"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Tiga bulan sebelumnya
Aku Arin, aku dan Ibu mertuaku baru saja pulang dari pasar, pesanan kue akhir-akhir ini lumayan banyak,jadi hari ini ibu sengaja imut membantuku membeli bahan ke pasar. Sesampai di toko kue kami, Aku langsung beberes, sudah ada dua karyawan kami yang mulai membuat adonan. Biasanya aku hanya bertugas membeli bahan dan juga mencatat keuangan di toko kami, selain itu dua karyawan yang mengeksekusi, tentu saja masih dengan arahan dari Ibu. Namun hari ini mau tak mau, aku harus ikut terjun, takutnya mereka kewalahan karena hari ini memang banyak pesanan.
Aku segera memakai apron masak ku, namun ibu mendekat dan memberikan sesuatu padaku.
"Rin ini"
Aku terkejut karena ibu memberiku sebuah tespek, entah kapan ibu membelinya,setahuku ibu selalu bersamaku,kecuali saat beliau pamit ke kamar mandi. Pantas saja ibu tadi lama sekali ke kamar mandinya, mungkin dia sekalian ke apotik membeli tespek ini. Aku tertegun menatap alat tes kehamilan itu, sebisa mungkin aku mencoba tersenyum saat menerimanya. Andai saja ibu tahu yang terjadi pada hubungan ku dan Mas Aga,andai saja ibu tahu yang sebenarnya, Andai saja Ibu tahu kalau aku masih suci dan belum terjamah, pasti rasa sesak di hati ini tidak akan sesakit ini. Aku tidak bisa mengatakan hal ini pada ibu, aku tidak tega membuat ibu kecewa dan menangis.
Jadi aku tidak akan bisa mengatakan ini pada ibu,aku tidak akan pernah menceritakannya, ini tidak boleh aku lakukan, aku tidak akan menceritakan perlakuan putranya padaku, dia yang tak mau menyentuh ku, meski pernikahan kamu sudah berjalan sembilan bulan.
Kami selalu nampak romantis di depan ibu, dia menyuapiku, mengambilkan aku minum saat di meja makan, menggandeng tangan ini, Namun setelah sampai di kamar, dia langsung mendorong tubuh ku menjauh.
Dari luar memang nampak normal, tapi di balik layar hubungan kami begitu sunyi.
"Kamu memang sudah dua kali menolong ku, tapi itu bukan alasan terjalinnya sebuah ikatan pernikahan. Aku tidak pernah mencintai mu, aku menikah hanya demi ibu,aku tak mau sakit ibu kembali kambuh, kamu tahu hanya dia yang aku miliki saat ini, jadi jangan berharap lebih pada pernikahan ini"
"Sejak kau donorkan darahmu dan kita di jodohkan karena hal itu, sejak itu pula aku membencimu. Kamu bukanlah wanita idamanku, sejak dulu aku suka wanita shalihah, memakai hijab, juga penghafal Al-Quran, dia lulusan pesantren. Beda jauh sekali dengan kamu, kamu bukanlah wanita yang aku inginkan. Aku sudah menemukannya, jadi jangan pernah sekalipun membicarakan pernikahan kita di depan orang lain, apalagi teman-teman ku. Mereka hanya tahu kamu itu adik angkat ku"
Aku meremas ujung bajuku, mencoba menguatkan hati ini, aku yang masih memakai Hena di tanganku, tapi suamiku dengan lantangnya mengatakan jika dia sudah memiliki wanita lain di malam pertama kami. Malam pertama yang seharusnya begitu indah berubah menjadi neraka, ucapannya sungguh mencabik-cabik hatiku, kata-katanya bahkan lebih tajam dari pedang,sangat pahit dan menusuk hati.Aku hanya bisa menunduk, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
"Aku bicara seperti ini agar kamu tidak berharap lebih dengan pernikahan ini, aku tahu kamu sudah menunggu lama untuk pernikahan ini, tapi kamu harus tahu,kamu bukan wanita yang kucintai jadi sadar posisi mu"
Aku tidak lagi bisa menahannya lagi, ini begitu menyakitkan. Aku menangis tertahan mendengar kan semua kata-katanya. Lihatlah nasib ku, aku bahkan sudah menantikan pernikahan ini sejak di bangku SMA. Aku hidup bersama ibunya, membantu ibunya membiayai sekolah militer nya. Bahkan aku menolak kuliah demi dia. Memberikan semua tabungan ku pada ibu saat dia butuh biaya. Aku tahu aku hanya gadis biasa yang lahir di desa kecil, bapak ku hanya seorang nelayan dengan banyak anak, aku hanya anak miskin yang di bawa Bu Tina agar bisa bersekolah. Aku bukan siapa-siapa untuk dia yang bergelar seorang letnan. Aku memang tak pantas untuknya, aku hanya Upik abu yang mendamba bersanding dengan Pangeran. Aku wanita biasa yang langsung di tolak suami di malam pertama kami.
