NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2 Memulai Sebagai Tim

Ayahku, Zendir Clament, seorang Priest tingkat Amateur yang mengabdi pada ajaran Dewi Charlotte. Semasa hidupnya, ia mati-matian melarangku mempelajari ilmu sihir dalam bentuk apa pun. Baginya, manusia yang hebat mengandalkan kekuatan fisik, bukan trik sihir—sebuah ironi mengingat profesinya sendiri.

Di dunia ini, kapasitas sihir terbagi ke dalam delapan tingkatan: Beginner, Amateur, Professional, King, Saint, Emperor, Dragon, dan God. Menemukan seseorang yang mampu mengelola mana bukanlah perkara mudah. Pada dasarnya, setiap manusia terlahir dengan cadangan mana di dalam tubuh mereka, tetapi hanya segelintir yang bisa mewujudkannya menjadi kemampuan sihir.

Rasio hanya satu berbanding seratus untuk tingkat Beginner. Semakin tinggi tingkatan, semakin tipis pula peluang. Bahkan, dalam catatan sejarah satu abad terakhir, hanya tiga orang yang tercatat mampu mencapai tingkat God.

Berbanding terbalik dengan Ayah, ibuku—Clara Clament—sama sekali tidak memiliki bakat sihir. Namun, dialah yang diam-diam mendukungku belajar sihir tingkat Beginner secara sembunyi-sembunyi, mulai dari menciptakan bola air kecil hingga memicu hujan lokal di halaman belakang. Ia memberiku buku-buku ensiklopedia tentang ilmu sihir. Jadi, secara tidak langsung, fondasi pengetahuanku justru kudapatkan dari seseorang yang buta sihir.

Meski aku telah mengetahui berbagai teori hingga tingkatan tertinggi, masih banyak misteri yang membuatku penasaran—seperti sihir pemanggilan (summoning) dan bagaimana cara merapal mantra tanpa harus melafalkannya, sebuah metode yang memangkas waktu bertarung.

Di sisi lain, pencapaianku pada tingkat Saint terasa tidak masuk akal. Kapasitas mana diturunkan dari garis keturunan. Melihat latar belakang orang tuaku yang sederhana—Ayah hanya seorang priest tingkat Amateur dan Ibu yang seorang warga biasa—kenaikan tingkatku ini seharusnya mustahil terjadi.

"Lyan!"

Teriakan Steven dan Sandra menyadarkanku kembali di tengah raid. Keduanya kini berada dalam cengkeraman seekor wyvern hijau yang terbang rendah di atas ngarai berbatu. Ini sepenuhnya kecerobohan mereka sendiri! Sudah kukatakan berkali-kali agar mengambil misi standar, tapi mereka bersikeras memilih tugas berburu monster kelas tinggi.

"Baiklah kalau begitu!" Mendesah kesal, aku mengangkat kedua tangan ke udara, membiarkan aliran mana dingin merambat di telapak tanganku. "Dewa Eris, berikanlah aku kekuatan untuk merobek dunia—Curse of the Heavens!"

Mencampurkan elemen air yang pekat dengan unsur tekanan langit, aku memicu sambaran guntur dahsyat di atas awan. Wyvern itu terkejut oleh kilatan petir yang menyambar tanah di dekat sayapnya. Monster bersisik tebal itu segera menukik tajam ke udara untuk menghentikan mantraku yang belum selesai.

Tepat seperti dugaanku, pikirku.

Saat Wyvern itu menduga aku tidak akan berkutik di jarak sedekat ini, aku melompat dari tebing batu, memanfaatkan momentum gravitasi. Tanpa melafalkan suara, aku memadatkan uap air di udara menjadi senjata padat.

"Runtuhlah—Ice Spear Storm!"

Sebuah tombak es raksasa berputar kencang, melesat menembus pelindung sisik di dada kiri Wyvern. Monster hijau itu melengkingkan suara pekikan bernada tinggi yang menggetarkan tanah di sekitarnya, membuat batu-batu kecil berjatuhan dari tebing. Belum sempat ia memulihkan keseimbangan, aku memejamkan mata sesaat, merapal mantra tanpa suara (silent casting).

