Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Arhan melihat ke arah genangan air itu.
Masih tampak basah, seperti ada seseorang yang tidak sengaja menumpahkan air di dalam vas itu. Lingkaran air itu kecil, menggenang tepat di bawah vas.
Arhan menatapnya agak lama. Ia yakin tadi tidak ada yang menyentuh vas itu. Tidak ada yang menuang apa pun di sekitarnya. Tidak ada yang menabrak meja. Tapi genangan itu ada, basah dan mengkilap karena pantulan cahaya siang yang masuk dari jendela yang sedikit terbuka.
Dan air itu seolah mengalir, mengalir menuju pintu rumah.
Awalnya Arhan mengira itu hanya perasaan. Tapi ketika diperhatikan lagi, genangan itu tidak diam. Ada jejak tipis yang memanjang dari bawah vas, melintas di atas permukaan meja, menetes pelan ke lantai, lalu terus bergerak ke arah pintu rumah yang sedikit terbuka.
Pelan sekali, tapi terus berjalan, tidak berhenti. Arhan mengikuti arahnya dengan mata. Dari meja ke lantai, dari lantai menuju pintu. Ia tidak mengerti kenapa air dari vas bisa mengalir sejauh itu. Ia tidak mengerti kenapa jejaknya terlihat seperti sengaja menuju ke luar.
Arhan bergegas pergi keluar.
Ia berdiri dengan cepat. Kursinya bergeser dan menimbulkan bunyi pelan di lantai. Ia melangkah mengikuti jejak air itu. Meja, lantai, lalu pintu. Tangannya membuka pintu lebih lebar. Di luar, hujan turun sejak siang, suaranya terdengar di atas atap dan membuat jalan di depan rumah terlihat basah semua. Udara luar terasa dingin masuk ke dalam.
Di luar sana, di tengah jalan, Arhan melihat Anya melambaikan tangan kepadanya tanpa berkata apapun.
Anya berdiri di tengah jalan. Sendirian. Di tengah jalan yang basah karena hujan siang itu. Tidak ada orang lain di sekitar. Tangannya terangkat, melambai pelan ke arah Arhan, ke arah rumah.
Tidak ada kata yang keluar. Tidak ada suara. Mulutnya diam. Hanya lambaian tangan yang terus bergerak, memanggil, seperti ingin Arhan mendekat.
Arhan melihat lambaian itu dan hatinya langsung tidak enak. Rasa tidak enak itu muncul tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas. Ia ingin memanggil balik, ingin bertanya kenapa Anya berdiri di tengah jalan seperti itu saat hujan. Kakinya melangkah, ingin mendekat, ingin menarik Anya ke tepi jalan, ke tempat yang aman.
Lalu tiba-tiba saja mobil berkecepatan tinggi menabrak Anya.
Semua terjadi begitu cepat. Dari ujung jalan, sebuah mobil melaju kencang, tidak melambat sama sekali, menembus hujan siang dan menghantam tubuh Anya yang masih berdiri di tengah jalan tanpa berkata apa pun. Arhan tidak sempat berteriak untuk memperingatkan. Tidak sempat berlari. Tidak sempat mengulurkan tangan. Semua terjadi di depan matanya.
Arhan berteriak namanya.
"ANYA!"
Teriakan itu keluar keras, memecah suara hujan siang yang turun sejak tadi.
---
Arhan tersadar, samar dia mendengar suara Anya memanggil dirinya dan sebuah pelukan hangat.
Suara itu pelan, memanggil namanya berulang dengan nada khawatir. Ada hangat yang melingkar dari belakang kursi, memeluk leher dan bahunya. Pelukan itu nyata, tidak seperti dinginnya mimpi barusan.
Arhan masih setengah sadar, kepalanya masih tertunduk di atas lengan sendiri di depan laptop. Laptop di depannya masih menyala, menampilkan naskah yang belum selesai. Di luar, hujan siang masih turun dengan suara yang sama.
Arhan membuka matanya, melihat Anya tengah memeluknya.
Anya ada di belakang kursinya, memeluknya erat. Wajahnya dekat, matanya menatap Arhan dengan khawatir.
