"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
usaha yang tidak sia sia
Keesokan harinya, Devan menepati janjinya. Dengan motor trail tuanya, ia mengantar Naya menyusuri jalanan terjal menuju tebing tertinggi di Pulau Sane. Di sana, dari atas tebing yang berhadapan langsung dengan samudra luas, angin berhembus kencang membawa aroma laut yang segar.
Sesuai dugaan Devan, sinyal ponsel di tebing itu sangat kuat. Dengan jemari bergetar penuh haru, Naya menekan nomor telepon ayahnya.
Suara di ujung telepon langsung meledak dalam kegembiraan. Di kota, Ayah, Ibu, dan ketiga abangnya memang tak pernah berhenti cemas menunggu kabar dari Naya. Begitu mendengar suara Naya, rasa lega menyelimuti seluruh keluarga.
Naya larut dalam obrolan hangat. Ia bermanja-manja pada ketiga abangnya yang memang sangat menyayangi dan memanjakannya sejak kecil. Namun, semakin lama bercakap-cakap, rasa rindu itu makin tak tertahan. Air mata Naya kembali menetes, menyisakan isakan pelan di ujung panggilan sebelum akhirnya ia mengakhiri telepon dengan berat hati.
Naya terduduk di atas batu tebing, menunduk dengan mata sembap.
Devan yang berdiri tak jauh darinya melangkah mendekat. Ia berjongkok di samping Naya, menatap gadis itu dengan pandangan yang amat lembut—jauh dari kesan dingin yang biasa ia tampakkan.
"Sudah, jangan sedih lagi..." bisik Devan pelan, jemarinya terangkat mengusap sisa air mata di pipi Naya. "Mulai sekarang, panggil aku Abang. Biar aku yang jadi pengganti abang-abangmu selama kamu di sini."
Naya tertegun, matanya membulat tak percaya. "Kamu... beneran, Dev?"
Devan mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan. "Iya, Abang Devan."
Mendengar itu, senyum Naya mengembang lebar. Sepanjang jalan pulang menyusuri pesisir Pulau Sane, hati Naya membuncah bahagia. Rasa kesepiannya sirnah seketika karena kini ada sosok "Abang" yang selalu siap menjaga dan berdiri di sampingnya.
Sebulan telah berlalu dengan cepat.
Bangunan penginapan tua milik Nenek kini telah bertransformasi total. Sentuhan tangan Naya dan kerja keras Devan berhasil menyulap tempat itu menjadi penginapan berkonsep rustic-modern—tampak kekinian namun tetap mempertahankan nuansa klasik kayu khas Pulau Sane. Di bagian depan yang menghadap langsung ke pantai, berdiri sebuah kafe cantik dengan pemandangan matahari terbenam yang memukau.
Kehadiran kafe ini membuat warga setempat penasaran. Dalam waktu singkat, foto-foto keindahan kafe di tepi laut itu menyebar cepat di media sosial hingga viral, berita juga menyebar dari mulut ke mulut karna sebagian warga tidak ada signal . warga dari jauh jauh pulau sane mulai.
berdatangan membanjiri penginapan devan.Baru seminggu dibuka, omzet yang didapat sudah sangat lumayan. Karyawan yang tadinya hanya berjumlah 2 orang kini bertambah menjadi 5 orang warga lokal.
Sore itu, suasana dapur kafe sangat sibuk. Naya dan Devan turun tangan langsung menyiapkan pesanan makanan untuk para pelanggan.
"Abang! Tolong ambilkan saus karamel di rak atas dong, aku nggak nyampe," panggil Naya sambil memegang piring berisi pancake yang baru matang.
Devan melangkah mendekat ke belakang Naya. Karena jarak rak yang agak sempit, Devan memajukan tubuhnya hingga merapat di belakang Naya, mengulurkan tangan kekarnya ke atas. Posisi mereka yang begitu dekat membuat Naya bisa merasakan hembusan napas hangat Devan di tengkuknya.
Jantung Naya mendadak berdegup kencang tak beraturan.
"Ini sausnya," gumam Devan pelan, tepat di samping telinga Naya.