Sebuah bilah pedang es murni langsung terbentuk di tangan kanan tanpa aba-aba. Aku melesat dalam kepulan angin, menebas membabi buta ke arah cakar raksasa yang mengurung Sandra dan Steven.

Screeech!

"Arrgh!"

"Apakah ada yang terluka?" tanyaku cepat setelah mendarat dengan mulus di tanah berdebu, menatap kedua rekan setimku yang megap-megap.

"Terima kasih, Lyan!" Sandra berlari tergesa-gesa dengan tubuh dipenuhi cairan darah Wyvern yang berwarna hijau pekat, lalu memelukku erat-erat.

Di sisi lain, Steven tidak membuang waktu. Ia langsung menghunus belatinya dan menusuk mata kanan Wyvern yang masih meronta-ronta kesakitan. Serangan fatal yang tepat menghujam organ penglihatan memicu kejang otot terakhir pada sang monster. Makhluk raksasa tersebut mengepakkan sayapnya untuk terakhir kali sebelum akhirnya terkulai lemas, mati di atas tanah tandus Landmine.

"Ya ampun! Kalian enggak mikirin keselamatan diri masing-masing, apa?" Keluhku sambil menepuk-nepuk pundak Steven, menyakinkannya agar lebih rasional dalam mengambil keputusan. "Lain kali, biar aku yang memilih misi!"

"Tidak bisa!" tukas Sandra cepat, setengah berteriak sambil menyeka cairan hijau dari wajahnya dengan lengan baju compang-campingnya. "Ini semua demi menebus kebebasan!"

Terserahlah... Sandra-lah memilih misi berbahaya lebih dari kali ini. Tujuan utama mereka, mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk membeli surat kebebasan. Tapi kedua saudara itu tidak pernah mikir panjang soal risiko yang mereka hadapi. Keputusan bodoh Sandra membuatku teringat kembali dengan nasib anggota ketiga party sebelumnya—ia bukan meninggalkan mereka, mungkin tewas di suatu tempat saat kedua bersaudara egois ini melarikan diri.

"... Dan!" Sandra lanjut menyambar sambil menunjuk-nunjuk menyudutkanku. "Kamu enggak pernah ngerasain hidup di kandang kuda tiap hari!" Ia lalu mendengus sombong. "Toh... Ini juga kerja keras kita bersama."

"Kerja keras bersama?!" balasku dengan nada menyindir.

Satu bulan setelah party kami terbentuk, Sandra tanpa mendengarkan pendapatku memutuskan untuk memberi nama "Gerombolan Gagak Hitam". Entah apa maksudnya, aku cuma bisa mengangguk pasrah. Tiga misi peringkat D, lima misi peringkat C, dan delapan misi peringkat A. Di antara semua itu, lebih banyak misi tingkat atas daripada misi standar yang disarankan oleh guild kepada kami. Untunglah ia tidak memilih misi tingkat S atau SS!

Balik lagi, yang repot tetaplah aku! Selalu saja Sandra merusak rencana dengan tindakan gegabah. Steven mungkin bisa diajak kompromi, tapi tidak dengan Sandra; ia tipikal cewek yang terlalu aktif sampai-sampai keras kepala. Aku enggak tahu apa sebenarnya isi otak cewek itu!

"Wah, kalian membawa Mata Wyvern!" sahut Kaslana. Hari ini ia mengenakan pakaian yang tidak seformal kemarin—sebuah gaun putih pendek setinggi lutut, terbalut stoking yang menutupi hingga ujung kakinya. "Baru kemarin kalian membawa Tanduk Serigala Tenggara."

"Sudah biasa, Mbak! Kami kan party paling produktif se-Istarloth!" balas Sandra sambil menyikutku, hampir membuatku terjungkal dari kursi. "Sepertinya kebebasan kita sebentar lagi bakalan menjadi kenyataan, Kak!"

Steven mengangguk setuju.

"Tinggal beberapa misi lagi. Kalau begitu, kita ambil saja misi tingkat S!" ucap Sandra spontan.

Krik... Krik... Krik...

