NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Toko yang Tiba-Tiba Diperiksa

Rumah orang tua Bayu sangat sederhana. Berada di gang sempit yang setiap paginya ramai oleh suara becak dan pedagang sayur keliling. Toko kelontong milik ibunya berdiri di teras depan sejak Bayu masih SD, rak-rak kayu penuh sabun, minyak goreng, dan permen kaleng yang tidak pernah berubah tempatnya sejak dulu. Bau kopi tubruk dan kertas koran bekas pembungkus selalu menyambut siapa pun yang masuk, dan lonceng kecil di atas pintu masih sama, sudah agak berkarat tapi tetap berbunyi nyaring setiap kali ada pembeli datang.

"Kamu kok diem terus dari kemarin," celetuk Ibu Bayu, sembari menghitung uang kembalian untuk pembeli terakhir sebelum toko ditutup malam itu. Matanya melirik anaknya yang duduk murung di kursi plastik dekat pintu. "Ada masalah sama Alya?"

"Bukan cuma Alya, Bu," Bayu menjawab, menghela napas panjang. "Ada masalah yang jauh lebih besar dari itu."

Bayu mulai menceritakan semuanya. Investor yang mundur, dokumen yang dia temukan, konfrontasi di ruang konsultasi, ancaman yang keluar dari mulut Raze sehalus sutra tapi setajam silet. Ibunya mendengarkan sambil terus menyusun barang dagangan, tangannya bergerak otomatis meski wajahnya semakin pucat setiap detail baru yang keluar dari mulut anaknya.

"Orang itu ngancem toko kita?" Ibunya bertanya. Suaranya bergetar, tangannya berhenti di atas tumpukan kardus mi instan.

"Nggak langsung, Bu. Tapi dia nyebut soal utang toko yang belum lunas. Dia tahu detail yang seharusnya nggak dia tahu," Bayu menjawab, menggenggam tangan ibunya untuk menenangkannya, meski dia sendiri jauh dari tenang. "Aku nggak tahu harus percaya ancaman kosong atau beneran serius."

"Almarhum Bapakmu dulu yang pinjem modal buat renovasi toko ini," Ibunya berkata dengan suara yang bergetar mengingat masa lalu yang jarang dia bicarakan. "Utangnya udah hampir lunas, tinggal setahun lagi. Kalau orang itu tahu sampai detail sekecil itu, berarti dia beneran udah ngintip jauh ke dalam hidup kita, Nak."

"Terus aku harus gimana, Bu?" Bayu bertanya, suaranya putus asa. "Kalau aku diem aja, dia menang, dan aku ngerasa kayak pengecut. Kalau aku lapor, kalian yang kena getahnya."

"Ibu nggak bisa jawab itu buat kamu, Nak," Ibunya berkata, duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. "Tapi Ibu tahu satu hal, nggak ada toko atau uang yang lebih berharga dari keselamatan kamu sendiri. Kalau kamu ngerasa perlu lapor demi kebenaran, Ibu bakal dukung. Kita udah pernah susah sebelumnya. Kita bisa susah lagi kalau memang harus."

"Alya gimana, menurut Ibu?" Bayu bertanya, lebih pelan, seolah baru berani mengucapkan pertanyaan yang sebenarnya paling dia takuti.

"Ibu nggak kenal orang itu sebaik kamu, Nak," Ibunya menjawab hati-hati. "Tapi kalau dia beneran masih sayang sama kamu, dia bakal cari cara buat jujur, bukan malah bikin kamu makin bingung. Kasih dia waktu. Tapi jangan terlalu lama."

"Orang sekaya dan sekuat itu," Ibunya melanjutkan, pelan, meletakkan uang kembalian ke laci kayu tua, "biasanya nggak cuma sekedar ngomong kosong, Nak. Hati-hati. Ibu nggak mau kamu jadi taruhan dari sesuatu yang bahkan Ibu nggak sepenuhnya ngerti."

Di rumah sakit, siang itu, Alya sedang menyusun laporan ketika seorang pria berjas rapi. Wajahnya tidak pernah dia lihat sebelumnya, menghampirinya di meja perawat.

"Suster Nireva?" tanyanya, sopan, suaranya tenang dan terukur, gaya bicara yang mengingatkannya sedikit pada Raze, meski jauh lebih hangat. "Saya Damar, asisten pribadi dr. Raze. Beliau minta saya antar berkas ini."

Alya menerima map itu, memperhatikan pria di depannya. Usianya sekitar tiga puluhan, rapi, sopan, tapi matanya menyimpan kewaspadaan seseorang yang sudah lama terbiasa berjalan di antara dua dunia yang berbeda.

