Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Dipaksa Menikah dan Permalukan di Depan Umum
Siang itu, suasana tenang di lantai sepuluh tiba-tiba pecah. Pintu ruang kerja Vanesha terbuka lebar, dan seorang pria berusia paruh baya berjalan masuk dengan wajah tegang — Ayahnya. Di belakangnya berdiri Arga, tersenyum tipis penuh kemenangan yang disembunyikan.
"Siapkan dirimu, Vanesha," ucap Ayah dengan suara berat, tak memberi ruang bantahan. "Besok kita lamar resmi. Kamu akan menikah dengan Arga."
Vanesha berdiri terpaku, jantungnya seakan berhenti berdetak. "Ayah... apa ini? Saya tidak mau menikah dengan Arga!" jawab Vanesha gemetar, menatap ayahnya tak percaya.
"Keputusan sudah bulat," sahut Ayah dingin. "Arga anak orang terpandang, latar belakangnya jelas, bisa bantu perusahaan tetap berdiri tegak. Kamu mau menikah dengannya, titik."
"Tapi Ayah... saya tidak mencintainya!" ucap Vanesha pelan, matanya berkaca-kaca. "Hati saya sudah milik orang lain."
Arga melangkah maju, menatap Vanesha dengan senyum licik. "Jangan keras kepala, Vanesha. Dulu kita bersama, sekarang kembali bersama. Semua orang bilang kita pasangan serasi. Kamu tidak akan menolak kebahagiaan yang sudah disiapkan, kan?"
Saat itu juga Dika melangkah masuk, napasnya memburu setelah mendengar kabar itu dari Mbak Rini. Wajahnya pucat, namun ia tetap berdiri tegak di hadapan mereka semua.
"Maaf, Pak... tapi Vanesha berhak memilih sendiri," ucap Dika lantang, suaranya bergetar namun tegas. "Kalau dia tidak mau, tidak bisa dipaksa."
Ayah menoleh, menatap Dika dari atas ke bawah seakan melihat debu di lantai. "Kamu siapa berani campur urusan keluarga kami?" tanya Ayah tajam.
"Saya Dika... orang yang menjaga Vanesha, dan mencintainya dengan tulus," jawab Dika menatap lurus, tak berani menunduk.
Arga tertawa sinis, lalu melangkah mendekat ke arah Dika. "Kamu? Satpam yang cuma punya seragam lusuh dan dompet tipis? Kamu mau mencintai Vanesha? Dengan apa?" tanya Arga keras, sengaja meninggikan suaranya hingga beberapa karyawan yang lewat berhenti mengintip dari balik pintu.
"Kekayaan bukan segalanya," jawab Dika pelan, menahan sakit di dada. "Saya tidak punya harta, tapi saya mencintainya sepenuh jiwa."
Arga tersenyum mencemooh, lalu menoleh ke arah Ayah. "Lihat, Pak. Dia tidak tahu diri. Berani bermimpi memiliki apa yang jauh di luar jangkauannya." Lalu Arga kembali menatap Dika, suaranya menggelegar di ruangan itu. "Kamu mau bukti? Keluar sana, semua orang sudah tahu — kamu cuma pengawal rendahan yang berani berharap pada bintang di langit."
Ayah menggelengkan kepala kecewa, menatap Dika dengan pandangan yang menyakitkan. "Pergilah. Jangan harap bisa menyanding di sisi anak saya. Kamu tidak pantas," ucap Ayah tegas.
Dika menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia menoleh ke arah Vanesha, berharap ada satu kata pembelaan dari bibir wanita yang dicintainya itu. Namun Vanesha hanya berdiri diam, air mata menetes di pipinya tanpa suara. Ia ingin berteriak, ingin memeluk Dika dan berkata ia memilihnya — tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan, tertimbun beban nama baik keluarga dan ancaman bangkrutnya perusahaan jika ia membangkang.
"Vanesha..." panggil Dika pelan, suaranya pecah. "Katakan... katakan kalau saya salah."
Vanesha menggeleng lemah, tak sanggup menatap mata Dika. "Pergilah, Dika..." jawab Vanesha lirih, hampir tak terdengar. "Tolong... pergilah."
Kata-kata itu menghantam dada Dika lebih keras dari pukulan apa pun. Ia tersenyum getir, merasakan hatinya hancur berkeping-keping di tempat yang seharusnya menjadi tempat pulangnya.
"Baiklah..." ucap Dika pelan, menunduk dalam menahan air mata yang tak boleh jatuh. "Selamat bahagia, Vanesha. Semoga pilihanmu ini membawa ketenangan yang tak bisa saya berikan."
Dika berbalik perlahan, melangkah keluar dari ruangan itu — melewati tatapan iba dan bisik-bisik meremehkan para karyawan yang kini melihatnya dengan pandangan kasihan. Ia berjalan menuruni lorong kantor yang dulu terasa hangat, kini terasa dingin dan sepi. Di belakangnya, pintu ruangan tertutup rapat, memisahkan dua dunia yang tak lagi boleh bersentuhan.
Vanesha luruh ke kursinya begitu Dika hilang dari pandangan, menangis tanpa suara di balik telapak tangannya. Ia tahu, baru saja ia kehilangan satu-satunya orang yang tulus mencintainya tanpa melihat harta, jabatan, atau nama baik keluarga. Dan kini, terlambat untuk menahannya.