NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sore menjelang petang, langit Samarinda dihiasi warna jingga kemerahan yang perlahan meredup digantikan oleh temaram senja. Udara selepas hujan siang tadi meninggalkan aroma tanah basah yang khas di halaman parkir Rumah Sakit Medika Utama. Aurelia baru saja keluar dari lift lantai khusus ruang ICU, berniat untuk menemui ibunya sebelum bersiap pulang ke vila.

Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di dekat meja perawat. Jantungnya berdegup kencang seketika saat matanya menangkap sosok keluarga yang sangat ia kenal berjalan menyusuri koridor.

Itu adalah Galang, tetangga sebelah rumahnya yang juga menjabat sebagai ketua OSIS di SMA Tunas Bangsa, datang bersama kedua orang tuanya. Ibu Galang tampak membawa keranjang buah segar berukuran sedang, sementara sang ayah mengenakan kemeja rapi khas pegawai kantoran. Kedatangan mereka tentu saja untuk menjenguk Bayu—ayah Aurelia—yang sudah beberapa hari terbaring koma akibat kecelakaan maut.

Bagi orang lain, kunjungan tersebut mungkin terlihat seperti bentuk kepedulian antartetangga yang wajar. Namun bagi Aurelia, kehadiran Galang justru mengirimkan gelombang ketakutan yang luar biasa hebat ke seluruh tubuhnya.

Ia masih sangat mengingat dengan jelas bagaimana Grayson—suami iblisnya—memendam rasa cemburu yang begitu pekat dan gelap terhadap Galang. Pemuda itu menganggap kedekatan Galang dan Aurelia di lingkungan sekolah sebagai ancaman serius. Jika sampai Grayson tahu atau melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Galang datang menjenguk ke rumah sakit ini, akibatnya bisa fatal. Grayson bisa saja melampiaskan kemarahannya pada keluarga Galang atau bahkan memperketat kurungan yang dibuatnya untuk Aurelia.

Sebelum keluarga Galang menyadari keberadaannya, Aurelia berniat memutar balik langkahnya menuju tangga darurat.

"Aurelia?"

Sebuah suara hangat memanggil namanya dari arah koridor. Langkah Aurelia membeku. Ia tidak bisa menghindar lagi.

Galang mematung sejenak saat melihat sosok gadis yang dicarinya berdiri beberapa meter darinya. Pemuda itu segera melangkah mendekat dengan senyuman ramah di wajahnya, disusul oleh kedua orang tuanya yang berjalan di belakang.

"Astaga, Aurelia. Syukurlah kamu ada di sini," ucap Galang tulus, napasnya sedikit terengah karena baru saja naik dari lantai bawah. "Kami baru sempat datang menjenguk hari ini. Maafkan Om dan Tante ya, baru bisa datang sekarang karena urusan kantor yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan minggu ini."

Ibu Galang langsung merentangkan tangan, merengkuh tubuh Aurelia ke dalam pelukan hangat seorang ibu. "Yang sabar ya, Nak Aurelia. Tante ikut sedih banget dengar musibah yang menimpa Om Bayu. Semoga beliau cepat diberi kesadaran dan pulih seperti sedia kala."

Aurelia merasakan tenggorokannya tercekat hebat. Ia membalas pelukan itu dengan tubuh yang masih sedikit gemetar, berusaha memasang senyuman setenang mungkin di hadapan orang tua Galang. "I-iya, Tante... Terima kasih banyak atas doa dan perhatiannya. Om dan Tante repot-repot datang ke sini..."

Ayah Galang menepuk pelan pundak Aurelia dengan gestur kebapakan. "Sama-sama, Aurelia. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri, rumah kita kan bersebelahan. Kalau ada apa-apa, atau butuh bantuan biaya tambahan, jangan sungkan bilang ke keluarga kami, ya."

Di balik sikap sopan dan ramah orang tua Galang, Aurelia justru merasa semakin tertekan. Setiap detik yang berlalu di koridor rumah sakit ini terasa seperti berjalan di atas seutas tali tipis di atas jurang yang dalam. Matanya terus melirik cemas ke arah lift di ujung koridor, takut jika tiba-tiba pintu besi itu terbuka dan memunculkan sosok Grayson dengan tatapan *amber*-nya yang mematikan.

"Om dan Tante mau masuk sebentar ke ruang tunggu menemui Tante Lila ya," pamit ayah Galang sambil menunjuk ke arah sofa luar ruang ICU. "Galang, temani dulu Aurelia di sini sebentar. Sepertinya anak ini kelihatan syok banget dan kurang istirahat."

"Baik, Pa," jawab Galang patuh.

Setelah kedua orang tua Galang berjalan menjauh untuk menemui Lila, suasana di sudut koridor itu menjadi agak lebih lengang. Galang menoleh ke arah Aurelia, memperhatikan wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah mata gadis itu dengan tatapan penuh rasa iba bercampur kekhawatiran yang mendalam.

"Kamu kurusan, Li," ucap Galang lembut, suaranya terdengar sangat tulus. Pemuda itu melangkah lebih dekat, berdiri di samping Aurelia menghadap ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan malam kota Samarinda. "Aku tahu musibah ini pasti sangat berat buat kamu dan keluargamu. Maafkan aku ya... selama beberapa hari terakhir di sekolah, aku sempat merasa kamu sengaja menghindariku."

