Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Maaf Diterima Sakitnya Terasa
SREEEET!
“Argh…!” teriak Alunar.
Bruk!
"Aduh!" rintih Alunar pelan sambil memegangi pergelangan kakinya. Wajahnya menahan sakit sekaligus rasa malu yang mendadak menyerang secara bersamaan.
Sagara yang sejak tadi mengawasi Alunar. Langsung melompat pagar pembatas teras tinggi, lalu berlari menghampiri Alunar.
"Alunar!" teriak Sagara.
Arisandhi yang menyadari pergerakan Sagara mendekati Alunar. Langsung menoleh ke arah Oka yang kebetulan berada di dekat lapangan.
"Oka! Halau semua anggota yang sedang mandi hujan! Suruh mereka bubar dan menjauh dari lapangan sekarang juga!"
"Siap, Ndan,” jawab Oka langsung menengokkan ke arah lapangan.
“Semuanya, bubar! Masuk ke barak masing-masing, amankan logistik!" seru Oka dengan suara lantang, langsung bergerak bersama Arisandhi memblokade pandangan para prajurit lain agar tidak mengganggu momen darurat komandan mereka.
Sementara di tengah lapangan yang basah. Sagara berlutut di hadapan Alunar sambil melakukan pemeriksaan. Dalam sekejap Sagara berubah menjadi dokter.
"Bagian mana yang sakit? Apakah ada tulang yang bergeser?" tanya Sagara beruntun sambil memeriksa pergelangan kaki Alunar yang terbalut sepatu karet medis.
Alunar tidak langsung menjawab pertanyaan Sagara. Justru Alunar hanya diam sambil menutupi pergelangan kakinya dengan rok.
"Apakah sebelah sini yang sakit? Jawab saya, Aluna!" bentak Sagara pelan, namun bentakan itu murni karena rasa takut.
"Saya tidak apa-apa, Kapten. Hanya terkejut saja," lirih Alunar.
“Syukurlah, tapi saya harus memastikan jika Anda benar-benar baik-baik saja.”
Sagara kembali memaksa untuk memeriksa pergelangan kaki Alunar. Tapi, Alunar buru-buru menarik kakinya dengan cepat.
“Saya seorang dokter, Kapten. Saya bisa memastikan jika pergelangan kaki saya baik-baik saja,” tolak Alunar.
Mendengar penolakan Alunar. Sagara secara perlahan menarik kembali tangannya.
"Lain kali jangan bertingkah konyol seperti anak kecil di tengah lapangan yang licin, dokter," ketus Sagara berusaha mengembalikan suara dinginnya. Meskipun wajahnya ikut merah padam karena salah tingkah.
“Heam.” Hanya derheman yang diberikannya oleh Alunar.
"Bisa berdiri sendiri atau perlu saya panggilkan tandu medis?" tanya Sagara dengan nada suara yang kembali dibuat kaku dan formal.
"Saya bisa berdiri sendiri, Kapten! Terima kasih banyak.”
Tanpa bantuan siapapun. Alunar langsung berdiri lalu berjalan terburu-buru masuk ke dalam barak tanpa berani menoleh ke belakang.
***
Sejak kejadian jatuh di bawah hujan. Hubungan serta perilaku antara Alunar dan Sagara berubah total. Alunar yang biasanya selalu membalas ucapan kasar Sagara dengan perdebatan sengit. Justru kini memilih strategi menghindar.
"Dokter Aluna, ini ada berkas laporan bulanan kesehatan warga yang perlu Anda tandatangani.”
"Terima kasih, Sertu Oka. Oh ya, apakah Kapten Sagara ada di ruang komando?" tanya Alunar memastikan dengan nada berbisik. Pelan nyaris tak terdengar.
"Siap, Kapten sedang menuju ke arah kantin untuk memeriksa jatah logistik siang, dok," jawab Oka jujur.
Mendengar hal itu, Alunar langsung meletakkan pulpennya. Lalu berdiri tegak hingga membuat Oka kaget.
"Kalau begitu, aku akan mengantarkan berkas ini ke meja Letnan Arisandhi saja lewat koridor belakang. Permisi, Sertu Oka!"
Alunar terburu-buru keluar dari ruangannya melalui pintu samping demi menghindari rute kantin. Perilaku Alunar benar-benar terlihat sangat aneh.
“Ada apa dengan dokter Alunar?” gumam Oka bertanya-tanya. Lalu kembali dengan kesibukannya.
“Semoga aku tidak berpapasan dengannya,” ucap penuh harap Alunar dengan langkah kaki cepat.
Namun, strategi menghindar yang dilakukan oleh Alunar ternyata membawa dampak yang sebaliknya pada Sagara. Semakin Alunar menjauh dan membuang muka, justru membuat Sagara menjadi semakin tidak tenang dan penasaran setengah mati.
"Letnan Arisandhi, dimana dokter Alunar? Mengapa laporan pemeriksaan hari ini belum ada di meja saya?" tanya Sagara dengan wajah kesal.
“Entahlah, Ndan.” Jawaban asal Arisandhi semakin membuat Sagara kesal.
“Makin hari laporan darinya semakin tidak jelas alurnya,” gerutu Sagara saat tiga hari terakhir tidak berpapasan dengan Alunar.
Arisandhi yang sedang memeriksa peta patroli hanya bisa menahan senyum. Tahu betul kegundahan hati sang komandan.
“Untuk laporan kemarin sudah dititipkan ke suster Irma tadi subuh.”
“Kalau laporan sekarang mungkin agak siangan, Ndan. Karena sempat melihat dokter Alunar sibuk mensterilkan alat medis di gudang bawah," jawab Arisandhi sengaja menekankan kata 'sengaja'.