"Kamu udah lama kerja sama dia?" Alya bertanya, penasaran.

"Delapan tahun," Damar menjawab, singkat, lalu, setelah jeda yang terasa sengaja, menambahkan, lebih pelan, "Bapak itu orang yang sangat setia pada apa yang dia percaya benar, Suster. Sayangnya, definisi 'benar' menurutnya, tidak selalu sama dengan definisi orang kebanyakan."

"Kenapa kamu masih kerja sama dia, kalau kamu sendiri ragu sama caranya?" Alya bertanya, penasaran, meski dia tahu pertanyaan itu mungkin terlalu personal untuk orang yang baru dia kenal.

Damar terdiam sejenak, memilih kata-katanya hati-hati. "Karena delapan tahun lalu, beliau yang membiayai operasi ibu saya waktu tidak ada yang lain sanggup membantu. Loyalitas itu nggak selalu soal setuju sama semua yang dilakukan seseorang, Suster. Kadang itu soal utang budi yang nggak pernah benar-benar lunas."

"Kenapa kamu cerita itu ke aku?"

"Karena saya melihat cara beliau berubah sejak Suster ada di sekitarnya," Damar berkata, jujur, matanya menatap Alya dengan sesuatu yang menyerupai simpati yang hati-hati. "Itu perubahan yang baik. Saya hanya berharap perubahan itu cukup untuk mengalahkan kebiasaan lama yang sudah delapan tahun saya saksikan."

"Kebiasaan lama yang kayak gimana?" Alya bertanya, suaranya lebih pelan, hampir takut mendengar jawabannya.

"Itu bukan cerita saya yang menceritakannya, Suster," Damar berkata, sopan tapi tegas, jelas menarik batasnya sendiri. "Permisi, saya masih ada tugas lain."

Dia pamit sebelum Alya sempat bertanya lebih jauh, meninggalkan kalimat itu menggantung berat di kepalanya sepanjang sisa shift.

"Siapa tadi yang ke sini?" Tia bertanya, penasaran, begitu Damar sudah menghilang di ujung lorong. "Ganteng juga, ya, meski agak serem auranya."

"Asisten pribadi dr. Raze," Alya menjawab, masih memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Damar.

"Ih, jarang banget ada yang berani deket-deket sama urusan pribadi dr. Raze," Tia berkomentar, mengangkat alis. "Katanya orang itu galak banget kalau ada yang macem-macem sama rahasia bosnya."

"Kenapa kamu bilang gitu?" Alya bertanya, penasaran.

"Denger-denger dari senior dulu," Tia menjawab, mengangkat bahu ringan. "Katanya pernah ada staf lama yang kebanyakan cerita ke orang luar soal urusan dr. Raze, terus tiba-tiba resign, pindah kota. Nggak ada yang tahu pasti ceritanya, tapi semua orang di sini belajar buat nggak banyak nanya."

Kalimat itu menambah satu lagi lapisan kekhawatiran di dada Alya, mengingatkannya lagi pada Sarah. Pada pola yang terus berulang setiap kali seseorang mencoba mendekat terlalu jauh ke kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Sore itu, ponsel Alya bergetar, pesan dari Bayu.

"Alya, ada tim dari dinas perdagangan tiba-tiba dateng ke toko nyokap, bilang mau periksa izin usaha yang katanya kadaluarsa. Padahal izinnya masih berlaku dua tahun lagi. Ini bukan kebetulan, kan?"

Tangan Alya gemetar mengetik balasan. "Aku bakal tanya. Tunggu."

Dia bergegas ke lantai dua puluh dua, tidak peduli lagi pada protokol mengetuk pintu. Disana terlihat Raze sedang menandatangani beberapa dokumen di mejanya.

"Kamu nyuruh orang periksa toko Ibunya Bayu?" Alya bertanya, suaranya tajam, berdiri di depan mejanya dengan tangan mengepal.

Raze mendongak, ekspresinya datar. Tidak terkejut sedikit pun oleh tuduhan itu. "Aku tidak menyuruh siapa pun memeriksa apa pun," katanya jujur. Meski nada suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang benar-benar tidak tahu apa-apa. "Tapi aku juga tidak akan berpura-pura terkejut kalau dinas terkait mulai memeriksa ulang izin-izin lama di sekitar sana. Itu bukan wewenangku."

"Bohong," Alya berkata, suaranya bergetar menahan amarah. "Kamu bilang kamu tahu detail utang tokonya. Sekarang tiba-tiba ada pemeriksaan dadakan. Kamu pikir aku sebodoh itu buat percaya ini kebetulan?"

