NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KITA HADAPI BARENG-BARENG.

Malam itu udara terasa beda — dingin, tapi gue nggak gemetar karena suhu. Gue berdiri di pojok gelap, jantung deg-degan kencang banget, mata gue nggak lepas dari Arka yang berdiri di depan semua orang.

Suasana di tempat itu hening, berat. Di hadapannya ada sekelompok orang yang gue nggak kenal — tatapan mereka tajam, dan nggak ramah.

"Keputusan gue nggak berubah," suara Arka terdengar tegas, tenang tapi bikin merinding. "Gue nggak akan biarkan kalian campur urusan yang bisa nyakiti orang nggak bersalah."

Salah satu dari mereka tertawa kasar. "Lo pikir lo siapa, Arka? Pemimpin hebat? Kalau lo nggak mau ikut, berarti lo lawan kami juga."

Arka berdiri tegak, nggak mundur sedetik pun. "Kalau itu jalannya, iya."

Gue nahan napas. Tangan gue berkeringat dingin. Gue tahu dia kuat, tapi lawan mereka sendirian… tetap berbahaya.

Tiba-tiba orang itu melangkah maju, tangan dikepal. Arka siap menangkis, tapi sebelum itu terjadi — gue melangkah keluar dari tempat sembunyi.

"Jangan sentuh dia!" teriak gue keras banget. Semua mata langsung beralih ke arah gue.

Arka menoleh kaget, matanya melebar. "Luna?! Lo janji tetap di belakang!"

"Gue janji nggak ikut campur urusan kalian," gue melangkah mendekat, suaranya gemetar tapi gue paksa mantap. "Tapi gue nggak bisa diam lihat lo diserang sendirian!"

Orang-orang itu menatap gue sinis. "Cewek kecil ini siapa? Teman mainmu, Arka?"

"Jangan sentuh dia," Arka melangkah di depan gue, melindungi sepenuhnya. Suaranya dingin banget, penuh ancaman yang nyata. "Dia bukan bagian dari ini. Kalau kalian berani sakiti dia, kalian berhadapan sama gue — sepenuhnya."

Gue tarik lengan Arka pelan, lalu berdiri di sampingnya, bukan di belakang. "Gue mau dengar semuanya. Gue bukan beban yang harus lo sembunyiin, Arka. Gue di sini karena gue mau."

Arka menatap gue, ada kekhawatiran di matanya — tapi juga rasa bangga yang pelan muncul. Dia mengangguk pelan, lalu meremas tangan gue erat.

"Baiklah. Kalau lo mau di sini… tetap di samping gue, jangan pergi ke mana-mana."

Pembicaraan berlanjut, tapi kali ini gue ada di sana. Gue dengar semuanya — soal perlindungan, soal kesepakatan, soal ancaman yang selama ini Arka tanggung sendirian. Ternyata beban di pundaknya jauh lebih berat dari yang gue bayangin.

Saat mereka pergi, suasana seketika hening. Arka langsung menoleh ke gue, tangannya memegang bahu gue.

"Lo gila ya?!" suaranya tinggi, campur marah sama lega. "Lo nggak tahu seberapa berbahaya nya tadi!"

"Gue tahu," jawab gue tenang. "Tapi gue lebih takut lo hadapi sendirian."

Dia terdiam, menatap gue lama sekali. Lalu perlahan menarik gue ke pelukannya — erat, seakan tak mau lepas.

"Terima kasih," bisiknya di telinga gue. "Tapi tolong… lain kali jangan lakukan itu lagi. Gue nggak sanggup kalau sesuatu terjadi sama lo."

Gue peluk balik erat. "Kalau gitu jangan simpan semuanya sendirian. Kita hadapi bareng, ingat?"

Dia mengangguk di bahu gue. "Iya. Bareng."

Kita pulang malam itu berpegangan tangan erat banget, nggak peduli siapa yang lihat. Jarak yang selama ini ada di antara kita… mulai menyusut. Bukan hilang sepenuhnya, tapi sekarang kita berdua yang menahan jarak itu biar nggak makin lebar.

Tapi gue tahu — ini belum selesai.

Keesokan harinya di sekolah, bisik-bisik mulai terdengar. Ada yang lihat kita kemarin. Ada yang mulai bertanya. Dan di antara keramaian, gue lihat Kirana berdiri menatap tajam ke arah kita — senyumnya nggak muncul sama sekali.

Arka meremas tangan gue pelan. "Jangan dengerin mereka. Kita tahu kebenarannya."

Gue senyum, kali ini lebih tenang. "Gue tahu. Gue sama lo, kan?"

Dia tersenyum — senyum yang hangat, nyata, dan cuma buat gue. "Iya. Sama lo.

JANGAN LUPA BUAT VOTE, LIKE, SUBSCRIBE DAN KOMEN YAHH (*≧▽≦)ツ 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!