NovelToon NovelToon
Menikahi Pewaris Cacat

Menikahi Pewaris Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Orang Disabilitas / CEO
Popularitas:133.9k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

​"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."

​"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
​Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.

"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."

​Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.

​Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?

Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekhawatiran Orang Tua Angkat Levara

"Siapa dia? Anakmu? Kamu duda?" tanya Levara pada Dante yang baru saja hendak menyantap makanannya.

"Dia anak yang saya pungut," balas Dante singkat, lalu melahap makanannya tanpa beban.

Levara membulatkan matanya terkejut, "Ke mana orang tuanya?"

"Tak usah banyak bertanya, habiskan saja makananmu," ucap Dante dingin. Ia sengaja mengabaikan Levara, sekaligus membiarkan bocah kecil di sampingnya yang mendadak menatap Levara dengan tatapan sengit dan penuh permusuhan.

Tiba-tiba, pandangan anak kecil itu tertuju pada deretan hidangan di atas meja. Keningnya seketika mengerut dalam, menyadari ada sesuatu yang hilang dari tempat biasanya.

"Kenapa nda ada mangkok pololo Valooooo!" pekiknya nyaring, lalu melempar tatapan makin ganas ke arah Levara yang sampai tersentak kaget.

Levara yang tak terima dituduh langsung membela diri, "Kenapa kau menatapku seperti itu? Mana aku tahu di mana mangkokmu! Di depanmu kan sudah ada mangkok, makan saja pakai yang itu. Kalau tidak mau ... pakai baskom sekalian!" serunya bersungut-sungut.

Anak laki-laki bernama Varo Cassian itu menatap Levara dengan lirikan amat sinis, seolah-olah wanita di hadapannya baru saja mengucapkan hal paling konyol.

"Olang betina itu celalu cembalangan bibilnya," ucap Varo bersedekap dada, lalu beranjak turun dari kursinya dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan.

Dari arah lorong, suaranya yang melengking kembali terdengar menggelegar, "BIIII, MANGKOK POLOLO VALO MANAAAAA? VALO PUTEELL LUMAH INI NANTI!"

Levara mengelus dadanya yang menegang, lalu beralih menatap Dante dengan helaan napas jengkel. "Botak gendut, mirip lampu bohlam," cibirnya pelan namun tajam.

"Heuh?" Dante hanya menaikkan sebelah alisnya, heran dengan kekesalan wanita di depannya.

.

.

.

.

Siang harinya, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di halaman depan mansion Velmore. Pintu mobil terbuka, dan langkah kaki terburu-buru terdengar melintasi koridor utama menuju ruang tamu.

Danira, ibu angkat Levara masuk dengan raut wajah dipenuhi rasa cemas yang mendalam, diikuti oleh Evran yang melangkah tenang namun dengan raut muka tegang. Di belakang mereka, Arelio berjalan memimpin dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut penjagaan ketat mansion tersebut.

Levara yang sedang menyusun beberapa dokumen investigasi awal di meja ruang tamu segera berdiri menyambut kedatangan keluarga angkatnya.

"Levara!" seru Danira langsung memeluk Levara erat-erat begitu mendekat. Tangan wanita paruh baya itu gemetar pelan saat mengusap punggung anak angkatnya. "Kamu tidak apa-apa, Nak? Astaga ... Mama tidak bisa tidur tenang memikirkan keputusan nekatmu ini!"

"Mama, tenang ... aku baik-baik saja. Sungguh," bisik Levara lembut, menenangkan Danira seraya menuntunnya duduk di sofa empuk.

Evran mendekat, mendudukkan diri di samping istrinya. Matanya menatap Levara dengan tatapan dalam yang menyimpan kekhawatiran seorang ayah. "Levara, kamu tahu kan kalau keputusan menikah mendadak dengan Dante Castillo Velmore ini sangat berisiko? Keluarga Velmore sedang berada di pusaran konflik internal yang amat panas. Paman Dante, Julian Velmore, bukan orang yang bisa diajak kompromi."

"Papa Evran, aku tahu," jawab Levara mantap, menatap lurus ke mata ayah angkatnya. "Tapi ini satu-satunya jalan paling cepat dan aman untuk membuka akses ke dokumen rahasia milik mendiang Tuan Darian. Dokumen itu memuat jejak terakhir Papa Edlan sebelum hilang 21 tahun lalu."

"Tapi tidak dengan cara mengorbankan masa depan dan pernikahanmu, Levara!" potong Arelio, suaranya terdengar lebih menuntut dari biasanya. Kakak angkatnya itu melangkah mendekat, berdiri tegak di hadapan Levara. "Kamu baru mengenal pria itu beberapa hari. Kita bisa mencari cara lain lewat jalur hukum atau investigasi independen yang Bang Arelio pimpin!"

"Jalur hukum sudah tertutup rapat selama 15 tahun, Bang Arelio," tegas Levara tak mau kalah. "Jaringan Keluarga Veyron terlalu kuat. Mereka mengontrol arus informasi dan punya perpanjangan tangan di mana-mana. Hanya pengaruh dan perlindungan nama besar Dante yang bisa menembus benteng mereka."