Bukan hanya aku dan Steven yang terkejut. Kaslana yang tengah minum bersama kami tiba-tiba menyemburkan bir yang barusan ia teguk.

"Tidak boleh!" tolak Kaslana.

Balasan to the point dari Kaslana itu sudah sepenuhnya mewakili penolakanku.

"Kenapa?" Tanya Sandra.

"Coba kamu pikirkan! Misi tingkat A saja udah melawan musuh setingkat wyvern serta makhluk legenda seperti Serigala Tenggara, apalagi kelas S!"

Beranjak dari kursinya, Kaslana mencabut salah satu surat permintaan dari papan tugas. Ia lalu memampangkan gambar misi tersebut kepada kami bertiga. "Perhatikan ini!" tunjuknya ke gambar yang ada di kertas usang berwarna kecokelatan itu. "Apa ini?"

"Membawa..." Sandra kesulitan membaca sambil memicingkan mata. "... kembali kepala Jenderal Iblis Zigurad."

"Nah! Kalian harus tahu konsekuensinya!"

Yang membuatku terkejut bukanlah tentang tingkat kesulitan misi, tapi dari mana permintaan itu berasal—Count Maxus. Bukannya kekaisaran bisa mengerahkan penyihir mereka sendiri untuk menyelesaikan misi ini?

"Baiklah, Mbak Kaslana," ucap Sandra, terpaksa setuju, meski tampak dari raut wajahnya yang kecewa. "Kita ada kuota tugas juga untuk menambang mineral hari ini."

Meninggalkan guild, kami masing-masing menaruh lima keping perak.

Menambang adalah tugas wajib yang diberikan kekaisaran kepada setiap warga di Landmine, jadi meninggalkan kuota harian sama saja melakukan tindakan kriminal. Meski mereka mewajibkan, hal itu tidak menutup peluang bagi masyarakat untuk mencari pekerjaan di luar kewajiban mereka, seperti party kami yang bekerja untuk guild.

Setibanya di pertambangan di balik bukit terjal permukiman Landmine, ratusan orang telah mengantri untuk mendapatkan alat tambang. Saat giliran kami bertiga, pembagian alat yang bagus sudah habis, jadi kami hanya diberikan beliung tua yang terbuat dari tembaga.

"Ha... Kapan ini selesainya!" Sandra mengeluh kesal sambil memukul batu hitam dengan beliungnya.

Dimulai dari tengah hari sampai menjelang malam, walaupun bekerja cuma lima jam lebih, terik matahari terus menyiksa. Sedangkan di atas bukit yang terjal, para prajurit mengawasi.

Apalagi mereka melarang penggunaan sihir. Mandor memiliki alasan kuat: mantra yang tak terukur bisa memicu longsor di pertambangan. Kupikir ayahku ada benarnya; terkadang kemampuan fisik lebih berguna daripada sihir di saat-saat seperti ini.

Pembayarannya juga sama, Kami harus mengantre panjang sekali lagi. Bayarannya pun pas-pasan, cuma 80 koin perak sehari. Kalian pikir itu banyak? Di wilayah Landmine dan dua permukiman lain, inflasi telah menghilangkan nilai mata uang. Harga makanan kelas bawah saja dengan ayam dan air minum sudah 30 perak, apalagi untuk kebutuhan pokok lain?

Aduh... adudu...

Selama perjalanan pulang, sekujur tubuhku pegal sekali. Sandra hanya tertawa saat aku berjalan sambil membungkuk, sementara Steven yang tahu diri membantuku berjalan. Kalau bukan karena aku, mereka pasti sekarang masih tinggal di kandang kuda dan makan sekali sehari! Lihatlah tubuh mereka sekarang, tidak seperti pertama kali aku bertemu dengan mereka.

Sesampainya di penginapan, Sandra segera mandi dan mengganti bajunya dengan piyama yang baru ia beli. Sedangkan aku langsung terlelap di kasur. Sama sepertiku, Steven lebih memilih langsung tidur di sampingku. Kami bertiga berbagi kasur karena menyewa tiga kamar akan membuang banyak uang.

bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!