"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Masih POV Aga
Sore itu aku baru saja pulang, aku sibuk mengurusi kasus penyekapan wanita untuk di jual ke luar, mereka di iming-iming gaji besar tanpa syarat yang sulit, para korban langsung tergiur ikut, banyak sekali perempuan yang tim kami amankan. Namun pelaku utama masih buron, jadi aku agak sibuk, hingga banyak sekali telfon masuk meski aku sudah pulang.
Aku biasanya langsung mandi, tapi sepertinya mengerjai Arin sangat menyenangkan
Jadi aku sengaja menaruh telfon di nakas, agar dia bisa melihat Rahma menelfon.
Begitu urusan ku selesai, aku segera ke kamar. Aku bisa melihatnya habis menangis, dia pasti sudah melihat pesan sayang yang di kirimkan Rahma padaku. Meski tadi Rahma sempat menolak, namun. Aku merayunya hingga dia mau mengirimkan pesan mesra ke ponsel ku yang satunya.
Arin pasti tidak tahan melihat pesan itu, aku langsung pura-pura menelfon Rahma, aku keluar ke teras kamar ku, mengunci pintu agar dia merasa aku sedang bermesraan dengan Rahma. Padahal tadi Rahma hanya melakukan panggilan tidak terjawab.
Sesekali ku lirik Arin yang tengah menahan tangis.
"Terus menangis lah agar suatu saat nanti kamu tidak tahan dan meminta pergi"
Belum cukup di situ, aku kembali marah-marah padanya saat aku menemukan sebuah tes kehamilan di nakas. Aku pura-pura murka dan mengatakan kalau dia ingin mendekatiku, ingin menjebak ku seumur hidupnya. Padahal tadi siang ibu sudah mengirim gambar alat tes kehamilan itu padaku, tentu aku sudah bilang terima kasih pada ibu ku karena sudah sangat pengertian membelikan
Arin alat tes kehamilan.
Dia benar-benar menangis saat aku kembali mengatakan ke dia kalau hubungan kami hanya di atas kertas, selebihnya kami hidup masing-masing.
*****
"Kamu hari ini libur Ga, ajak istri kamu jalan-jalan"
Permintaan ibu sungguh membuat aku bete. Aku ingin istirahat, ingin menenangkan diri, tapi Ibu justru meminta ku pergi dengen Arin. Aku tidak bisa menolak titah ibunda jadi aku putuskan untuk pergi. Ibu meminta kami mengantar pesanan dulu, ke pasar swalayan lalu terserah kami.
Mendengar rentetan jadwal yang akan kami lakukan saja aku sudah malas. Tapi mendadak aku punya ide agar Arin marah padaku, aku yakin kali ini dia tidak akan tahan.
Kami berangkat, dia diam aku pun sama. Bahkan jika dia bicara aku tidak akan menjawab, begitu kue pesanan sudah di antar, kami langsung ke pasar swalayan. Aku hanya memarkirkan mobil, tidak mau ikut dia masuk.
"Masuk saja, aku ingin di sini"
"Iya mas"
Dia juga nampak diam saja, tapi raut wajahnya mulai terlibat sedih, jadi aku mulai senang.
Begitu dia masuk, aku langsung pergi begitu saja dari tempat itu. Biarkan saja dia belanja dan membawa banyak barang sendirian. Dengan begitu dia pasti tidak tahan dan ingin pergi dari sisiku.
Aku mengirim dia pesan jika aku pergi menemui seseorang, aku memintanya agar tidak pulang sebelum aku pulang. Biar dia bingung dengan barang belanjaannya, pulang nanti pasti dia tidak tahan dan ingin pergi.
Aku memutuskan pergi ke cafe menikmati hari liburku sendirian.
Setelah lama di cafe aku menatap jam di tangan, Aku memberi tahu Arin jika aku pulang duluan, aku tidak bisa menjemput.
Sampai di rumah, ibu menanyakan di mana Arin, aku bilang tadi mobilnya mogok, jadi aku minta naik angkutan umum saja.
"Istri kamu belanja banyak Ga, kog di biarin naik angkot sendirian?"
"Bagaimana lagi Bu? Aga juga mendadak dapat telfon dari markas, jadi Aga harus ke sana, tidak mungkin kan Aga bawa Arin ke sana dengan semua belanjaan nya?"
