Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Menunggu Bagas
Sementara itu di kediaman keluarga tuan Hartanto, nyonya Hartanto terlihat masih sedih di dalam kamarnya. Iya, bukan kali ini saja nyonya Hartanto merasakan sakit hati atas ucapan sang suami. Tetapi sering. Di mata tuan Hartanto sang istri hanyalah perempuan lemah yang harus patuh padanya. Tuan Hartanto tidak pernah perduli jika sikap seenaknya itu begitu menyakitkan buat sang istri.
Sambil duduk di depan meja rias, nyonya Hartanto memoles wajah tuanya yang masih terlihat cantik menggunakan bedak untuk menutupi wajah muramnya sehabis menangis. Matanya yang tadi sembab karena air matanya terus mengalir kini terlihat lebih segar karena polesan kosmetik.
Setelah make up nya dirasa sempurna, nyonya Hartanto mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Antarkan aku...'' ucap nyonya Hartanto pada seseorang di ujung telpon.
"Aku butuh tempat untuk menenangkan diri. Kau pasti tahu kan apa yang terjadi antara aku dan suamiku tadi pagi...? Hati aku sangat sakit, sampai kapan aku akan terus direndahkan oleh suamiku...?'' sambung nyonya Hartanto kembali bersedih.
"Yang sabar nyonya..." ucap seorang pria di ujung telpon.
"Ya, selama ada kamu, aku akan mencoba untuk bersabar dan kuat..." jawab nyonya Hartanto.
"Datanglah ke kamarku, aku harus minta pendapat kamu, baju mana yang cocok aku pakai hari ini..." ucap nyonya Hartanto sambil tersenyum.
"Baik nyonya..." jawab laki- laki tersebut.
Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk. Lalu masuklah seorang laki- laki bertubuh sedang, berumur sekitar tiga puluh lima tahun, memakai pakaian casual dan topi berwarna hitam pekat.
"Nyonya..." ucap Darma.
Iya, Darma adalah supir sekaligus asisten yang merupakan orang kepercayaan nyonya Hartanto. Selain itu Darma juga seorang fotografer kepercayaan keluarga tuan Hartanto. Setiap kali ada acara keluarga, maka Darma lah yang bertugas untuk mengabadikan moment tersebut dalam sebuah foto yang apik.
Hasil jepretannya sangat disukai oleh keluarga Hartanto. Begitu juga dengan nyonya Hartanto yang sangat suka difoto oleh Darma. Apa lagi nyonya Hartanto adalah orang yang cukup aktif di sosial media. Hampir setiap hari dia mengunggah foto ataupun video tentang kesehariannya ke akun media sosialnya.
"Menurutmu baju mana yang cocok untuk saya pakai hari ini...?'' tanya nyonya Hartanto sambil menyisir rambutnya di depan cermin meja rias.
Darma yang berdiri di belakang nyonya Hartanto menoleh ke arah tempat tidur di mana di sana telah berjejer beberapa gaun cantik milik nyonya Hartanto.Darma melihat satu persatu gaun tersebut sambil sesekali menoleh ke arah nyonya Hartanto.
"Yang ini nyonya..." jawab Darma sambil mengambil satu gaun berwarna hitam.
"Gaun ini sangat sesuai dengan make up dan juga tatanan rambut nyonya. Kulit nyonya akan telihat lebih cerah, dan akan terlihat cantik di kamera..." sambung Darma.
"Jadi menurut kamu, aku hanya cantik di kamera...? Aslinya tidak...?'' tanya nyonya Hartanto dengan bibir sedikit manyun.
"Oh...bu..bukan... Bukan seperti itu nyonya... Baik aslinya maupun di kamera, nyonya tetap cantik. Dan nyonya selalu terlihat lebih muda dari umurnya..." jawab Darma sambil tersenyum.
Mendengar pujian Darma, nyonya Hartanto tersipu hingga pipinya kemerahan. Lalu nyonya Hartanto bangun dari duduknya kemudian menghampiri Darma yang berdiri tak jauh dari tempat tidur sambil memegang gaun berwarna hitam.
"Baiklah... Aku akan ganti baju dulu ya..." ucap nyonya Hartanto mengambil gaun dari tangan Darma.
"Pilihan kamu memang yang terbaik..." sambung nyonya Hartanto sambil mengusap dada bidang Darma.
Darma pun tersenyum. Dan nyonya Hartanto segera masuk ke ruang ganti. Selang beberapa menit nyonya Hartanto keluar dari ruang ganti dan sudah menggunakan gaun pilihan Darma ditambah dengan sepatu hak tinggi dengan warna senada dan juga tas mewah berukuran kecil di tangannya.
"Bagaimana penampilanku...?'' tanya nyonya Hartanto sambil bergaya bak peragawati.
"Sempurna..." jawab Darma sambil menatap nyonya Hartanto.
