Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Gertakan Sang Raja dan Skakmat Fajar
Ceklek.
Begitu pintu tebal itu ditutup dari dalam, Fajar bisa merasakan hawa ruangan yang mendadak anjlok. Suasana di dalam ruang Direktur Utama itu luar biasa mencekam. Kaca-kaca raksasa yang biasanya menampilkan pemandangan kota Jakarta kini ditutupi rapat oleh tirai gelap, seolah sang pemilik ruangan sedang bersembunyi dari terangnya matahari.
Di balik meja marmer raksasa, kursi kebesaran itu perlahan berputar. Sosok Ardi duduk di sana, menatap Fajar dengan sorot mata elang yang memancarkan dominasi mutlak. Tanpa basa-basi, Ardi mengangkat tangan kanannya, menudingkan jari telunjuknya tepat ke arah wajah Fajar.
"Hei, kamu." Suara bariton Ardi memecah keheningan yang membekukan.
Fajar yang berdiri tegap di tengah ruangan hanya memiringkan kepalanya sedikit, menunjuk dadanya sendiri dengan santai. "Saya, Pak?"
"IYALAH! Siapa lagi di ruangan ini selain kamu, anak muda bodoh?!" bentak Ardi, suaranya naik satu oktaf, menggema di dinding kedap suara.
Alih-alih gemetar atau ciut, Fajar justru tertawa pelan. Tawa renyah yang terdengar sangat meremehkan di telinga seorang diktator. "Hahaha. Santai, Pak. Nggak usah tegang begitu."
Rahang Ardi mengeras, otot di lehernya menegang melihat ketidaksopanan bawahannya ini. Pria paruh baya itu bangkit berdiri, mencondongkan tubuhnya ke depan meja marmer.
"Dengar baik-baik, anak bawang. Jangan sombong hanya karena kamu kebetulan beruntung bisa menangani masalah remah-remah di pedalaman Kalimantan Timur," desis Ardi tajam, matanya menyipit penuh ancaman. "Dan satu lagi... jauhi anak saya! Saya punya banyak rahasia dan kuasa, jauh melebihi apa yang bisa dijangkau oleh otak kecilmu itu!"
Fajar memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapan matanya yang tadi santai kini berubah sedingin es. "Maaf, Pak. Kalau soal yang satu itu, saya nggak bisa menuruti keinginan Bapak."
"Kenapa?!" Ardi menggebrak mejanya pelan namun penuh penekanan. "Kamu nggak takut saya pecat detik ini juga, hah?!"
"Saya nggak peduli Bapak mau pecat saya atau buang saya ke ujung dunia sekalipun," jawab Fajar dengan nada datar dan berani. Ia melangkah maju satu langkah, menatap tepat ke manik mata bos besarnya. "Yang penting, saya sudah berhasil mendapatkan hati putri Bapak. Dan saya peringatkan Bapak satu hal... kalau Bapak sampai berani menyakiti Kirana atau memaksanya di luar batas kewarasannya, saya nggak akan segan-segan memanggil 'seseorang' yang paling Bapak takuti untuk menghancurkan Bapak."
Mendengar gertakan itu, setitik kepanikan melintas kilat di mata Ardi—kepanikan khas seorang pencuri identitas yang takut masa lalunya terbongkar. Namun, pria tua itu cepat-cepat menutupinya dengan tawa sinis.
"Heh... kamu kira ancaman murahan dari cowok ingusan kayak kamu bisa bikin saya takut? Tidak mungkin!" cibir Ardi, berusaha kembali memegang kendali.
"Kalau memang Bapak nggak takut, lalu kenapa Bapak mati-matian mau memisahkan saya dengan Kirana?" Fajar membalas tanpa ampun, memojokkan argumen sang CEO.
"Kamu tidak perlu tahu urusan keluarga saya! Yang penting kamu jauhi anak saya. Saya punya urusan penting dengannya, dan saya tahu betul kalau kamu diam-diam selalu memberinya celah untuk kabur dari tanggung jawabnya!" kilah Ardi.
Fajar mendecakkan lidahnya, menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi pura-pura prihatin. "Wah... sama anak sendiri kok sekejam itu? Kenapa Bapak harus pura-pura jadi monster begini sih? Kalau Bapak sampai ketahuan melanggar hukum demi obsesi proyek chip itu, Bapak bisa dipenjara loh."