Suasana ruang tamu mendadak hening ketika suara desing halus mesin kursi roda terdengar menyusuri lantai marmer. Dante keluar dari koridor ruang kerjanya, didampingi dua pengawal pribadi. Pria itu tampak gagah meski dalam balutan kemeja kasual, memancarkan wibawa yang tak tertandingi.

"Selamat siang, Tuan Evran, Nyonya Danira," sapa Dante dengan nada suara bass yang tenang, mengabaikan ketegangan yang sempat tercipta di ruangan itu.

Evran berbalik menatap pria muda di atas kursi roda tersebut. Sebagai pria senior, Evran mengenali tatapan mata Dante, tatapan seorang pria yang telah melewati derita fisik dan mental yang berat, namun tetap berdiri tegak bak benteng kokoh.

"Dante," panggil Evran pelan namun penuh penekanan. "Kami datang bukan untuk merusak hubungan kalian. Tapi sebagai orang tua yang membesarkan Levara sejak kecil, saya butuh jaminan tegas dari kamu."

Dante menghentikan kursi rodanya tepat di samping sofa Levara. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap Evran dan Danira dengan raut wajah yang sungguh-sungguh.

"Saya sangat memahami kekhawatiran Anda, Tuan Evran," kata Dante pelan namun lugas. "Saya tidak akan berjanji bahwa kehidupan Levara di samping saya akan sepenuhnya aman dari ancaman bisnis atau teror masa lalu. Tapi saya berjanji dengan nama Velmore yang saya sandang, selama Levara berada di rumah ini dan menjadi istri saya, keselamatan jiwanya adalah prioritas utama saya di atas keselamatan saya sendiri."

Danira menahan napasnya, tersentuh oleh ketegasan dan kejujuran tanpa basa-basi dalam nada suara Dante. Sementara Arelio menyilangkan tangan di dada, matanya masih memancarkan aura ketidakpercayaan terhadap pria itu.

"Siapa yang menjamin kamu tidak memanfaatkan Levara hanya untuk kepentingan sahammu sendiri?" tembak Arelio sinis, melangkah maju satu langkah.

Dante menoleh menatap Arelio. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Pernikahan ini didasari kesepakatan dua belas pasal yang ditandatangani secara sadar oleh Levara dan saya. Saya butuh status pernikahan untuk mengunci saham Velmore Group dari Paman Julian, dan Levara butuh saya untuk membongkar teka-teki kasus ayahnya. Kami saling memanfaatkan secara adil, Arelio. Dan saya bukan pria yang melanggar janji."

"Cukup, Arelio," tegur Evran pelan namun berwibawa, menenangkan anak sambungnya. Evran beralih menatap Dante kembali. "Saya menduga kecelakaanmu dua tahun lalu ada kaitannya dengan berkas yang disimpan mendiang Darian, benar?"

Dante mengangguk tipis tanpa keraguan. "Benar. Kecelakaan yang membuat saya kehilangan fungsi kedua kaki saya bukan murni musibah lalu lintas. Seseorang sengaja merekayasanya untuk memusnahkan berkas itu bersama saya. Dan orang yang sama adalah orang yang bertanggung jawab atas hilangnya Tuan Edlan 21 tahun lalu."

Pernyataan Dante membuat Danira meremas tangan Levara karena terperanjat, sementara Evran menghembuskan napas panjang yang berat. Konspirasi gelap yang menyelimuti dua keluarga itu kini perlahan-lahan mulai terbuka, membawa mereka semua masuk ke dalam pusaran bahaya yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

"TUAN JULIAN TIBA!"

1
Ass Yfa
kok..Lepa jdi keponakan seh..harusnya kan ank angkt...sama Lio jadi kakak angjt dong..kak Ra..😁
indrie_💖
si juli mau meracuni Lepa...jangan ditelan mentah2
indrie_💖
sdh tau sj si juli
Rosy
masih berharap kalau Edlan masih hidup dan bisa berkumpul dg Levara 😢😢
faridah ida
hadeeeh gagal ini rencana kalian karena Levara di tangkap .
GiZaNyA
Papa Edlaannnn... kenapa buang banyak Bawang Merah.... pedess niihhh... jadi mewekkk.. 😭😭😭
faridah ida
kalau bukti2 sudah terkumpul semua , Davit gak bisa berkutik lagi ..
Rosy
meskipun cuma baca cerita tapi ikut deg2an 😌😍😍
Marya Dina
nah nah auto gk bisa tidur ni
malemgara2 mikirin leva😭😭
Rosy
sengaja banget bikin anak orang cemburu 😂
Rosy
harusnya kan saudara angkat bukan saudara sepupu 🤔
Rosy
waduh,pasti ada yg kepanasan nih 😂
Sastri Dalila
👍👍👍👍👍
Senja Susanti
ini cerita siapa ka,,
Cahaya
duhhh bikin kagen ini ada bocil lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍😅😅
Sastri Dalila
👍👍👍
Sastri Dalila
👍👍
Sastri Dalila
😅😅
Sastri Dalila
🥺😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!