Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - SURAT CINTA DARI TIRTA
Setelah kejadian pelukan pertama di lumbung padi itu, hubungan aku dan Segara El-Bhumi menjadi sangat aneh.
Bukan aneh yang buruk. Tapi aneh yang bikin jantung dag-dig-dug setiap kali bertemu.
Setiap pagi, saat aku datang ke Balairung untuk mengantarkan laporan drainase yang sudah aku tulis dengan tulisan cakar ayam ku, Segara yang sedang rapat dengan para menteri, pasti akan menghentikan rapatnya sebentar hanya untuk menatapku dan berkata dengan suara dinginnya yang dibuat-buat, "Permaisuri Mawar, laporanmu letakkan saja di meja. Dan... teh mawar mu jangan lupa."
Para menteri yang melihat itu akan saling berbisik, "Gusti Kaisar jatuh cinta."
Setiap malam, saat aku sedang membaca buku putih masa depan di Paviliun Mawar, pengawal pribadinya akan datang dengan nampan kecil berisi satu cangkir teh mawar hangat yang masih mengepul dan sepiring kue beras.
"Gusti Permaisuri, ini dari Gusti Kaisar. Gusti Kaisar bilang, minum teh dulu sebelum tidur, jangan baca buku terus, nanti mata sakit," kata pengawal itu dengan wajah datar menahan senyum.
Aku tahu, itu teh mawar yang dia buat sendiri di dapurnya yang kecil di samping kamarnya. Teh yang dia jamin aman dan tidak beracun.
Semuanya terasa santai dan manis seperti gula aren. Sampai siang ini.
Siang ini, saat aku sedang duduk di teras Paviliun Mawar sambil menjahit selendang emas ku yang robek sedikit karena tersangkut padi di lumbung kemarin, seorang pengawal kerajaan tetangga datang dengan kuda hitam yang gagah dan membawa gulungan surat yang sangat indah.
Gulungan surat itu terbuat dari kertas sutra putih, diikat dengan pita biru langit, dan di segelnya ada lambang ombak air. Lambang Kerajaan Air, kerajaan Pangeran Tirta Anantya.
"Gusti Permaisuri Mawar, ada surat pribadi untuk Gusti dari Pangeran Tirta Anantya dari Kerajaan Air," kata pengawal itu sambil bersimpuh dan memberikan gulungan surat itu dengan kedua tangan.
Aku mengambil surat itu dengan kening berkerut. Surat pribadi? Pangeran Tirta baru kembali ke kerajaannya tiga hari yang lalu setelah Pesta Panen. Kenapa dia mengirim surat pribadi secepat ini?
Aku membuka segel ombak air itu dan membuka gulungan kertas sutra putih itu.
Tulisannya sangat indah, tulisan tangan seorang pangeran yang dididik dengan baik, dengan tinta biru laut.
"Untuk Gusti Permaisuri Mawar, Kahiyang Gayatri Ayuningtyas yang harumnya seperti mawar pagi.
Maafkan saya yang lancang mengirim surat ini hanya tiga hari setelah kepulangan saya.
Sejak saya kembali ke Kerajaan Air, saya tidak bisa berhenti memikirkan tentang selokan yang Gusti bangun, tentang anak desa yang Gusti sembuhkan, dan tentang penari yang Gusti selamatkan dengan arang hitam di Pesta Panen.
Di Kerajaan Air, kami punya pepatah: perempuan yang berani kotor tangannya demi orang lain, adalah perempuan yang hatinya terbuat dari emas murni.
Gusti Kahiyang, hati Gusti terbuat dari emas murni. Dan saya, Pangeran Tirta Anantya, sejak pertama kali melihat Gusti yang berani membentak saya di Taman Mawar Putih, hati saya sudah tertambat pada Gusti.
Saya tahu Gusti sudah menjadi Permaisuri Kerajaan Langit. Saya tahu Gusti sudah memiliki Kaisar Segara El-Bhumi yang gagah dan berkuasa.
Tapi izinkan saya mengatakan ini sekali saja dalam surat ini.
Saya mencintai Gusti, Kahiyang.
Jika suatu hari nanti, Kerajaan Langit terasa terlalu dingin untuk Gusti, atau jika jubah hitam Gusti Kaisar terasa terlalu berat untuk Gusti, Kerajaan Air akan selalu terbuka pintunya untuk Gusti. Dengan 100 peti emas, 1000 padi emas, dan satu hati yang tulus yang akan selalu menunggu Gusti.
Tunggu jawaban Gusti di tepi Danau Biru perbatasan besok sore saat matahari terbenam. Saya akan menunggu di sana dengan perahu kecil saya.
Yang selalu mengagumi Gusti,
Tirta Anantya, Pangeran Kerajaan Air."
Tanganku gemetar memegang surat itu.
Surat cinta. Surat cinta pertama yang aku terima di hidupku, baik di abad 21 maupun di abad Kerajaan Langit ini.
Di abad 21, tidak ada yang pernah mengirimiku surat cinta seindah ini. Paling hanya chat "P" atau "Kahiyang, boleh pinjam catatan Sejarah?"
Tapi di sini, seorang pangeran dari kerajaan tetangga, dengan 100 peti emas dan kerajaan yang makmur, mengirimiku surat cinta dengan tinta biru laut dan kertas sutra putih, mengajakku bertemu di tepi Danau Biru yang romantis saat matahari terbenam.