"Heh! Saya nggak takut ancaman hukum apa pun!" Ardi tersenyum angkuh, merasa posisinya di atas angin. "Saya punya bekingan orang-orang kuat. Kamu kira saya yang mendirikan perusahaan raksasa ini sendirian tanpa bekingan rahasia? Kamu terlalu naif!"
Alih-alih gentar, Fajar justru menghela napas panjang seolah sedang meladeni bapak-bapak kompleks yang lagi mengoceh di pos ronda.
"Hahaha, ya udahlah, Pak, nggak usah banyak cocot dan pamer bekingan di depan saya," celetuk Fajar santai, sukses membuat Ardi nyaris tersedak ludahnya sendiri karena syok mendengar kata-kata kasar itu dari bawahannya. "Jadi, ada agenda asli apa Bapak manggil saya jauh-jauh kemari?"
Ardi menarik napas panjang, berusaha menstabilkan darahnya yang mendidih. Bawahannya yang satu ini benar-benar tidak punya urat takut.
"Bagus kalau kamu tahu diri," ucap Ardi akhirnya, kembali duduk di kursinya sambil menatap Fajar dengan sorot mata penuh kalkulasi. "Jadi, jelaskan pada saya sekarang... bagaimana bisa cowok berandalan sepertimu berpacaran dengan anak saya, dan bahkan bisa menangani kekacauan di pedalaman Kalimantan Timur secepat itu?!"
"Bapak ini bodoh, atau memang murni bodoh?"
Pertanyaan retoris yang keluar dari mulut Fajar sukses membuat urat di pelipis Ardi berkedut hebat.
Fajar terkekeh pelan, melangkah selangkah lebih dekat ke meja sang CEO tanpa gentar sedikit pun. "Sudah jelas-jelas saya mengerjakan tugas di Kalimantan Timur itu dengan senang hati. Apalagi plusnya... saya bisa bebas sayang-sayangan dengan anak Bapak di luar jangkauan radar Bapak!"
Napas Ardi memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Namun sebelum pria tua itu sempat membalas, Fajar sudah menyela lagi.
"Terus ya, Pak... kenapa Bapak mati-matian menutupi proyek ini? Apakah Bapak takut kalau ketahuan, perusahaan ini jadi bangkrut dan terbengkalai? Hahaha, masa iya rahasia Bapak separah itu?" sindir Fajar tajam, sengaja memancing di air keruh untuk melihat reaksi atasannya.
Ardi menggebrak meja dengan keras. Rasa paniknya akan ancaman "bekingan" di belakangnya membuat CEO itu mengambil keputusan nekat. Mata tuanya menatap Fajar dengan niat membunuh yang pekat.
"Kalau kamu memang sehebat itu, saya angkat kamu jadi Kepala Tim Proyek Khusus untuk mendampingi Kirana!" desis Ardi, memberikan jebakan mematikannya. "Pastikan chip generasi terbaru itu rilis dalam tiga minggu tanpa cacat! Kalau proyek ini gagal, kamu dan Kirana yang akan menanggung semua kerugian perusahaan di hadapan hukum!"
Alih-alih pucat pasi mendengar tenggat waktu yang tidak masuk akal itu, sudut bibir Fajar justru tertarik ke atas.
"Baik. Kalau itu yang Bapak mau, saya nggak akan sungkan," jawab Fajar mantap.
Tanpa permisi, pemuda itu membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan. Saat membelakangi Ardi, senyum miring tercetak jelas di wajah Fajar. Ia tahu betul ini adalah jebakan bunuh diri. Tapi Ardi salah perhitungan; dengan jabatan ini, Fajar kini memiliki akses penuh yang tak dimiliki orang lain. Ia membiarkan Ardi menjebaknya, agar ia bisa menghancurkan pria itu dari dalam.
Ceklek.
Begitu pintu tebal itu tertutup dan Fajar baru melangkah beberapa meter di koridor, sebuah tangan ramping tiba-tiba menyambar lengannya.
Wusss! Brak!
Fajar ditarik paksa masuk ke balik pintu besi tangga darurat yang sepi dan remang-remang. Di hadapannya, Kirana berdiri dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi karena sedari tadi jantungan menunggu di luar.
"Kamu diapain?! Dipecat? Atau diancam?!" todong Kirana panik, matanya menatap Fajar dari atas ke bawah, memastikan pria itu masih utuh.