Bukannya langsung menjauh, Devan malah mengamati pipi Naya yang merona merah. Jemari Devan terangkat, mengusap lembut sedikit bercak tepung yang menempel di pipi mulus gadis itu.
"Abang... ngapain?" bisik Naya gugup, tak berani menatap mata elang Devan.
"Ada tepung di pipimu," jawab Devan halus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menggoda. "Lain kali kalau masak fokus, jangan ngelamun terus."
"Siapa juga yang ngelamun!" sahut Naya cepat, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya dengan mengambil botol saus dari tangan Devan.
Namun saat jemari mereka saling bersentuhan di botol saus itu, Devan justru menggenggam jemari Naya hangat, menahan gerakan gadis itu selama beberapa detik. Tatapan matanya yang tajam melunak, memancarkan rasa sayang yang begitu dalam di tengah riuh aroma masakan dan riak gelombang laut Pulau Sane.
Malam kian larut di Pulau Sane. Cahaya lampu gantung kekuningan yang hangat memantulkan pendar indah di atas permukaan laut, menyinari teras kafe yang dipenuhi pengunjung. Angin pesisir berhembus lembut, membawa aroma kopi Arabika segar yang bertaut indah dengan gurihnya hidangan laut.
Di dekat salah satu meja kayu yang menghadap langsung ke pantai, Naya berdiri anggun sambil membawa nampan kayu. Wajah cantiknya berbinar penuh semangat saat menjelaskan menu andalan kafe kepada sepasang wisatawan kota yang antusias.
"Lalu hidangan seafood ini kami bumbui dengan rempah khas Pulau Sane yang diolah sendiri oleh Nenek," tutur Naya dengan suara merdu dan tawanya yang renyah. Senyum manisnya tak pernah lepas, memancarkan kehangatan tulus yang membuat siapa saja betah berlama-lama di kafe itu.
Tak jauh dari sana, berdiri di dekat meja bar, Devan menyandarkan tubuhnya yang tinggi dan tegap pada tiang kayu. Mengenakan kemeja kain tipis bergaya santai dengan gulungan lengan hingga siku dan rambut hitam yang diikat rapi, ketampanan alaminya terlihat begitu memikat. Namun, perhatian Devan sama sekali tak teralihkan oleh riuh lalu lalang pelanggan.
Kedua mata elangnya terpaku sepenuhnya pada sosok Naya.
Tatapan Devan malam itu amat berbeda—tak ada lagi tatapan dingin, penuh rasa curiga, atau aura cuek yang dulu membentenginya. Yang tersisa hanyalah binar kehangatan, kagum, dan rasa sayang yang begitu dalam meluap dari dasar hatinya. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman tulus yang sangat langka.
Setiap kali Naya tertawa kecil atau merapikan helai rambut di balik telinganya saat berbicara dengan pelanggan, dada Devan berdesir hebat. Rasa sakit dari luka bekas belati di dadanya seolah lenyap tak berbekas, tergantikan oleh rasa syukur yang membuncah. Gadis kota yang dulu hampir menguras seluruh daya hidupnya ini, kini telah bertransformasi menjadi napas dan jiwa bagi Pulau Sane... dan juga bagi dirinya.
Naya yang merasakan ada tatapan hangat yang mengawasinya, perlahan memalingkan wajah ke arah meja bar. Pandangan mata mereka mendadak bertabrakan di tengah remang cahaya lampu kafe.
Melihat Devan sedang menatapnya tanpa kedip dengan raut wajah penuh kasih, pipi Naya mendadak memerah. Jantungnya berdebar kencang tak beraturan. Naya menggigit bibir bawahnya canggung, berusaha menyembunyikan senyum tersipu yang merekah di wajahnya.
Devan tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Dengan perlahan, ia mengangkat cangkir kopi di tangannya ke arah Naya, mengisyaratkan sebuah penghargaan dan kebanggaan yang tak terucapkan kata-kata.
Di bawah langit malam Pulau Sane yang penuh bintang dan deburan ombak yang tenang, tak ada kata-kata manis yang perlu diucapkan. Hanya lewat tatapan mata dari Devan, Naya tahu betul bahwa hati cowok paling dingin di pulau itu kini telah sepenuhnya bertekuk lutut padanya.