Hatiku yang manusiawi, sebagai perempuan abad 21 yang normal, sedikit berbunga-bunga dan berdebar.
Siapa yang tidak berdebar mendapat surat cinta dari pangeran?
Tapi belum sempat aku menyimpan surat itu, dari belakangku terdengar suara yang sangat dingin, lebih dingin dari es di puncak Gunung Langit.
"Surat apa itu, Kahiyang?"
Aku berbalik dengan kaget setengah mati.
Segara El-Bhumi berdiri di belakangku. Entah sejak kapan dia ada di sana. Jubah hitamnya masih terpasang, tapi wajahnya... wajahnya pucat dan rahangnya mengeras. Matanya yang sedalam samudra itu menatap gulungan kertas sutra putih di tanganku dengan tatapan yang bisa membakar kertas itu menjadi abu seketika.
"Gusti Kaisar! Gusti sejak kapan di sini?" tanyaku gugup, langsung menyembunyikan surat itu di belakang punggungku.
"Sejak kau membaca kata 'Saya mencintai Gusti, Kahiyang' dengan suara pelan dan senyum yang berbunga-bunga," jawabnya dengan suara datar, tapi setiap kata terdengar seperti es yang jatuh.
Dia tahu. Dia mendengar semua isi surat itu.
Dia berjalan mendekatiku dengan langkah pelan, setiap langkahnya membuat lantai teras berderit. Dia mengulurkan tangannya.
"Berikan surat itu padaku, Kahiyang."
"Tidak! Ini... ini hanya surat biasa, Gusti! Surat tentang padi emas! Ya, tentang padi emas!" bohongku dengan akting yang sangat buruk.
"Kahiyang Gayatri Ayuningtyas, aku adalah Kaisar Kerajaan Langit. Jangan pernah berbohong di depan Kaisar tentang surat cinta dari pangeran lain. Berikan."
Suaranya pelan, tapi perintahnya mutlak.
Dengan tangan gemetar, aku memberikan gulungan surat sutra putih itu padanya.
Segara mengambilnya dan membacanya dengan cepat, matanya bergerak dari atas ke bawah. Setiap baris yang dia baca, wajahnya semakin dingin, tangannya semakin mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.
Saat selesai membaca, dia tidak merobek surat itu seperti yang aku bayangkan. Dia tidak membakarnya juga.
Dia hanya melipatnya dengan sangat rapi, persis seperti lipatan semula, dan mengikatnya kembali dengan pita biru langit.
Lalu dia mengembalikan surat itu padaku.
"Jawablah," katanya dengan suara pelan.
Aku membelalakkan mata. "Apa, Gusti Kaisar?"
"Jawablah surat itu. Besok sore, saat matahari terbenam, datanglah ke tepi Danau Biru. Temui Pangeran Tirta di perahu kecilnya. Jawab surat cintanya," kata Segara dengan suara yang sangat tenang, terlalu tenang sampai membuatku merinding.
"Gusti Kaisar menyuruh saya menemui Pangeran Tirta?" tanyaku tidak percaya.
Segara menatapku lama, matanya yang dingin itu sekarang terlihat lelah dan sedikit terluka. Terluka seperti malam saat dia demam dan bertanya apakah aku akan senang jika dia mati.
"Aku bukan Kaisar Tanpa Hati yang akan mengurung permaisurinya di dalam paviliun, Kahiyang. Jika hatimu memang lebih berbunga-bunga untuk 100 peti emas dan tinta biru lautnya daripada untuk jubah hitam ku yang kotor karena lumpur... maka pergilah. Aku tidak akan menahanmu," bisiknya pelan, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan teras Paviliun Mawar ku.
Punggungnya yang bidang itu terlihat sangat sepi dan kesepian saat dia berjalan menjauh.
Di tanganku, surat cinta dari Pangeran Tirta dengan kertas sutra putih itu terasa berat sekali. Lebih berat dari kunci naga Perpustakaan Terlarang.
Di kepalaku, Sistem yang sudah lama diam, berbunyi dengan tulisan merah muda yang panik.
[PERINGATAN! PILIHAN HIDUP DAN MATI TERDETEKSI!]
[PILIHAN A: MENEMUI PANGERAN TIRTA DI DANAU BIRU - MENDAPATKAN 100 PETI EMAS + KEHIDUPAN AMAN DI KERAJAAN AIR + PINTU PULANG KE ABAD 21 TERBUKA 50%]
[PILIHAN B: TETAP DI ISTANA DAN MENOLAK TIRTA - KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI AKAN MENCAPAI 150% + RESIKO DIBENCI IBU SURI + PINTU PULANG KE ABAD 21 TERTUTUP 50%]
Besok sore. Matahari terbenam. Danau Biru.
Aku harus memilih antara surat cinta dengan tinta biru laut dan 100 peti emas, atau jubah hitam yang kotor karena lumpur dan pelukan canggung di lumbung padi.
Sore itu, aku duduk di teras Paviliun Mawar ku sampai matahari benar-benar tenggelam, dengan surat cinta di pangkuan ku, dengan hati yang bingung dan berdebar kencang.
Alurnya memang santai hari ini, hanya surat cinta.
Tapi ngena sekali, karena untuk pertama kalinya, aku harus memilih bukan antara hidup dan mati karena racun, tapi antara dua hati yang sama-sama mencintaiku dengan cara yang berbeda.