Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Hari-hari berikutnya merayap lambat di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu. Jika sebelumnya Keira masih sesekali melangkah keluar untuk sekadar membeli sabun di warung kelontong ujung gang atau berdiri di depan pintu menikmati angin sore, kini rutinitas itu hampir sepenuhnya lenyap.
Pola hidupnya telah menyusut ke dalam batas-batas yang sangat sempit. Bangun pagi, merapikan kasur, mencuci pakaian secukupnya di ember, lalu menghabiskan sisa hari dengan membaca buku-buku lama atau menatap layar ponsel yang kini lebih sering berada dalam genggamannya. Bukan karena Davin memberikan larangan baru yang tertulis, melainkan karena Keira sendiri yang secara tidak sadar memilih untuk tidak mengambil risiko sekecil apa pun.
Ia tidak ingin ada alasan bagi Davin untuk kembali memasang wajah dingin. Ia tidak ingin mendengar helaan napas berat lelaki itu yang selalu membuatnya merasa telah melakukan kesalahan besar.
Pukul tiga sore, matahari kemarau memantulkan cahaya teriknya pada seng-seng rumah tetangga di seberang gang. Dari dalam kamar, melalui ventilasi udara yang terbuka sedikit, terdengar suara tawa anak-anak kecil yang sedang bermain bola plastik di jalanan sempit. Suara itu begitu hidup, mengingatkan Keira pada masa-masa ketika dunianya belum seluas dan sesepi ini.
Keira yang sedang duduk bersila di atas karpet melirik ke arah jendela kecil kamarnya. Ia berdiri perlahan, melangkah mendekat, lalu mendorong sedikit daun jendela kaca buram tersebut untuk menghirup udara luar. Semburat angin sore berhembus menyentuh wajahnya yang tampak semakin pucat karena jarang terkena matahari langsung.
Di luar, lalu-lalang warga tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Seorang ibu menjemur pakaian, tukang sayur melintas sambil membunyikan lonceng gerobaknya, dan beberapa mahasiswa berjalan beriringan sambil tertawa renyah.
Untuk sepersekian detik, ada keinginan yang mencuat di dadanya sebuah dorongan sederhana untuk sekadar melangkah keluar, membeli secangkir es teh di warung depan, atau berjalan menyusuri trotoar sebentar saja. Namun, bayangan pesan Davin tempo hari langsung berkelebat: “Kamu kunci pintu yang rapat, jangan buka pintu buat siapa-siapa...”
Keira menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan menutup kembali daun jendela itu rapat-rapat. Tirai kain kusam ia tarik untuk menghalau cahaya matahari yang terlalu silau. Kamar itu kembali meredup, tenggelam dalam keheningan yang akrab.
Lebih baik di sini, batinnya menenangkan diri. Di luar panas, dan lagi pula tidak ada hal penting yang harus dicari.
Ponsel di atas meja kecil bergetar. Keira langsung menoleh, bergerak cepat meraih benda pipih tersebut sebelum deringnya sempat mengusik kesunyian terlalu lama. Nama Davin tertera di layar.
Davin: Sayang, nanti malam aku lembur lagi. Ada revisi proposal dari klien besar yang harus beres malam ini. Kamu gak usah tungguin ya, langsung tidur saja yang nyenyak.
Melihat pesan itu, ada rasa kecewa yang berkelebat di dada Keira rasa rindu yang tidak sempat terobati karena mereka sudah dua hari tidak bertemu. Namun, di saat yang sama, ada rasa lega yang aneh.
Setidaknya, ia tidak perlu cemas memikirkan apakah malam ini Davin akan datang dengan wajah lelah dan omelan seperti beberapa hari lalu.
Keira: Iya, Vin. Semangat kerjanya ya. Jangan lupa makan malam.
