NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:31.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Bertemu Teman Lama

.

Sementara itu, di rumah mewah milik Keira, suasana terasa begitu tenang. Setelah menyelesaikan beberapa urusan perusahaan, Keira duduk di ruang keluarga sambil membaca beberapa dokumen yang tadi dibawa Darren. Baru beberapa halaman dibaca, Pak Hero kepala pelayan datang menghampirinya.

“Nona, ada tamu yang ingin bertemu. Sahabat lama Nona yang dulu sering ke sini. Nona Sabrina.”

Keira mengangkat wajah. “Sabrina?”

Belum sempat ia bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Seorang perempuan masuk dengan wajah cerah, lalu begitu melihat Keira, ia langsung berlari kecil menghampirinya.

“Keira!”

Sabrina tanpa ragu langsung memeluk sahabatnya begitu tiba-tiba hingga tubuh Keira yang sedang duduk di sofa sedikit terjengkang dan bersandar pada sandaran sofa.

“Aku kangen banget tahu!” seru Sabrina sambil masih memeluknya. “Kamu ke mana saja selama ini? Kenapa semenjak menikah kamu tidak bisa dihubungi. Aku bahkan sudah berusaha menghubungimu berkali-kali, tapi semuanya gagal.”

Keira yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari pelukan itu menatap Sabrina dengan dahi berkerut.

“Gagal menghubungi? Maksudmu bagaimana?” tanya Keira tak mengerti.

“Iya. Nomormu nggak pernah bisa dihubungi. Aku telepon nggak masuk, kirim pesan juga selalu saja centang satu. Apa kamu sengaja menjauh dariku.”

Keira semakin bingung. Selama ini ponselnya selalu aktif. Ia tidak pernah merasa menerima panggilan dari Sabrina, apalagi sengaja menghindarinya.

“Sebentar,” ucap Keira lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di samping sofa.

Keira lalu membuka daftar kontak dan mencari nama Sabrina, tetapi sama sekali tidak ditemukan. Hingga kemudian, wanita itu terpikir untuk mencari nama Sabrina di dalam daftar hitam. Seketika itu juga mata Keira terbelalak sempurna. Nama Sabrina ternyata berada di dalam daftar nomor yang diblokir.

Keira mengernyitkan dahi. “Kok bisa?”

“Ada apa?” Sabrina ikut mendekat, dan seketika itu juga ia ikut terbelalak. “Hah? Kamu yang blokir aku?” tanyanya tak terima.

Keira menggeleng pelan. “Aku sama sekali nggak ingat pernah melakukannya.”

Ia menatap layar ponselnya beberapa saat. Jarinya kemudian menghapus nomor Sabrina dari daftar blokir sebelum meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.

“Ya sudah, maafin aku. Mungkin aku pernah salah pencet,” ujarnya, meskipun sebenarnya ia sendiri merasa ada sesuatu yang aneh.

Wajah Sabrina semula bersungut-sungut karena kesal. Tetapi hanya sesaat Karena setelah itu ia tidak ingin memperpanjang persoalan itu.

“Terus setelah kamu pulang ke rumah, kamu juga sama sekali nggak hubungin aku. Aku ini masih kamu anggap sahabat apa bukan?” Sabrina melipat kedua tangannya bersedekap di depan dada. “Untung aja aku nggak sengaja ketemu sama Daren. Kalau tidak aku juga nggak akan tahu kalau kamu sudah pulang.”

“Iya, iya… maaf.” Keira gantian memeluk sahabatnya. “Sebagai gantinya, nanti aku traktir kamu di butik langganan.”

“Beneran ya?” Sabrina seketika menoleh cepat. “Pokoknya besok kita harus kuras kartu hitam.”

“Iya!” Keira memeluk Sabrina sekali lagi. “Dasar nona kaya matre. Kartu hitam kamu sendiri mau kamu apain?”

“Ya disimpan lah. Biar awet.”

Lalu mereka berdua tertawa gembira saling berpelukan melepas rindu. Mereka mengobrol panjang tentang banyak hal. Sabrina bercerita mengenai pekerjaannya, teman-teman lama mereka, hingga beberapa kejadian lucu yang terjadi selama Keira tidak ada. Keira pun sesekali tertawa mendengar cerita sahabatnya.

Hingga saat mereka baru saja berhenti tertawa, Sabrina tiba-tiba teringat sesuatu. Wanita itu menaikkan lututnya yang ditekuk ke atas sofa, mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Keira.

“Eh, Key, kamu masih ingat sama Elvano nggak?” tanya Sabrina sambil menepuk paha sahabatnya.

Keira yang sedang mengambil minuman yang baru saja disiapkan oleh pelayan langsung menoleh. “Elvano siapa?”

Sabrina mendengus kesal. “Ya ampun, kamu benar-benar lupa?”

Keira menggeleng. “Bukan lupa. Aku hanya tidak ingat.”

“Bedanya di mana?” Sabrina menepuk paha Keira dengan keras membuat Keira sedikit meringis sambil mengusap pahanya.

“Itu, loh. Kak Elvano. Kakak senior kita waktu kuliah. Yang dulu culun banget itu. Yang badannya tinggi kerempeng, yang pake kacamata tebal, terus rambutnya klimis mengkilap saking banyaknya pomade. Kamu kan pernah satu kepanitiaan sama dia.”

