NovelToon NovelToon
DEWA PEDANG TANPA TANDING

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Spiritual / Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:86.7k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.

Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.

Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Pedang Pertama dari Sarung Abadi

Su Yun baru saja menginjakkan kaki di jalan berkabut itu ketika suara Tetua Pedang terdengar dari dalam gulungan.

“Apa yang terjadi? Siapa yang membuka Sarung Pedang Abadi?”

“Aku.”

Beberapa saat tidak ada jawaban. Ketika Tetua Pedang kembali berbicara, nadanya terdengar jelas terkejut.

“Kau? Bocah, kultivasimu bahkan belum mencapai Alam Roh Sejati. Kau sudah berani masuk ke dalam Sarung Pedang Abadi? Apa kau sedang mencari mati?”

Su Yun tidak tersinggung. Ia mengangkat pedang ringan yang dibawanya, lalu mengalirkan energi spiritual ke sepanjang bilah. Lapisan cahaya putih tipis segera menyelimuti permukaannya.

“Aku sudah berhasil membentuk aura pedang.”

Tetua Pedang kembali terdiam.

“Mustahil. Baru berapa lama sejak kau mulai berlatih?”

Su Yun tidak menjawab. Bukti di tangannya sudah cukup.

Aura pedang yang ia bentuk memang masih sangat lemah, bahkan belum cukup tajam untuk menjadi ancaman dalam pertarungan sesungguhnya. Namun keberadaannya sendiri membuktikan bahwa Su Yun telah melewati ambang pertama Seni Pedang Tanpa Batas.

Setelah cukup lama, Tetua Pedang akhirnya bertanya, “Lalu untuk apa kau masuk ke sini?”

“Aku membutuhkan pedang yang lebih baik.”

“Untuk apa?”

Su Yun memandang ke depan dengan tenang.

“Membunuh seseorang.”

Tetua Pedang menghela napas panjang.

“Baiklah. Kalau begitu perhatikan jalan di depanmu.”

Su Yun mengangkat kepala. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan kedua sisi jalan putih yang membentang menuju istana.

Apa yang sebelumnya ia kira sebagai pagar ternyata merupakan deretan pedang yang tertancap rapi. Jarak setiap pedang hampir sama sempurnanya, sementara aura yang mereka pancarkan membuat udara di sekeliling terasa tajam.

Jumlahnya begitu banyak hingga sulit dihitung.

“Pedang-pedang di sepanjang jalan hanya dianggap biasa di tempat ini,” jelas Tetua Pedang. “Pedang utama serta beberapa pedang dewa berada di dalam istana. Tetapi jangan bermimpi menyentuhnya sekarang. Dengan kemampuanmu saat ini, kau bahkan belum memenuhi syarat untuk berdiri terlalu dekat.”

Su Yun tidak merasa tersinggung.

Ia tahu batas dirinya.

“Kalau kau hanya memerlukan senjata yang bisa dipakai untuk membunuh, ambillah salah satu pedang pertama di depanmu. Bahkan pedang yang dianggap biasa di sini jauh melampaui senjata murahan yang sedang kau gunakan.”

Su Yun berjalan mendekati dua bilah pertama.

“Bagaimana aku membuatnya mengakuiku?”

“Ambil saja.”

Sesederhana itu?

Tatapan Su Yun jatuh pada pedang di sebelah kanan.

Bilahnya ramping dan berwarna biru muda. Gagangnya sedikit lebih panjang daripada pedang biasa, sementara ukiran seekor naga melingkar menghiasi permukaan bilah.

Sebuah nama seolah muncul di benaknya ketika ia memandangnya.

Pedang Naga Terukir.

“Nama yang bagus.”

Su Yun langsung meraih gagangnya.

“Tunggu!” Tetua Pedang mendadak berseru. “Aku menyuruhmu mengambil yang sebelah kiri—”

Terlambat.

Jari Su Yun sudah menggenggam Pedang Naga Terukir.

Ia menariknya.

Bilah itu terlepas tanpa perlawanan.

Tidak terjadi apa-apa.

Su Yun menunggu beberapa saat, tetapi pedang tersebut tetap diam di tangannya.

“Sudah?”

“Belum tentu,” jawab Tetua Pedang. “Setiap pedang di sini memiliki roh. Watak mereka berbeda-beda, begitu pula cara mereka memilih pemilik. Pedang itu... aku sudah terlalu lama tidak melihatnya. Aku bahkan hampir lupa bagaimana cara ia menguji seseorang.”