Ia mengetik balasan itu dengan cepat, memastikan tidak ada nada menuntut atau mengeluh di dalamnya. Baginya, menjadi perempuan yang pengertian adalah satu-satunya cara terbaik untuk menjaga kedamaian hubungan mereka. Davin sedang berjuang untuk masa depan mereka, bekerja keras demi cicilan mobil dan kestabilan finansial begitu cara Keira selalu merasionalisasi kesendiriannya.
Pukul tujuh malam, suasana gang kos semakin riuh oleh suara azan magrib dari surau terdekat, disusul deru kendaraan roda dua yang pulang beraktivitas.
Keira memutuskan untuk merebus sebungkus mie instan sebagai menu makan malamnya. Tidak ada lauk istimewa, tetapi ia merasa cukup.
Ketika ia sedang menikmati mie tersebut di atas lantai karpet, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu.
Jantung Keira langsung berdegup kencang. Sesuai kebiasaannya akhir-akhir ini, ia selalu merasa waswas setiap kali mendengar pintu diketuk di luar jam kedatangan Davin. Ia bangkit secara perlahan, melangkah mengendap-endap mendekati pintu, lalu mengintip dari lubang kecil di daun pintu kayu tersebut.
Di luar sana, berdiri seorang perempuan berambut sebahu dengan jaket jeans pudar.
Amara.
Keira menahan napasnya. Untuk sesaat, ia merasa ingin sekali membuka pintu itu, memeluk sahabatnya, dan menceritakan betapa sesaknya ia merasa terkurung di dalam ruangan ini. Namun, bayangan peringatan Davin tentang Amara kembali berputar di kepalanya seperti rekaman kaset rusak.
“Teman kayak Amara itu cuma bakal bikin pikiran kamu terpengaruh...”
Ketukan kedua terdengar, sedikit lebih tegas dari sebelumnya.
"Kei? Aku tahu kamu di dalam. Lampunya nyala, tuh," suara Amara terdengar lirih dari balik pintu, ada nada cemas dan lelah di sana. "Aku gak lama, Kei. Cuma mau ngasih titipan kue basah dari mamaku sekalian mau lihat kamu sebentar. Buka pintunya, ya?"
Keira berdiri mematung di balik pintu. Tangannya sudah menyentuh selot kunci besi, hendak membukanya. Namun rasa takut yang dipelihara berminggu-minggu mendadak menahan gerakannya.
Ia takut Amara akan kembali menasihatinya, bertanya macam-macam, lalu membuat Davin murka jika sampai tahu sahabatnya itu datang lagi.
"Kei...?" panggil Amara sekali lagi, kali ini terdengar ragu.
Keira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa sakit. Air mata hangat tanpa sadar menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa menjadi pengecut paling besar di dunia menghindari sahabat yang tulus menyayanginya demi bersembunyi di balik rasa aman palsu yang diberikan oleh kekasihnya.
"Maaf, Mar..." bisik Keira sangat pelan, nyaris tanpa suara, seolah ia takut Amara bisa mendengarnya dari luar. "Aku lagi tidur... Tolong jangan ke sini lagi..."
Di luar pintu, suasana mendadak hening selama beberapa detik. Tidak ada lagi ketukan. Tidak ada lagi suara panggilan.
Keira menempelkan dahinya ke daun pintu kayu yang dingin. Dari celah bawah pintu, ia bisa melihat bayangan kaki seseorang berbalik arah, lalu melangkah pergi menjauh menyusuri koridor kos.
Setiap langkah kaki Amara yang menjauh terasa seperti putusnya satu demi satu tali penanda kewarasan Keira dengan dunia luar. Ia merosot perlahan, duduk bersimpuh di lantai di balik pintu yang terkunci rapat, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis dalam senyap.
Tidak ada suara isakan keras. Ia hanya membiarkan air mata itu mengalir deras, membasahi pipinya yang tirus. Di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu, Keira akhirnya benar-benar sendirian bukan karena dunia meninggalkannya, melainkan karena ia sendiri yang dengan sukarela menutup semua pintu keluar.