NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Aroma antiseptik rumah sakit yang menyengat tak mampu menyamarkan bau amis darah yang mengendap kental di benak Gabriel. Di balik kaca tebal ruang ICU, tubuh Aurora yang membeku di bawah selimut putih tampak begitu ringkih. Monitor jantung berbunyi konstan pelan, lambat, dan memilukan. Setiap detaknya seolah menjadi hitungan mundur dari penyesalan yang membakar dada sang Don.

Gabriel menyentuhkan dahinya ke dinding kaca dingin itu. Kedua tangannya terikat kepalan kencang hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak emosi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa bersalah karena telah meremukkan fisik Aurora berbenturan dengan kemarahan liar pada dunia luar yang tak pernah berhenti mengusiknya.

Di kepala Gabriel, suara bisikan Julian Romanov di malam pelelangan dan aksi penghadangan konvoi perbatasan terus bergema, berbaur dengan bayangan wajah Aurora yang kejang-kejang ketakutan.

"Tuan..." suara Marco memecah keheningan koridor rumah sakit yang telah dikosongkan.

Marco melangkah mendekat dengan napas sedikit terengah. Pakaian tangan kanannya itu ternoda bercak darah baru yang belum mengering.

Gabriel tidak membalikkan badan. Suaranya keluar begitu rendah, sedingin es yang mampu membekukan udara di sekitar mereka. "Berapa banyak?"

Marco menelan ludah, menyesuaikan nada suaranya agar tidak bergetar. "Dalam dua belas jam terakhir... sejak Nona Aurora dilarikan ke sini, sudah dua puluh empat orang yang mati di tangan Anda, Tuan. Dan sembilan belas orang sisanya dibantai oleh tim eksekutor di sektor utara."

Dua puluh empat nyawa dicabut langsung oleh tangan dingin Gabriel dalam kurun waktu satu hari.

Begitu keluar dari ruang darurat pagi tadi saat dokter menyatakan Aurora berada dalam koma kritis Gabriel seperti kehilangan seluruh sifat kemanusiaannya. Ia bertransformasi menjadi iblis tanpa rasa ampun.

Empat pengawal internal yang bertugas menjaga kerahasiaan puri namun sempat membocorkan kabar sakitnya Aurora ke faksi luar, ditembak mati tepat di kening mereka di pelataran parkir bawah tanah. Enam orang informan jaringan Romanov yang bersembunyi di klub malam kota bawah ditangkap, disiksa, dan dieksekusi satu per satu oleh Gabriel di dalam ruang basemen tertutup.

Tak berhenti di situ, sepuluh orang anggota kelompok bayaran suruhan Julian yang mencoba mendekati area rumah sakit untuk memantau kondisi Aurora, dibantai tanpa sisa di gang sempit belakang gedung ini. Gabriel sendiri yang menarik pemicu senjata, membiarkan peluru-pelurunya menembus dada mereka hingga tak ada satu pun yang tersisa untuk bernapas.

Bagi Gabriel, setiap tetes darah yang tumpah hari ini adalah persembahan sekaligus pelampiasan rasa frustrasinya. Ia membenci dirinya sendiri karena telah merusak Aurora, dan ia membalaskan dendam atas rasa sakit itu kepada siapa saja yang berani berdiri di jarak pandangnya.

"Julian Romanov masih bersembunyi di dermaga tua sektor empat, Tuan," lanjut Marco seraya menyodorkan sebuah tablet berisi peta navigasi dan laporan intelijen. "Dia menyiagakan sisa pasukannya di sana. Dia tahu Anda sedang mengincarnya."

Gabriel akhirnya memutarkan tubuhnya. Wajah tampannya tertutup bayangan kegelapan murni. Matanya yang merah karena tidak tidur memancarkan aura pembunuh yang amat pekat. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi kalkulasi politik atau pertimbangan aliansi mafia. Yang tersisa hanyalah naluri pemangsa yang ingin menghancurkan musuhnya sampai ke akar-akarnya.

