NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Arhan masih memegang ponsel di telinganya. Suara ayahnya masih menggema di ruangan yang sepi itu, bahkan setelah kalimat tajam itu selesai diucapkan.

" Arhan! Mau sampai kapan kamu merawat istrimu yang penyakitan itu?"

Tidak ada jeda untuk bernapas. Nada itu sama seperti dulu, nada yang selalu membuat Arhan merasa tidak pernah cukup benar dalam melakukan apapun.

Arhan menatap pintu kamar yang terbuka. Dari celah itu ia bisa melihat Anya terlelap, selimut naik turun dengan pelan. Ia menurunkan volume suaranya, agar tidak membangunkan istrinya.

"Ayah, jangan bicara seperti itu," kata Arhan pelan, tapi tegas. "Anya istriku."

Di seberang, ayahnya tertawa pendek, tawa yang tidak ada humor di dalamnya.

"Istri? Arhan, kamu lihat dirimu sendiri. Kamu itu pewaris Ayah, yang seharusnya mengurus perusahaan keluarga, bukan memilih jadi penulis dan menghabiskan waktu untuk rumah sakit, untuk obat, untuk perempuan yang bahkan dokter sudah angkat tangan," kata ayahnya.

Arhan mengepalkan tangannya yang bebas. Kuku-kukunya menekan telapak tangan. Ia butuh rasa sakit kecil itu untuk menahan rasa sakit yang lebih besar. Arhan ingat betul bagaimana dulu ayahnya selalu mengukur keberhasilan dengan angka, dengan piala, dengan jabatan. Tidak pernah dengan hati. Tidak pernah dengan berapa lama seseorang bertahan untuk orang yang ia cintai.

"Aku tidak menghabiskan waktu, Ayah. Aku merawat orang yang aku sayang," jawab Arhan. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan marah yang sudah lama ia simpan.

"Sayang?" ayahnya mengulang. "Kamu pikir sayang itu cukup? Kamu pikir sayang bisa bayar tagihan rumah sakit? Kamu pikir jadi penulis dan menikahi Anya itu akan membuatmu hidup layak? Ayah sudah siapkan semuanya untukmu sebagai pewaris, tapi kamu buang itu demi mimpi yang tidak jelas dan perempuan yang sakit-sakitan."

Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang paling rapuh. Arhan memejamkan mata. Ia ingat masa kecilnya, saat nilai rapotnya selalu dibandingkan, saat setiap mimpinya menjadi penulis dianggap buang waktu, saat ia pertama kali membawa Anya ke rumah dan ayahnya hanya diam dengan tatapan menilai.

"Ayah tidak pernah mengerti," kata Arhan lirih.

"Ayah mengerti. Ayah justru terlalu mengerti. Ayah tidak mau kamu menyesal seumur hidup karena bertahan pada sesuatu yang sudah jelas ujungnya," kata ayahnya, kali ini suaranya sedikit melunak, tapi tetap dengan logika yang dingin.

Arhan menghela napas panjang. Ia menatap lily putih yang memar di atas meja. Bunga itu masih berdiri meski kelopaknya sudah terluka.

"Ujungnya bukan urusan Ayah," kata Arhan. "Yang Ayah lihat hanya sakitnya. Ayah tidak pernah lihat bagaimana Anya bertahan setiap hari, bagaimana dia masih mencoba tersenyum meski tubuhnya sakit."

Di ujung telepon, terdengar helaan napas panjang.

" Arhan," kata ayahnya. "Pulanglah. Kembali ke rumah. Kamu bisa mulai lagi dari awal di sini. Tinggalkan semua ini. Anya punya orang tuanya, biar mereka yang urus."

Itu kalimat yang paling Arhan takutkan. Kalimat yang selama ini ia tahu akan datang.

"Aku tidak akan meninggalkan Anya," kata Arhan. Suaranya kini lebih tenang, lebih mantap. "Tidak akan pernah. Bahkan jika besok adalah hari terakhirnya, aku akan tetap di sini. Aku sudah memilih, Yah. Aku memilih Anya."

Hening. Hanya terdengar napas dari seberang.

"Kamu keras kepala sama seperti ibumu, selalu memilih jalan yang Ayah tidak setujui," kata ayahnya akhirnya.

"Ibu mengajarkan aku untuk tidak meninggalkan orang yang aku cintai," jawab Arhan.

Percakapan itu berhenti di sana. Ayahnya menutup telepon tanpa salam, tanpa pamit. Hanya bunyi yang panjang, dingin.

Arhan menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya masih gemetar. Ia meletakkan ponsel di atas meja, menatap layar yang sudah gelap. Dadanya naik turun, mencoba mengatur napas yang terasa berat.

Ruangan kembali sepi. Hanya suara jam dinding dan napas Anya dari kamar. Malam mulai turun di luar. Lampu teras menyala otomatis, cahayanya masuk melalui celah gorden. Rumah kecil itu terasa lebih hangat dengan keberadaan Anya yang tertidur di dalam, meski hatinya baru saja diaduk.

