Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Tepuk tangan para tamu undangan masih bergema di *ballroom* utama kapal pesiar *The Sovereign*. Aura buru-buru menegakkan tubuhnya, merapikan *blazer* tahan pelurunya, dan memberikan tatapan tajam pada Adrian yang masih memamerkan senyum menawannya.
"Sudah kubilang, karpet kapal pesiar ini pemasangannya tidak memenuhi standar keselamatan!" desis Aura secepat senapan mesin, matanya melirik ke bawah seolah-olah karpet sutra itu baru saja melakukan kejahatan besar. "Lagipula, kenapa para tamu itu malah bertepuk tangan?! Mereka pikir kita sedang atraksi sirkus apa?!"
Adrian terkekeh pelan, menyambar dua gelas *champagne* non-alkohol dari nampan pelayan yang melintas, lalu menyerahkan satu gelas kepada Aura.
"Mereka bertepuk tangan karena melihat betapa sempurnanya suamimu ini menangkapmu, Aura," goda Adrian dengan suara berat yang santai. "Anggap saja itu bonus dari pertunjukan berdansa kita."
"Bonus matamu!" tembak Aura secepat kilat sambil meneguk minumannya. Tapi kali ini, belajar dari trauma masa lalu, ia meminumnya sangat perlahan lewat sedotan khusus yang selalu disediakan pengawal pribadi Adrian.
Namun, suasana romantis dan saling goda itu tidak berlangsung lama. Dari sudut *ballroom*, Aura melihat Julian Vance memberikan isyarat kecil pada dua pengawalnya sebelum melangkah keluar menuju deck kapal yang lebih sepi. Di saat yang sama, Elena Vanderbilt tampak tersenyum misterius sambil membisikkan sesuatu kepada seorang pria berpakaian teknisi kapal.
Naluri taktis mantan agen elit dalam diri Aura langsung menyala merah. Ada yang tidak beres dengan gerakan sigap orang-orang itu.
"Adrian," bisik Aura, intonasinya mendadak berubah serius dan tenang. "Ada pergerakan mencurigakan di deck luar. Elena baru saja memberi perintah pada teknisi kapal, dan Julian Vance menuju ke arah ruang kendali sekunder di deck bawah."
Adrian menyipitkan matanya, mengamati arah pandangan Aura. Aura membunuh yang dingin kembali menyelimuti raut wajahnya. "Vance mencoba melakukan sesuatu pada sistem navigasi kapal untuk mengisolasi kita di perairan lepas."
"Biar aku yang periksa bagian teknisi di deck luar," ujar Aura secepat kilat. "Kamu tahan Vance di ruang kendali utama. Jangan sampai dia memotong jalur komunikasi Vane Group."
Adrian menahan lengan Aura, cengkeramannya hangat dan protektif. "Aura, ini di atas kapal pesiar musuh. Jangan bertindak sendirian."
"Tenang saja, Tuan CEO," Aura melempar senyum menantang yang sangat percaya diri. "Aku cuma mau memberi pelajaran kecil pada Mbak Baju Silver. Kalau ada apa-apa, aku bakal bikin keributan yang cukup keras supaya kamu bisa mendengarnya dari deck bawah!"
Tanpa menunggu persetujuan Adrian, Aura melangkah cepat menyelinap di antara kerumunan tamu dan keluar menuju deck luar kapal yang diterpa angin malam yang kencang.
Angin laut berembus dingin di deck atas kapal pesiar. Cahaya bulan memantul di atas permukaan air laut yang gelap.
Aura melangkah tanpa suara di balik pilar-pilar kapal, mengandalkan pendengarannya yang tajam. Di dekat panel kendali darurat deck atas, terlihat Elena Vanderbilt sedang berdiri bersama teknisi kapal tadi. Sebuah koper besi terbuka di atas meja, memperlihatkan alat peretas jaringan frekuensi tinggi yang sedang dihubungkan ke kabel utama kapal.
"Pastikan seluruh sinyal komunikasi di kapal ini mati dalam lima menit!" perintah Elena dengan suara ketus. "Begitu sinyal mati, orang-orang kita di perahu motor akan naik dan mengepung Adrian Vane di *ballroom*!"
"Baik, Nyonya," jawab teknisi itu, jemarinya menari cepat di atas kibor alat peretas.
Aura yang bersembunyi di balik pilar menggelengkan kepala heran. *Rencana penyergapan murahan begini lagi? Elena ini benar-benar tidak punya variasi strategi!* batin Aura prihatin.
Aura melangkah keluar dari balik pilar dengan santai, melipat kedua tangannya di dada.
"Ehem!" Aura berdeham cukup keras. "Mbak Baju Silver... malam-malam begini bukannya menikmati angin laut, malah sibuk mainan kabel? Tidak takut tersengat listrik apa?"
Elena dan teknisi itu tersentak kaget! Elena berbalik dengan wajah tegang, matanya membelalak melihat Aura berdiri di sana sendirian tanpa pengawal.
"K-kamu... bagaimana bisa ada di sini?!" seru Elena histeris, lalu berseru pada teknisi di sampingnya. "Cepat lumpuhkan dia! Jangan biarkan dia kembali ke *ballroom*!"
Teknisi bertubuh tegap itu langsung merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pisau lipat taktis dan melesat maju menyerang Aura!
"Serangan jarak dekat pakai pisau lipat?" gumam Aura sinis.
Begitu teknisi itu mengayunkan pisau ke arah dadanya, Aura memiringkan tubuhnya dengan sangat efisien. Tangan kanannya menyambar pergelangan tangan lawan, memutarnya ke bawah dalam teknik pitingan bahu (*shoulder lock*), lalu melancarkan tendangan *back-kick* yang presisi tepat di perut teknisi tersebut!
