangannya di cermin dengan lelehan air mata yang tak sanggup ia tahan. Jemarinya mencengkeram tepi wastafel erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ketika mendengar suara langkah kaki dari luar kamar mandi, Aura buru-buru menyeka air matanya. Dengan napas memburu, ia merapikan barang-barangnya dan melangkah keluar.
Di ambang pintu, seorang pria bertubuh tegap sudah berdiri di sana. Pria itu menguap kecil, menatap Aura dengan pandangan setengah sadar yang linglung.
Darrel Gorge.
Siapa sangka, malam panas yang tak diingat sama sekali oleh Aura itu justru menjadi awal dari keterikatan rumitnya dengan sang pewaris dinasti Gorge.
Siang itu, matahari bersinar terik, seolah berusaha membakar habis rasa mual dan pening yang masih setia bersarang di kepala Aura. Aura sedang berada di perpustakaan kota, mencoba fokus pada revisi naskah novel terbarunya, ketika ponselnya bergetar.
Nama 'Mbak Santi', editornya, muncul di layar. Aura menghela napas panjang, bersiap untuk menerima omelan kecil tentang deadline yang molor.
"Halo, Mbak Santi?" sapa Aura pelan.
"Aura! Kamu harus segera ke penerbit sekarang!" suara Mbak Santi terdengar panik namun antusias.
"Ada apa, Mbak? Saya masih di perpustakaan, naskah revisi—"
"Lupakan naskah revisi sebentar! Ini jauh lebih penting! Novelmu... Dua Dunia dalam Satu Hati... Gorge Group mau membelinya! Mereka mau adaptasi jadi film!"
Jantung Aura berdegup kencang. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Novelnya yang ia tulis dengan penuh darah dan air mata, yang mengisahkan tentang trauma dan harapan, akan difilmkan?
"T... tapi, Mbak... Gorge Group? Itu perusahaan besar," ujar Aura terbata.
"Iya! Dan CEO mereka sendiri yang mau bertemu denganmu! Malam ini! Ada acara Gala Dinner Gorge Group, dan kita diundang. Kamu harus datang, Aura! Ini kesempatan emas!"
Aura terdiam. CEO Gorge Group? Ia tak pernah bertemu dengannya, tapi ia sering mendengar namanya. Darrel Gorge. Pria kaya, tampan, dan ambisius. Aura merasa sedikit ngeri membayangkan harus berhadapan dengan pria sekaya itu.
"Tapi saya belum siap, Mbak. Gaun... makeup..."
"Tenang! Aku sudah atur semuanya. Kita akan ke salon langgananku sekarang. Cepat!"
Malam harinya, Aura berdiri di depan cermin besar di kamar hotel yang disewakan oleh penerbit. Gaun malam berwarna navy blue yang anggun nan sederhana melekat pas di tubuhnya.
Rambutnya disanggul modern, dan riasan wajahnya dibuat natural, menonjolkan kecantikan alaminya tanpa berlebihan. Kacamata tipisnya masih bertengger di hidungnya, memberikan kesan intelektual.
Aura merasa asing dengan penampilannya sendiri. Ia biasa tampil bersahaja, tanpa polesan makeup yang berarti. Namun, ia tahu ia harus tampil maksimal di depan CEO Gorge Group.
Gala Dinner Gorge Group diadakan di hotel bintang lima yang mewah. Aula besar itu dipenuhi oleh para pimpinan perusahaan, investor, sutradara, aktor, dan media. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Aura melangkah masuk dengan perasaan gugup. Ia tak pernah berada di acara semewah ini sebelumnya. Ia merasa seperti itik buruk rupa di tengah kumpulan angsa.
Mbak Santi terus menggandeng tangannya, memperkenalkannya kepada beberapa orang penting. Aura hanya bisa tersenyum ramah dan mengangguk sopan, tak banyak bicara.
Hingga akhirnya, momen yang dinanti-nanti pun tiba.
"Pak Darrel, ini Aura Clarissa, penulis novel yang Pak Darrel sukai," ujar Mbak Santi, memperkenalkan Aura kepada seorang pria tinggi tegap yang sedang berbincang dengan beberapa orang penting.
Aura mendongak, matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang begitu familier. Pria itu... Darrel Gorge. Pria yang ia lihat di tempat tidur hotel lusa lalu.