Darma lalu memotret nyonya Hartanto dengan berbagai pose. Tak lama kemudian nyonya Hartanto mengunggah hasil jepretan Darma ke akun sosial medianya.
Setelah itu mereka berdua pergi ke tempat yang sudah diberitahu oleh nyonya Hartanto.
"Lihatlah itu, kalau habis bertengkar dengan tuan, nyonya pasti pergi dengan Darma. Kira- kira mereka pergi ke mana ya...? Dan apa yang mereka lakukan berdua...?'' tanya Marti yang sedang mengintip dari dapur saat nyonya Hartanto dan Darma keluar dari rumah.
"Entahlah... Tapi yang aneh kenapa tuan Hartanto membiarkan mereka begitu dekat..." sahut Siti yang juga ikut mengintip bersama Marti.
"Sepertinya ada yang tidak wajar sama mereka..." ucap Marti.
"Iya, aku juga mikirnya begitu..." sahut Siti.
"Hei...hei...hei...kalian ini ngegosip saja kerjaannya..." ucap bi Ati asisten rumah tangga senior.
"Darma itu asistennya nyonya, ya wajar saja kalau mereka pergi berdua. Kalian jangan berfikir macam- macam ya, kalau nyonya sampai tahu, kalian berdua bisa dipecat..." sambung bu Ati memperingatkan Marti dan Siti.
Iya, semua pekerja di kediaman keluarga Hartanto tahu bagaimana sifat majikannya yang tidak akan mentolerir siapapun yang berbuat kesalahan atapun yang berani membuat masalah dengan mereka.
Resikonya bukan hanya dipecat secara tidak hormat jika berani membuat masalah dengan keluarga Hartanto. Namun nyawa mereka juga bisa terancam jika siapapun berani mengusik keluarga Hartanto.
"Asisten sih asisten...tapi nggak harus masuk kamar juga di saat suaminya tidak ada di rumah kali..." sahut Siti.
"Oh jangan- jangan mereka..." ucap Marti.
"Hei... Sudah...sudah... Lebih baik kalian kembali kerja sekarang... Kalau kalian terus bergosip, saya akan laporkan pada nyonya..." ucap Ati.
"Huh... Dasar tukang ngadu..." sahut Marti kesal. Begitu juga dengan Siti yang tidak kalah kesalnya karena bi Ati yang selalu saja sok- sokan ngatur.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Pukul lima sore Suzan sudah sampai di rumah.Iya, dia sengaja pulang lebih awal dan membatalkan pertemuan dengan klien demi menyiapkan makan malam bersama Bagas. Dengan cekatan Suzan memasak makanan kesukaan Bagas dan tentu saja dibantu oleh asisten rumah tangganya, yaitu Marti, Siti dan Ati.
"Tumben nyonya Suzan pulang awal, biasanya dia pulang di atas jam tujuh malam..." bisik Siti yang sedang mencuci sayuran kepada Marni yang sedang menyiakan piring untuk menata makanan yang sudah jadi.
"Ya sekali- kali manjakan suami..." sahut Marti.
"Iya ya, soalnya nyonya sibuk banget setiap hari, kadang suka kasihan sama tuan Bagas, pulang kerja tapi istrinya masih sibuk di kantor..." ucap Siti.
"Ssshhtt..." Ati melototi mereka berdua yang suka sekali bergosip.
"Bi Ati, tolong siapkan makanannya di meja makan ya... Aku mau mandi dan siap- siap dulu...." ucap Suzan yang sudah selesai memasak.
"Baik nyonya..." jawab Ati.
Suzan keluar dari dapur menuju ruang kelurga. Saat melihat jam dinding, hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun Suzan belum melihat Bagas pulang.
"Kok mas Bagas belum pulang sih, tadi kan dia bilang akan pulang cepat..." gumam Suzan.
"Mungkin sebentar lagi, lebih baik aku bersiap..." Suzan segera naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Mami..." panggil Alvaro keluar dari kamarnya bersama sus Yeni.
"Hei sayang..." Suzan menghentikan langkahnya lalu menghampiri sang putra.
"Mami sudah selesai masak ...?'' tanya Alvaro.
"Sudah sayang, mami mau mandi dulu abis itu kita tunggu papi...oke..." jawab Suzan.
"Oke mami. Varo ke bawah dulu ya mami..." jawab Alvaro.
"Iya sayang..." sahut Suzan sambil mengusap pipi Alvaro.
Suzan segera masuk ke kamar bersiap untuk mandi. Namun sebelum Suzan masuk ke kamar mandi dia terlebih dulu membuka laci meja rias. Di mana sebuah kotak cincin berbentuk hati tersimpan. Suzan membuka kotak cincin tersebut dan tersenyum sambil menatap cincin berlian yang berkilau indah.