"Kamu teriak-teriak kenapa Han? Ada aku disini," ucap Anya.
Perasaannya terasa sangat lega.
Semua ketegangan di dalam dada Arhan langsung runtuh begitu mendengar suara itu dan merasakan pelukan itu. Bahunya yang tadi tegang di dalam mimpi kini melemas. Dadanya yang terasa sesak karena melihat Anya tertabrak tadi kini terasa lapang kembali. Kepalanya yang berat karena mimpi buruk itu terasa lebih ringan.
"Maaf, kamu kebangun gara-gara aku, ya?"
"Nggak apa-apa." Anya tersenyum.
Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Arhan merasa bersalah sekaligus lega. Arhan mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menghilangkan sisa mimpi yang masih menempel di kepala. Bayangan Anya di tengah jalan tadi masih ada, membuatnya tidak nyaman dan takut kalau mimpi itu terasa terlalu nyata.
Arhan ingat. Bahwa Anya belum minum obat.
Pikiran itu muncul tiba-tiba. Jam di layar laptop sudah lewat dari jam biasanya Anya minum obat siang. Arhan langsung panik. Ia merasa bersalah karena ketiduran, karena seharusnya ia yang ingat, seharusnya ia yang menyiapkan dan memberikan tepat waktu.
Dalam panik, Arhan mengambil air minum dan mencari obat Anya.
Tangannya bergerak cepat. Ia meraih botol air minum yang ada di atas meja, membuka tutupnya dengan gerakan yang terburu-buru. Tangan satunya lagi membuka plastik obat ke dekatnya, mencari di dalamnya.
Gerakannya tidak rapi, seperti orang yang takut terlambat. Sisa mimpi buruk tadi masih membuatnya gelisah dan tidak bisa berpikir jernih.
Anya menahan tangan Arhan dengan lembut.
Sentuhannya pelan, menahan pergelangan tangan Arhan yang sedang mengambil obat. Gerakan Arhan yang panik itu berhenti karena sentuhan itu. Anya menatapnya.
"Udah aku minum."
"Udah?"
"Udah. Setengah jam yang lalu."
"Sebenernya aku udah bangun duluan sebelum kamu ngigau. Aku liat kamu tidur di depan laptop, jadi aku minum sendiri."
Arhan terdiam. Ia menatap obat itu lagi, isinya memang sudah berkurang satu. Botol air minum juga sudah tidak penuh. Anya memang sudah bangun lebih dulu sebelum Arhan mengigau memanggil namanya di depan laptop.
"Maaf ya, aku lupa ngasih obat kamu. Harusnya aku yang ingetin."
Suaranya pelan. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Anya lama-lama. Di dalam mimpi ia tidak bisa menyelamatkan Anya, di dunia nyata ia bahkan lupa memberi obat tepat waktu. Rasanya sama-sama gagal.
Anya lantas memeluknya.
Pelukannya kali ini dari depan. Ia berlutut di depan kursi, lalu memeluk Arhan dengan kedua tangan, mendekap kepala Arhan ke dadanya. Pelukan yang lama dan erat. Arhan memejamkan mata di dalam pelukan itu. Hangatnya membuat rasa takut sisa mimpi perlahan hilang. Ia merasa aman.
Di luar jendela, hujan masih turun merata di atas seng, menimbulkan bunyi yang menenangkan. Cahaya siang yang masuk dari celah jendela membuat genangan di bawah vas itu terlihat lebih jernih. Arhan menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih kencang. Laptop di depannya masih menampilkan baris terakhir naskah yang tertinggal, kursor berkedip pelan. Anya tetap memeluk, tidak melepaskan, seolah memastikan Arhan benar-benar kembali.
Arhan memejamkan mata sejenak. Pelukan Anya terasa hangat dan nyata, berbeda jauh dari dinginnya mimpi. Ia menggenggam lengan Anya pelan, seperti takut kehilangan lagi.
Dia berkata kepada Arhan.
"Sayang. Kamu berhak istirahat."
Suara Anya pelan, tepat di atas kepala Arhan, tidak keras, tapi jelas.