NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kerja Kelompok Romantis.

Sore itu, kamar belajar pribadi Langit yang terletak di lantai dua kediaman mewah keluarga Voss menjadi saksi bisu kecanggungan level tertinggi dalam hidup Aletha. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh rak buku kayu jati yang menjulang hingga ke langit-langit, meja belajar besar dengan komputer berspesifikasi tinggi, serta aroma lilin terapi beraroma sandalwood yang menenangkan.

Aletha duduk bersila di atas karpet bulu tebal yang melingkari meja kopi kayu rendah di tengah ruangan. Di depannya, berserakan buku paket Kimia, lembar kerja folio, serta laptop kecil miliknya.

Sementara di seberang meja, Langit duduk dengan posisi santai, menyandarkan punggungnya pada sofa mini. Kemeja seragam sekolahnya sudah dikeluarkan, dua kancing teratasnya sengaja dibuka, dan lengan panjangnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan guratan urat di tangan maskulinnya yang biasanya tersembunyi. Kacamata berbingkai perak bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan genius yang kelewat tampan.

Gantengnya beneran nggak santai kalau lagi fokus begini, batin Aletha menjerit pelan, membuat konsentrasinya buyar untuk kesekian kalinya. Ia buru-buru menunduk, pura-pura sibuk membaca tabel periodik unsur.

"Kalau lo cuma berniat mandangin wajah gue sepanjang sore, tugas Kimia ini nggak akan selesai sampai subuh, Kurcaci," suara bariton Langit yang renyah memecah keheningan ruangan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet digital.

Wajah Aletha memanas seketika. 

"S-siapa juga yang mandangin lo?! Kepedean banget jadi tiang listrik!" elak Aletha galak, menyembunyikan salah tingkahnya. 

"Gue lagi bingung ini, nomor empat nyari rumus laju reaksinya gimana sih? Pusing banget otak gue!"

Langit mengembuskan napas pendek, lalu melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. Ia mengubah posisi duduknya menjadi ikut berlutut di atas karpet, lalu menggeser tubuh tingginya mendekat ke arah Aletha.

Set.

Jarak di antara mereka mendadak terkikis habis. Langit kini duduk tepat di sebelah Aletha, begitu dekat hingga lengan mereka saling bergesekan.

Aroma parfum mint yang bercampur wangi tubuh alami Langit langsung mengepung indra penciuman Aletha, membuat jantung gadis itu mendadak berulah maraton lagi dengan sangat keras.

"Mana yang lo nggak paham?" tanya Langit. Suaranya terdengar sangat rendah dan berat tepat di samping telinga Aletha.

Langit memajukan tubuhnya, meraih pena dari tangan Aletha secara alami. Jari-jari hangat mereka sempat bersentuhan selama satu detik, memberikan sengatan halus yang sukses membuat bulu kuduk Aletha meremang. Langit mulai mencoret-coret lembar folio di depan mereka, menuliskan rumus turunan Kimia dengan gerakan telaten.

"Gunakan rumus ordo reaksi yang ini, Aletha. Nilai logaritmanya harus disederhanakan dulu, baru lo bisa ketemu hasil akhirnya. Paham?" jelas Langit lembut, tatapannya beralih dari kertas ke arah wajah Aletha.

Namun, Aletha sama sekali tidak mendengarkan penjelasan rumus itu. Gadis itu justru tertegun kaku. Saat Langit menoleh, jarak wajah mereka ternyata hanya terpaut tidak lebih dari sepuluh sentimeter.

Manik mata hazel milik Langit menatap langsung ke dalam sepasang matanya penuh kehangatan yang mendalam, sorot mata intens yang belum pernah Aletha lihat dari cowok mana pun selama hidupnya.

Di bawah jarak sedekat ini, Aletha bisa melihat dengan sangat jelas setiap detail wajah sempurna Langit. Mulai dari alis tebalnya yang tegas, bulu mata lentiknya, hingga bekas luka lebam kecil di sudut bibirnya yang didapatkan demi melindunginya malam itu.

Jantung Aletha berdegup begitu kencang di dalam dada hingga ia takut Langit bisa mendengarnya. Keheningan yang teramat manis dan mendebarkan mendadak mengunci pergerakan mereka berdua di tengah kamar belajar yang sunyi.

Langit tidak langsung menjauhkan wajahnya. Sorot mata hazel-nya turun sedikit, memperhatikan bibir mungil Aletha yang sedikit terbuka karena terkejut, sebelum kembali mengunci manik mata gadis itu.

Untuk beberapa detik, topeng es yang selalu dipakai Langit runtuh tak bersisa. Detak jantung Langit di balik kemeja seragamnya ternyata juga ikut berpacu menggila karena kedekatan fisik mereka yang kelewat intens ini.

"Lo... beneran dengerin penjelasan gue, atau lo emang lagi terpesona sama gue, Pipit?" bisik Langit dengan nada suara yang melembut, sebuah senyuman tipis yang teramat tulus terukir di bibirnya yang terluka.

Aletha menelan ludah dengan susah payah, seluruh sistem saraf di otaknya seolah mengalami mogok kerja masal. Benci yang biasanya ia gunakan sebagai senjata andalan untuk mendebat Langit kini menguap sepenuhnya tanpa bekas, tergantikan oleh desir aneh yang begitu membahagiakan di sudut hatinya.

"G-gue... gue denger kok!" dusta Aletha gagap, buru-buru menarik tubuhnya mundur satu jengkal demi menyelamatkan nyawa dan detak jantungnya yang sudah di ambang batas normal. Ia merebut penanya kembali dengan kaku. "Udah ah, gue mau kerjain sendiri aja!"

Langit terkekeh pendek, suara tawa renyah yang terdengar begitu seksi di telinga Aletha. Cowok tegap itu kembali menegakkan punggungnya, bersandar pada tepi sofa dengan gaya santai yang kelewat angkuh, namun matanya tetap lekat mengawal setiap gerak-gerik Aletha yang sedang salah tingkah stadium empat di depannya.

"Kerjain yang bener, Babu. Kalau nilai kelompok kita turun gara-gara otak udang lo, hukuman lo di sekolah bakal gue tambah dua kali lipat," sahut Langit dengan nada datarnya yang kembali normal, meski kilat geli dan hangat di matanya tidak bisa disembunyikan.

Aletha mengerucutkan bibirnya sebal, menatap kertas tugasnya dengan fokus yang sudah hancur lebur berkeping-keping. Di bawah meja kayu itu, jemari tangan mungilnya meremas rok abu-abunya dengan sangat erat demi menahan debaran menggila di dadanya. Sore ini, di dalam ruang belajar yang hangat ini, Aletha akhirnya terpaksa mengakui satu kenyataan baru yang mutlak di dalam hatinya: musuh bebuyutannya sejak kelas satu SMA itu kini telah resmi merebut seluruh kendali atas hatinya.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!