Keira terdiam sejenak, berusaha menggali ingatannya. Beberapa saat kemudian, wajahnya berubah seperti baru menemukan sesuatu dalam ingatan lama.

“Oh... Kak Elvano yang itu?” Keira mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sabrina ikut mengangguk. “Nah, ingat, kan?”

Keira mengangguk pelan. “Memangnya ada apa dengannya?”

“Dengar-dengar sekarang dia sudah jadi pengusaha sukses.” Sabrina bercerita dengan wajah begitu antusias. Seolah menceritakan sesuatu yang begitu menarik.

Keira kembali mengangguk. “Baguslah. Berarti hidupnya berkembang.”

Sabrina menghela nafas melihat reaksi sahabatnya yang begitu biasa. “Cuma itu tanggapanmu?” tanyanya dengan mata memicing.

“Memangnya aku harus bilang apa?” Keira bertanya dengan wajahnya yang polos. Merasa dirinya sudah benar. “Dulu dia memang kakak senior yang rajin. Kalau sekarang sudah sukses, berarti kerja kerasnya berhasil.”

Sabrina hanya menggeleng sambil menepuk jidatnya. Ia tidak tahu bahwa nama yang baru saja ia sebutkan itu kelak akan kembali masuk ke dalam kehidupan Keira dengan cara yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan.

Sabrina tiba-tiba meraih tangan Keira sambil menatap Keira dengan wajah penuh semangat. “Tapi, Key, aku sebenarnya ngerasa Kak Elvano itu agak aneh loh.”

Keira menoleh cepat. “Aneh gimana?”

“Aku curiga dulu Kak Elvano itu suka sama kamu.”

Keira yang hendak memasukkan kuaci ke dalam mulutnya menghentikan gerakannya. Ia menatap Sabrina dengan dahi berkerut. “Hah? Mana mungkin.”

“Apanya yang tidak mungkin?” Sabrina refleks kembali menepuk paha Keira dengan keras. “Aku sering banget melihat dia diam-diam memperhatikanmu. Setiap kali kamu lewat, matanya selalu mengikuti. Kalau kamu sedang bicara dengan orang lain, dia juga sering melihat ke arahmu.”

Keira menggeleng pelan. “Kamu salah lihat kali.”

Mata Sabrina memicing. “Masa iya aku salah lihat terus-menerus?”

Keira hanya menggeleng kecil. Baginya, Elvano tidak lebih dari seorang kakak tingkat yang dulu beberapa kali ia temui dalam kegiatan kampus. Ia sama sekali tidak pernah menyadari adanya perhatian khusus dari pria itu.

Sabrina akhirnya mendengus gemas. “Dasar kamu memang tidak peka.”

Keira tertawa kecil mendengar ucapan itu. “Kalau memang benar, kenapa dia tidak pernah bilang?”

“Nah, itu aku juga nggak tahu. Mungkin dia tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Secara kamu kan Nona kaya?”

Keira kembali menggeleng sambil tersenyum. “Sudahlah. Itu kan sudah lama sekali. Lagi pula, sekarang dia sudah sukses. Mungkin dia bahkan sudah lupa pernah mengenalku.”

Sabrina mengangkat alis. “Kok aku nggak yakin soal itu, ya?”

Keira kembali terkekeh, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Baginya, nama Elvano hanyalah bagian kecil dari masa lalu yang ia bahkan tak pernah mengingat nya.

Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja mereka bicarakan itu sebenarnya sudah kembali berpapasan dengannya hari ini.

1
merry
duduk drmhh lh renungin penyesalan kliann
Aditya hp/ bunda Lia
mampus ....
vania larasati
lanjut
Muft Smoker
hellloooooo ,,
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
Muft Smoker
datang laa petir di tengah ruang rapat ,,
🤭🤭😁😁😁
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor
Noey Aprilia
Kmna aja klian????
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
ryuka
wwkwkwkwk.. mampusss kaliannn 🤣🤣🤣🤣🤣 nikmati lah kesombongan kalian sekarang 🫠🫠🫠
Lucy
baru nyadar kau Arsen,terlambat sudah🤣🤣🤣
mama
mampus tu si darma sm arsen🤣
naya yanti
akhirnya terucap juga kata kata itu🤭
Adinda
lanjut thor
Oma Gavin
modarrr kalian berdua udah salah masih saja nyolot makan itu gengsi dan kekalahan menuju kebangkrutan
Ilfa Yarni
Knp kagaet kalian bahahahaha nyesal2 deh udah cerai sama keira gmn arsen seneng ga km pasti ga lah ya yg Ada nyesel km arsen
Mundri Astuti
tdk mungkin gimane ..ya mungkin lah... ( bae" sen papamu stroke)

up lagi thor 🤭🙏
Tini Uje
jgn lama2 up nya thorr..dah bejamur nih nunggu nya 😂
Dwi Setyaningrum
jantungan ga tuh darma..bisa msk UGD tuh🤪
Ani_Sudrajat
Lanjut thor. 😄
Monica Nanik
Tau rasa kau Arsen meremeh kan istri solehah 😄😄😄
merry
cari tender di perusahaan milik mntn binimu y senn🤣🤣🤣🤣ternyata yg menang org lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!