NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gesekan Baja dan Halaman Usang

Pelataran pualam Kastil Adiwangsa yang dulunya suci kini tampak seperti pabrik besi berantakan. Asap hitam dari mesin-mesin uap portabel membumbung ke udara, mengotori patung-patung marmer yang tersisa. Bau keringat, mesiu, dan oli mesin menggantikan aroma kemenyan magis yang selama ratusan tahun melekat di tempat itu.

Di tengah pelataran, Kaelen berdiri mengawasi kekacauan yang sedang ia paksa menjadi sebuah tatanan.

Di sebelah kirinya, barisan preman Sektor Empat berbaris acak-acakan, menguap dan meludah sembarangan. Di sebelah kanannya, sisa-sisa ksatria Ignis berdiri tegak dengan postur militer sempurna, meski wajah mereka memucat menahan beban senapan uap laras panjang yang sama sekali tidak mereka pahami cara kerjanya.

"Ini bencana," komentar Lyra yang berdiri di samping Kaelen, mengunyah sepotong dendeng kering. "Ksatria-ksatria itu memegang senapan seperti memegang sapu lidi, dan anak buah Rexor tidak tahu bedanya baris-berbaris dengan antrean pembagian jatah minuman keras."

Kaelen tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah lingkaran pertarungan di tengah pelataran.

Seorang letnan ksatria muda sedang berhadapan dengan salah satu algojo Rexor yang bertubuh gempal. Sang letnan memasang kuda-kuda pedang klasik, kakinya terbuka sempurna, menyeimbangkan tubuhnya. Namun, alih-alih menyerang dengan pedang, algojo itu menendang debu ke mata sang letnan, lalu menabrakkan tubuh besarnya ke depan, menjatuhkan sang ksatria dan menodongkan pisau berkarat ke lehernya.

"Mati kau, Tuan Puteri!" tawa algojo itu.

Para preman bersorak, sementara barisan ksatria menggeram marah, beberapa bahkan melangkah maju bersiap membela rekan mereka.

"Cukup!" bentak Komandan Kael, melangkah masuk ke lingkaran dan memukul helm algojo itu dengan pipa besinya hingga pria gempal itu terguling mundur. "Itu bukan pertarungan! Itu taktik pengecut!"

"Di jalanan, pengecut yang hidup lebih berharga daripada pahlawan yang mati, Pak Tua!" sahut Rexor dari pinggir lapangan, memancing tawa anak buahnya.

Kael menoleh tajam ke arah Rexor, urat lehernya menonjol. Gesekan antara kedua belah pihak sudah mencapai titik didih. Perang saudara kecil nyaris meledak tepat di depan mata Kaelen.

"Lyra," bisik Kaelen dingin. "Buat mereka diam."

Lyra menyeringai. Ia mencabut pistol pelumpuhnya dan menembakkan peluru kejut ke udara. Bunyi ledakan listrik yang memekakkan telinga seketika membungkam seluruh pelataran.

Kaelen melangkah pelan memasuki lingkaran pertarungan. Ia menatap algojo yang masih mengusap helmnya, lalu menatap sang letnan yang baru saja berdiri sambil membersihkan debu dari matanya.

"Kau," Kaelen menunjuk sang letnan. "Kuda-kudamu terlalu kaku. Di medan perang tanpa pelindung sihir, jika kau tidak bergerak, kau mati. Mulai sekarang, kau belajar kelincahan dari para pemotong dompet Sektor Dua."

Lalu Kaelen menunjuk sang algojo. "Dan kau. Taktik kotor memang menyelamatkan nyawa di gang sempit. Tapi di medan perang terbuka melawan pasukan klan lain, satu tembakan panah sihir dari jarak seratus meter akan membakar tubuh besarmu sebelum debumu sampai ke mata mereka. Mulai hari ini, Kael akan mengajarimu cara bergerak dalam formasi tameng."

Kaelen menatap bergantian ke arah Kael dan Rexor. "Kita tidak sedang mempersiapkan diri untuk tawuran jalanan. Kita sedang bersiap menghadapi perang berskala penuh. Aku ingin ksatria yang bisa menembak dan merakit bahan peledak, dan aku ingin preman yang tahu cara menahan garis formasi. Siapa pun yang menolak berbaur..." Kaelen membiarkan Inti Leviathan di dadanya berdenyut menyala menembus kemejanya, "...akan kujadikan bahan bakar mesin uap."

Tidak ada yang berani membantah. Kael menelan ludah dan mengangguk kaku, sementara Rexor memalingkan wajahnya sambil mendecak kesal.

"Teruskan latihannya," perintah Kaelen, lalu berbalik meninggalkan pelataran, memberikan isyarat pada Lyra untuk terus mengawasi mereka. Ia memiliki urusan yang lebih mendesak di perpustakaan.

Perpustakaan Kastil Adiwangsa adalah labirin rak kayu eboni yang selamat dari penjarahan semalam, berkat penjagaan ketat dari Silas. Saat Kaelen melangkah masuk, bau kertas tua, debu, dan tinta sihir langsung menyergap penciumannya.