Alunar yang awalnya ingin menitipkan laporan ke Arisandhi. Justru tidak jadi saat melihat bayangan Sagara, dan memilih ke gudang bawah.
"Gudang bawah?”
“Benar, Ndan.”
“Bukankah tugas mensterilkan alat adalah wewenang perawat, bukan dokter satgas utama," ucap Sagara dengan nada suara yang terdengar sangat tidak puas.
"Siap, mungkin Dokter Alunar hanya sedang ingin mencari suasana baru yang tenang dari gangguan orang lain, Ndan," sindir Arisandhi lagi dengan nada meledek yang sangat kentara.
Sagara tidak membalas Arisandhi. Buru-buru ia keluar dari ruang komando. Rasa gengsinya yang setinggi langit perlahan-lahan mulai runtuh saat tiga hari tidak melihat Alunar.
Ternyata apa yang diucapkan Arisandhi memang benar. Alunar sedang duduk di ruang sterilisasi.
AHEM…
Suara deheman Sagara mampu membuat Alunar melonjak kaget.
“Astaga, kenapa ada dia di tempat ini?” gumam Alunar ingin berdiri dari tempat duduknya.
Sekuat tenaga sudah mencoba untuk menghindar. Namun, Sagara justru kini ada di hadapannya
"Duduk di tempat Anda, Dokter Alunar. Saya tidak datang untuk memberikan hukuman militer," perintah Sagara.
“Anda ingin menanyakan laporan ini?” tanya Alunar sambil memberikan laporan di tangannya.
Bukannya langsung menerima laporan Alunar. Justru Sagara terus menatap Alunar tanpa sedikitpun berkedip.
"Apalagi sekarang, Kapten? Saya rasa tugas medis saya hari ini sudah selesai semua,” ujar Alunar dengan nada suara yang dibuat ketus, berusaha keras membangun kembali dinding pertahanannya yang runtuh. Karena sikap Sagara yang dianggap tidak jelas.
Sagara tidak langsung menjawab. Setelah mengambil laporan dari Alunar. Ia menarik kursi kayu di seberang meja, lalu duduk berhadapan langsung dengan Alunar. Jarak yang cukup dekat menimbulkan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hati Sagara
“Kenapa Anda selalu menghindar setiap kali melihat saya selama tiga hari ini, dokter?" tanya Sagara sambil menatap dalam mata Alunar. Membuat Alunar memalingkan wajahnya.
"Siapa yang menghindar? Saya tidak menghindar, Kapten! Saya hanya sedang sibuk dengan urusan pasien, logistik obat, dan juga sterilisasi," sanggah Alunar .
Sagara menumpu kedua tangannya di atas meja, sedikit condong ke depan. Mengikis jarak dengan Alunar.
"Saya perwira intelijen tempur, Alunar. Saya tahu perbedaan antara orang yang sedang sibuk bekerja dengan orang yang sengaja memutar balik langkah kakinya hanya karena melihat bayangan saya," cetus Sagara.
"Itu... itu karena Anda menyebalkan, Kapten! Saya malas berdebat dengan tentara kaku seperti Anda!" kilah Alunar cepat sambil menjaga jarak dengan Sagara.
Sagara terdiam sejenak melihat reaksi menggemaskan dari Alunar yang baru dirinya sadari. Rasa kagum yang sempat tertutup dengan dendam. Justru kini naik ke permukaan semakin kuat.
"Jika Anda kurang nyaman karena kejadian di bawah hujan sore itu. Saya minta maaf kalau tindakan refleks saya membuat Anda tidak nyaman, dokter.”
Sagara dengan nada suara yang mendadak melembut. Justru terdengar sangat aneh di telinga Alunar
"Anda minta maaf? Apakah saya tidak salah dengar?" tanya Alunar memastikan, seolah-olah baru saja mendengar sebuah keajaiban besar terjadi di pos perbatasan.
"Siap, saya minta maaf. Tapi aturan keselamatan pos tetap berlaku mutlak. Jika Anda butuh sesuatu di luar markas, katakan pada saya atau Arisandhi. Jangan bergerak sendiri lagi seperti naik motor trail membelah berbukitan," tutur Sagara lagi, menyelipkan perhatian besarnya di balik kalimat perintah militer.
Alunar menatap wajah Sagara lama. Meskipun Sagara sudah berniat untuk minta maaf. Namun, entah kenapa rasa kesal terus menyelimuti dirinya.
“Apakah kamu masih marah padaku karena membentakmu di depan bawahanku?”
Alunar memalingkan wajahnya. Rasa kesal kembali menyelimuti dirinya.
“Apakah kamu tahu jika dirimu laki-laki pertama yang mempermalukanku di tempat umum,” jawab Alunar jujur.
“Kamu mengataiku bodoh, manja, tidak bertanggungjawab, mencari masalah atau apapun,” jawab Alunar sambil menghapus sudut matanya.
“Jika kamu bertanya masih marah kah aku padamu? Maka, jawabannya tentu aku masih marah,” ucap Alunar sambil menghapus air matanya.
“Maaf Anda saya terima. Tapi, rasa sakit hati saya masih ada,” ucap Alunar lagi sambil berdiri dari duduknya. Lalu berjalan meninggalkan Sagara seorang diri sambil menatap Alunar yang bayangannya mulai menghilang.
“Apa yang aku lakukan padamu benar-benar keterlaluan. Ya, aku memang tidak pantas mendapatkan maaf,” gumam Sagara menyadari kesalahannya.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi