Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22— Cangkir Teh
Pagi hari menyingsing di atas kompleks Kediaman Keluarga Pei, meninggalkan sisa-sisa bau arang dan abu yang masih mengepul tipis dari reruntuhan halaman utara. Karena tempat tinggal mereka hangus dilalap api semalam, keluarga kecil Pei Yu untuk sementara waktu harus menumpang dan ditempatkan di paviliun dekat kediaman sang Nenek di halaman utama.
Suasana di aula leluhur terasa begitu khidmat sekaligus dingin. Asap dupa mengepul dari perapian perunggu, menyelimuti ruangan yang dipenuhi oleh para tetua. Di hadapan altar leluhur, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk melakukan ritual doa pagi, memohon keselamatan dan berkah setelah insiden kebakaran yang mengejutkan itu.
Xuer berlutut di sebelah Pei Yu dengan pakaian yang tampak kusut dan wajah pucat pasi. Sisa-sisa air mata semalam masih membekas di pipinya, kontras dengan Yueli yang berdiri anggun di samping Pei Chanqing. Mengenakan jubah brokat hijau zamrud bertepi emas yang memancarkan wibawa seorang nyonya muda halaman barat, Yueli tampak begitu tenang, seolah insiden semalam sama sekali tidak mengganggu ketenangannya.
Setelah doa bersama selesai, ritual dilanjutkan dengan tradisi mempersembahkan secangkir teh kepada Nenek Pei yang duduk di kursi kehormatan.
Xuer melihat ini sebagai kesempatan emas untuk membalikkan keadaan. Dengan gestur yang dilebih-lebihkan, ia maju lebih dulu membawa cangkir teh, mencoba memasang wajah paling menyedihkan demi merebut simpati sang Nenek.
"Nenek..." cicit Xuer dengan suara bergetar, sengaja menjatuhkan sedikit air matanya agar terlihat seperti korban keadaan. "Musibah kebakaran semalam menghancurkan segalanya bagi kami. Menantu baru ini merasa sangat ketakutan... Mohon perlindungan dari Nenek."
Nenek Pei, seorang wanita sepuh dengan tatapan tajam yang telah makan asam garam kehidupan, melirik cangkir teh yang disodorkan Xuer sekilas. Alih-alih menyambutnya dengan senyuman hangat, sang Nenek hanya mendengus pelan, bahkan tidak segera mengangkat tangannya untuk menerima teh tersebut.
"Menumpang karena musibah adalah satu hal," suara Nenek Pei bergema pelan namun penuh penekanan di aula yang senyap, membuat Xuer menegang. "Tapi baru sehari menjadi menantu di keluarga Pei, kau sudah membawa kesialan dan membuat keributan di malam pertama pernikahanmu. Di mana letak ketenangan yang kau bawa untuk suamimu?"
Wajah Xuer kontan memerah, rasa malu dan amarah bergemuruh di dadanya, namun ia tidak berani membantah sepatah kata pun di hadapan kepala keluarga yang agung itu. Pei Yu yang berdiri di belakangnya hanya bisa mengepalkan tangan, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan rasa frustrasi dan harga diri yang semakin diinjak-injak.
Melihat situasi yang mulai canggung itu, Yueli melangkah maju dengan senyuman tipis yang elegan. Ia mengambil alih nampan teh dari pelayan dan berlutut dengan anggun di hadapan Nenek Pei.
"Nenek, apa yang terjadi semalam tentu tidak diinginkan oleh siapa pun," ucap Yueli lembut, suaranya terdengar menenangkan namun tegas. "Adik saya mungkin sedang terguncang. Sebagai keluarga besar, sudah sepatutnya kita saling menguatkan, bukan memperkeruh keadaan."
Nenek Pei seketika melembutkan pandangannya begitu menatap Yueli. Sang Nenek bahkan tersenyum tipis, mengulurkan tangan yang keriput untuk menerima cangkir teh dari tangan Yueli.
