Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Naya menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya seirama dengan deru napasnya yang mulai memburu. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat udara di lorong lantai dua itu mendadak menipis. Punggung Kafka yang masih menempel di daun pintu membuat Naya merasa tidak memiliki celah untuk melarikan diri.
"Kaf... Nessa ada di lantai bawah," bisik Naya tertahan, mencoba menggunakan akal sehatnya meskipun otaknya sudah tumpul karena pesona pria di hadapannya. "Kalau dia tiba-tiba naik ke atas dan lihat kita kayak gini..."
"Kak Nessa sedang sibuk mengejar rank-nya di bawah," potong Kafka dengan suara berat yang mengalun tenang. Pria itu tidak bergeming sedikit pun. Sebelah tangannya yang menumpu di dinding perlahan turun, menyusur pelan hingga jemari panjangnya menyentuh rahang Naya. "Dan bahkan jika dia naik ke atas, aku tidak peduli lagi."
Sentuhan ibu jari Kafka di kulit pipinya terasa begitu panas, membakar kewarasan Naya hingga tersisa abu. Naya mendongak, mendapati mata legam pria itu menatapnya dengan intensitas yang luar biasa—campuran antara kerinduan yang ditahan bertahun-tahun dan rasa memiliki yang absolut.
"Tiga tahun, Kak," bisik Kafka lagi, suaranya berubah menjadi serak, menyapu bibir Naya. "Tiga tahun aku melihatmu dari layar ponsel, mendengar suaramu lewat panggilan telepon saat liburan semester, dan menahan diri setiap kali aku ingin pulang lebih cepat hanya karena aku tahu aku belum pantas untukmu. Jangan minta aku untuk bersabar lebih lama lagi."
Kalimat itu diucapkan dengan ketulusan yang begitu telanjang, menghancurkan sisa-sisa pertahanan terakhir Naya. Bayangan tentang pengkhianatan Reno yang tadinya menyisakan nyeri, kini lenyap tak bersisa, sepenuhnya di bumi hanguskan oleh kehangatan dan kepastian yang diberikan oleh Kafka.
Naya menutup matanya perlahan. Ia tidak lagi mundur. Alih-alih menolak, tangan Naya yang semula terkepal di sisi tubuhnya perlahan terangkat, mendarat di dada bidang Kafka, merayap naik hingga melingkar di leher pria itu.
Mendapat respons tersebut, erangan rendah lolos dari tenggorokan Kafka. Tanpa membuang waktu lagi, pria itu memangkas sisa jarak yang ada, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang langsung meruntuhkan seluruh dunia Naya.
Ciuman itu jauh lebih dalam, lebih menuntut, dan jauh lebih memabukkan daripada ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Kafka menciumnya dengan penuh keputusasaan yang manis, seolah ia ingin menghapus semua rasa sakit dan air mata yang pernah Naya tumpahkan untuk pria lain. Bibir mereka bergerak beriringan, mengecap rasa rindu yang terlalu lama dibiarkan membeku.
Tangan Kafka yang besar merengkuh pinggang Naya, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah hingga Naya mau tidak mau harus melingkarkan kedua kakinya di pinggang Kafka. Pria itu memutar tubuhnya, membawa Naya bersandar pada dinding lorong, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung sekaligus tumpuan bagi Naya.
Naya mengerang pelan di tengah ciuman mereka, jemarinya meremas rambut hitam Kafka yang berantakan, menarik pria itu semakin rapat ke dalam dunianya. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi label 'adik sahabat'. Yang ada hanyalah seorang pria dan seorang wanita yang saling menemukan rumah di tengah badai.
Brak!
Suara benturan keras dari lantai bawah mendadak memecah keheningan rumah itu, disusul oleh umpatan melengking Nessa.
"Sialan! Kalah streak lagi! HP jelek!" teriak Nessa dari ruang keluarga.
Naya tersentak kaget. Matanya langsung terbuka lebar. Ia menepuk-nepuk bahu Kafka dengan panik. "Kaf! Tuh... Nessa!"
Kafka mendengus kesal, menyandarkan keningnya di kening Naya, mengatur napasnya yang sama memburunya. Pria itu menatap bibir Naya yang bengkak dan merah akibat ciumannya, lalu tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Dia hanya kesal karena kalah game, Kak," bisik Kafka serak, mengecup ujung hidung Naya sekilas sebelum perlahan menurunkan tubuh wanita itu hingga kakinya kembali menjejak lantai. "Tapi sepertinya kita harus menunda babak kedua ini sampai malam nanti."
Wajah Naya memerah padam hingga ke leher. Ia memukul dada Kafka pelan, lalu buru-buru mendorong tubuh pria itu, meraih gagang pintu kamarnya, dan melompat masuk ke dalam, menutup pintu itu rapat-rapat sebelum Kafka sempat melontarkan godaan lain.
Di balik pintu kamarnya yang tertutup, Naya menyandarkan punggungnya, memegang dadanya yang berdegup liar, sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tersenyum kecil. Malam nanti? Sepertinya ia harus bersiap menghadapi pria paling berbahaya sekaligus paling memikat di dunia ini.