NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamzari20

Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Kenapa Kamu Tega Lyra?

Mata Lyra berkilat benci. Menambah kebencian pada sosok Isabella yang terlihat angkuh.

Sebuah rekaman percakapan Lyra ada di sana. Isi pesan dengan Darel terpampang nyata tanpa sensor.

Bahkan ada video di mana Lyra dan Darel sering bertemu menghabiskan waktu tanpa siapapun sadari.

"INI BOHONG!" teriak Lyra, wajahnya menunjukkan kepanikan.

Lyra akan menyerang Isabella. Namun, Arion menghentikan itu dan menepis kasar Lyra hingga tersungkur di lantai yang dingin.

Mereka semua yang melihat itu merasa jijik memandang Lyra dengan tak habis pikir.

"Kamu tega mempermalukan Adikmu seperti ini, Kak?" tanya Lyra mengiba.

Sedangkan Isabella hanya diam, menatap Lyra dengan sorot mata tak terbaca.

"Kak, aku melakukan ini karena khilaf dan itu semua karena bujukan Kak Darel, ak—aku tidak berniat menipu atau berbuat jahat pada Mama, Papa dan kamu, Kak!" katanya, melimpahkan seluruh kesalahan pada Darel.

"Lyra, jangan asal bicara kamu!" pekik Darel panik. Ini rencana mereka berdua dan kenapa malah kesalahan itu di limpahkan padanya.

"Kak, mengaku saja! Kamu yang meminta aku melakukan ini."

"Ak—"

"Kak, tolong terima kesalahan ini karena jika berdua hancur maka kita akan gagal selamanya!" bisik Lyra, membujuk Darel untuk itu.

Darel mengepalkan tangannya, mungkin Lyra benar mereka harus ada yang berkorban karena jika semua tertangkap maka semua rencana akan gagal total.

Sedangkan Isabella, dia diam-diam tersenyum sinis. Dan jadi berpikir apakah dia di kehidupan pertama memang sebodoh itu?

"Isabella, jangan salahkan Lyra, semua ini karena aku yang membujuk dia untuk melakukan itu." akui Darel.

"Benar kah? Lalu kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya.

"Itu karena salahmu! Kamu tidak mau berinvestasi untuk proyek baruku, dan memilih lepas tangan!" ketusnya, dengan nada marah.

"Itu bukan alasan untuk membuat kekacauan Darel! Bukankah Marco kaya? Lalu kenapa kamu menekan Davis untuk proyek itu hingga melakukan pembunuhan ini?" cecar Isabella, ketenangan nya habis dan emosinya mulai meledak.

"Karena sejak awal aku hanya butuh kekayaan Davis!" jujurnya.

Isabella hanya terkekeh sinis, dia menatap Darel dengan senyum angkuh.

"Sekarang mulai jujur? Tidak takutkah kamu jika Marco tahu ini? Tidak takutkah kamu jika aku melaporkan ini ke pihak berwajib? Atau tidak takutkah kamu pecundang itu kembali melekat dalam dirimu?" Isabella bertanya, terus beruntun dengan nada mendesak.

"Diam! Aku bukan pecunda Isabella!" teriak Darel, dia benci di anggap pecundang hanya karena lahir dari selingkuhan Tuan besar Marco.

"Baru takut sekarang? Saat melakukan ini apa kamu tidak sadar bahwa hari ini Karma akan berjalan semestinya?"

Darel mengepalkan tangannya. Dia melirik Arion dengan anggukan pelan.

Saat pintu terbuka. Wajah Darel pucat pasi ketika inti keluarga Marco tiba di sana dengan wajah tak bersahabat.

PLAK!

Satu tamparan mendarat di pipi Darel, belum sempat dia bereaksi seseorang sudah kembali melayangkan tamparan tanpa ampun.

"Pecundang tidak berguna! Aku membesarkan kamu untuk membuat Marco semakin berkuasa dan bukannya membuat kami hancur!" Ayah Darel memaki dengan nada tinggi, juga menyalahkan Darel untuk semua kekacauan.

Isabella berdiri di depan Ayan dari Darel, membelakangi pria itu dengan cepat.

"Aku tahu kamu masih mencintai aku Isabella!" kata Darel. Dia tak pernah salah menebak tentang perasaan Isabella padanya.

Isabella tersenyum remeh, dia hanya melirik sekilas dan sebelum kembali menatap Tuan besar Marco.

"Saya akan menghukum Darel sesuai Aturan Davis, apa anda setuju atau mau membawa dia kembali kerumah Marco?" tanya Isabella. Mata indahnya menunjukkan ketegasan.

"Saya serahkan dia pada Nona Isabella, mulai sekarang dia tak ada hubungannya dengan Marco lagi!" putusnya.

"Pa, jangan! Darel mohon!" dia merangkak di kaki sang Ayah.