Untuk sesaat, Raze diam, meletakkan penanya perlahan. "Aku punya banyak koneksi, Alya. Kadang koneksi itu bergerak sendiri, berdasarkan informasi yang pernah aku sebutkan, tanpa perlu perintah eksplisit dariku. Aku tidak bisa mengontrol setiap konsekuensi dari setiap kalimat yang pernah aku ucapkan."

"Itu jawaban pengecut," Alya berkata, air matanya mulai jatuh. "Kamu bisa hentiin ini kalau kamu mau. Tapi nyatanya, kamu nggak mau berhenti dan terus meneror Bayu."

"Kenapa aku harus mau?" Raze bertanya balik. Suaranya masih tenang, tapi ada sesuatu yang lebih tajam di baliknya sekarang. "Pria itu mengancam akan mengekspos hidupku ke media, Alya. Dia menyerangku duluan. Aku hanya membalas dengan bahasa yang dia mengerti."

"Bahasa yang kamu mengerti," Alya membantah, "bukan bahasa yang dia mengerti. Dia cuma mau melindungi keluarganya, sama kayak yang kamu bilang kamu lakuin ke aku."

Kalimat itu membuat Raze terdiam sejenak, seolah tidak menduga argumen itu akan menyerangnya balik dengan begitu tepat.

Raze berdiri, berjalan mengelilingi meja, berhenti tepat di depannya, cukup dekat hingga Alya harus mendongak untuk menatap matanya. "Kamu benar," katanya, akhirnya, jujur tanpa berusaha membela diri lebih jauh. "Aku bisa menghentikannya. Aku memilih untuk tidak, karena bagian dari diriku masih ingin pria itu merasakan sedikit dari apa yang dia coba renggut dariku."

"Merenggut apa, Raze? Aku bukan barang yang bisa direnggut."

"Kau benar lagi," katanya, tangannya terangkat, menyentuh pipinya lembut meski kalimatnya masih dingin. "Tapi perasaanmu untuknya, bagian hatimu yang masih dia miliki, itu yang aku maksud. Dan aku memang cukup serakah untuk menginginkan seluruhnya, bukan sisa-sisa yang dibagi."

"Aku nggak bisa terima cara pikir kayak gini, Raze," Alya berkata, mundur selangkah, melepaskan diri dari sentuhannya. "Kalau kamu beneran sayang aku, kamu bakal hentiin ini. Bukan pakai itu buat menang."

"Ini bukan soal menang, Alya."

"Terus soal apa?" Alya bertanya, suaranya semakin tinggi. "Karena dari yang aku liat, ini soal ego kamu yang nggak terima ada orang lain yang masih punya tempat di hati aku."

Kalimat itu menetap lama di wajah Raze. Terlihat jelas disana muncul keraguan yang biasanya jarang sekali terlihat. "Baik," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. "Aku akan menghentikannya. Bukan karena aku setuju dia pantas dilindungi. Tapi karena aku tidak sanggup melihatmu menatapku seperti ini."

Dia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat, dan dalam hitungan detik, sesuatu di matanya menunjukkan bahwa perintah itu sudah terkirim, sudah akan dijalankan.

"Terima kasih," Alya berbisik, air matanya masih mengalir. Meski dia tidak sepenuhnya yakin harus berterima kasih untuk apa. Untuk keputusannya menghentikan, atau untuk fakta bahwa dia punya kekuatan sebesar itu sejak awal.

Raze menariknya ke dalam pelukan. Meski Alya sempat menahan diri sejenak, dia akhirnya membiarkan dirinya tenggelam di sana. Wajahnya terbenam di dada bidangnya, mendengarkan detak jantung yang terlepas dari semua kekejaman yang baru saja dia saksikan, masih terdengar begitu manusiawi.

Tangannya mengusap punggungnya perlahan, naik turun, dan sesekali jarinya menyusuri tulang belakangnya dengan gerakan lambat yang lebih terasa seperti permintaan maaf yang tidak bisa dia ucapkan lewat kata-kata.

"Aku menakutkan, ya?" Raze bertanya, pelan, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.

"Iya," Alya menjawab jujur, tidak melepaskan pelukan itu. "Tapi aku juga nggak bisa berhenti pengen ada di sini."

"Itu jawaban paling menakutkan yang pernah aku dengar," katanya. Untuk sesaat, ada sesuatu yang menyerupai tawa pahit di suaranya, "tapi juga jawaban yang paling ingin aku dengar."

