NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salju, Secangkir Cokelat Panas, dan Ketukan di Pintu

Musim dingin di London tahun ini terasa jauh lebih menggigit daripada biasanya. Butiran salju putih menumpuk tebal di ambang jendela apartemen Martha, mengubah pemandangan kota menjadi hamparan monokrom yang sunyi. Di dalam ruangan yang dihangatkan oleh radiator tua, Martha duduk meringkuk di atas sofa beludru merah kesayangannya. Di pangkuannya, sebuah laptop menyala menampilkan draf naskah bab terakhir bukunya yang hampir rampung.

Judul buku itu sudah diputuskan: The Javanese Resonance. Dan di setiap halaman bab terakhirnya, nama Adnan Bagas Setiawan terselip secara implisit—menjadi napas, jiwa, dan inspirasi utama dari seluruh perjalanan transformatifnya di Indonesia.

Namun, menulis tentang rindu ternyata jauh lebih melelahkan daripada merasakannya.

Sudah tiga hari terakhir, komunikasi antara Martha dan Adnan sedikit tersendat. Pria itu sibuk dengan proyek restorasi ukiran kayu tradisional di pedalaman Jawa Tengah, membuat jadwal panggilan video mereka terpaksa ditunda berulang kali. Meskipun Martha mengerti betul kesibukan Adnan, rasa sepi tetap merayap mengisi celah-celah kosong di apartemennya. Kesibukan kota London yang biasanya terasa dinamis kini berubah menjadi kebisingan hampa yang menyiksa.

Martha mengembuskan napas panjang, mengistirahatkan jemarinya dari papan tik. Ia bangkit dari sofa, berniat menyeduh secangkir cokelat panas untuk meredakan dingin yang menusuk tulang. Baru saja ia melangkah mendekati dapur kecilnya, suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring memecah keheningan sore itu.

Ding-dong!

Martha mengernyitkan dahi. Siapa yang datang bertamu di tengah badai salju seperti ini? Pengantar pos? Ataukah tetangganya yang ingin meminjam payung?

Dengan langkah malas dan mantel tipis yang dirapatkan ke tubuhnya, Martha berjalan ke arah pintu utama. Ia memutar kunci pengaman, lalu menarik gagang pintu dan membukanya selebar setengah bagian.

"Maaf, paket atau surat bisa diletakkan di... "

Kalimat Martha mendadak tercekat di tenggorokan.

Sosok yang berdiri di balik pintu bukanlah seorang kurir pos berjaket tebal, ataupun tetangganya yang ramah. Di hadapannya kini, berdiri seorang pria berbalut mantel wol hitam panjang yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Syal rajut wol abu-abu melilit rapi di lehernya. Salju tipis tampak menempel di bahu mantel dan helai rambut hitam pria itu.

Namun, bukan mantel atau salju yang membuat bola mata Martha membelalak tak percaya. Melainkan wajah itu. Wajah yang selama berbulan-bulan hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel berukuran lima inci yang dingin.

Adnan Bagas Setiawan.

Pria itu berdiri tegak di ambang pintu apartemen London, tersenyum kecil dengan tatapan teduh yang sama persis seperti saat pertama kali mereka bertabrakan di pematang sawah Ubud.

Martha berdiri mematung. Otaknya menolak bekerja, mengira ia sedang berhalusinasi akibat terlalu lelah merangkai kata-kata di depan laptop. Ia mengerjap-ngerjap berkali-kali, mencubit pelan lengannya sendiri untuk memastikan apakah ini mimpi.

"Adnan...?" bisik Martha lirih, suaranya bergetar hebat, nyaris tak terdengar di tengah deru angin dingin koridor apartemen. "Kau... apa yang kau lakukan di sini? Ini di London. Di luar sedang turun salju lebat..."

Adnan tersenyum semakin lebar. Suara baritonnya yang tenang dan lembut mengalun meredupkan bisingnya kota di luar sana.

"Mulih, nanging ora kelangan," ucap Adnan mengulang kalimat yang pernah ia ucapkan di bandara Bali beberapa bulan lalu. Pria itu melangkah maju satu langkah kecil mendekati pintu. "Dan kali ini, saya memilih untuk datang, bukan sekadar menunggu."

