Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 8
Khadafy merogoh saku jasnya saat ponselnya bergetar hebat. Layar menampilkan nama sekretaris kantornya. Sambil mengawasi Niken yang masih tampak bimbang menatap dua lembar tiket di tangan Rico, Khadafy menggeser layar dan mengangkat panggilan tersebut.
"Pak Khadafy, maaf mengganggu. Dokumen akuisisi untuk rapat besok pagi membutuhkan tanda tangan basah Bapak sekarang juga. Klien sudah menunggu di kantor," ujar suara di ujung telepon.
Khadafy memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. "Baik, saya meluncur ke kantor sekarang."
Ia mematikan sambungan telepon. Pandangannya kembali tertuju pada meja restoran remang-remang di lantai bawah itu. Niken terlihat mengelus permukaan tiket tersebut dengan binar mata penuh hasrat, seolah lupa bahwa lusa adalah hari akad nikahnya. Khadafy mengepalkan tangannya di dalam saku, lalu berbalik melangkah menuju area parkir.
Begitu sampai di dalam mobil, Khadafy tidak langsung menyalakan mesin. Dengan dada yang bergemuruh menahan rasa cemburu, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mengetik pesan untuk Niken.
[Khadafy]: Kamu di mana sekarang? Bukannya tadi bilang mau ketemu manajer agency? Pria bertubuh kekar di restoran lantai bawah itu siapa, Niken?
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, status pesan berubah menjadi centang biru. Detik berikutnya, ponsel Khadafy berdering nyaring. Nama Niken terpampang di layar. Khadafy menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
'Mas Khadafy! Kamu maksudnya apa sih?!' jerit Niken langsung dari ujung telepon tanpa jeda, suaranya melengking penuh emosi.
'Kamu memata-matai aku?! Kamu ngikutin aku dari toko perhiasan?!'
Khadafy tetap tenang, meski suaranya terdengar begitu dingin dan dalam. "Aku tidak memata-matai kamu, Niken. Aku cuma mau memastikan calon istriku aman. Tapi yang aku lihat justru kamu sedang duduk berdua dengan pria lain, bukan manajermu. Siapa dia?"
'Dia itu teman lama aku! Rekan kerja!' bentak Niken memotong cepat, nadanya semakin tinggi untuk menutupi rasa panik yang melanda.
'Ya ampun, Mas! Kamu berlebihan banget sih?! Kekanak-kanakan tahu nggak! Masa aku ketemu teman sebentar aja kamu langsung tuduh yang enggak-enggak dan dikira selingkuh?!'
"Aku tidak menuduhmu selingkuh, Niken. Aku cuma bertanya siapa dia, karena kamu membohongiku soal janji bertemu manajer," sahut Khadafy datar, berusaha menekan amarahnya.
'Sama aja! Kamu tuh posesif dan nggak punya rasa percaya sama sekali!' celetuk Niken ketus, mengabaikan fakta bahwa dialah yang berbohong sejak awal.
'Aku ini calon istri kamu, bukan tahanan! Baru juga mau nikah lusa, kamu udah curigaan begini. Bikin mood aku hancur aja!'
Khadafy memejamkan matanya rapat-rapat. Pria itu mengusap wajahnya yang terasa panas. Suasana di dalam mobil mendadak begitu menyesakkan. Lagi-lagi, alih-alih memberikan penjelasan yang jujur, Niken justru membalikkan keadaan dan menyudutkannya.
"Niken, kita lusa mau menikah..."
'Tahu! Aku juga ingat kalau lusa kita nikah!' potong Niken menyambar dengan nada sewot.
'Makanya jangan bikin aku stres dengan tuduhan konyol kamu itu! Aku cuma lagi ngobrolin urusan kerjaan yang belum selesai. Udah ah, aku malas debat sama kamu. Mending kamu pergi ke kantor sana!'
Tut... tut... tut...
Niken mematikan sambungan secara sepihak.