"Indah sekali...Aku nggak sabar menunggu kamu pulang dan kasih kejutan ini sayang..." ucap Suzan dengan senyuman yang tak mau pudar dari bibirnya.
Suzan kembali menyimpan kotak cincin itu ke dalam laci meja rias. Kemudian Suzan mengambil ponselnya di atas meja rias untuk menelpon Bagas. Namun nomornya tidak aktif.
"Kok nggak aktif , mas Bagas ke mana ya, apa dia masih ada pekerjaan..?'' ucap Suzan lalu meletakkan kembali ponselnya di meja rias.
Suzan lalu menelpon Fikri asisten Bagas.
"Hallo Fikri, apa suamiku masih di kantor...?'' tanya Suzan begitu Fikri menjawab telponnya.
"Oh begitu ya... Tapi suamiku belum sampai rumah. Apa mungkin macet di jalan ya..., baiklah terima kasih Fikri..." ucap Suzan lalu mematikan sambungan telponnya.
"Pasti sebentar lagi mas Bagas sampai rumah, lebih baik aku mandi dulu deh..." sambung Suzan begitu diberitahu Fikri bahwa Bagas sudah pulang dari kantor satu jam yang lalu.
Suzan segera masuk ke kamar mandi dengan harapan setelah dia selesai mandi, Bagas sudah pulang ke rumah. Namun ternyata hingga Suzan selesai mandi dan berganti pakaian, Bagas belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Bi Ati... Suamiku belum pulang juga...?'' tanya Suzan begitu dia turun ke lantai bawah.
"Belum nyonya..." jawab Ati.
Suzan menghela nafas.
"Mami...kok papi lama sih...?'' tanya Alvaro yang sedang mewarnai ditemani oleh sus Yeni.
"Iya sayang, mungkin di jalan sedang macet.." jawab Suzan lalu bergabung dengan Alvaro.
Suzan kembali menghubungi nomor Bagas, namun lagi- lagi nomornya tidak aktif. Tentu saja Suzan merasa cemas. Suzan takut terjadi sesuatu dengan suaminya di jalan.
Dan tak lama kemudian nyonya Hartanto pulang.
"Suzan... Kalian lagi ngapain...?'' tanya Nyonya Hartanto sambil menatap Suzan dan Alvaro di ruang tengah.
"Oh ini mah, Suzan sedang menemani Alvaro mewarnai..." jawab Suzan.
"Wah... cucu oma mewarnainya sudah rapi ya, pinter...." ucap nyonya Hartanto sambil tersenyum pada sang cucu.
"Iya dong oma... Kan mami selalu mengajari Varo cara mewarnai yang benar..." jawab Alvaro.
"Bagus sayang..." sahut nyonya Hartanto.
"Bagas mana...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Belum pulang mah, sepertinya dia terjebak macet..." jawab Suzan.
"Kalau papa...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Papa juga belum pulang mah, papa rapat dengan klien, sekalian makan malam..." jawab Suzan.
Nyonya Hartanto lalu menuju ke kamar, diikuti oleh Darma yang membawakan belanjaannya.
"Mah..." panggil Suzan.
"Iya..." nyonya Hartanto dan Darma pun menghentikan langkahnya.
"Nanti kita makan malam bersama ya..." ucap Suzan.
"Oh, tidak... Kamu saja yang makan ya, mama sudah makan. Mama mau istirahat saja, mama lelah sekali hari ini..." jawab nyonya Hartanto sambil melirik sekilas ke arah Darma.
Sedangkan Darma hanya berdiri mematung di samping nyonya Hartanto sambil membawakan barang belanjan nyonya Hartanto.
"Oh.. Iya mah..." jawab Suzan.
Nyonya Hartanto lalu masuk ke kamarnya. Sedangkan Darma, setelah meletakkan barang- barang belanjaan nyonya Hartanto, dia langsung pamit pulang ke apartemannya.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu di kamar apartemen milik Casandra sedang berlangsung adegan panas di atas ranjang. Iya, Bagas dengan cepat menggerakan tubuhnya di atas Casandra. Hingga terdengar lengkingan panjang dari mulut keduanya tanda aktivitas panas mereka telah berakhir dengan rasa puas.
"Oh babby... Kau luar biasa..." ucap Bagas sambil bangun dari atas tubuh Casandra lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Casandra.Tentunya dengan nafas yang masih memburu dan keringat bercucuran.
"Kau selalu pandai membuatku puas..." sambung Bagas sambil sekilas mengecup kening Casandra.
Casandra yang berbaring di samping Bagas pun terkekeh mendengar ucapan Bagas. Iya, tentu saja Casandra tersanjung mendengar pujian dari sang kekasih.
"Kamu juga babby ... Kamu juga pandai memuaskan aku. Bikin aku ketagihan terus..." sahut Casandra lalu memeluk tubuh polos Bagas.
Bersambung....