Dokter Silas sedang duduk di tengah lautan gulungan perkamen purba dan buku-buku bersampul tebal. Kacamata pembesarnya diturunkan, dan wajah tuanya tampak sangat pucat di bawah cahaya lentera minyak.

"Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu, Dokter," ucap Kaelen, menarik kursi kayu dan duduk di seberang meja.

Silas menatap Kaelen, lalu pandangannya turun ke arah pendar biru di dada pemuda itu. "Lebih buruk dari hantu, Nak. Aku baru saja membaca sejarah yang sengaja dihapus oleh kekaisaran."

Pria tua itu mendorong sebuah buku berukuran raksasa yang halamannya terbuat dari kulit binatang yang diawetkan. Halaman itu dipenuhi sketsa rumit tentang anatomi monster dan diagram mesin. Di tengah halaman, terdapat gambar yang sangat familiar bagi Kaelen: piringan logam dengan ukiran rune yang kini bersarang di atas jantungnya.

Namun, dalam sketsa itu, piringan tersebut tidak berdiri sendiri. Benda itu terhubung dengan dua komponen lain—sebuah sarung tangan mekanis (gauntlet) dan sebuah pelindung tulang belakang yang menyerupai sayap baja.

"Inti Leviathan bukanlah artefak penyaring biasa, Kaelen," bisik Silas, suaranya bergetar. "Benda itu... adalah satu dari tiga bagian Mesin Pemakan Dewa. Sebuah senjata yang diciptakan ribuan tahun lalu oleh peradaban manusia pertama untuk membunuh entitas sihir absolut yang kini duduk di Singgasana Pusat Kekaisaran."

Kaelen mengerutkan kening, menatap sketsa tersebut. "Maksudmu Kaisar Agung?"

"Ya. Sihir di dunia ini tidak muncul secara alami," Silas menunjuk pada diagram aliran mana. "Catatan ini menyebutkan bahwa Akar Magma, Kubah Matahari, dan seluruh sumber kekuatan sihir klan-klan bangsawan... semuanya bermuara dan dikendalikan dari pusat. Dan benda di dadamu itu adalah kuncinya. Ia tidak menelan mana untuk menghilangkannya; ia mengumpulkannya."

Silas menatap mata Kaelen dengan serius. "Kaelen, benda itu dirancang untuk wadah dewa. Tubuh manusiamu tidak akan sanggup menahannya selamanya. Semakin banyak sihir murni atau sihir purba yang kau telan, Inti Leviathan akan semakin panas. Jika kau tidak menemukan dua bagian lainnya untuk mendistribusikan beban energi itu, jiwamu perlahan-lahan akan terkikis. Benda itu akan memakan kemanusiaanmu, emosimu, dan pada akhirnya, kesadaranmu."

Kaelen terdiam. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Kini ia menyadari mengapa ia tidak merasakan kesedihan saat pamannya mati, dan mengapa membunuh terasa semakin hampa, nyaris mekanis. Artefak ini sedang mengubahnya dari dalam.

"Di mana dua bagian lainnya?" tanya Kaelen tajam.

"Satu tersebar di Kawah Hitam wilayah barat, dan yang lainnya... catatan ini menyebutkan ia berada di bawah kendali langsung Garda Kekaisaran," jawab Silas sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Tapi kita tidak punya waktu untuk memikirkan ekspedisi pencarian sekarang."

Tepat saat Silas menyelesaikan kalimatnya, suara lonceng menara pengintai berdentang hebat. Bukan dentang peringatan internal, melainkan alarm invasi eksternal. Lonceng itu dibunyikan berturut-turut tanpa henti, memecah kesibukan di seluruh kastil.

Pintu perpustakaan dibanting terbuka. Seorang pemuda berbadan kurus, salah satu kurir dari pasukan Rexor, berlari masuk dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya sepucat mayat.

"T-Tuanku Kaelen!" seru kurir itu, menjatuhkan diri berlutut. "Pos pantau di Ngarai Utara baru saja mengirim suar darah! Armada kapal udara... mereka menembus batas awan!"

Kaelen berdiri, jubah kulitnya berdesir tajam. Matanya yang memancarkan pendar ungu menatap kurir itu dengan dingin. "Klan Angin."

"Ya, Tuanku," jawab kurir itu gemetar. "Ada belasan Sky-Galleon (Kapal Angkasa) milik Klan Aero. Dan mereka tidak mengirim utusan. Mereka langsung menjatuhkan bom mana angin ke arah pos pantau kita. Mereka bergerak menuju kastil. Waktu tiba kurang dari satu jam!"

Kaelen menoleh pada Silas, menyeringai tipis, sebuah senyuman kelam yang dipengaruhi oleh mesin di dalam dadanya. "Kurasa latihan baris-berbaris kita harus dipersingkat hari ini, Dokter."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!