Belum selesai kalimatnya, Pedang Naga Terukir tiba-tiba bergetar keras.

Su Yun refleks mempererat genggaman, tetapi kekuatan besar meledak dari bilah tersebut sehingga terlepas dari tangannya.

Pedang melesat ke udara.

Cahaya biru menyebar di sepanjang jalan berkabut, lalu berubah menjadi bayangan naga raksasa.

Tetua Pedang langsung terkejut.

“Bagaimana mungkin? Itu seharusnya hanya salah satu pedang biasa! Mengapa roh pedangnya begitu kuat?”

Naga itu berputar di udara sebelum menukik menuju Su Yun.

Tekanan yang dibawanya membuat tubuh Su Yun terasa berat. Ia mencoba menghindar, tetapi jalan tempatnya berdiri terlalu sempit. Di kedua sisi berdiri deretan pedang, sedangkan di luar jalan hanya terlihat kehampaan.

Tidak ada tempat melarikan diri.

Bayangan naga melewati tubuhnya.

Tidak ada luka fisik.

Namun sesaat kemudian, rasa sakit yang jauh lebih mengerikan menyerang kepalanya.

Pandangan Su Yun menjadi gelap.

Ketika kesadarannya kembali, dunia Sarung Pedang Abadi telah menghilang.

Ia berdiri di tengah ruang hitam tanpa batas. Kabut gelap bergerak di kejauhan, kemudian naga yang sama perlahan muncul dari dalamnya.

Su Yun segera memahami.

Ini bukan lagi dunia di dalam Sarung Pedang Abadi.

Ia telah ditarik ke dalam dunia roh Pedang Naga Terukir.

Naga tersebut membuka mulut dan mengaum.

Suara itu tidak hanya mengguncang udara. Ia langsung menghantam jiwa.

Su Yun merasa jantungnya bergetar tidak beraturan. Kepalanya seolah hendak pecah, sementara berbagai emosi asing menyerbu pikirannya—ketakutan, keputusasaan, kesepian, dan rasa tidak berdaya yang begitu kuat hingga hampir membuatnya berlutut.

Ia menggertakkan gigi.

Tidak boleh menyerah.

Tetua Pedang terdengar samar dari kejauhan.

“Bertahanlah! Ini adalah ujian roh pedangnya. Jika kau bahkan tidak mampu menaklukkan pedang pertama, bagaimana mungkin suatu hari nanti kau berharap mengendalikan jutaan pedang di dalam Sarung Pedang Abadi?”

Su Yun tertawa pendek meski seluruh tubuhnya gemetar.

“Siapa bilang aku tidak mampu?”

Ia berdiri tegak.

Raungan naga terus menghantam kesadarannya.

Waktu berjalan sangat lambat.

Keringat membasahi tubuh Su Yun, sementara matanya memerah karena menahan tekanan. Akan tetapi, selama hampir setengah jam, ia tidak mundur satu langkah pun.

Ia pernah mengalami kematian.

Pernah hidup dalam kehancuran.

Pernah berjalan sendirian ketika seluruh dunia seolah menentangnya.

Tekanan seperti ini belum cukup untuk mematahkan kehendaknya.

Perlahan, raungan naga melemah.

Kabut hitam mulai memudar.

Ketika Su Yun kembali membuka mata, ia sudah berada di pulau.

Napasnya berat dan energi spiritualnya hampir terkuras, tetapi di hadapannya kini tertancap sebuah pedang biru muda.

Pedang Naga Terukir.

Tetua Pedang tertawa puas.

“Bagus! Kau berhasil membuatnya mengakuimu.”

Su Yun meraih gagangnya.

Begitu menyentuhnya, perasaan sejuk mengalir ke dalam tubuh. Pikiran yang sebelumnya kacau perlahan menjadi tenang, bahkan sebagian energi spiritualnya mulai pulih.

Ia mengamati pedang tersebut dengan penuh perhatian.

Senjata ini berada di tingkat hijau, jauh melampaui pedang biasa yang dibelinya di Kota Danau Cermin. Yang lebih penting, roh pedangnya memiliki sifat pembunuh yang kuat dan mampu memperbesar daya serang sesuai kekuatan spiritual penggunanya.

“Jangan terlalu puas,” ujar Tetua Pedang. “Di dalam Sarung Pedang Abadi masih ada pedang yang jauh lebih kuat. Seberapa banyak yang mampu kau kuasai akan bergantung pada dirimu sendiri.”

“Aku tahu.”

Su Yun menyarungkan Pedang Naga Terukir.

