NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Pagi itu kabut tipis masih menempel di kaca jendela mobil tua kesayanganku. Mesin sedikit bergetar, suara knalpot terdengar kasar, tapi aku tetap menyetir tenang.

Tak ada rencana buat jadi orang lain hari ini. Tak ada keinginan buat tampil lebih dari apa yang aku punya. Aku cuma mau jadi Maxy — yang sederhana, yang kadang ragu, yang apa adanya.

Mobil parkir di tempat biasa, agak jauh dari gerbang. Aku turun, merapikan kemeja yang sudah kucuci berulang kali, sepatu yang solnya mulai tipis. Napasnya teratur. nggak perlu terlihat hebat. Cuma perlu jujur.

Langkahku pelan menuju pintu masuk. Dan di sana, di bawah pohon rindang dekat halaman parkir, Shella berdiri. Menunggu.

Bukan menunggu seseorang yang tampan atau kaya. Tapi menungguku, Maxy...

"Pagi, Maxy..." sapa Shella duluan. Senyumnya lembut, sama seperti biasanya, tapi ada sesuatu yang beda di tatapannya. Lebih tenang. Lebih dekat.

"Pagi, Shella. Udah lama di sini?" jawabnya pelan, gak berusaha terdengar lebih percaya diri dari biasanya.

"Baru sebentar. Tadi lihat mobil kamu masuk." Aku melangkah berdampingan dengannya masuk ke gedung. "Kamu kelihatan segar pagi ini."

Maxy tersenyum tipis. "Biasa saja kok. Mungkin tidurku saja yang cukup. Hehehe"

"Justru itu..." Shella menatap lurus ke depan.

Suaranya pelan tapi jelas. "Orang yang tenang di dalam hatinya, kelihatan beda. Nggak perlu pakaian mahal atau mobil mewah buat kelihatan baik. Cukup jadi diri sendiri." lanjutnya

Aku terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa menyentuh tepat, di tempat yang selama ini kusembunyikan.

Sepanjang pagi, aku bekerja seperti biasa. Menyusun berkas, menjawab telepon, membantu rekan kerja yang butuh bantuan. Nggak ada yang istimewa, nggak ada yang luar biasa. Aku cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dengan teliti, dengan jujur.

Tapi Shella memperhatikanku.

Dari mejanya, dia melihat bagaimana aku mendengarkan orang lain. Bagaimana aku nggak memotong pembicaraan. Bagaimana aku minta maaf kalau salah, dan nggak menyalahkan orang lain.

Bagaimana aku tersenyum sopan pada siapa pun, dari satpam sampai manajer.

Siang, saat makan siang, Shella mendekat ke mejaku.

"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya lembut.

"Tentu saja," jawabku sopan sembari menggeser kursi sedikit memberi ruang.

Kami makan sederhana — nasi bungkus di meja kerja. nggak ada hidangan mewah, gak ada tempat mahal. Cuma dua orang, berbagi waktu istirahat.

"Maxy..." panggil Shella sembari mengduk gelasnya, lalu menatapku.

"Kamu ingat nngak waktu di pantai kemarin?" tanya Shella.

"Ingat. Bagus banget ya?" jawabku singkat

"Iya. Tapi yang paling aku ingat bukan pemandangannya. Bukan juga makanannya." Dia menunduk sebentar, lalu menatap lurus ke mataku.

"Itu kamu. Kamu yang duduk di samping aku, dengerin aku cerita, ketawa sama aku, walaupun kamu kelihatan kadang gak percaya diri. Itu yang bikin aku senang banget." ucap Shella penuh kebahagiaan.

"Gluk" Aku menelan ludah.

"Aku...?! aku cuma orang biasa, Shella. Banyak kekurangan. Banyak hal yang gak bisa aku kasih." balasku pelan.

"Siapa yang bilang kamu harus kasih semuanya?" Shella tersenyum lembut.

"Yang aku butuh cuma kamu ada di sini. Dengerin aku. Peduli sama aku. Itu udah lebih dari cukup." jawab Shella tegas.

Belum sempat Aku menjawab, bayangan gelap menutupi meja kami. Pak Arif berdiri di samping, wajahnya tegang.

"Shella, saya mencari-cari kamu tadi," suaranya tajam.

"Kenapa makan di sini? Ikut saya, ada restoran enak di seberang jalan." ajak Arif penuh keangkuhan.

"Makasih, Pak. Saya sudah makan sama Maxy," jawab Shella tenang, gak menunduk, gak menghindar.

Arif menatapku dari atas sampai bawah, seolah menilai pakaian sederhananya.

"Dengan dia? Di sini?" ucap Arif yang seakan merendahkan.

"Shella, kamu ini wanita yang cerdas. Jangan buang waktu sama orang yang bahkan gak bisa menawarkan kehidupan yang layak." lanjut Arif.