"Siapkan seluruh unit tempur utama," perintah Gabriel, suaranya mengandung tekanan mengintimidasi yang membuat Marco otomatis membungkuk dalam. "Kita tidak akan menunggu sampai fajar. Malam ini, nama Romanov akan dihapus dari peta kota ini."

"Baik, Tuan!"

Gabriel melangkah mendekati pintu kaca *ICU* sekali lagi. Ia menatap wajah pucat Aurora melalui celah kecil. Jemari tangannya yang besar dan ternoda dosa perlahan menempel di kaca, seolah-olah berusaha menyentuh pipi dingin wanita itu dari kejauhan.

"Bertahanlah, Cara mia," bisik Gabriel rendah, sebuah janji bersirat yang dipenuhi rasa memiliki yang mematikan. "Aku akan menyelesaikan pertempuran ini. Dan saat kau membuka matamu nanti... tidak akan ada lagi yang berani menghalangi atau menyentuhmu dari duniaku."

 

Pukul dua dini hari, hujan lokal mengguyur wilayah dermaga tua di sektor empat. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi deretan kontainer karat yang tersusun berantakan di tepi laut. Udara asin bercampur bau solar dan amis darah yang tertiup angin malam.

Empat mobil lapis baja milik keluarga Moretti memblokir pintu masuk utama dermaga. Tanpa negosiasi, tanpa peringatan, puluhan pria bersenjata lengkap pimpinan Marco mengepung area gudang utama. Suara tembakan otomatis meletus mendadak, memecah kesunyian malam dan mengubah dermaga sepi itu menjadi zona pembantaian.

Gabriel melangkah di tengah hujan peluru tanpa menurunkan kecepatannya. Ia mengenakan mantel hitam panjang, memegang dua pucuk senjata berkaliber besar di kedua tangannya. Setiap kali anggota kelompok Romanov melompat keluar dari balik kontainer untuk menembak, peluru Gabriel lebih dulu menembus kepala atau dada mereka dengan presisi yang mengerikan.

Dua orang musuh roboh di sisi kirinya dengan dada bolong. Tiga orang lainnya disergap dari belakang dan dieksekusi di tempat sebelum sempat menarik pemicu granat. Gabriel bergerak seperti mesin pembunuh yang tak memiliki rasa takut maupun belas kasihan. Wajahnya yang terciprat air hujan dan genangan darah memancarkan kegilaan murni.

Dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh menit, seluruh penjaga di area luar gudang berhasil dilumpuhkan. Puluhan mayat bergelimpangan di atas marmer basah dermaga, membasahi tanah dengan cairan merah pekat.

Brak!

Gabriel mendobrak pintu besi gudang utama dengan tendangan keras.

Di dalam ruangan remang-remang berbau apak itu, Julian Romanov duduk tenang di atas sebuah peti kayu raksasa. Ia memegang segelas wiski di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang senjata automatik. Di sekelilingnya, lima pengawal elit terakhirnya berdiri menyiagakan senjata.

Namun, senyum cemooh yang biasanya menghiasi wajah pirang Julian mendadak memudar saat melihat penampilan Gabriel. Pria Moretti di hadapannya saat ini bukan lagi seorang penguasa yang tenang dan kalkulatif, melainkan seekor monster berdarah dingin yang datang langsung dari neraka.

"Kau benar-benar gila, Gabriel," bisik Julian, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha tetap tenang. "Kau menghancurkan seluruh jaringan bisnismu di utara dan membantai belasan orangku hanya demi seorang selir murah yang bahkan belum tentu selamat di rumah sakit?"

Kata-kata Julian langsung menyulut sisa-sisa amarah Gabriel yang membakar.

DES! DES! DES!