"Cucu menantu sulungku benar," puji Nenek Pei sambil menepuk punggung tangan Yueli sekilas. "Kau baru saja datang di halaman barat, namun pembawaanmu sudah begitu matang dan bijaksana. Keluarga Pei beruntung memilikimu."
Di seberang ruangan, Xuer menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Matanya membelalak penuh kebencian, menatap ke arah Yueli yang kini berdiri berdampingan dengan Pei Chanqing—pria yang seharusnya menjadi miliknya.
Wajah Xuer kian memerah padam. Urat-urat di pelipisnya menegang, dan tangannya yang tersembunyi di balik lengan baju terkepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Matanya melirik tajam ke arah sang kakak dengan kilat kebencian yang mendalam.
Yueli menangkap telak tatapan penuh amarah itu. Tanpa gentar, ia balas menatap Xuer dengan senyuman tipis yang elegan, lalu berucap dengan nada tenang namun menusuk, "Aku harap selama tinggal bersama di sini, Adikku bisa belajar menahan diri dan tumbuh menjadi menantu yang bijaksana."
Sebelum Xuer sempat meledakkan emosinya di hadapan Nenek Pei, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar membelah keheningan dari luar aula utama.
Seorang kepala pengawal kediaman melangkah masuk dengan terburu-buru, lalu langsung berlutut di lantai dengan napas memburu. "Lapor, Nyonya Besar Pei... Lapor, Jenderal!" seru sang kepala pengawal dengan suara lantang. "Kami telah melakukan penyisiran di sekitar reruntuhan halaman utara, dan para prajurit menemukan beberapa botol minyak shiyou tersembunyi di dekat sana."
Kepala pengawal mengangkat kepalanya sejenak, wajahnya mengeras. "Dari pola penyebaran apinya... sepertinya insiden semalam bukanlah kecelakaan, melainkan disengaja oleh seseorang."
Mendengar kata "disengaja", suasana di dalam aula mendadak membeku. Yueli mengernyitkan dahi, tatapannya langsung menajam. Permainan baru apa lagi yang sedang dimainkan di balik tembok kediaman ini?
Nenek Pei bersandar lelah di kursi kayunya, sebelah tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut pening. "Siapa yang berani-beraninya membuat kekacauan dan membakar bagian dari kediaman ini?" tanyanya dingin, menyapu seluruh ruangan dengan tatapan penuh wibawa.
Kepala pengawal menunduk semakin dalam. "Kami masih menelusuri, Nyonya Besar. Karena api membesar dengan sangat cepat semalam, pelayan pertama yang melihat api dari dalam ruangan mengaku tidak melihat siapa pun yang mencurigakan di sekitar sana."
Nenek Pei menghela napas panjang, helaan napas seorang kepala klan yang telah melewati berbagai badai politik keluarga. Ia menatap lurus ke arah Pei Yu dan Xuer sebelum kembali beralih kepada yang lain.
"Untuk beberapa bulan ke depan, keluarga kediaman utara untuk sementara akan menempati paviliun samping di dekat halaman utama," titah Nenek Pei mutlak. Ia berhenti sejenak, membuat udara di aula terasa semakin menipis. "Dan... semua itu dihitung sebagai utang."
Semua orang di dalam aula terdiam seribu bahasa. Bisik-bisik tertahan langsung lenyap digantikan keheningan yang mencekam.
Mendengar kata "utang" tersebut, Yueli perlahan mendongakkan kepalanya, manik matanya menatap tajam sang pemimpin klan keluarga Pei. Utang? pikirnya dalam hati. Keputusan Nenek Pei ini bukan sekadar memberikan tempat tinggal sementara, melainkan mengikat keluarga Pei Yu dalam rantai kewajiban dan ketergantungan yang kelak bisa ditagih kapan saja. Mata Yueli melihat ke adiknya di seberang, gadis itu tampak menahan amarah
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu