Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sementara itu di sebuah kamar hotel yang lain, nampak Rachel menggosok rambutnya dengan kesal. Rencana yang sudah ia susun dan seharusnya untuk mempermalukan Luna, berakhir dengan kegagalan dan malah memperlihatkan kebodohannya.
"Sial! Bagaimana bisa?" ucap Rachel dalam hati.
"Apa kau sudah kehilangan akal? Mengapa kau bodoh sekali Rachel? Harusnya hari ini aku mendapat hadiah 3% saham yang dijanjikan Luna untuk ku tepat di hari anniversary kami, tapi kau malah menghancurkannya?" pekik Arkan dengan kesal setelah mengganti setelan jas miliknya yang basah kuyup.
"Aku benar-benar minta maaf, seharusnya kejadiannya tidak seperti ini...aku..." ucap Rachel hendak menjelaskan namun langsung dipotong oleh Arkan yang terlihat begitu kesal karena ulahnya.
"Apa? Apa lagi yang mau kau katakan? Karena ulah mu ini aku jadi bahan tertawaan, mereka berpikir jika aku malah menyelamatkan mu dan mengabaikan Luna di sana. Tidak hanya itu, aku juga kehilangan 3% saham yang sudah Luna janjikan, apa kau belum mengerti juga akibat dari kebodohan mu itu?" pekik Arkan kembali sambil mendudukkan pantatnya di sofa sudut ruangan hotel tersebut.
Rachel yang mendapati amarah Arkan hanya bisa cemberut dan mengambil langkah kaki pelan mendekat ke arah Arkan.
Di amitnya perlahan lengan milik Arkan sambil bergelayut manja di sisinya.
"Aku minta maaf ya, aku janji ini yang terakhir... Aku akan coba menanyakan masalah saham ini kepada Luna besok, asalkan kamu jangan marah... Aku minta maaf." ucap Rachel dengan nada yang menggoda.
Arkan yang mendengar hal tersebut lantas nampak sedikit sumringah, diliriknya sekilas ke arah Rachel kemudian kembali membuang muka.
"Aku kan sudah minta maaf, jangan abaikan aku lagi... Aku benar-benar tidak bisa melihat kamu marah seperti ini." ucap Rachel kembali.
"Janji ya... Dan jangan ulangi lagi!" ucap Arkan pada akhirnya membuat seulas senyum terlihat mengembang di raut wajah Rachel kala itu.
Setelah keduanya berbaikan Rachel nampak terlihat begitu senang dan langsung mematut bibir Arkan tanpa aba-aba, sepertinya Rachel sudah tidak sabar melakukannya sedari tadi, hanya saja karena amarah Arkan barusan Rachel jadi urung melakukannya.
Tiada pria yang bisa tahan akan godaan sesaat termasuk juga Arkan, Arkan yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung menarik Rachel ke dalam pangkuannya dan mulai mencumbu setiap inci tubuh gadis itu dengan brutal.
***
Sementara itu di ruang istirahat
Sagara nampak terpaku dengan pertanyaan bertubi yang keluar dari mulut Luna. Entah apa yang harus ia jelaskan kepada Luna, namun yang jelas Luna tidak akan percaya jika Sagara mengatakan yang sebenarnya.
"Aku... Aku kebetulan ada meeting dengan klien penting di hotel ini, karena mendengar suara gaduh mangkanya aku datang dan melihat-lihat." ucap Sagara mencoba mencari alibi.
"Oh ya? Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang kamu yang tiba-tiba saja terjun ke dalam air dan menyelamatkan Rachel?" ucap Luna kembali bertanya.
"Karena aku mengira jika yang jatuh ke dalam kolam renang itu adalah kamu, jadi tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam air. Sayangnya siapa yang mengira jika yang terjatuh di sana bukannya kamu tapi hanya Rachel." ucap Sagara tanpa sadar terlalu menjelaskan secara detail kejadian yang seharusnya tidak seorang pun tahu tentang hal ini, kecuali Luna yang telah diberi kesempatan hidup kembali.