Sebelum lima pengawal elit Julian sempat mengangkat senjata mereka, Gabriel telah memberondong mereka dengan tembakan jarak dekat yang tepat sasaran. Tubuh-tubuh pria berbadan tegap itu tumbang beruntun di atas lantai beton dengan kepala hancur, menyisakan Julian sendirian di tengah ruangan.

Julian tersentak panik. Ia refleks menembakkan senjatanya ke arah Gabriel, namun pelurunya hanya menyerempet bahu mantel hitam Gabriel.

Tanpa meringis sedikit pun, Gabriel melangkah cepat memotong jarak. Ia mencengkeram leher Julian dengan satu tangan, mengangkat tubuh pria berambut pirang itu lalu menghempaskannya secara brutal ke atas tumpukan peti kayu hingga hancur berkeping-keping.

"Aaghh!" Julian merintih kesakitan, memegangi dadanya yang retak.

Gabriel tidak memberi jeda. Ia menginjak dada Julian dengan sepatu bot tebalnya, menekan paru-paru pria itu hingga napasnya tersengal parah. Gabriel menunduk, mengarahkan moncong senjatanya yang masih berasap tepat di tengah-tengah dahi Julian.

"Kau melanggar batas, Julian," ucap Gabriel dengan suara yang sangat pelan, namun mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. "Kau menyentuh namanya. Kau memanfaatkan kelemahanku demi egomu."

Julian terbatuk, darah menyembur dari mulutnya membasahi jas putih mahal yang dikenakannya. Namun pria itu tetap terkekeh lemah penuh hasut. "Kau... kau pikir kau memenangkannya, Gabriel? Kau sendiri yang membunuhnya... Semua orang tahu kau memukulinya dan meremukkannya di atas ranjangmu sendiri... Kau tak berbeda dariku... Kau adalah monster yang menghancurkan barang yang paling kau sayangi..."

Pernyataan Julian menghantam ulu hati Gabriel bagai tikaman pisau beracun. Kenyataan pahit yang diucapkan oleh musuhnya itu persis dengan rasa bersalah yang sedang mencabik-cabik jiwanya di ruang ICU.

Mata Gabriel memerah penuh amarah dan rasa sakit yang mendalam.

"Pergilah ke neraka," bisik Gabriel dingin.

DOR!

Satu tembakan keras menggelegar di dalam gudang yang sepi itu, mengakhiri hidup sang Serigala Utara seketika. Tubuh Julian terkulai kaku di atas lantai beton, menghentikan seluruh intrik dan ancaman yang selama ini mengintai dari arah utara.

Gabriel berdiri kaku di atas jasad musuh bebuyutannya. Kepulan asap dari ujung senjata perlahan menghilang di udara malam yang dingin. Di sekelilingnya, puluhan mayat bergelimpangan dalam genangan darah—menjadikan malam ini sebagai malam paling berdarah dalam sejarah kepemimpinan dinasti Moretti.

Marco melangkah masuk ke dalam gudang, menatap sekeliling dengan napas tertahan sebelum mendekati Gabriel.

"Tuan... area ini sudah bersih," bisik Marco pelan. "Dan... rumah sakit baru saja menghubungi."

Tubuh Gabriel mendadak tegang seketika. Ia membalikkan badan cepat, menatap Marco dengan mata yang penuh ketakutan. "Apa yang terjadi pada Aurora?!"

"Dokter bilang... suhu tubuh Nona Aurora mulai turun drastis," jawab Marco cepat. "Kondisi kejangnya sudah berhenti sepenuhnya, tapi detak jantungnya melemah. Dokter meminta Anda segera kembali jika ingin... berada di sisinya."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gabriel melempar senjatanya ke lantai begitu saja. Pria itu berlari keluar dari gudang berdarah tersebut, menembas hujan deras yang mengguyur dermaga, memacu mobilnya kembali ke rumah sakit demi mengejar waktu dan takdir yang tergantung di antara hidup dan mati Aurora.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!