"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutang Darah Dibayar Tunai
Pintu hidrolik SUV lapis baja itu terkoyak paksa setelah Liam menghantam engselnya dengan bilah baja. Suara derit besi yang beradu dengan malam terdengar seperti lengkingan biola sumbang di tengah gemuruh badai. Gaizka Wijaya tidak lagi mencoba mempertahankan sisa harga dirinya. Dengan napas yang memburu panik dan air mata yang mengalir di kerutan wajah tambunnya, ia merangkak keluar dari kabin, mengabaikan tas diplomat berisi berliannya yang terjatuh dan isinya berhamburan di atas aspal basah.
Bellatrix menjerit histeris dari kursi belakang, mencoba menahan tubuh ayahnya, namun Gaizka sudah terlalu dikuasai oleh ketakutannya. Gembong mafia itu menyeret tubuh tambunnya di atas genangan air keruh, merangkak masuk ke dalam pintu gerbang gudang tua yang menganga lebar, mencoba mencari perlindungan di balik labirin tumpukan kontainer karatan dan mesin pabrik yang terbengkalai.
Liam tidak terburu-buru mengejarnya. Langkah kakinya seirama dengan detak jarum jam kematian.
Pluk... pluk... pluk...
Sol sepatunya menapak di atas lantai beton gudang yang berdebu dan lembap.
Di ujung lorong gudang yang beralaskan bayangan kelam, Gaizka tersandung sebuah rantai besi tua. Tubuhnya terhempas keras ke atas lantai, membuatnya mengerang kesakitan saat tulang rusuknya menghantam sudut palet kayu. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, bersandar pada sebuah pilar beton besar yang retak. Napasnya tersengal-sengal, memburu pendek bagai binatang buruan yang telah kehabisan napas di ujung tanduk.
Siluet hitam Liam Jeren muncul di ujung koridor remang-remang. Cahaya kilat yang menyambar dari celah atap seng yang bocor menerangi sosoknya sesaat, sesosok malaikat maut berjas hitam yang tidak menyiratkan belas kasihan sekecil apa pun.
Di tangan kanan Liam, sebuah benda berkilau memantulkan pendar cahaya badai. Revolver berlapis krom. Senjata maut milik Gaizka sendiri yang berhasil Liam rebut dari dasbor mobil beberapa menit lalu.
"Jangan... jangan mendekat! Siapa kamu?! Apa yang kamu inginkan?!" Gaizka meratap, suaranya pecah menjadi sebaris pekikan melengking yang menyedihkan. Kedua tangannya terangkat ke udara, mencoba menghalau sosok di depannya seolah-olah gerakan ringkih itu bisa menghentikan peluru. "Uang? Aku punya jalur logistik rahasia di luar negeri! Aku bisa memberikan apa saja! Katakan namamu! Siapa yang menyewamu?!"
Liam berhenti tepat dua langkah di depan Gaizka yang bersimpuh lemas. Ia menurunkan laras revolver tersebut, mengarahkannya tepat ke titik tengah dada kiri Gaizka, tepat di mana jantung gembong mafia itu berdentang dengan ritme yang liar ketakutan.
"Kamu bertanya siapa yang menyewaku, Paman?"
Suara rendah Liam mengalun begitu dingin, menggetarkan keheningan gudang tua. Akan tetapi, yang membuat jantung Gaizka seolah berhenti berdetak adalah penekanan kata 'Paman' yang diucapkan sangat familier.
Liam mengulurkan tangan kirinya ke balik tengkuk, melepas simpul topeng karbon ringan yang membungkus wajahnya. Kain hitam itu terlepas, luruh ke atas lantai beton yang kotor.
Di bawah temaram cahaya badai yang menembus celah atap, wajah pualam baru Liam terpampang nyata. Struktur wajah itu memang sangat tampan, berkharisma, dan asing bagi Gaizka. Tetapi, sepasang mata di balik kacamata bening yang kini ia lepas... sepasang mata itu adalah mata seorang pemuda yang empat bulan lalu bersumpah akan menyeret Gaizka ke dalam kerak neraka.
Gaizka melotot lebar, mulutnya menganga tanpa mampu mengeluarkan suara. Ingatannya melesat kembali ke malam ulang tahun saat ia menembak dada seorang pemuda dan membiarkannya terbakar bersama puing-puing rumah.
Liam melangkah maju satu langkah, ujung moncong revolver berlapis krom itu kini menekan keras ke permukaan kulit dada Gaizka, menembus kemeja leceknya yang basah. Liam membungkukkan tubuh tegapnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Gaizka yang gemetar hebat.
"Aku keponakanmu, Paman," bisik Liam, suaranya begitu lirih.
"E-Elikai... K-Kau—"
DOR!
Suara tembakan revolver menggelegar keras dalam ruangan, mengguncang seluruh struktur bangunan gudang tua dan meredam suara gemuruh badai di luar.
Peluru kaliber besar itu melesat dalam jarak dekat, merobek jaringan kulit, otot, dan menghancurkan jantung Gaizka Wijaya dalam sekejap mata, persis di titik yang sama di mana Gaizka pernah menembak dada Elikai. Kekuatan hantaman peluru itu melempar tubuh tambun Gaizka ke belakang, menghantam dinding pilar beton hingga retak, sebelum akhirnya ia ambruk tersungkur ke atas lantai dengan posisi yang sangat mengenaskan.
Cairan merah pekat menyembur deras dari dadanya, menyatu dengan debu dan kotoran lantai gudang yang dingin. Sepasang mata gembong mafia itu tetap terbuka lebar, menatap kosong ke arah langit-langit yang bocor, tapi seluruh riak kehidupan dan keserakahannya telah padam total selamanya. Gaizka Wijaya tewas, menanggung ketakutan di detik-detik terakhir napasnya.
Liam berdiri di samping jasad pamannya. Ia menurunkan revolvernya perlahan, membiarkan asap mesiu tipis beraroma belerang menguap dari moncongnya. Di dalam dadanya, kekosongan hitam yang selama empat bulan ini membakarnya mendadak terasa sedikit lebih tenang. Satu pilar utama dari kehancuran keluarganya telah runtuh.
Dari balik kegelapan pintu masuk gudang, suara derap langkah kaki kecil yang panik terdengar mendekat, disusul oleh suara isak tangis yang pecah menembus kesunyian. Bellatrix telah berhasil mengejar ayahnya masuk ke dalam gudang.
Liam tidak menoleh. Ia memasang kembali topeng karbon hitamnya dengan gerakan yang sangat tenang. Sebelum ia melangkah mundur perlahan ke dalam pekatnya bayangan kontainer di sampingnya, tangan kirinya bergerak ke arah pergelangan tangan kanan, melepas sebuah jam tangan kronograf platinum mewah miliknya yang bernilai miliaran rupiah.
Liam sengaja menjatuhkan jam tangan itu ke atas lantai beton yang berdebu, tepat beberapa puluh sentimeter di samping genangan darah hangat milik Gaizka yang kian melebar, meninggalkan sebuah petunjuk berdarah yang akan memicu badai berikutnya.
Siluet sang Shadow melebur sempurna dengan kegelapan malam, menyisakan jasad sang mafia yang terbujur kaku di bawah guyuran air hujan yang menembus atap seng yang bocor.