*Brak!*
Teknisi itu terlempar dua meter dan menghantam pagar pembatas deck sebelum akhirnya pingsan tak berdaya. Pisau lipatnya terlempar jatuh ke laut.
Seluruh aksi bertarung itu terjadi dalam waktu kurang dari lima detik!
Elena berdiri mematung, tubuhnya gemetaran hebat melihat teknisi sewaannya dilumpuhkan begitu mudah. "K-kamu... monster macam apa kamu ini?!"
Aura melangkah mendekati Elena, mengambil alat peretas di dalam koper besi, lalu mencabut kabel utamanya hingga terdengar suara percikan api kecil. Alat itu seketika mati total.
"Dengar ya, Elena," cecar Aura secepat senapan mesin sambil melangkah makin dekat, menatap Elena dengan pandangan dingin yang mengintimidasi. "Rencana sabotasemu ini sangat amatir! Penggunaan alat peretas frekuensi rendah begini cuma bakal bikin alarm kebakaran kapal menyala otomatis dalam dua menit! Kamu bukannya mau menjebak Adrian, tapi mau mempermudah kepolisian maritim menangkapmu!"
Elena mundur ketakutan hingga punggungnya menyenggol pagar kapal. "A-aku... aku cuma mau Adrian kembali padaku! Kamu yang merebutnya dariku!"
Aura terkekeh sinis. "Merebut? Adrian bukan barang yang bisa direbut, Mbak! Dia pria dewasa yang punya otak dan selera tinggi. Dan jelas... seleranya bukan wanita yang suka main kabel malam-malam di deck kapal!"
Aura mematikan koper peretas itu sepenuhnya, lalu berniat membuang koper besi itu ke laut agar tidak bisa digunakan lagi.
Namun... sifat ceroboh bawaan jiwanya yang selalu kumat setiap kali ia merasa menang atau lega kembali berulah di saat yang paling tidak tepat!
Saat Aura mengayunkan tangannya untuk melempar koper besi berat itu ke luar pagar kapal, angin laut yang kencang mendadak bertiup kuat. Tumit sepatu *pumps*-nya licin di atas deck kayu yang basah oleh embun malam!
"Waa! Sialan, licin sekali—!"
Aura hilang keseimbangan total! Dorongan koper besi yang berat membuat tubuhnya tertarik ke arah luar pagar pembatas deck dan siap terjun bebas ke dalam laut malam yang dingin dan dalam!
Elena yang melihat itu membelalakkan mata kaget, sementara Aura memejamkan mata panik. *Masa jiwaku mati kedua kalinya bukan karena tertembak musuh, tapi gara-gara tenggelam akibat terpeleset koper besi?!* batin Aura panik setengah mati.
*Greb!*
Sebuah lengan kekar yang sangat kuat dan kokoh menyambar pinggang Aura dari belakang dalam pecahan detik!
Dorongan tenaga yang sangat besar menarik tubuh Aura kembali ke dalam deck, lalu koper besi itu terlepas dari tangan Aura dan jatuh berdentang ke laut. Aura mendarat mulus dan rapat di dada bidang Adrian yang melindunginya!
Aura mendongak dengan napas memburu. Adrian berdiri di sana dengan wajah yang sangat pucat karena panik mendalam—sebuah raut wajah panik yang belum pernah diperlihatkan sang Raja Mafia pada siapa pun sebelumnya.
"Aura!" suara Adrian terdengar membentak pelan, bergetar oleh rasa cemas yang amat sangat. "Kamu... kamu hampir jatuh ke laut!"
Adrian merengkuh tubuh Aura sangat erat dalam dekapannya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Aura, merasakan detak jantung istrinya yang masih berdetak.
Di belakang Adrian, belasan pengawal Vane Group sudah mengepung tempat itu dan langsung memborgol Elena Vanderbilt yang menangis histeris. Julian Vance sendiri tampak berdiri di sudut koridor deck bawah dengan tangan terikat—rupanya pria bermata hijau itu sudah dilumpuhkan lebih dulu oleh Adrian di ruang kendali!
Aura yang berada di dalam pelukan erat Adrian bisa merasakan betapa gemetarnya tubuh pria tegap itu. Rasa canggung dan malu Aura seketika menguap, digantikan oleh rasa bersalah yang mendalam.
"I-iya... maaf," bisik Aura pelan, tangannya yang lentik perlahan terangkat melingkar di punggung tegap Adrian. "Aku... aku tadi cuma mau membuang kopernya, tapi deck-nya licin."
Adrian melepaskan dekapannya sedikit, menatap wajah Aura dengan pandangan yang dipenuhi bauran antara amarah, rasa lega, dan cinta yang begitu pekat.
"Jangan pernah bertindak berbahaya seperti ini lagi, Aura," bisik Adrian dengan suara rendah yang berat dan seksi. "Aku tidak peduli kalau seluruh kapal ini hancur... tapi kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku bisa membakar seluruh kota ini."
Dada Aura berdesir hebat. Kata-kata posesif dan tulus dari sang CEO Mafia itu meruntuhkan sisa-sisa pertahanan jiwanya.
Aura mengulas senyum manis yang sangat tulus, bicaranya melunak meski tetap ada nada gengsi kecilnya. "Iya, iya, Tuan CEO... aku janji. Lagipula, aku kan tahu... suamiku yang hebat ini bakal selalu ada buat menangkapku."
Adrian menatap senyuman manis itu, lalu tanpa mempedulikan para pengawal dan Elena yang diseret pergi, Adrian menunduk dan mencium bibir Aura dengan sangat dalam di bawah terpaan angin malam Pelabuhan Barat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