Melihat kepanikan kekasihnya, sisi jahil Fajar justru bangkit. Bukannya menjawab, ia malah melangkah maju, mendorong Kirana perlahan hingga punggung gadis itu menempel ke dinding dingin tangga darurat.
Tep. Fajar mengurung Kirana di antara dinding dan lengannya, melakukan kabedon sempurna.
"Haa... nggak apa-apa kok, Bu Direktur," bisik Fajar dengan suara serak yang menggoda. Jari telunjuknya terangkat, menyentuh dan mengangkat dagu Kirana dengan lembut. "Aku punya kartu as. Dan tenang saja, aku pasti akan membantu Kiranaku yang lagi kesusahan ini."
Jantung Kirana serasa mau melompat keluar mendapati godaan tanpa aba-aba itu. Wajahnya yang pucat mendadak memerah bak kepiting rebus. Dengan tenaga tersisa, ia mendorong dada Fajar menjauh.
"Ih, apa sih, Fajar! Jangan gitu! Aku beneran khawatir tahu!" omel Kirana dengan suara bergetar, pertahanan "Putri Es"-nya nyaris runtuh.
Melihat mata Kirana yang mulai berkaca-kaca, raut wajah Fajar seketika melembut. Ia tahu, beban yang dipikul gadis ini terlalu berat.
"Hmm... ya udah, kamu duduk dulu di tangga," ucap Fajar lembut.
Fajar duduk lebih dulu di anak tangga yang dingin, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya. Kirana menuruti perkataannya, duduk dengan bahu merosot lelah.
"Hmm... terus? Tadi di dalam gimana?" tanya Kirana pelan.
Alih-alih menceritakan kronologinya, Fajar mendadak menarik Kirana dan memeluknya dengan sangat erat. Posisinya begitu hangat, menenggelamkan wajah Kirana di ceruk lehernya.
"Ayo, keluarin," bisik Fajar sambil mengelus puncak kepala Kirana perlahan.
"Hah?" Kirana tertegun bingung.
"Keluarin... kamu mau nangis, kan? Nggak ada siapa-siapa di sini. Cuma ada aku."
Pertahanan Kirana hancur berkeping-keping. Bendungan air mata yang mati-matian ia tahan selama berminggu-minggu akhirnya jebol. Ia menangis kejer di pelukan Fajar, mencengkeram kemeja pria itu dengan erat sambil mengeluhkan semua rasa sakitnya.
"Huaaa... kenapa sih aku dilahirkan begini?! Aku kan nggak mau! Aku juga nggak mau dilahirkan kalau akhirnya cuma jadi alat! Aku juga mau merasakan apa itu perasaan bebas, tapi itu pun aku cuma bisa jadi pendukung... aku nggak bisa menyelesaikan masalah dari ayahku sendiri! Aku harus apa sekarang?!" tangis Kirana pecah, suaranya teredam di dada Fajar.
Fajar mempererat pelukannya, memberikan rasa aman yang tak pernah Kirana dapatkan di gedung mewah ini.
"Cup, cup, cup... udah, nangis aja sepuasnya," hibur Fajar sambil menepuk-nepuk punggung Kirana dengan ritme menenangkan. "Untungnya, mulai sekarang kamu nggak sendirian lagi. Kamu dan aku akan mengerjakan sebuah pekerjaan baru."
Isakan Kirana perlahan mereda, digantikan oleh rasa penasaran. Gadis itu mendongak dengan hidung memerah. "Pekerjaan baru? Pekerjaan apa?"
Fajar menatap mata sembab Kirana sambil tersenyum tipis. "Aku dipromosikan mendadak. Mulai hari ini, aku resmi jadi Kepala Tim Proyek Khusus. Kita berdua ditugaskan untuk memimpin tim dan membuat chip terbaru itu rilis secepat mungkin dalam tiga minggu."
Mata Kirana membelalak lebar, sisa air matanya seolah menguap seketika akibat syok.
"APA?! Tiga minggu?!" jerit Kirana tertahan. "Itu mustahil, Fajar! Paling cepat saja butuh waktu tiga bulan untuk menyelesaikan overheating-nya! Ini tiga minggu?! Emang kita bisa?!"
Fajar mengusap sisa air mata di pipi Kirana, menatapnya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Kita coba saja dulu. Bersama-sama."
[Bersambung]