Dia mengangkat dagunya, mengecup bibirnya lembut, ciuman yang lebih terasa seperti permintaan maaf daripada gairah. Alya membalasnya dengan cara yang sama, tangannya meremas kerah kemejanya erat-erat, seolah mencoba menahan sesuatu yang dia sendiri tidak sepenuhnya mengerti.

"Aku janji," Raze berbisik di sela ciuman itu, "aku akan belajar berhenti, sebelum kamu memintaku untuk berhenti."

Alya tidak menjawab, hanya menariknya lebih dekat. Membiarkan janji itu tergantung di udara tanpa jaminan. Karena keduanya sama-sama tahu, janji dari seseorang yang seumur hidupnya tidak pernah benar-benar berhenti dari apa pun, adalah janji yang paling rapuh sekaligus paling berharga yang bisa dia berikan.

Mereka berdiri seperti itu cukup lama. Dahi bersentuhan, nafas saling beradu, sampai akhirnya Raze melepaskan pelukan itu perlahan. Tangannya masih menggenggam tangannya erat seolah enggan benar-benar melepaskan kontak di antara mereka. "Pulanglah dulu, istirahat," katanya, lebih lembut dari nada yang biasa dia pakai. "Aku akan mengabari begitu semuanya sudah beres."

Malam itu, pesan dari Bayu masuk lagi, nadanya bingung. "Tim pemeriksa tadi tiba-tiba pergi, bilang ada kesalahan data. Aneh banget. Kamu tahu sesuatu?"

Alya menatap layar itu lama sebelum akhirnya membalas. "Udah beres, Kak. Jangan khawatir."

"Beres gimana? Alya, ini bukan hal kecil. Kalau ini emang ulah dia, terus tiba-tiba berhenti, itu artinya dia yang megang kendali penuh atas hidup keluargaku. Itu bikin aku takut, bukan lega."

"Aku tau ini berat, Kak. Tapi setidaknya toko Ibu aman sekarang," Alya membalas, mencoba mencari sisi baik dari situasi yang terasa semakin rumit setiap harinya.

"Aman sekarang. Sampe kapan? Itu yang bikin aku nggak bisa tenang, Alya."

Alya menatap pesan itu lama. Jarinya melayang di atas layar tanpa tahu harus membalas apa, karena Bayu benar. Rasa lega yang seharusnya dia rasakan terasa kalah oleh ketakutan yang jauh lebih besar, kesadaran bahwa keselamatan orang-orang yang dia sayangi sekarang bergantung pada suasana hati satu orang saja.

"Aku ngerti, Kak. Aku juga takut," akhirnya dia mengetik, jujur untuk pertama kalinya malam itu, sebelum meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit kamarnya. Tidak sanggup menjelaskan lebih jauh bahwa dia baru saja belajar, dengan cara paling menakutkan. Seberapa tipis jarak antara dilindungi dan dikendalikan.

Di lantai dua puluh dua, malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang penuh pertimbangan, lebih hati-hati dari biasanya.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈♡。·˚˚· ·˚˚·。♡•┈┈┈•┈┈┈•

Aku menghentikan pemeriksaan itu. Bukan karena aku berubah pikiran soal pria itu, tapi karena Alya menatapku dengan cara yang membuatku sadar, ada harga yang bahkan aku tidak sanggup bayar.

Damar bicara padanya hari ini, aku dengar dari staf lain. Aku tidak marah. Damar sudah delapan tahun bersamaku, dan kesetiaannya belum pernah kuragukan sekali pun. Tapi aku mencatat ini, untuk pertama kalinya. Bahkan orang paling setia pun bisa mulai mempertanyakan metodeku, begitu mereka melihat cukup dekat. Aku perlu mengingat itu, untuk hari-hari berikutnya.

Alya bilang aku menakutkan. Lalu dia bilang dia tetap ingin di sini. Aku tidak tahu kombinasi kalimat mana yang lebih membuatku takut kehilangan dia, yang pertama, atau yang kedua.

Aku berjanji akan belajar berhenti. Aku bahkan tidak sepenuhnya yakin aku tahu caranya. Selama delapan tahun terakhir, satu-satunya bahasa yang pernah kupelajari adalah bagaimana memastikan aku selalu menang. Belajar berhenti mungkin adalah pertarungan pertama dalam hidupku, yang kalah di dalamnya justru berarti sesuatu yang lebih besar aku menangkan.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

Ada kekuatan yang digunakan untuk melindungi, dan ada kekuatan yang digunakan untuk menguji seberapa jauh orang yang dicintai mau menerimanya. Namun, yang paling berbahaya adalah saat pemiliknya sendiri tidak lagi yakin, keduanya benar-benar berbeda.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!