Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Pengkhianat di Antara Kita
Hujan reda menjelang fajar. Kabut putih naik dari lantai hutan, membuat pepohonan tampak seperti barisan bayangan yang berdiri diam. Zhou Chen tidak tidur sama sekali malam itu. Ucapan Zhao Kai masih terngiang di kepalanya: seseorang memberi tahu Zhou Han rute yang kita ambil.
Ia menolak menuduh orang-orang terdekatnya. Namun ia juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa jebakan di tepi sungai dipasang tepat di jalur yang hanya diketahui segelintir orang. Menolak curiga bukanlah kepercayaan, itu hanya cara lain untuk berjudi dengan nyawa semua orang.
"Kita perlu memastikannya," katanya pelan kepada Zhao Kai saat mereka berdua berjaga di tepi perkemahan. "Tanpa menuduh siapa pun secara terbuka."
Zhao Kai mengangguk. "Hamba punya satu gagasan, Yang Mulia. Lama sebelum masuk barak, hamba diajari cara memburu pengkhianat: jangan mencari orangnya, tetapi beri kabar palsu yang berbeda-beda kepada setiap orang, lalu lihat kabar mana yang sampai ke pihak musuh."
Zhou Chen tersenyum tipis. Metode itu sederhana, tetapi tidak bergantung pada Mata Dewa, setelah kegagalan di sebelumnya, justru itulah yang ia butuhkan.
Rencananya disusun sebelum matahari terbit. Kepada tiga kelompok yang berbeda, Zhou Chen membisikkan tiga tujuan palsu yang berbeda pula:
• kepada pasukan pengawal kerajaan yang dipimpin Kapten Wei, ia menyebut Jembatan Batu Hitam di sisi utara;
• kepada para pelacak, ia menyebut Kuil Tua di Lereng Barat;
• kepada lingkaran dalamnya sendiri, ia menyebut Desa Nelayan di tepi danau.
Tujuan yang sebenarnya, yaitu ngarai sempit di timur laut, hanya diketahui dirinya dan Zhao Kai.
Setelah itu, mereka berpura-pura beristirahat sepanjang siang. Yue Er ditugaskan mengawasi siapa pun yang menjauh dari perkemahan. Xiao Hei, yang kini sudah cukup pulih, diminta berjaga di dekat tenda pasukan pengawal tanpa terlihat mencolok.
Menjelang senja, Yue Er kembali dengan napas tertahan.
"Kapten Wei," bisiknya. "Ia menyelinap ke balik batu besar di hilir sungai. Hamba melihat ia melepas seekor merpati kecil berwarna kelabu."
Zhou Chen memejamkan mata sejenak. Ada rasa pahit di dadanya. Kapten Wei bukan orang lama Zhou Chen ia ditugaskan langsung oleh Raja, artinya pengkhianat itu berada di lingkaran yang selama ini dianggap paling aman.
Mereka menyergap Kapten Wei sebelum ia sempat kembali ke perkemahan. Yue Er menembakkan Panah Menembus Kabut ke sayap merpati kedua yang baru akan dilepas, sedangkan Zhao Kai menghadang jalan mundurnya.
Kapten Wei tidak menyangkal. Ia justru tertawa pendek, dingin lalu mencabut pedangnya.
"Kalian lebih pintar daripada dugaan Nyonya," katanya. "Sayang sekali, kepintaran tidak menyelamatkan orang yang lebih lemah."
Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa kepadanya.
Kapten Wei. Tingkat kultivasi: Pembukaan Meridian Tingkat 7. Teknik unggulan: Pedang Ular Bersisik (tujuh tusukan beruntun, tiap tusukan meninggalkan racun ringan yang melumpuhkan otot). Kelemahan: tenaga menurun drastis pada tusukan keenam dan ketujuh karena aliran qi terputus di lengan kanan. Catatan: sedang menyembunyikan luka lama di pinggang kiri.
Tingkat tujuh. Jauh di atas Xiao Hei yang baru berada di tingkat pertama. Xiao Hei sendiri menyadari perbedaan itu, tetapi ia tetap melangkah ke depan.