Pria itu menepis kasar tangan Darel yang mencengkram erat bawah celananya dengan erat.

"Saya bukan Papamu lagi! Dan Marco tak memiliki pecundang seperti kamu!" putusnya dengan nada dingin dan tegas.

Wajah Darel pucat pasi, melihat dan membayangkan ia akhirnya di buang tanpa penjelasan.

"Kalian semua sebagai Saksi. Darel akan menjadi tawanan Davis, jadi mulai sekarang tidak akan ada Darel di dunia ini!" putus Isabella. Dia tak peduli di anggap gila, karena sejak awal kelahirannya hanya untuk balas dendam.

Belum selesai semua. Mereka kembali di kejutkan dengan kedatangan dua orang penting di keluarga Davis.

"Kenapa kamu tega. Lyra?" suara Melody terdengar putus asa dan kecewa.

DEGH!

Wajah Lyra sudah seputih kapas saat melihat Melody di sana, menatap dirinya dengan sorot mata kecewa.

"Ma—mama?" panggil Lyra serak.

Melody dan Matthew memandang kecewa. Gadis yang mereka besarkan ternyata tak lebih dari ular berbisa yang siap merenggut Segalanya.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi putih Lyra hingga bibirnya pecah dan mengeluarkan cairan merah.

"Pa, Ma, ini tidak seperti yang Mama lihat!" elak Lyra.

Ruangan itu menjadi pengap dan hanya ada suara AC juga deru napas yang tidak beraturan di sana.

Ruangan itu sudah kosong, dan hanya menyisakan dua pengkhianat di sana karena sedang menunggu eksekusi.

"Lalu apa yang kami lihat? Jelas semua bukti, rekaman dan chat pribadi mu dengan dia terpampang jelas tanpa sensor," kata Melody.

"Ma, percaya aku! Sejak awal Kakak memang sengaja melakukan ini untuk menjebak aku agar di benci oleh sem—"

PLAK!

"Berani kamu memfitnah saya dengan kelicikan kamu ini!" tunjuk Isabella.

Isabella menatap marah pada Lyra. Dia menyayangi Lyra seperti adik kandungnya sendiri, tapi pengkhiatan di kehidupan dulu membuat dia hilang kendali.

"Isa, jangan!" cegah Melody. Dia segera memeluk Isabella.

"Dia wanita tidak tahu diri, Ma, dia harusnya tak pernah masuk ke dalam keluarga Davis dan membawa nama Davis di Belakang namanya!" emosi Isabella meledak.

"Maafkan Mama dan Papa, seharusnya kami tak pernah membawa orang asing kerumah Davis hanya untuk mencelakai kita!" kata Melody, dia benar-benar menyesal membawa Lyra kedalam rumah yang dulu hangat.

Lyra yang mendengar penyesalan itu terlontar mengepalkan tangannya benci. Seharusnya dia yang menjadi putri kesayangan Davis, dan bukan Isabella lalu kenapa tuhan malah mengirim dia kepanti asuhan dan bukan ke rahim Melody? Memikirkan hidup dan kenyataan yang tak adil. Mata Lyra menggelap dan dia mulai tertawa gila.

"Hahah, apa sekarang kalian menyesal? Aku ini juga putri kalian, kan? Lalu kenapa hanya menyayangi Isabella?" tanyanya.

"Apa kurang kasih sayang kami? Kamu mendapatkan apa yang Isabella dapat, dan kamu menikmati seluruh fasilitas Davis selama dua puluh tahun. Lalu apa ini balasan kamu pada kami?" tanya Matthew, pria dingin itu menatap Lyra kecewa.

Walaupun Lyra bukan keturunan Davis. Baik Matthew dan Melody sudah mencintai Lyra seperti putri sendiri. Tapi ternyata sejak awal sampai Akhir Lyra tak pernah benar-benar puas.

"Aku mau seluruh kasih sayang dan harta kalian, aku tidak mau berbagi dan seharusnya memang aku yang lebih berhak!" teriak Lyra, mengatakan apa yang selama ini dia harapkan.

"Kamu benar-benar egois dan tidak tahu diri Lyra, sekarang kamu akan terima hukuman Davis sebagai balasan!" putus Matthew.

"Pa, jangan! Maafkan aku!" ronta Lyra, dia tak mau di hukum sesuai Aturan Davis, karena hanya keputusasaan pada akhirnya.

"Bawa mereka! Dan jangan biarkan siapapun melihat atau merasa kasihan!" perintah Matthew.

"Papa, Mama, maafkan aku!" teriaknya.

Namun, mereka tak mau mendengarkan apapun. Karena kesalahan Lyra kali ini sudah di ambang batas kesabaran mereka.

1
Irsyad layla
ini sebenarnya keluarga de luca apa Marco bingung jadinya
Hamzari20: Marga Marco untuk Darel dan Marga De Luca untuk Arion
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!