Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Matahari pagi menyinari gedung utama Rumah Sakit Medika Sentosa dengan terangnya.
Suasana di dalam koridor rumah sakit tampak jauh berbeda dari hari-hari biasanya.
Bisikan-bisikan dan obrolan rahasia terdengar di setiap sudut ruangan para perawat dan staf administrasi.
"Kamu sudah dengar berita heboh tadi malam belum?" bisik seorang perawat senior kepada temannya di dekat meja resepsionis.
"Berita soal pemecatan Dr. Dimas dan Dr. Budi? Tentu saja sudah! Satu rumah sakit langsung gempar!" balas perawat satunya dengan mata terbelalak.
"Katanya mereka berdua sengaja menjebak seorang petugas kebersihan, tapi justru ketahuan oleh direktur."
"Bukan cuma itu! Petugas kebersihan yang mereka jebak ternyata adalah seorang dokter jenius yang menyamar!"
Semua staf perawat menggelengkan kepala tidak percaya mendengar rumor luar biasa yang menyebar dengan sangat cepat itu.
Nama Arka Prasetya mendadak menjadi bahan pembicaraan paling panas di seluruh divisi rumah sakit.
Di ruang istirahat perawat lantai dua, Siska sedang duduk sambil merapikan beberapa berkas laporan medis pagi.
Senyum manis tampak menghiasi wajahnya yang cantik sejak ia datang bekerja pagi ini.
Pintu ruangan perawat tiba-tiba terbuka, dan seorang perawat junior masuk dengan napas terengah-engah.
"Siska! Kamu tahu tidak gosip terbaru tentang Arka si petugas kebersihan itu?" tanya perawat junior heboh.
Siska menutup berkasnya perlahan lalu menatap temannya dengan senyum misterius.
"Gosip apa lagi memangnya?" tanya Siska pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Katanya dia bukan orang sembarangan! Dia bahkan bisa menyelamatkan pasien kritis di IGD hanya dalam waktu sepuluh detik!" seru perawat junior itu kagum.
"Bahkan direktur rumah sakit sampai membungkuk hormat kepadanya semalam."
Siska mengangguk pelan menanggapi cerita tersebut.
"Itu memang kenyataannya, bukan sekadar gosip," jawab Siska santai.
"Hah? Kamu serius, Siska? Jangan bilang kamu sudah tahu rahasia itu dari awal!" protes temannya terkejut.
Siska hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan tersebut secara rinci.
Di tempat terpisah, di ruang ganti petugas kebersihan lantai dasar, Arka sedang mengenakan seragam kerjanya dengan tenang.
Suara notifikasi bernada datar mendadak berderik pelan di dalam kesadaran kepalanya.
[Sistem Mendeteksi Peningkatan Reputasi Karakter Utama Secara Drastis di Seluruh Staf Rumah Sakit]
[Peluang Membuka Jalur Aliansi Baru Mencapai 95 Persen]
[Status Karakter Utama: Menghadapi Perubahan Drastis Pandangan Publik]
Arka tersenyum kecil melihat deretan teks transparan yang melintas di depan pandangannya.
"Penyamaran ini sepertinya sudah mulai bocor dari ujung ke ujung," gumam Arka pelan seorang diri.
Ia mengambil troli pembersihnya lalu mendorongnya keluar menuju koridor utama poliklinik.
Begitu ia melangkah keluar, beberapa perawat yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat sambil tersenyum canggung.
"Selamat pagi, Dokter Arka..." sapa seorang perawat muda dengan wajah merona merah malu-malu.
Arka mengerjap-nerjap lambat, lalu membalas sapaan itu dengan senyuman polos.
"Pagi juga, perawat. Jangan lupa minum air hangat ya," jawab Arka santai.
Perawat itu semakin salah tingkah lalu berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut karena merasa jantungnya berdegup kencang.
Arka terus mendorong trolinya menyusuri koridor hingga ia tiba di depan area taman rumah sakit yang sejuk.
Di sana, Siska sudah menunggunya sambil memegang dua gelas kopi hangat di tangan.
"Wah, rupanya ada perawat cantik yang sengaja menyita waktu kerjaku," goda Arka begitu mendekati Siska.
Siska mendengus pelan sambil menyodorkan salah satu gelas kopi kepada Arka.
"Pagi-pagi sudah bisa merayu ya, Tuan Dokter Jenius," balas Siska tersenyum manis.
"Mana ada dokter jenius yang masih harus ngepel lantai koridor setiap pagi," jawab Arka sambil menerima gelas kopi hangat itu.
Siska tertawa kecil mendengar jawaban santai dari pria di depannya ini.
"Semalem seluruh rumah sakit gempar karena ulahmu, Arka," kata Siska dengan nada serius namun berbinar-binar.
"Dr. Dimas dan Dr. Budi sekarang sudah dijebloskan ke tahanan bawah tanah menunggu proses hukum."
"Baguslah, sampah memang harus dibuang pada tempatnya," ujar Arka tenang menyesap kopinya.
"Tapi hati-hati, keluarga besar Dr. Dimas di luar sana tidak akan tinggal diam begitu saja," peringatan Siska dengan nada cemas.