"Tunggu sebentar...darimana kamu bisa tahu jika harusnya aku juga jatuh ke dalam air? Apa jangan-jangan kamu juga hidup kembali Saga? Katakan yang sejujurnya kepadaku tanpa ada yang ditutup-tutupi?" ucap Luna kemudian.
"Hidup kembali? Apa sih? Aneh banget tahu... Mana ada hal yang seperti itu? Aku hanya percaya fakta bukan ilusi, jadi berhenti membahas hal yang di luar nalar seperti ini?" ucap Sagara sambil tertawa mengejek.
"Berhenti tertawa! Baiklah jika kamu tidak hidup lagi, lalu bagaimana kamu menjelaskan hal itu?" ucap Luna kembali bertanya.
"Luna Luna.. Untuk apa penjelasan, bukankah semuanya sudah jelas? Siapa yang tidak mengenal sifat bucin mu itu, kamu tanyakan semua orang pun jawabannya tetap akan sama. Aku hanya takut kamu bodoh dan berpura-pura ikut masuk ke air demi di selamatkan oleh Arkan, atau jika tidak kamu ingin melihat seberapa dalam cinta Arkan kepadamu, akankah Arkan akan memilih menyelamatkan mu atau malah menyelamatkan Rachel. Bukankah begitu Luna?" ucap Sagara panjang kali lebar yang lantas membuat Luna memutar bola matanya dengan jengah.
"Baiklah baiklah masuk akal juga, tapi satu hal yang perlu aku tekankan kepadamu bahwa aku tidak sebodoh itu, apa kau sudah mengerti sekarang?" ucap Luna dengan nada yang kesal.
Mendengar hal tersebut Sagara hanya tersenyum, kemudian membawa langkah kakinya semakin dekat ke arah Luna lagi dan lagi. Hingga membuat Luna pada akhirnya tersudut dan tidak bisa bergerak.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Luna dengan raut wajah terkejut.
"Aku tidak percaya jika seorang pengagum rahasia bisa berubah dalam waktu semalam. Arkan terlalu masuk dan kau puja setiap detiknya, jadi mustahil jika kamu mendadak berubah seperti ini, katakan sebenarnya, apa ada yang terjadi di antara kalian?" ucap Sagara dengan helaan napas lembut yang menerpa pipi Luna secara perlahan, membuat raut wajah gadis itu nampak tersipu malu begitu merasakan setiap hembusannya.
"Katakanlah aku mendapat sebuah kesempatan untuk melihat semuanya dengan jelas. Jika aku mengatakan hal itu, apakah kau akan percaya?" ucap Luna dengan raut wajah yang datar dan pipi bersemu merah.
"Sebuah takdir tidak akan pernah mempermainkan Tuannya, jika yang kamu katakan adalah takdir, aku mungkin akan sedikit percaya kepadamu. Namun yang kamu katakan hanyalah sebuah kesempatan, ya mungkin saja bisa kesempatan yang tidak akan datang untuk ke dua kalinya. Hanya saja sayangnya kesempatan itu jarang sekali hadir tanpa adanya sebuah penyesalan. Lalu bagian mananya yang harus ku percayai dari mulut mu Luna?" ucap Sagara kemudian dengan nada yang berbisik membuat Luna semakin merasa tersipu karena di buatnya.
Hening beberapa saat, suasana dan situasinya benar-benar tidak menguntungkan bagi keduanya. Pikiran liar beberapa kali terus terlintas di benak Sagara, hanya saja sebisa mungkin Sagara tepis. Dua orang berlawanan jenis berada di satu atap, tentu akan menciptakan situasi yang tak memungkin.
Setiap tatapannya, setiap hembusan napasnya atau bahkan raut wajah polosnya itu membuat Sagara berulang kali ingin menerkam bibir ranum milik Luna saat itu, hanya saja berhasil ia tahan agar tidak melakukannya dan membuat Luna semakin membencinya. Sampai sebuah kata yang mendadak keluar dari mulut Luna, membuat Sagara menatap tak percaya ke arah gadis itu.
"Menikahlah dengan ku dan aku akan membuktikan segalanya kepadamu!" ucap Luna tiba-tiba.
"Apa?"
Bersambung