Ia belum memiliki kekuatan untuk memikirkan pedang lain. Menaklukkan satu saja hampir menguras jiwanya.

Prioritasnya sekarang tetap meningkatkan kultivasi.

Tanpa kekuatan yang cukup, memiliki harta sebesar apa pun hanya akan mengundang kematian.

Su Yun meninggalkan tepi pulau dan bergerak menuju pegunungan di bagian tengah. Daerah tersebut dipenuhi Binatang Roh, sehingga ia tidak berani masuk terlalu dalam. Ia hanya bergerak di pinggiran sambil menghindari wilayah makhluk yang auranya terlalu kuat.

Kali ini ia tidak sedang berburu inti.

Ia mencari beberapa bahan tertentu.

Yang pertama adalah Bunga Kabut Iblis, tanaman beracun yang hanya tumbuh di daerah dengan konsentrasi Binatang Roh tinggi. Bunganya mampu melepaskan kabut beracun begitu merasakan makhluk hidup mendekat.

Bahan kedua adalah Batu Pemecah Roh, mineral aneh yang dapat mengganggu dan menyerap sebagian energi spiritual di sekitarnya.

Terakhir, ia membutuhkan ranting Pohon Iblis Langit, bahan yang sangat baik untuk membuat dasar formasi.

Tetua Pedang terus mengamati tindakannya dari dalam gulungan.

Bahkan dengan pengalaman panjangnya, ia tidak memahami apa yang sedang direncanakan Su Yun.

Bocah itu baru saja mendapatkan pedang baru, tetapi bukannya berlatih dengan tenang, ia justru berkeliaran di wilayah berbahaya mengumpulkan racun, batu aneh, dan bahan formasi.

“Anak yang benar-benar sulit ditebak,” gumamnya.

Su Yun tidak menjelaskan.

Selama dua hari berikutnya, ia bergerak dengan sangat hati-hati di sekitar pegunungan. Beberapa kali ia hampir ditemukan Binatang Roh yang jauh lebih kuat darinya, tetapi pengalaman bertahun-tahun dari kehidupan sebelumnya membantunya menghindari wilayah berbahaya.

Akhirnya semua bahan terkumpul.

Su Yun memasukkannya ke dalam Cincin Penyimpanan, lalu meninggalkan pulau tanpa membuang waktu lagi.

Tujuan berikutnya berada di arah barat daya.

Sebuah tempat bernama Perguruan Gu Jue Xin.

Pedang telah diperoleh.

Bahan-bahan juga sudah lengkap.

Sekarang, ia hanya perlu menyelesaikan persiapan terakhir sebelum rencana berikutnya benar-benar dimulai.

......................

Bersambung...

1
Okta Oktafianto
keren
Otna Forever: mksh bosku 🙏
total 1 replies
Okta Oktafianto
alurnya kerennnn
Otna Forever: mksh bosku 🙏 jangan lupa baca karyaku yang lain PENGUASA DEWA NAGA
total 1 replies
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
🤣🤣malah di peras Nasib sial murid dalam👍🤣🤣
Eko🍤
mantap Thor lanjut 👍👍
Widianto Dalang
alur terlalu lambat. ud bab 100 lebih, masih seputar keluarga saja. blm ada peningkatan sama sekali
Eko🍤
apakah akan terjadi bentrok🤣🤣👍
will
wah stres gk tuh su yun? 😁👍
Nusra Perdana
tahap ke 6, tahap ke 7..?? namanya apa cok😡😡
Nusra Perdana
tahap ke enam apa..?? emang gak ada namanya Thor
Nusra Perdana
nyebutin kekuatan mereka kok hanya tingkat 5, tingkat 6,8 10..apa gak ada nama ranahnya..?
Nusra Perdana
awal yg bagus..coba kita baca terus😄
Eko🍤
bagus lariiii terus🤣🤣👍
Eko🍤
julukan sampah nya melekat terus 🤣🤣
Eko🍤
hehehehe...salah pilih lawan.. bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko🍤
hahahahaha...waktu nya panen 🤣👍🤣
Eko🍤
bagus bantaaaaaaaiiiiii semua
Casver Mentawai
ntah kapan mc nya naik level dah diatas seratus bab nya masih stagnan di pevel enam 🤣🤣🤣 nggak nyambung jga dari bab ke bab lainnya 🤣🤣🤣
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Muh Nasrun
Tambah ga menarik ceritanya, baru tahap awal sdh spt ujian ahli itngkat tinggi, hyperbola sekali ceritanya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!