"Terus Arin kemana? Kog sampai sekarang belum pulang?"
"Aga tidak tahu, jalan-jalan dulu mungkin"
Aku langsung masuk ke kamar setelah ibu selesai mengintrogasi diri ku.
Aku tidak sabar menunggu Arin pulang, melihatnya marah-marah dan mengemasi bajunya.
Namun setelah sore hari, dia tak kunjung pulang. Saat ada yang mengetuk pintu, aku langsung mengintip, pasti itu Arin. Tapi ternyata bukan, dia adalah saudara ku dari keluarga Papa, namanya Dewa. Tumben dia ke sini? Ada urusan apa?
Karena aku tidak begitu dekat dengan keluarga Papa, jadi aku putuskan untuk kembali menutup pintu kamar dan tidur lagi menunggu Arin.
Karena begitu lama menunggu aku sampai tertidur, aku tidak tahu kapan Arin datang, tapi bukannya marah, dia justru berpakaian begitu seksi. Dia memakai baju lingerie wanita yang begitu menggoda.
Sebagai lelaki normal tentu saja darah ini berdesir hebat, aku bahkan menelan saliva ku sendiri saat dia berpenampilan seksi seperti itu. Ini sungguh di luar dugaan ku, aku tidak tahu kenapa dia melakukan ini, padahal aku sudah beberapa kali menolaknya. Dia ternyata begitu berani sekali.
Aku diam saat dia duduk di sebelah ku, dia mulai mengikis jarak di antara kami, aku sungguh ingin menerjangnya saat melihat belahan gunung kembarnya yang begitu menggoda. Paha mulusnya, Astaga! yang di bawah sana sangat tegak. Aku harus bagaimana?
Meski otak ini ingin sekali menghindar, tapi respon tubuh ku berkata lain, aku tidak marah dan hanya diam saja saat dia mulai berani menyentuh tanganku. Aku tidak tahu siapa yang mulai duluan, tapi sekarang kami sungguh sangat dekat, wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang memburu. Aku benar-benar tidak tahan, aku ingin melakukan nya malam ini, namun tiba-tiba Rahma menelfon ku. Aku segera beranjak pergi meninggalkannya sendiri.
"Jangan lakukan ini lagi!" Pintaku sebelum berlalu dari hadapannya.
Dia kembali menangis, bahkan kali ini sampai tengah malam. Aku sebenarnya tidak tega melihat wanita menangis seperti itu, tapi aku tidak mau lemah, aku harus membuat dia pergi.
Mungkin besok dia akan benar-benar pergi dari sini. itu akan sangat bagus. dengan begitu aku tidak akan teringat kejadian saat kecelakaan itu terjadi. Jujur setiap kali aku melihatnya aku selalu teringat saat papa meninggalkan kami. Aku tidak bisa hidup dengan dia dengan bayang-bayang kematian papa, jadi aku harus membuatnya segera pergi dari hidup ku.
Keesokan harinya, dia tetap melakukan semuanya, dia tetap memasak, bersih-bersih dan berangkat ke toko. Dia juga tidak bicara apapun pada ibu, itu makin membuat aku kesal. Aku harus mencari cara lain lagi agar dia tak tahan bersamaku.
Aku juga pergi ke markas seperti biasa.
"Ga pulang sebentar nak, Ibu jatuh"
aku mendapatkan telfon dari ibu saat haru masih siang, aku segera pulang, Aku sempat heran kenapa ibu menelfon ku? bukankah di sana ada Arin? Apa dia tidak di rumah? Lalu kemana dia?
Sampai rumah, aku langsung menghampiri ibu yang masih duduk di depan kamar mandi, aku menggendongnya dan membawanya ke ranjang.
"Ibu kenapa? Ibu baik-baik saja?" tanyaku hawatir.
"Kepala ibu tadi muter-muter nak, jadi ibu jatuh"
'Kenapa tidak telfon Arin? jadi ibu tidak perlu lama-lama di lantai"
"Dia sedang pergi nak, biarkan saja, tadi dia sudah pamit kog ke ibu"
"Memang dia kemana Bu?"
"Ke Dufan sama Nana"
Aku manggut-manggut mengerti, sepertinya aku bisa memanfaatkan keadaan ini untuk kembali memarahi Arin.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...