"Hamba yang akan menahannya, Yang Mulia."
"Jangan gunakan tenaga penuh," kata Zhou Chen cepat. "Ingat retakan di meridianmu. Bertahan saja. Zhao Kai akan menyerang saat tusukan keenam."
Pertarungan pun pecah kapten Wei melancarkan tusukan pertama, kedua, ketiga, dan keempat dengan kecepatan yang membuat Xiao Hei terdesak mundur. Bilah pedangnya hanya menggores lengan Xiao Hei, tetapi rasa kebas segera menjalar racunnya mulai bekerja.
Pada tusukan kelima, lutut Xiao Hei nyaris goyah, namun ia menggertakkan gigi dan tidak mundur. Tepat pada tusukan keenam, tenaga Kapten Wei melemah persis seperti yang diperkirakan Mata Dewa.
"Sekarang!" seru Zhou Chen.
Zhao Kai melompat dari samping dengan Teknik Pedang Delapan Arah, gerakan kedua dan ketiga digabung menjadi satu tebasan menyilang. Pedang Kapten Wei terlepas dan terpental ke tanah. Xiao Hei, meski tubuhnya gemetar, mendorong bahu lawannya hingga ia jatuh berlutut.
Kapten Wei menatap mereka dengan mata penuh kebencian. Sebelum siapa pun sempat menahannya, ia menggigit sesuatu di dalam mulutnya. Tubuhnya menegang, lalu roboh tanpa suara.
"Racun di gigi," kata Zhao Kai getir. "Ia lebih memilih mati daripada bicara."
Xiao Hei segera diberi penawar ringan dari bekal Paman Guo, dan Yue Er merawat lukanya. Kali ini, tidak ada retakan baru di meridiannya. Zhou Chen memeriksanya dua kali untuk memastikan.
Di balik ikat pinggang Kapten Wei, mereka menemukan secarik kain kecil bertuliskan sandi. Zhou Chen membukanya dengan hati-hati. Isinya singkat, tetapi cukup membuat darahnya berdesir:
"Pangeran Kedelapan menunggu di Kuil Awan Sunyi, puncak Gunung Lima Jari. Lewat jalur belakang, tiga hari perjalanan dari sini. Jangan bergerak sebelum Nyonya memberi tanda."
"Kuil Awan Sunyi," gumam Zhou Ming saat Zhou Chen membacakan isinya kepada seluruh kelompok. "Kuil itu sudah ditinggalkan puluhan tahun. Letaknya di puncak yang nyaris tak bisa didaki tanpa jalur khusus."
"Berarti kita tidak perlu lagi menebak-nebak," kata Zhou Chen. "Kita tahu tempatnya."
Namun Zhao Kai tidak tampak lega. "Yang Mulia, justru itu yang mengganggu hamba. Kapten Wei membawa pesan ini di tubuhnya seolah ingin ditemukan, bisa jadi ini jebakan lain."
Zhou Chen menatap kain itu lama. Kali ini, ia tidak menolak kemungkinan itu.
"Mungkin," katanya akhirnya. "Tetapi kita tidak punya pilihan lain. Zhou Han harus ditangkap sebelum Zhou Yan menyiapkan langkah berikutnya. Kita berangkat malam ini, dengan hati-hati, dan dengan rencana cadangan untuk setiap kemungkinan."
Ia menatap orang-orangnya satu per satu. Ada keletihan di mata mereka, tetapi juga tekad yang tidak goyah. Untuk pertama kalinya sejak perburuan ini dimulai, Zhou Chen merasa bahwa kecurigaan tadi malam telah membuat mereka lebih kuat, bukan lebih terpecah. Mereka kini tahu bahwa kepercayaan tidak cukup dipegang dengan harapan; ia juga harus diuji dan dibuktikan.
Di kejauhan, puncak Gunung Lima Jari menjulang di balik kabut, tampak seperti tangan raksasa yang mencengkeram langit.