NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Bayangan Masa Kecil

Di sebuah apartemen mewah kawasan Sudirman—yang cicilan bulannya diam-diam disisipkan Siska ke dalam biaya operasional divisi HRD—Rendy berdiri di depan cermin besar. Pria itu sibuk merapikan dasi sutra merah marunnya, mematut diri dengan tatapan penuh kebanggaan.

Siska melangkah mendekat dari arah kamar tidur, mengenakan gaun malam emas kecokelatan (champagne gold) yang dibelikan Alya tempo hari. Tangan Siska membelai bahu jas Rendy dari belakang, tersenyum licik menatap pantulan mereka berdua di cermin.

"Kamu kelihatan tampan sekali malam ini, Sayang," bisik Siska manja.

Rendy terkekeh percaya diri, memutar tubuhnya lalu merangkul pinggang Siska. "Tentu saja. Malam ini adalah malam pertunjukkan kita. Begitu aku naik ke panggung dan mengumumkan kepada seluruh media serta relasi bisnis bahwa aku adalah kekasih Alya—calon tunggal pemilik Nusantara Industri Utama—posisi kita tidak akan ada yang bisa menggoyahkan lagi."

"Kamu yakin Alya tidak akan menolak di atas panggung?" tanya Siska, sedikit keraguan mendadak menyusup ke dadanya saat teringat tatapan dingin Alya beberapa hari terakhir.

Rendy mengibaskan tangannya meremehkan. "Tolonglah, Siska... Alya itu cewek kurang percaya diri yang gampang dimanipulasi. Dengan badannya yang gemuk begitu, dia pasti merasa sangat beruntung ada pria sepertiku yang mau mendeklarasikan cinta secara terbuka di depan ratusan orang kaya. Dia pasti bakal nangis terharu dan langsung menerima cincin ini." Rendy menepuk saku jasnya, tempat sebuah kotak beludru merah berisi cincin perak murah tersimpan.

Siska tertawa pelan, menyandarkan kepalanya di dada Rendy. "Baguslah. Setelah pengumuman itu, pelan-pelan kita desak Om untuk mengangkatmu jadi Wakil Direktur Utama. Dengan begitu kita bisa menikmati hidup, Sayang. Semua harta keluarga Alya akan jadi milik kita."

"Pasti, Sayang. Malam ini, semua kemewahan itu dimulai," sahut Rendy penuh nada keserakahan, lalu mencium kening Siska.

Sementara itu, di depan kediaman keluarga Alya, sebuah sedan hitam mewah berhenti secara halus.

Kai Aditya keluar dari kursi belakang. Pria itu mengancingkan jas tuksedo hitamnya yang terpotong sempurna. Namun, di balik penampilannya yang sangat tenang dan berwibawa, buku-buku jarinya sedikit meremas ujung jas.

Seorang Kai Aditya—pria dingin yang tak pernah gentar menghadapi negosiasi bisnis senilai miliaran rupiah—malam ini merasa sangat gugup.

Kai menarik napas panjang, menatap pintu utama rumah Alya. Setiap kali ia hendak bertemu wanita itu, kenangan masa kecil yang terkubur belasan tahun lalu selalu berputar kembali di benaknya dengan sangat jernih.

Masa itu, saat usia mereka baru tujuh tahun.

Ibu-ibu dari kalangan pengusaha korporat memiliki agenda rutin berkumpul setiap hari Minggu di sebuah country club elit. Kerabat bisnis sering kali membawa anak-anak mereka, menciptakan kelompok bermain anak-anak elit yang sayangnya juga membawa bibit kepribadian sombong.

Kai kecil—yang saat itu dipanggil dengan nama kecilnya, Adit—adalah anak yang sangat pendiam, pemalu, dan sering membawa buku cerita tebal ke mana-mana. Tubuhnya yang kurus dan sifatnya yang tak suka berberisik membuatnya menjadi sasaran empuk anak-anak laki-laki lain.

Suatu sore di area taman belakang country club, tiga anak laki-laki bertubuh lebih besar mengepung Kai kecil di dekat kolam ikan.

"Lihat si Adit! Anak aneh! Kerjaannya cuma baca buku!" ejek salah satu anak bertubuh bongsor seraya merebut buku cerita di tangan Kai kecil.

"Kembalikan bukuku!" cicit Kai kecil, matanya berkaca-kaca. Tangannya mencoba meraih bukunya, namun anak bongsor itu justru mendorong Kai hingga terjatuh ke atas rumput basah. Kacamata Kai kecil terlepas dan terlempar ke tanah.

"Nggak mau! Kamu harus makan daun dulu kalau mau buku ini kembali!" gelak anak-anak nakal itu seraya tertawa terbahak-bahak.

"Adit...!"

Suara lengkingan nyaring terdengar dari kejulan. Mami Kai yang baru saja keluar dari ruang restoran melambaikan tangan dari kejauhan, memanggil anak tunggalnya dengan nada penuh rasa khawatir.

Kai kecil yang tersungkur di tanah memegang lututnya yang berdarah, bergetar ketakutan. Dengan suara parau ia menahan tangisnya. "Maaf Adit, Mih... Adit nggak nakal..."

Anak-anak nakal itu kian tertawa keras mendengar rintihan Kai kecil.

Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat melemparkan buku Kai ke dalam kolam ikan, sebuah bayangan melompat cepat dari balik semak-semak.

BUK!

Sebuah tendangan keras dari sepatu kets kecil mendarat tepat di tulang kering anak bongsor yang memegang buku. Anak itu menjerit kesakitan, terjerembap jatuh ke tanah seraya memegangi kakinya.

"Aduh! Sakit! Siapa sih yang nendang?!" jerit anak bongsor itu.