Aku merasakan panas naik ke wajahku. Bukan karena marah, tapi karena malu. Tapi aku gak mundur. Nggak berusaha jadi Roxy. Aku tetap aku, Maxy...

"Pak Arif..." ucapku pelan tapi tegas.

"Tolong bicara sopan sama Shella. Dan sama saya." lanjutku masih dengan nada yang sama.

"Haha" Arif tertawa pendek, sinis.

"Kamu bicara sama saya begitu? Kamu siapa, hah? Pegawai rendahan yang gak punya apa-apa?" ucap Arif dengan nada menghina.

"Saya memang gak punya banyak, Pak. Tapi saya punya rasa hormat. Dan saya menghormati Shella sebagai wanita yang berhak memilih dengan siapa dia mau makan, berbicara, atau menghabiskan waktunya."

Aku menatap lurus ke mata Arif, tidak memalingkan wajah.

"Itu hak dia. Bukan hak siapa pun untuk mengatur atau merendahkan pilihannya." lanjutku penuh ketegasan.

Arif terdiam sejenak, terkejut mendengar jawaban yang tenang tapi tegas itu. Dia siap menerima pembantahan, siap menerima pembelaan yang emosional. Tapi bukan ketenangan seperti ini.

"Kamu pikir kamu siapa?" geram Arif pelan.

"Saya cuma Maxy. Orang biasa. Tapi saya tahu apa yang benar dan apa yang salah." aku nggak meninggikan suara, nggak mengancam, cuma menyatakan kenyataan.

"Shella wanita dewasa, Dia bisa mendapatkan kekuatan atau uang dengan usahanya sendiri."

Dia cuma butuh dihormati. Dan kalau Bapak gak bisa menghormatinya, tolong jangan ganggu dia." imbuhku sedikit mengeraskan suara.

Suasananya hening. Beberapa rekan kerja melirik dari meja lain. Shella duduk di samping, diam, menatap Maxy lekat-lekat. Matanya berbinar pelan.

Arif mengepalkan tangan, ingin berkata sesuatu, tapi melihat tatapan Maxy yang tenang dan tak tergoyahkan, dia akhirnya mendengus kasar dan berjalan pergi.

"Kamu..." Shella memecah keheningan, suaranya lembut tapi bergetar. Dia menatap Maxy, seolah baru benar-benar melihatnya.

"Terimakasih Maxy" ucap Shella lembut.

"Huuuft" Aku menghela napas panjang, tersenyum tipis. "sama-sama Shella."

"Ini lebih dari segalanya." Shella tersenyum tulus, senyum yang sampai ke matanya.

Sore harinya, saat pekerjaan hampir selesai, Shella datang ke mejaku. Dia meletakkan secarik kertas kecil di atas tumpukan berkas.

"Terimakasih hari ini sudah banyak membantuku Maxy"

Aku tersenyum membaca tulisan itu, lalu ku ambil kertas itu, "Srek" melipatnya pelan dan memasukkan ke saku paling dalam.

Tiba-tiba pandanganku sedikit berkedip. Notifikasi muncul samar di sudut pandang, nggak menimbulkan suara, dan tak mengganggu siapa pun.

DING!

PEMBERITAHUAN SISTEM

Hubungan dengan Maxy: 52% (+4%)

Hubungan dengan Roxy: 51% (Tetap)

Sumber: Shella mulai membandingkan secara sadar. Perlindungan yang tenang, jujur, dan apa adanya dirasakan lebih nyata daripada kemewahan dan kekuatan. Maxy gak berpura-pura, gak mengubah diri, gak menjanjikan apa-apa yang di luar kemampuannya — dan justru itulah yang membuat Shella merasa aman.

Aku menatap angka itu. Bukan lompatan besar. Bukan kemenangan instan. Tapi naik. Perlahan. Nyata.

Aku nggak perlu jadi Roxy untuk dicintai. Aku gak perlu tampil hebat untuk melindungi. Aku hanya Maxy.

Langit di luar mulai berubah warna, jingga keunguan menyebar lembut. Shella membereskan barang-barangnya, sesekali melirik ke arahku. Saat mata kami bertemu, dia tersenyum. — senyum yang hangat, tak tersembunyi, tak ragu.

Aku tersenyum balik. Bukan senyum yang berusaha menyenangkan siapa pun. Cuma senyumku sendiri.

Dan di saat itu, Aku sadar: perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan melawan Arif. Bukan melawan waktu. Tapi melawan keraguan di dalam diriku sendiri — keraguan apakah dirinya yang sederhana ini cukup untuk dicintai.

Dan jawabannya perlahan datang, bukan dari sistem, bukan dari orang lain. Dari mata Shella yang menatapku, tenang dan pasti.

Dan itu cukup....!

1
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!