Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9 : Menyelamatkan Elina
Basecamp bawah...
Jam 09:00 pagi.
Matahari sudah naik tinggi, tapi aneh, sinarnya tidak hangat. Kabut tebal masih menggantung di atas bukit jalur Pos 4, seperti selimut putih yang tidak mau turun, padahal biasanya jam segini kabut sudah hilang.
Di dalam tenda besar basecamp yang sudah sepi karena lomba jelajah rimba sudah selesai kemarin, mereka berempat tergeletak. Bima, Maira, Arga, Gilang. Tidak tidur nyenyak, hanya tidur ayam. Duduk bersandar carrier, kepala tertunduk, mata merah.
Semalaman di pondok Pos 4 yang berdenyut itu membuat jantung mereka masih berdegup kencang sampai pagi. Bahkan saat tidur pun mereka menutup mulut, takut ngorok kedengeran sama hutan.
Bapak penjaga pos dengan topi rimba lusuhnya duduk di depan kompor kecil, menyeduh kopi hitam kedua. Dia menatap mereka berempat, lalu menatap bekas hitam lima jari di kening Gilang yang sekarang warnanya sudah ungu kehitaman dan denyutnya sudah tidak sepanas tadi malam, tapi masih ada.
Bima yang paling duluan kebangun, dengan mata merah dan bibir kering pecah-pecah, langsung berdiri dan mengambil bambu kecil berisi abu hitam yang tadi malam ditaruh bapak di atas meja.
"Pak, kita berangkat sekarang ya Pak, Elina masih di dalam."
Bapak itu menggeleng pelan, menahan tangan Bima.
"Duduk dulu, Nak. Bapak tau kalian panik. Tapi kalau kalian masuk sekarang dengan kondisi kalian yang belum tidur, belum makan, jantung capek, napas capek... bagi Bhayavedin itu sama saja dengan jantung takut. Jantung capek suaranya keras juga di dalam tanah. Dia akan denger kalian dari jauh. Kalian akan ditelan lagi sebelum ketemu teman kalian."
Bapak itu mendorong empat bungkus nasi bungkus dan satu ember air putih ke tengah mereka.
"Makan dulu. Minum. Tidur lagi sampai siang. Bapak jagain di luar tenda. Nanti siang menjelang sore baru kita naik. Sore itu perutnya tipis, dia ngantuk. Kalau pagi gini dia lagi lapar-laparnya habis semalaman."
Akhirnya mereka nurut. Makan dengan pelan, tanpa ngobrol keras. Hanya suara sendok ketemu nasi bungkus. Minum air putih yang rasanya seperti air surga karena kemarin seharian mereka hanya minum setengah botol dibagi berempat.
Setelah makan, mereka tidur lagi. Kali ini beneran tidur. Bima tidur memeluk bambu abu itu. Maira tidur sambil memegang kain putih penutup mulut yang dikasih bapak. Arga tidur dengan pisau lipat di tangan. Gilang tidur sambil menahan keningnya yang berdenyut.
Jam 14:30 siang menjelang sore.
Bapak membangunkan mereka pelan, hanya dengan tepukan pelan di pundak, tanpa bersuara keras.
"Waktunya Nak. Matahari sudah miring."
Mereka bangun. Tenaga mereka kembali sekitar 60%. Tidak full, tapi cukup untuk menahan napas lama. Jantung mereka sudah tidak berdegup sekencang tadi pagi.
Bapak memberi bekal terakhir: seutas tali kain putih panjang 10 meter yang sudah lusuh tapi kuat, empat kain putih untuk penutup mulut biar napas tidak bersuara, dan satu senter kecil yang cahayanya sudah ditutup lakban hitam biar cahayanya redup, tidak menyebar.
"Ingat, masuknya seperti maling. Jalan jinjit. Napas lewat hidung pelan. Jangan panggil nama teman. Tepuk pundaknya saja. Kalau mau keluar, tarik tali 3 kali."
Mereka berlima jalan naik lagi. Bapak di depan, jalan pelan tanpa suara seperti kucing hutan, langkahnya tidak menginjak daun kering yang berisik, dia menginjak tanah keras. Di belakangnya Bima, Maira, Arga, Gilang. Semua jalan jinjit, tanpa suara.
Perjalanan naik siang menjelang sore itu hening total. Tidak ada yang berani bersuara. Setiap kali angin menggerakkan daun pinus, mereka berhenti, menahan napas, memastikan tidak ada cekungan hitam yang muncul.
Jam 16:15, mereka sampai lagi di Pos 4.
Pondok kayu lapuk itu masih di sana. Sepi. Tidak berdenyut. Normal. Tapi tanah di depan pondok, tempat Elina hilang kemarin sore, masih ada. Tanah keras biasa ditutupi daun kering.
Bapak jongkok di tanah itu, membuka bambu kecil berisi abu hitam itu, dan menaburkan abu itu melingkar, membentuk lingkaran sebesar nampan di atas tanah tempat Elina hilang.
Begitu abu hitam itu menyentuh tanah hutan normal, abu itu tidak jatuh seperti abu biasa. Abu itu mendesis pelan.
Cesss... cesss...
Seperti air kena minyak panas. Tanah keras yang ditaburi abu itu perlahan-lahan meleleh. Meleleh seperti plastik kena api. Warnanya berubah dari coklat keras menjadi hitam lunak, lalu menjadi transparan seperti selaput tipis.