Di hadapan mereka berdiri seorang anak perempuan kecil berpipi kemerahan dengan rambut hitam panjang terurai indah. Anak perempuan itu berdiri tegap dengan kedua tangan di pinggang, matanya menyalang berani.

Itu adalah Alya kecil. Alya yang belum mengalami trauma masa remaja, Alya yang normal, lucu, menggemaskan, dan memiliki keberanian yang luar biasa.

"Dasar penjahat! Beraninya keroyokan!" bentak Alya kecil tanpa rasa takut sedikit pun. Ia maju satu langkah, membuat dua anak nakal lainnya mundur ketakutan melihat aksi nekatnya. "Kalau kalian berani ganggu dia lagi, tak tendang perut kalian satu-satu! Pergi nggak?!"

Anak-anak nakal itu, melihat kepemimpinan berani Alya kecil dan menyadari orang tua mereka mulai mendekat, akhirnya lari terbirit-birit meninggalkan taman.

Alya kecil memutar tubuhnya. Ia berlutut di sebelah Kai kecil yang masih gemetaran di tanah. Dengan jemari kecilnya yang lembut, Alya mengambil kacamata Kai yang kotor, menyepunya pelan dengan ujung bajunya, lalu memasangkannya kembali ke wajah Kai kecil.

Alya kecil lalu memungut buku cerita milik Kai dan menyerahkannya dengan senyuman yang sangat manis hingga matanya menyipit.

"Ini bukumu. Kamu nggak apa-apa?" tanya Alya kecil dengan suara riang.

Kai kecil menatap anak perempuan berambut panjang itu dengan rasa takjub yang teramat sangat. Air matanya berhenti menetes. "K-kamu... nama kamu siapa?"

"Namaku Alya!" seru anak perempuan itu bangga. "Lain kali kalau mereka nakal lagi, panggil aku ya! Aku yang bakal lawan mereka!"

Sejak hari itu, sosok anak perempuan berambut panjang yang menolongnya dengan senyuman paling hangat di dunia menjadi benang merah yang tak pernah putus di dalam hati Kai.

Namun, tak lama setelah peristiwa sore itu, keluarga Kai harus pindah ke luar negeri selama bertahun-tahun untuk mengurus ekspansi bisnis. Ketika Kai kembali ke Indonesia sebagai pria dewasa, Alya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang berbeda—menjadi pemalu, insecure dengan bentuk tubuhnya, dan yang paling menyedihkan... Alya sama sekali tidak mengingat sosok "Adit kecil" yang pernah ditolongnya. Alya hanya mengenalnya sebagai "Kai Aditya", anak dari kolega bisnis papanya.

Kai menghela napas panjang, mengusir ingatan masa kecilnya saat pintu depan rumah Alya mendadak terbuka.

Langkah kaki Kai terhenti seketika. Matanya tak berkedip.

Alya melangkah keluar dari dalam rumah. Malam ini, Alya benar-benar menjelma menjadi sosok ratu yang sempurna. Gaun malam emerald green buatan Rico membalut tubuh 70 kg Alya dengan luar biasa anggun. Riasan wajahnya yang tegas dengan lipstik merah tua memperlihatkan garis rahang dan kecantikan alaminya yang selama ini tersembunyi. Rambut hitamnya—yang masih seindah saat mereka berumur tujuh tahun—ditata bergelombang dengan sangat elegan di satu sisi bahunya.

Alya berjalan mendekati Kai, tersenyum tipis seraya memegangi bagian bawah gaunnya.

"Kai? Kenapa malah melamun di luar?" tanya Alya pelan, heran melihat Kai yang terpaku di depan pintu mobil. "Ada yang aneh dari penampilanku?"

Kai tersentak dari terpukaunya. Ia berdeham pelan untuk menutupi rasa gugup yang mendadak membuat dadanya berdesir hebat. Senyuman paling tulus dan hangat terukir di bibirnya.

"Tidak ada yang aneh, Alya," kata Kai dengan suara berat yang penuh pesona. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, menatap mata Alya secara lurus. "Kamu... benar-benar luar biasa malam ini. Sampai-sampai saya lupa cara bernapas sebentar."

Pipi Alya seketika merona merah di balik riasan tipisnya. Ia tertawa kecil, merasa hangat oleh pujian murni dari Kai. "Kamu pintar sekali bicara, Kai. Terima kasih."

Kai membukakan pintu mobil untuk Alya dengan gerakan yang sangat sopan dan gentleman. "Silakan masuk, Bu Direktur. Mari kita hadiri pesta yang sudah kamu rancang ini."

Alya masuk dan duduk di dalam mobil. Saat Kai berputar untuk duduk di kursi pengemudi di sampingnya, Alya memperhatikan profil wajah Kai dari samping—rahang yang tegas, hidung mancung, dan aura kehangatan yang membuat Alya merasa sangat dilindungi.

Aneh, batin Alya seraya menatap Kai. Ada perasaan familiar yang sangat mendalam setiap kali ia berada di dekat Kai. Rasa aman ini... rasa percaya ini... seolah-olah ia pernah merasakan perlindungan yang sama dari pria ini jauh sebelum mereka bertemu kembali di masa dewasa.

Namun Alya menyimpannya di dalam hati. Fokus utamanya malam ini adalah menghancurkan rencana busuk Rendy dan Siska di atas panggung ballroom.

Mobil mewah itu membelah jalanan malam kota Jakarta menuju Hotel Grand Hyatt, membawa dua manusia yang ditakdirkan bersama—yang satu datang untuk menagih janji perlindungan masa lalu, dan yang satu lagi datang untuk merebut kembali masa depannya yang pernah dihancurkan.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!