"Ibu sangat menyukai kamu, aku tidak bisa menolak pernikahan ini meski aku sangat ingin"
Dia terus mengeluh tanpa memberiku kesempatan untuk menenangkan hati,tatapannya padaku begitu tajam, seolah aku ini musuhnya di medan perang, dia seolah ingin menembakkan peluru ke jantung ku dan membuatku pergi dari kamar ini.
Rasanya aku menyesal karena sudah di bawa ke sini, Bu Tina sangat kasihan melihat keluarga ku, dia ingin aku sukses dan tidak kelaparan di desa. Kenapa dulu aku setuju? Aga bahkan sengaja menjauh dari ku, dia lebih memilih sekolah militer di luar kota dari pada satu SMA dengan ku.
Dia bahkan tidak pernah menampakkan diri saat berlibur, harusnya aku sadar ini akan terjadi, tapi ibu membuat ku lemah dan menerima semua ini.
"Aku minta maaf jika kata-kata ku menyakiti mu,tapi jangan pernah berharap aku akan menyentuh mu, entah itu sekarang ataupun nanti. Tidurlah di sofa itu, ini kamarku, jangan berani-berani tidur di ranjang ini. Mulai malam ini dan seterusnya kamu tidur di sana"
Aku makin sedih meratapi diri, sejak kecil aku sudah terbiasa tidur di kursi keras, jadi sofa empuk itu bukanlah masalah besar, tapi kata-katanya yang tidak mengizinkan ku tidur di ranjang nya, benar-benar membuat hati ini kembali hancur.
Aku Ingin kembali tinggal di toko kue, tapi itu tidak mungkin, ibu pasti sedih jika mengetahui nya, dia pasti curiga.
Aku kembali menangis tertahan saat dia melemparkan bantal ke arahku, Rasanya bantal ini lebih berat dari satu karung tepung yang sering aku angkat.
Namun aku tidak bisa mengatakan hal lain selain.
"Ya mas. Saya bisa mengerti"
Ya meski aku bilang begitu, tapi air mata ini tak mau berhenti, air mata ini sebagai bentuk protes jika aku tidak senang dengan apa yang dia lakukan padaku, sebagai perempuan wajar saja bukan jika aku menangis? hatiku bukanlah batu yang tahan dengan semua kata-kata tajamnya.
Aku meyakinkan diri agar tidak terlalu berlarut-larut dengan masalah ini. Sedihku biarlah ku simpan sendiri. Aku yakin ini pasti berlalu, aku tahu aku kuat, aku hebat, aku pasti bisa melewati ombak besar ini.
Aku ini anak bapak yang bisa menerjang ombak meski aku seorang wanita. Akan aku lawan ombak besar dalam rumah tanggaku ini demi ibu. Ibu Tina yang sudah membesarkan ku, memberiku hidup baru yang lebih nyaman. Aku aku lawan semua ini demi bisa melihatnya tersenyum. Dia bukanlah mertua, dia sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...