Khadafy menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar yang kini gelap. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil, mendesah berat menatap langit-langit mobil. Rasa lelah, kecewa, dan amarah bercampur menjadi satu di dadanya.
Lagi-lagi ia memilih mengalah dan menahan diri demi menghindari pertengkaran besar yang bisa mencoreng nama baik keluarga menjelang hari pernikahan. Namun di dalam hatinya, Khadafy tahu persis ada keraguan dengan langkahnya ini. Tapi dia mencintai Niken. Hubungan mereka yang sudah dua tahun, bukanlah hubungan yang sebentar. Dia memang mengatakan mencintai Niken dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Termasuk sidfat Niken yang seperti ini.
Khadafy akhirnya menyalakan mesin mobilnya, lalu melaju menembus kemacetan jalanan kota menuju kantornya, meninggalkan Niken yang masih berdiri di restoran itu dengan sejuta rahasia di balik punggungnya.
Di kamar yang sunyi berhias pendar redup lampu tidur, Khadafy baru saja menyelesaikan salam terakhirnya dalam rakaat-rakaat sepertiga malam. Keheningan malam itu terasa begitu menghimpit, kontras dengan keriuhan persiapan akad nikah yang lusa akan di laksanakan.
Nasihat Umi Rina dan Abi Haris tadi sore kembali terngiang jelas di telinganya.
'Istikharahlah, Nak. Minta petunjuk dan ketenangan hati dari Allah. Pernikahan itu ibadah terpanjang, bukan sekadar memuaskan gengsi atau menutupi rasa enggan.'
Khadafy melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menunduk dalam di atas sajadah. Hatinya membisu, dipenuhi pergolakan hebat. Besok pagi, ia dijadwalkan mengucapkan ijab kabul untuk menikahi Niken, seorang wanita yang kini ia tahu menyimpan kebohongan besar, mementingkan ego serta gengsinya sendiri, bahkan tak ragu memamerkan kebersamaan dengan pria lain di saat janji suci tinggal menghitung jam.
"Ya Allah..." bisik Khadafy lirih, suaranya bergetar menahan beban berat yang menghimpit dadanya. Ia menengadahkan kedua telapak tangannya.
"Engkau Yang Maha Mengetahui apa yang tersirat dan tersurat. Hamba berdiri di persimpangan ini, memohon ketenangan dan kejelasan atas jalan yang harus hamba tempuh."
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah Niken yang penuh kebohongan dan bentakan ketusnya saat di telepon berkelebat, berganti dengan bayangan Umi dan Abi yang memendam kecewa namun tetap mencoba merestui demi dirinya. Di ujung keheningan itu, wajah Zheana yang lembut, jujur, dan selalu mengalah dalam kesederhanaannya justru mendadak terbayang di benaknya, menghadirkan rasa sesak yang aneh.
Khadafy mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghela napas panjang hingga dadanya terasa lebih lapang. Seiring hilangnya rasa gelisah yang sempat membakar jiwanya sejak siang tadi, kini tersisa satu keyakinan dingin yang mantap di dalam hati. Ia tahu apa yang harus ia lakukan besok. Apapun yang terjadi di meja akad nanti, ia siap menghadapi konsekuensinya demi kebenaran dan kehormatan keluarganya.
Bukan hanya Khadafy yang malam itu bersimpuh meminta petunjuk, namun juga kedua orang tuanya. Mereka berdua bersujud memohon kelancaran dan keberkahan untuk rumah tangga anak lelakinya. Sebagai orang tua yang berusaha melepaskan anaknya membangun rumah tangga dan memiliki tanggungjawab besar dunia akhirat untuk keluarga kecilnya nanti. Dan mereka tahu, hal itu akan cukup sulit bagi Khadafy melihat bagaimana sikap dan sifat Niken. Namun, mereka yakin jika Sang Maha Pecipta adalah sebak-baiknya tempat meminta untuk membolak-balikkan hati hamba-Nya.