Arka menatap Siska sekilas lalu mengelus pucuk kepala perawat itu dengan lembut.
"Tenang saja, Siska. Aku tidak pernah takut pada bayangan mereka sendiri," ucap Arka berwibawa.
Wajah Siska mendadak merona merah padam merasakan sentuhan tangan hangat di kepalanya.
Sebelum Siska sempat membalas perkataan Arka, suara derap sepatu hak tinggi terdengar nyaring dari arah pintu lobi utama.
Clak... clak... clak...
Seorang wanita berpakaian mewah dengan jas blazer desainer terkenal melangkah masuk dengan gaya anggun.
Wanita itu tidak lain adalah Clara Wijaya, cucu konglomerat yang datang kembali ke rumah sakit hari ini.
Kehadiran Clara langsung menarik perhatian seluruh pengunjung dan staf yang berada di sekitar lobi.
Wajah cantik Clara tampak sangat tenang, namun sorot matanya menyapu sekeliling ruangan mencari seseorang.
Begitu melihat sosok Arka sedang berdiri di dekat area taman bersama Siska, langkah kaki Clara langsung terhenti.
Clara menarik napas panjang lalu melangkah cepat menghampiri mereka berdua.
Siska yang melihat kedatangan Clara langsung menegakkan posisinya dengan sedikit rasa cemas.
"Nona Clara..." gumam Siska pelan mengenali wanita di depannya.
Clara mengabaikan Siska sejenak, lalu memfokuskan pandangan matanya sepenuhnya kepada Arka.
"Arka," panggil Clara dengan suara tegas namun terdengar sedikit gemetar.
Arka menoleh perlahan ke arah Clara sambil menyeruput sisa kopi di gelasnya.
"Ada apa lagi, Nona calon istri? Apakah kakekmu kumat lagi?" tanya Arka santai tanpa beban.
Mendengar pertanyaan blak-blakan itu, Clara mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kakekku baik-baik saja dan sekarang sudah bisa makan dengan lahap berkat tindakan gilamu kemarin," jawab Clara ketus.
"Lalu apa yang membuat seorang pewaris konglomerat datang lagi ke rumah sakit kumuh ini?" selidik Arka tersenyum jahil.
Clara menggigit bibir bawahnya pelan, ragu-ragu sejenak sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.
"Aku... aku datang untuk meminta maaf secara langsung," ucap Clara dengan suara sangat pelan namun tulus.
Siska yang mendengarkan pengakuan itu langsung terbelalak kaget tidak percaya.
Seorang nona muda arogan dari keluarga Wijaya mau meminta maaf kepada seorang petugas kebersihan?
Berita ini pasti akan menjadi kehebohan kedua setelah kasus pemecatan Dr. Dimas kemarin.
Arka menatap manik mata Clara yang tampak tulus menyembunyikan rasa malunya.
"Permintaan maaf diterima dengan senang hati, Nona," jawab Arka ramah.
"Tapi lain kali, jangan mudah merendahkan orang lain hanya dari pakaian kerjanya."
Clara merona merah padam mendengar sindiran halus yang sangat tepat sasaran itu.
"Iya, aku tahu! Kamu tidak perlu mengungkit-ngungkit kejadian memalukan itu terus!" omel Clara kesal menutupi rasa malunya.
"Tapi sebagai gantinya, kakek menyuruhku untuk membawamu pergi makan siang bersama di restoran luar," lanjut Clara dengan nada gengsi setengah mati.
Arka mengerjap-nerjap lambat menatap jam tangan kerjanya yang sederhana.
"Makan siang? Tapi jam kerjaku belum selesai, Nona," tolak Arka halus.
"Siapa yang peduli dengan jam kerjamu?! Aku sudah bilang langsung ke direktur dan dia memberikan izin khusus untukmu!" paksa Clara tidak mau dibantah.
Siska melirik ke arah Arka dan Clara secara bergantian dengan perasaan aneh di dalam dadanya.
Ada rasa cemburu kecil yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya melihat interaksi kedua orang itu.
"Pergilah sana, Arka," ucap Siska pelan mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.
"Tugasmu membersihkan koridor lantai ini sudah kuambil alih."
Arka menatap Siska sekilas lalu tersenyum hangat kepada perawat setia tersebut.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya, Siska," kata Arka tulus.
Ia kemudian meletakkan gelas kosongnya ke atas troli lalu menoleh ke arah Clara yang sudah tidak sabar menunggu.
"Baiklah, Nona calon istri. Mari kita lihat restoran mahal mana yang mau kamu traktir hari ini," ujar Arka santai.
Clara memutar bola matanya malas mendengar panggilan usil itu, lalu berbalik badan melangkah keluar menuju mobil mewahnya.
Arka berjalan mengikuti di belakang Clara dengan langkah tenang penuh misteri.
[Sistem Mendeteksi Peningkatan Hubungan Khusus Antara Karakter Utama Dan Clara Wijaya]
[Membuka Jalur Misi Baru: Makan Siang Berdarah Dingin Di Restoran Mewah]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka saat ia memasuki pintu mobil mewah bersama sang nona konglomerat.