Arhan menarik kursi dan duduk kembali. Bahunya terasa berat. Ia menatap laptop yang masih menyala di depannya. Naskah yang ia tulis tentang bunga, wanita periang. Dan tidak pernah merasakan kesakitan.

Ia tidak menulis untuk orang lain. Ia menulis untuk dirinya sendiri, untuk Anya, untuk hari-hari yang masih mereka punya bersama, entah berapa lama pun itu.

Dari kamar, terdengar suara pelan, hampir seperti gumaman.

"Han..."

Arhan langsung menoleh. Anya sudah terbangun, matanya setengah terbuka, mencari sosok suaminya. Wajahnya masih pucat, rambutnya berantakan karena tidur.

Arhan segera bangkit dan masuk ke kamar, duduk di tepi kasur.

"Iya An, aku di sini," kata Arhan sambil meraih tangan Anya. Tangan itu dingin.

Anya mengerjap pelan, tatapannya kosong sejenak lalu fokus kembali pada Arhan.

"Aku mimpi," kata Anya dengan suara serak. "Mimpi kamu pergi. Mimpi kamu ninggalin aku di rumah ini sendirian."

Arhan terdiam. Kalimat itu seperti menjawab telepon dari ayahnya tadi.

"Enggak, An. Aku di sini. Aku enggak kemana-mana," kata Arhan cepat.

Anya menatap Arhan lama, matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar.

"Han, kamu nyesel enggak nikah sama aku?" tanya Anya tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi setiap katanya jelas.

Arhan terkejut. "Kenapa ngomong gitu?"

"Karena aku sakit terus, Han. Karena hidup kamu jadi berat gara-gara aku. Semua orang pasti bilang kamu salah pilih istri," kata Anya. Air matanya mulai mengalir, jatuh ke bantal.

Arhan menggeleng dengan cepat, menggenggam tangan Anya lebih erat.

"Dengerin aku, An," kata Arhan, suaranya hampir berbisik tapi penuh. "Sejak pertama kali aku lihat kamu, aku enggak pernah mikir kamu beban. Kamu itu rumah aku. Kalau kamu sakit, ya aku yang rawat. Kalau kamu takut, ya aku yang temenin. Enggak ada yang salah dari pernikahan kita."

Anya menangis pelan, bahunya bergetar.

"Tapi aku takut, Han. Aku takut kamu capek. Aku takut lama-lama kamu benci sama aku karena aku enggak bisa jadi istri yang normal," kata Anya.

Arhan menunduk, mengecup punggung tangan Anya, lama.

"An, dengerin," kata Arhan. "Aku memilih jadi penulis karena aku ingin jujur sama hati aku. Dan aku memilih kamu karena kamu satu-satunya kejujuran yang aku punya. Dua hal itu yang mambuat siapapun enggak pernah ngerti. Jadi jangan pernah bilang aku nyesel. Satu-satunya yang aku sesali adalah aku enggak bisa bikin sakit kamu hilang."

Anya terisak. Ia menarik tangan Arhan dan menempelkannya di pipinya yang basah.

"Peluk aku, Han," kata Anya.

Arhan mengangguk. Ia naik ke atas kasur, berbaring di samping Anya, tidak terlalu dekat agar tidak menyakiti panggulnya yang masih terasa nyeri. Satu tangannya memeluk Anya dari samping, pelan dan hati-hati.

Anya menyandarkan kepalanya di dada Arhan. Ia mendengarkan detak jantung suaminya yang masih berdetak cepat, tidak beraturan karena sisa telepon tadi.

"Jangan tinggalin aku ya, Han. Bahkan kalau aku sudah enggak bisa bangun lagi," bisik Anya di dadanya.

Arhan memejamkan mata. Matanya panas. Ia memeluk Anya sedikit lebih erat, menjaga agar pelukannya tidak menekan bagian yang sakit.

"Aku di sini, An. Sampai kapan pun. Kamu tidur aja. Aku jagain," kata Arhan.

Di luar kamar, laptop masih menyala. Kursor masih berkedip di halaman kosong. Di atas meja makan, lily putih yang memar itu masih berdiri, kelopaknya sedikit terkulai tapi masih putih, masih berusaha mekar meski sudah terluka.

Arhan menatap langit-langit kamar yang agak retak. Kata keajaiban dari Pak Hendra, kata-kata tajam dari ayahnya, dan tangisan Anya barusan berputar menjadi satu di kepalanya, berat.

Ia tidak tahu keajaiban itu akan datang dalam bentuk apa. Ia hanya tahu, malam ini ia tidak akan kemana-mana. Ia akan tetap di sini, di samping Anya, menjaga tidurnya, menjaga napasnya yang pelan, menjaga perempuan yang telah ia pilih di atas segalanya.

Dan mungkin, untuk malam ini, itu saja sudah cukup untuk bertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!