Karakter sesuai judul, jadi jangan di judge lagi ya Readers ...
Marissa, 19 tahun. Gadis berwajah cantik dengan tubuh yang seksi dan nyaris sempurna.
Ia tergila-gila pada seorang duda berusia 39 tahun, Marcello Alexander. Seorang Owner sekaligus CEO dari Antariksa Group, perusahaan besar yang bergerak dalam bidang Otomotif.
Namun, sayangnya kisah cinta Marissa harus pupus tatkala ia mengetahui bahwa Marcello adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari dirinya.
Penasaran gak sih? Yukk ... ikuti cerita cinta mereka 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Sayang! Hari ini aku bahagia sekali!" seru Sarrah sambil bergelayut manja di lengan kekar Marcello.
Marcello hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Sarrah. Matanya tertuju pada seorang Gadis cantik yang sedang duduk diruang tengah sambil menonton televisi.
Marissa, ia tengah duduk di ruangan itu sambil menikmati cemilannya. Kedua kakinya, ia naikkan keatas sofa. Gadis itu sempat melirik Marcello dan Sarrah, tetapi hanya sebentar. Setelah itu ia kembali fokus pada drama yang sedang ia tonton dilayar kaca super besar tersebut.
"Itu Marissa, sebaiknya kita hampiri dia," ucap Marcello sembari mengajak Sarrah untuk menghampiri Gadis itu.
Setelah sadar kedua orang itu akan menghampirinya, Marissa bergegas mematikan televisi kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Loh, Cha! Daddy baru saja ingin duduk disini bersamamu, tapi kamunya malah mau pergi," ucap Marcello dengan wajah heran menatap Marissa.
"Icha mau istirahat," sahut Marissa.
Marissa melewati pasangan itu tanpa menoleh sedikitpun. Ia masih kesal sama Wanita Penyihir itu.
"Cha?!" sapa Marcello.
Namun, Marissa tetap tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Marcello hanya bisa menghembuskan napas berat sembari memperhatikan Marissa yang berjalan menjauhinya.
. . .
Malam pun tiba, Marissa masih mengurung dirinya didalam kamarnya.
"Bagaimana, kamu bisakan? Pokoknya sama persis! Tidak boleh ada yang curiga bahwa itu palsu," ucap Marissa dengan perlahan.
Lelaki di seberang telepon terkekeh mendengar ucapan Gadis itu. "Memangnya berapa kamu akan membayarku? Membuat perhiasan sama persis seperti itu akan sangat sulit dan dibutuhkan kejelian tingkat dewa, belum lagi bahan dasarnya seperti ini?!" keluh nya.
"Pokoknya, kamu tenang aja! Tinggal sebutkan berapa nominal yang aku harus bayar, maka akan segera ku transfer ke rekeningmu," sahut Marissa mantap.
"Serius?!" tanya Lelaki itu seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya, aku serius! Apa kamu tidak tahu, Daddy ku adalah lelaki terkaya nomor satu dikota ini, jadi jangan pernah meremehkan aku," kesal Marissa sembari menghembuskan napas kasar.
Lelaki itu kembali tergelak, ia tidak percaya dengan ucapan Marissa. "Ya, sudahlah! Terserah apa katamu, yang penting kamu membayarku sesuai yang aku minta," sahutnya.
"Ya, ya! Kamu tenang saja, aku pasti akan membayarmu. Jika perlu, aku akan membayarmu dua kali lipat!"
Marissa kesal dan segera memutuskan panggilannya kepada Lelaki itu.
"Sudah aku bilang bahwa Daddyku orang kaya, dia malah tidak percaya! Dasar aneh," gerutu Marissa.
Tepat disaat itu, Marcello kembali mengunjunginya. Lelaki itu masuk kedalam kamarnya tanpa permisi terlebih dahulu.
"Hai, Cha! Belum tidur?" ucapnya.
Marcello berdiri tepat disamping tempat tidur Marissa sembari memperhatikan Gadis itu.
"Daddy?" seru Marissa, ia heran kenapa lelaki itu langsung masuk tanpa minta izin terlebih dahulu sama seperti biasanya.
"Maafkan Daddy, Cha. Jika Daddy memberitahumu sebelum masuk, maka kamu pasti akan berpura-pura tidur lagi, sama seperti malam-malam sebelumnya."
Marissa membulatkan matanya, ia tidak menyangka bahwa ternyata selama ini Daddy nya sudah tahu bahwa dia hanya berpura-pura tidur.
Marcello menghampiri Marissa kemudian naik keatas tempat tidur Gadis itu. Ia ikut duduk sambil berselonjor disamping Marissa.
"Cha, dua hari lagi pertunangan Daddy dan Sarrah akan segera dilaksanakan. Bolehkah Daddy minta sesuatu kepadamu?" tanya Marcello sembari menatap lekat kedua bola mata nan indah milik Marissa.
"Apa itu?" tanya Marissa dengan tatapan dingin menatap Marcello.
Marcello menghembuskan napas berat kemudian merengkuh tubuh Marissa kedalam pelukannya.
"Daddy minta, berbaikan lah dengan Sarrah. Tidak lama lagi dia akan menjadi istriku, Cha. Itu artinya dia ..." ucapan Marcello terjeda karena Marissa menyela perkataannya.
"Akan menjadi Ibu tiri yang kejam untukku. Aku tau itu dan Daddy sudah sering mengingatkan Icha tentang hal itu," sela Marissa.
"Ayolah, Cha ... Sarrah tidak seburuk yang kamu pikirkan. Dia wanita yang baik, hanya saja pertemuan pertama kalian yang tidak tepat, meninggalkan kesan yang buruk diantara kalian berdua."
Marissa terdiam, tetapi matanya tetap tertuju pada wajah tampan yang sedang memeluk tubuhnya.
Marcello meraih sesuatu dari dalam saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang berbentuk kotak berwarna merah. Marcello memperlihatkan benda itu kepada Marissa sambil tersenyum hangat.
"Ini adalah cincin pertunanganku dengan Sarrah nanti. Bagaimana menurutmu?" tanya Marcello sembari membuka kotak tersebut dan nampaklah dua buah cincin pertunangan milik Marcello dan Sarrah.
Marissa melepaskan pelukan Marcello kemudian meraih salah satu cincin, yaitu milik Sarrah. Ia memperhatikan benda itu dengan seksama kemudian tersenyum. "Sangat cantik!" ucap Marissa.
"Benarkah?" tanya Marcello.
"Ya, coba Daddy kenakan kejari manis Icha, siapa tahu cocok." Marissa mengulurkan tangannya kepada Marcello dan segera disambut oleh Lelaki itu.
Perlahan Marcello memasangkan cincin cantik bertahtakan berlian itu kejari manis Marissa. Dan ternyata ukuran jari manis mereka sama. "Lihatlah, Dad! Sangat cantik!" ucap Marissa sembari memperlihatkan jari manisnya Marcello.
"Sini, mana jari manis Daddy?!"
Marissa meraih tangan Marcello kemudian meraih cincin yang satunya. Ia memasangkan cincin itu ke jari Marcello.
"Sekarang kita sama!" ucap Marissa dengan wajah semringah.
Marcello hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Icha, Icha ..." gumam Marcello yang kembali meraih tubuh Marissa kemudian memeluknya.
...***...