Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Wira Berulah
Bab 25
“Andin dan Cahaya itu putri kita, mas. Keturunan kita, keturunan Janitra. Hormati mereka. Bagaimana orang lain bisa hormat, kalau romonya …..”
“Kamu ingin aku bagaimana? Tertawa atau bangga dengan kelakuan mereka. Kita didik, kita sekolahkan di tempat yang baik. Lihat balasanya,” seru Wira kali ini nadanya tinggi dan penuh emosi.
Setelah diusir Wira, Diah menunggu di kamar. Tidak menunggu lama, saat suaminya muncul langsung dicecarnya.
“Mereka hanya protes, seharusnya sebagai orangtua kita paham. Walaupun mereka salah, tugas kita membimbing mereka, mas.”
Wira menghampiri Diah, mencengkram rahangnya. “Jangan menggurui aku. Semua salahmu dan rahimmu itu. Beruntung kita tidak bercerai dan aku tidak berikan madu untukmu demi putra laki-laki.”
Diah berusaha melepaskan tangan Wira.
“Cucu kita nanti tidak bisa menggunakan nama Janitra karena kamu.” Wira melepaskan cengkramannya seraya menghempas membuat Diah tersungkur. Wanita itu terisak sambil mengusap dad4. Selama mereka menikah, Wira selalu menunjukan sikap dominan dan otoriter. Namun, baru kali ini ia mendapatkan kekerasan dari suaminya itu.
Bukan hanya fisiknya yang terluka, hatinya berdenyut nyeri karena penghinaan Wira karena gagal memberikan anak laki-laki. Selama ini dia hanya pasrah dan diam, pun saat mertuanya selalu menyinggung hal itu.
“Jangan buat drama untuk skandal baru. Cukup kekacauan yang dibuat putri kesayangan mu itu.”
Wira meninggalkan kamar, menyisakan Diah masih terduduk di lantai dengan tangisnya. Tidak lama, Mbok Sinah. Pembantu paling senior yang sudah paruh baya memasuki kamar.
“Aduh gusti, bangun Ndoro.” Wanita mengajak Diah beranjak lalu mengarahkan ke ranjang.
“Mbok, aku … tidak berguna."
“Yang sabar, yang kuat. Cahaya butuh ndoro. Tidak ada yang tahu masa depan, manusia boleh berencana, tapi takdir yang punya kuasa.”
Diah menoleh menatap Mbok Sinah.
“Andin dan Cahaya masih butuh Ndoro Ajeng.” Mbok Sinah mengusap tangan Diah. "Yang sabar. Kita dengar sendiri, Cahaya akan dibawa pulang."
***
“Aku bosan di rumah mbak. Kamar, nonton tv, lihat tetangga pada ngasuh bocil. Gitu aja terus, aktivitas aku,” keluh Aya sambil menikmati ice cream stik. Berjalan bersama Andin menyusuri gang komplek tempat tinggalnya.
Andin mengajak Aya berjalan santai dan sempat mampir untuk sarapan.
“Ya sabar. Tinggal tunggu waktu cuti dokter Edward lalu kita pulang. Temui Romo sama Ibu.”
“Maksud aku bukan itu,” Aya melempar stik ke selokan dan menyeka bibirnya dengan jari. “Maksudnya aku mau kerja lagi.”
Andin menghela nafas. Ia tidak yakin seperti apa Romo akan bersikap saat mereka pulang nanti bersama Edward. Meski Cahaya dan Edward sudah yakin akan menikah tanpa restu orangtua mereka, sama seperti saat ia dan Mardani dulu. Namun, untuk kasus Cahaya ada yang masih mengganjal di hati Andin. Rencana ini tidak akan mudah, karena tinggal Cahaya harapan Romo untuk berbesan dengan keluarga yang dianggap setara.
“Itu nantilah kalian rundingkan bagaimana baiknya. Kita fokus dengan niat dokter Edward untuk melamar kamu. Aku tuh bingung, memanggil beliau apa ya. Mas, nggak pas. Abang, apalagi. Masa kakak.”
Aya terkekeh. “Makanya aku panggil dia om.”
“Itu sih ngaco. Tapi dia nggak marah ya, padahal kesannya tua banget,” seru Andin lagi, bibirnya berdecak mendapati Aya berjalan di pinggiran selokan. Salah langkah malah tercebur. Si bungsu yang manja, bersikap layaknya bocah.
Masih jam 9 pagi, terik mentari masih terasa sehat. Komplek jam segitu tidak ramai, sesekali ada pedagang lewat. Bubur ayam dan roti manis. Kediaman mereka masih berjarak sekitar 4 rumah lagi. Dari arah berlawanan, mobil terlihat melaju.
“Aya,” pekik Andin karena langkah gadis itu terpeleset. “Minggir sini Ay, nggak lucu kamu masuk selokan.”
Aya malah terkekeh. Andin menghentikan langkahnya mendapati mobil berjenis luxury mpv tadi berhenti tidak jauh, seorang pria turun dari kabin depan dan menghampiri mereka. Penampilannya rapi, dengan setelan kemeja berwarna gelap dan bawahan hitam. Terlihat tidak asing.
“Mbak Andin dan Mbak Cahaya.”
Aya menoleh pada Andin, seolah menanyakan siapa pria ini, tangannya ditarik Andin mendekat padanya.
“Iya, masnya siapa?” tanya Aya.
“Kami diutus Pak Wira untuk menjemput mbak berdua. Silahkan ikut kami.” Pria itu menggeser pintu, di kursi kemudi dan kabin belakang terisi oleh pria-pria lainnya.
“Kalian anak buah Pakde Argo,” seru Andin lalu melangkah mundur, begitupun dengan Aya.
“Nggih mbak. Sebaiknya mbak ikut kami, tidak usah melawan. Semua bisa dibicarakan baik-baik.”
“Dengan mencegat kami, itu bukan cara yang baik. Pergi atau kami teriak,” ancam Aya.
“Maaf mbak, sebaiknya mbak patuh. Jangan sampai kami menggunakan kekerasan.”
“Kalian saja yang pergi! Ini bukan wilayah kalian.”
Aya dan Andin berbalik. Dari belakang mereka menghampiri dua pria dengan setelan casual.
“Mundur mbak, biar ini kami yang handle.”
Aya menarik Andin menjauh. Entah siapa mereka, yang jelas berada dipihaknya. Terjadi perkelahian, Andin sudah berteriak minta tolong. Ada 2 motor datang, ikut menyerang dua pria yang menolong Aya dan Andin. Akhirnya kalah telak. Para tetangga yang keluar tidak berani mendekat, apalagi hanya ibu rumah tangga. Takut terluka dengan keributan itu. Penjaga keamanan tidak bisa membantu banyak karena jumlah penyerang lebih banyak.
“Mari ikut kami.” salah satu pria menarik Aya.
“Heh, lepas!” teriak Aya.
“Aya,” pekik Andin berusaha mengejar Aya. Namun, dihalangi. Aya dibawa masuk ke dalam mobil yang berlalu melaju cepat.
“Aya,” teriak Andin lagi. Pengendara motor pun ikut pergi saat kedua pria pelindung Aya dan Andin sudah tidak berdaya. Dengan tangan gemetar, panik dan menangis, Andin mengeluarkan ponselnya. Menghubungi sang suami lalu menghubungi Edward.
“Dok, Aya, dok. Dia dibawa orang, suruhannya Romo.”
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