Aurelia menunduk, memainkan jemarinya sendiri yang terasa dingin. Ia memang sengaja menjaga jarak dari Galang sejak insiden mengerikan itu terjadi. Di sekolah, Galang sering kali datang menghampirinya, membawakan catatan pelajaran, atau sekadar menawarkan bantuan untuk mengobrol di perpustakaan—sikap ramah biasa seorang ketua OSIS kepada teman seangkatan. Namun bagi Grayson, sikap ramah itu dianggap sebagai bentuk perhatian lebih yang tidak boleh diberikan kepada siapa pun selain dirinya.

"Aku... aku tidak menghindarimu, Galang," bohong Aurelia dengan suara pelan, berusaha menelan ludah kering di tenggorokannya. "Aku cuma... sedang sangat sibuk memikirkan kondisi Papa di rumah sakit dan membantu Mama di rumah."

Galang menghela napas panjang. Ia menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya, lalu menatap lurus ke samping wajah Aurelia.

"Li, ada satu hal yang sebenarnya mengganjal di pikiranku sejak minggu lalu," kata Galang dengan nada suara yang sedikit serius, membuat Aurelia langsung mendongakkan kepalanya kaget.

"A-apa...?" tanya Aurelia terbata.

"Soal Grayson Balindra," ucap Galang menyebut nama yang paling ditakuti Aurelia saat ini. "Aku tahu anak itu anak baru pindahan yang arogan dan terkenal suka bikin masalah di sekolah lamanya. Tapi aku perhatikan, akhir-akhir ini dia sering banget kelihatan merhatiin kamu secara diam-diam. Bahkan waktu insiden di gerbang sekolah beberapa waktu lalu, tatapan mata dia ke arah kita waktu kita ngobrol... itu tatapan orang yang menyimpan permusuhan atau rasa tidak suka yang besar."

Jantung Aurelia seketika serasa berhenti berdetak. Seluruh aliran darahnya mendadak dingin. Ia menatap Galang dengan mata membelalak panik.

"G-Galang, kamu... kamu jangan bicara sembarangan..." protes Aurelia dengan suara bergetar hebat, mencoba menyembunyikan kepanikannya. "Grayson... dia tidak ada hubunganya sama aku. Kami bahkan tidak pernah dekat."

"Bukannya aku mau ikut campur urusan pribadi kamu, Li," lanjut Galang, tidak menyadari betapa kacaunya kondisi mental Aurelia saat itu. "Tapi aku cuma mau memperingatkan kamu. Grayson bukan tipe orang baik-baik. Kalau dia sampai mengganggumu, atau mencoba berbuat macam-macam di belakang sekolah... katakan padaku. Sebagai ketua OSIS sekaligus tetangga kamu, aku punya kewajiban buat melindungimu."

Mendengar kata *melindungi* dari mulut Galang, Aurelia justru ingin menangis histeris. Perlindungan dari Galang adalah hal terakhir di dunia ini yang bisa menyelamatkannya. Jika Grayson sampai mendengar bahwa Galang berniat "melindunginya", pemuda psikopat itu tidak akan segan-segan menghancurkan hidup Galang dalam hitungan detik. Grayson sudah membuktikan bagaimana ia bisa merekayasa kecelakaan ayahnya hanya untuk memaksa Aurelia tunduk—menghabisi masa depan seorang ketua OSIS yang cerdas bukanlah hal yang sulit bagi kekuasaan keluarga Balindra.

"Galang, cukup... kumohon, jangan bahas soal dia lagi," ucap Aurelia dengan nada memohon yang tertahan, air matanya hampir tumpah membasahi pipi. "Aku lagi tidak ingin memikirkan hal-hal lain selain kesembuhan Papa. Tolong... anggap saja kita tidak pernah membicarakan ini."

Galang tertegun melihat reaksi emosional Aurelia yang begitu ketakutan. Ia mengira gadis di hadapannya itu mengalami tekanan mental yang luar biasa akibat kondisi sang ayah, sehingga ia memutuskan untuk mengangguk mengalah.

"Baiklah, Li. Maafkan aku kalau aku salah ngomong," kata Galang lembut, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Aku tidak akan membahasnya lagi. Yang penting sekarang fokuslah pada kesehatan keluargamu. Kalau ada apa-apa, rumah kita kan deket, kamu bisa kapan saja cari aku."

Sebelum Aurelia sempat menjawab, suara langkah kaki berat yang sangat khas terdengar menggema dari ujung koridor. Langkah kaki yang tidak pernah gagal membuat bulu kuduk Aurelia meremang seketika.

Aurelia menoleh dengan kepala mendadak pening ke arah sumber suara.

Di sana, di bawah cahaya lampu putih koridor rumah sakit yang steril, sosok Grayson Balindra berjalan mendekat dengan postur tubuh mendominasi. Pemuda itu mengenakan kemeja gelap berlengan panjang yang digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh, dengan ekspresi wajah yang datar namun menyimpan badai kemarahan yang siap meledak kapan saja.

Manik mata *amber* terang milik Grayson terkunci tajam pada satu titik: pada jarak yang sangat dekat antara Aurelia dan Galang yang berdiri berdampingan di dekat jendela.

Suhu di koridor itu mendadak terasa turun belasan derajat celcius. Aurelia merasakan sekujur tubuhnya membeku seketika. Ia tahu persis apa arti tatapan mata itu—pembantaian emosional sedang bersiap terjadi di hadapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!