Dug... dug... dug...
Tanah itu menipis, berdenyut pelan. Di balik tanah tipis transparan itu, terlihat kegelapan pekat, dan terdengar isakan pelan sekali, tertahan.
Isakan Elina. Masih hidup.
Bapak memberi isyarat dengan tangan: _tali ikat di pinggang Bima, bapak pegang ujungnya di luar, bapak jagain robekan biar gak nutup, kalian berempat masuk._
Bima mengikat tali kain putih itu kuat di pinggangnya. Ujung tali yang panjang dipegang bapak di luar. Bima merobek tanah tipis itu pelan dengan pisau lipat.
Srrrk...
Robekannya tidak berbunyi keras seperti kemarin, hanya pelan seperti merobek plastik tipis.
Mereka berempat masuk satu per satu, seperti maling masuk lewat jendela. Tanpa suara. Napas ditahan lewat kain putih penutup mulut. Bima masuk terakhir setelah Arga, Maira, Gilang.
Bapak tetap di luar. Jongkok di bibir robekan, kedua tangannya menahan bibir robekan tanah yang mencoba menutup kembali, dan tangan kirinya memegang tali.
Di dalam perut hutan, suasananya jauh lebih buruk dari kemarin.
Kemarin perutnya masih ada cahaya oranye sore yang masuk dari robekan. Sekarang gelap total. Bau anyir manis itu jauh lebih menyengat, seperti bau daging busuk yang disimpan lama. Dinding perut yang berdenyut itu sekarang lebih merah, lebih basah, dan dari dinding itu menetes cairan kuning kehijauan yang lengket.
Senter kecil Bima yang ditutup lakban hitam dinyalakan, cahayanya redup, hanya menerangi 2 meter ke depan, biar tidak berisik cahaya.
Dan di tengah perut, Elina ada di sana.
Keadaannya sangat memprihatinkan. Jauh lebih buruk dari yang mereka bayangkan.
Elina duduk bersandar di dinding perut yang berdenyut, kepalanya terkulai lemas ke samping. Kakinya terjerat akar cacing putih bukan hanya sampai sepinggang lagi, tapi sampai ke dada. Akar putih itu sudah menusuk masuk ke kulit kaki dan pahanya, bukan hanya melilit, tapi sudah menyatu, seperti infus. Dari tusukan itu keluar nanah hitam bercampur darah kering.
Pinggangnya masih dililit akar hitam besar sebesar lengan orang dewasa, lilitannya sangat kencang sampai Elina sesak, bekas lilitannya membiru. Tangan Elina diikat akar kecil ke dinding perut di atas kepala, seperti disalib. Rambutnya yang pendek penuh lendir hitam, menempel di wajah pucatnya.
Yang paling mengerikan adalah di depan mulutnya. Ada akar kecil sebesar jari kelingking yang ujungnya terbuka seperti mulut cacing, bergerak-gerak di depan bibir Elina. Setiap kali Elina mau teriak atau nangis keras, akar itu langsung masuk sedikit ke dalam mulutnya, menyumpal, membuat Elina hanya bisa sesenggukan tanpa suara, air liurnya menetes bercampur lendir.
Elina masih hidup, tapi napasnya pelan sekali, matanya setengah tertutup, seperti orang yang sudah 2 hari tidak makan minum.
Maira yang melihat itu langsung mau teriak dan lari memeluk Elina, air matanya langsung tumpah deras di balik kain penutup mulutnya. Tapi Bima dengan cepat menahan pundak Maira kuat-kuat, menggeleng pelan, memberi isyarat,"Jangan bersuara, jangan lari, jalan pelan, dia masih hidup, jangan bikin akarnya kenceng."
Mereka berjalan pelan, jinjit, tanpa suara, mendekati Elina. Setiap langkah ditahan, napas ditahan lewat kain putih.
Bima mengambil sisa abu hitam dari kantongnya, yang dikasih bapak lewat robekan, dan menaburkan abu itu ke akar-akar putih yang menjerat kaki dan dada Elina.
Cesss... cesss...
Akar putih itu langsung meleleh, melepuh seperti kena air keras, dan lepas dari kulit Elina. Elina yang kakinya lepas langsung kejang pelan karena kesakitan, mau teriak, tapi Maira dengan cepat membekap mulut Elina dengan kain putih penutup mulutnya, memberi isyarat dengan mata
"Sstt..Lin,kita di sini.Jangan teriak.Tahan ya,tahan."
Arga dan Bima memotong akar hitam besar yang melilit pinggang Elina dengan pisau lipat. Akar itu keras sekali, seperti memotong kayu basah yang penuh serat. Mereka memotong pelan-pelan, tanpa suara, butuh waktu 3 menit untuk memotong satu lilitan. Keringat mereka bercucuran.
Gilang yang bekas hitam di keningnya berdenyut panas, memotong akar kecil yang mengikat tangan Elina ke dinding.
Setelah semua akar lepas, Elina jatuh terkulai lemas ke depan, ditangkap Bima. Bima langsung menggendong Elina di punggungnya. Elina ringan sekali, seperti kapas, karena tenaganya habis. Elina memeluk leher Bima lemah, dan berbisik pelan sekali tanpa suara di telinga Bima, suaranya serak habis.
"Raaa..."
Bima mengangguk pelan, menahan tangis tanpa suara.
***
***