Pertahanan diri Martha runtuh seketika. Air mata hangat langsung meleleh menuruni pipinya, bukan karena sedih, melainkan karena gelombang kebahagiaan luar biasa yang menghantam dadanya tanpa peringatan. Tanpa memedulikan udara dingin yang menyelinap masuk ke dalam apartemen, Martha langsung melompat menerjang tubuh Adnan, memeluk leher pria itu erat-erat.

Adnan menyambut pelukan itu dengan sigap. Kedua tangan kokohnya melingkar sempurna memeluk pinggang Martha, mengangkat tubuh wanita itu sesaat sebelum membenamkan wajahnya di ceruk leher Martha yang beraroma vanila. Tubuh Adnan yang hangat menyalurkan panas yang langsung mengusir gigitan musim dingin London.

"Kau gila," bisik Martha di sela-sela isak tangis bahagianya, memukul pelan punggung mantel Adnan. "Bagaimana bisa... kau ke sini? Kenapa tidak memberitahuku?"

"Kalau saya beri tahu, namanya bukan kejutan," jawab Adnan lembut, tawanya yang renyah bergetar di dada bidang pria itu. Adnan melonggarkan pelukan mereka perlahan, lalu menggunakan kedua tangannya yang hangat untuk menangkup wajah Martha yang basah karena air mata. Ibu jari kasarnya dengan telaten menghapus jejak air mata di pipi wanita itu. "Proyek saya di Jawa sudah selesai lebih cepat. Dan saya sadar, ada satu bab paling penting dalam hidup saya yang belum saya selesaikan di sini... bersama penulisnya."

Martha tertawa di tengah tangisannya. Ia meraih tangan Adnan yang masih menangkup pipinya, mengecup telapak tangan pria itu sekilas sebelum menariknya masuk ke dalam apartemen.

"Masuk, cepat masuk! Di luar dingin sekali, kau bisa membeku!" seru Martha panik bercampur gemas, menutup pintu apartemen rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.

Suasana apartemen yang tadinya terasa sepi dan muram kini seketika berubah menjadi hangat begitu kehadiran Adnan mengisi setiap sudut ruangannya. Pria itu melepas mantel tebal dan syal rajutnya, menggantungkannya di dekat pintu, sementara Martha sibuk menyiapkan secangkir cokelat panas dengan taburan marshmallow di atasnya—minuman khas musim dingin untuk menyambut tamu paling istimewa yang pernah datang ke hidupnya.

Saat Martha menyerahkan cangkir uap mengepul itu ke tangan Adnan di dekat jendela yang menghadap ke jalanan bersalju, Adnan menerimanya dengan senyuman penuh terima kasih. Mereka duduk berdampingan di sofa beludru merah. Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga Martha bisa mencium aroma kayu cendana bercampur udara dingin salju yang melekat di tubuh pria itu.

"Jadi," ucap Martha memulai percakapan, matanya masih menatap Adnan dengan takjub seolah pria itu adalah keajaiban dunia yang baru ditemukan, "berapa lama kau akan di sini, Adnan? Dan... bagaimana dengan adat keluargamu di Solo? Apakah mereka mengizinkanmu merantau sejauh ini ke Eropa?"

Adnan menyesap cokelat panasnya perlahan, lalu menaruh cangkir itu di atas meja kayu. Ia menoleh, menatap Martha lekat-lekat dengan sorot mata yang memancarkan keteguhan mutlak.

"Keluarga saya mengajarkan satu hal penting, Martha: hormat pada tradisi tidak berarti menutup pintu pada masa depan," jawab Adnan tenang, jemarinya perlahan terulur untuk menggenggam jemari Martha yang dingin di atas pangkuan wanita itu. "Dan mengenai berapa lama saya di sini... saya tidak membawa tiket pulang dalam waktu dekat. Saya ingin melihat bagaimana salju turun di kota asalmu, berjalan-jalan di sepanjang Sungai Thames bersamamu, dan yang paling penting..."

Adnan berhenti sejenak, membuat napas Martha tertahan di tenggorokan.

"...saya ingin mendengar langsung bab terakhir dari buku yang sedang kau tulis itu," sambung Adnan dengan suara baritonnya yang merdu, diiringi senyuman paling manis yang pernah Martha lihat seumur hidupnya.

Di bawah langit London yang bersalju lebat, dua dunia yang tadinya terpisahkan oleh samudra, perbedaan adat, dan ribuan mil jarak kini melebur dalam satu titik temu yang sempurna—membuktikan bahwa cinta, dengan segala kesabaran dan keyakinannya, selalu menemukan jalan pulang.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!